Upasadana

Secuil Catatan dari Acara Bedah Buku “Perjalanan ke Atap Dunia”
di Universitas Pasundan, Bandung
PkAD - Unpas 02

Angky Andrian/JUMPAONLINE

Seingatku, jarang sekali atau bahkan nyaris tak pernah aku menulis ulasan tentang acara bukuku. Alasannya sederhana: itu bukan ranahku lagi. Bagiku, peserta acara memiliki hak untuk menilai menarik tidaknya acara yang berkenaan dengan bukuku.

Tetapi tidak untuk kali ini. Rasanya, pikiran dan tanganku begitu gatal untuk tidak menulis ulasan acara “Bedah Buku Perjalanan ke Atap Dunia” yang digagas oleh Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung pada hari Kamis, 13 November 2014.

Awalnya, adalah Herlina Lisa, seorang alumni aktivis Pers Mahasiswa JUMPA (Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan) mengontakku melalui email. Mengabarkan: bahwa kawan-kawan Persma JUMPA hendak menggagas bedah buku Perjalanan ke Atap Dunia.

Komunikasi pun berlanjut. Waktu dan tempat disepakati. Aku pun menyiapkan buku-buku yang nanti bakal dijual di acara tersebut. Baik Perjalanan ke Atap Dunia, Niskala, maupun 3360. Seminggu sebelum hari H, Herlina Lisa, Muhammad Taruna Prima Rahardi, dan Fikri Sopian Sauri datang ke rumah. Bermaksud mengambil puluhan buku untuk dibawa ke kampus mereka.

Pada pertemuan itu, mereka pun menginformasikan bahwa untuk dapat hadir di acara tersebut: peminat mesti membeli tiket masuk seharga Rp15.000. Sekadar pengganti camilan dan sertifikat.

“Mahasiswa sekarang lebih suka membeli tiket untuk hadir di acara buku, Mas. Selain dapat sertifikat, dari sisi panitia juga lebih aman. Karena bakal ketahuan peserta yang akan hadir nanti.” tukas Lisa menyodorkan alasan. “Bedah buku gratisan sudah bukan zamannya lagi!” imbuhnya sembari tertawa.

Siapa nyana, sehari menjelang hari H, Herlina Lisa kembali mengontakku, mengabarkan: minta tambahan buku. Sebabnya, buku yang seminggu lalu mereka bawa dari rumah, sudah menipis stoknya. Menurutnya, ketika calon peserta melakukan pendaftaran, panita memang sekaligus menawarkan buku untuk dibeli. Alhasil, stok buku menyusut. Maka, aku pun kembali menyiapkan tambahan buku untuk acara tersebut.

Maka, pada hari H, ketika tiba di Universitas Pasundan di Jalan Lengkong Besar No.68, Herlina Lisa dan beberapa kawan panitia sudah menyambut di plaza kampus. Sambil berjalan menuju Aula Suradiredja di lantai tiga, aku iseng bertanya pada Lisa:

“Berapa peserta yang daftar?”

“Seratus lima puluh.” jawabnya santai.

Sontak aku terbelalak. “Seratus lima puluh orang?! Dan mereka membeli tiket?”

Lisa tersenyum mengangguk.

Sampai berkali-kali kutanyakan hal tersebut. Dan jawabannya tetap sama: 150 peserta membeli tiket untuk bisa hadir di acara bedah buku!

Aku masih tak habis pikir. Bukan apa-apa. Dari puluhan kali diundang ke acara diskusi bukuku di berbagai kota, baru kali ini ada acara bukuku di mana pesertanya membeli tiket sebesar Rp15.000 sebanyak 150 orang.

Memang, tahun 2012 lalu aku pernah diundang oleh sebuah kampus di kota Bandung yang menggagas acara diskusi bukuku, dengan peserta 200 orang. Tetapi, acara tersebut masuk ke dalam mata kuliah tertentu. Walhasil, acara diskusi buku menjadi wajib dihadiri oleh mahasiswa terkait yang jumlahnya 200 orang.

Tetapi 150 orang membeli tiket? Aku masih lagi tergemap!

Begitu memasuki aula, olala, aku lebih terkesiap lagi. Ternyata betul: tampak ratusan peserta tengah duduk menunggu di tentang panggung. Bahkan beberapa panitia terlihat gapah menambah barisan kursi baru di bagian belakang. Karena peserta acara masih saja terus berdatangan.

PkAD - Unpas 03

Nabila Ghina F/JUMPAONLINE

“Mereka peserta acara bedah buku?!” tanyaku tercengang pada Lisa.

“Iya. Update terbaru malah seratus lima puluh tujuh orang.” jawab Lisa sembari menyengir. Mungkin ia heran demi melihat kekagetanku yang bertubi-tubi. “Kita juga nggak nyangka kok. Ini di luar perkiraan. Acara bedah buku terakhir yang kita bikin cuma sekitar delapan puluh orang.”

Aku masih saja geleng-geleng kepala. “Hebat juga panitia acara ini!” batinku kagum.

Hingga tibalah pada acara yang dimaksud. Setelah suguhan musik yang kunilai sangat-sangat menarik, diskusi buku pun dimulai. Dimoderatori oleh Dwi Reinjani, tubian pertanyaan pun terbit dari mulut peserta. Jenis-jenis pertanyaannya memang sudah kudengar ratusan kali sepanjang acara diskusi buku Perjalanan ke Atap Dunia selama dua tahun terakhir ini. Tetapi aku tak pernah bosan. Karena beda acara, tentu beda pula gairah penanyanya.

PkAD - Unpas 04

Angky Andrian/JUMPAONLINE

Ketika acara usai, rupanya panitia telah menyiapkan sebuah meja dan kursi di pojok aula. Aku pun “digiring” ke sana. Sesi book signing! Kerja panitia acara ini kunilai cukup rapi. Selama ini, di beragam acara dan di berbagai kota, begitu acara diskusi buku usai, peserta yang hadir maju dan merubung begitu saja seraya menyodorkan buku untuk kutandatangani. Kadang terasa kewalahan. Karena kesannya jadi tak beraturan. Tetapi, tidak kali ini. Panitia telah menyiapkan dengan matang dan peserta diwajibkan membentuk barisan antre. Agar sesi book signing berjalan tertib dan leluasa.

Pada kenyataannya, memang demikian. Barisan antre begitu panjang. Setiap peserta tidak melulu menyorongkan sepucuk buku. Bahkan satu judul buku bisa berjumlah dua hingga lima eksemplar. Umumnya peserta mengonyok tiga judul buku yang berbeda. Baik Perjalanan ke Atap Dunia,Niskala, maupun 3360.

Salut!

PkAD - Unpas 08

Angky Andrian/JUMPAONLINE

Itulah alasan mengapa aku mesti menuliskan acara diksusi bukuku kali ini. Sambutannya hangat lagi bersahabat. Panitia begitu apik dan peserta tampak antusias. Pertanyaan-pertanyaannya bersemangat. Dan sesi book signing yang terbilang menyenangkan.

Maka, bukuku pun ludes! Di akhir acara, Herlina Lisa malah berkata padaku: “Bersedia nggak, Mas, kalo Desember nanti kita bikin workshop travel writing?”

Akhirnya, kuucapkan ribuan terima kasih kepada panitia “Bedah Buku Perjalanan ke Atap Dunia” – Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung. Khususnya Herlina Lisa yang menjembatani ini semua.

Tabik!

D.M.

Bandung, Sabtu, 15 November 2014

_____________________________

Upasadana (Sanskerta): penghormatan; penghargaan.

Foto-foto oleh Angky Andrian dan Nabila Ghina F dari JUMPA ONLINE. Diambil dari Kemeriahan Acara Bedah Buku Perjalanan ke Atap Dunia.
Iklan