Rumah Tanpa Alamat Surat: Sebuah Ulasan Singkat

Ulasan Rumah Tanpa Alamat Surat | #1

Damuh Bening
Pembaca, tinggal di Denpasar

Selesai ku baca beberapa minggu lalu, dan berjanji untuk sekadar bebagi rasa tentang buku ini, baiklah, inilah janjiku, kawan…

Ketika selesai membaca buku ini, sempat ku lontarkan pertanyaan pada kawanku itu: “Terbuat dari apa hatimu Dan? Pun juga Rella? Begitu dingin dan suram kisah2 itu yg terangkum dalam Rumah Tanpa Alamat Surat, bahkan ketika kisah bernuansa cinta pun wujudnya dingin dan beku”

Dijawabnya bahwa semua ditulisnya dengan riang.

Baca lebih lanjut

3360 – Daniel Mahendra

Ulasan 3360 | #7

Alfiani Fitri
Pembaca, tinggal di Pamekasan

Judul : 3360 – Dia tahu ada tempat untuk pergi dan kembali.
Penulis : Daniel Mahendra
Penerbit : Grasindo
Editor : Anin Patrajuangga
Desainer sampul dan ilustrasi : Sapta P. Soemowidjoko
Penata isi : Yusuf Pramono
Tahun terbit : 2014

“Meninggalkan stasiun, menyinggahi stasiun, untuk pergi ke: stasiun” -hlm. 49

Baca lebih lanjut

Rumah Tanpa Alamat Surat

RTAS - Cover - Berbayang

Apa pengertian rumah bagimu? Apakah rumah sekadar tempat tinggal? Pangkal tolak kamu berangkat? Pijakan kamu kembali pulang? Atau sekadar tempat berteduh dari bengisnya hujan dan kejamnya panas?

Apakah rumah yang kamu tinggali saat ini adalah segala-galanya bagimu? Tempat cinta tak berbatas sekaligus sumpah serapah yang melebur jadi satu? Jawablah dalam hatimu: sesungguhnya, gerangan seperti apa makna rumah yang kamu rindukan? Jangan-jangan, kamu masih tinggal di sebuah rumah tanpa alamat surat!

* * *

Baca lebih lanjut

Melihat (dunia) dari Atap Dunia

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #55

Oleh Budy Sumitraa

Menarik! Itu kata yang bisa saya gambarkan ketika sekali saya membaca tentang buku yang berjudul Perjalanan Ke Atap Dunia, awalnya saya pikir buku ini seperti buku perjalanan biasa, tetapi setelah mencoba untuk membacanya, saya tak henti membaca lembar demi lembar,karena seolah saya sedang membaca novel fiksi imajinatif, yang ternyata ini kisah nyata. Memang buku karangan Daniel Mahendra dikemas sebagai cerita perjalanan. Namun, berbeda dengan buku perjalanan lain yang cenderung seperti celotehan promosi dari biro perjalanan, di buku ini justru menawarkan sudut pandang lain dalam seorang traveller yakni meraih sebuah mimpi, cita-cita,dan goal demi goal yang dikemas apik dalam esensi sebuah perjalanan.

Bab awal dalam buku menyuguhi mimpi seorang Daniel yang ingin sekali pergi ke dataran tertinggi di dunia: Tibet.  Seperti ditarik kembali  kembali ke tiap mimpi-mimpi pembaca ketika kanak-kanak, ketika kecil ia juga bermimpi  untuk datang ke Tibet dari sebuah komik terbitan tahun 80an yang berjudul Tintin in Tibet. Dalam bagian ini Daniel percaya apa yang dikatakan Coelho bahwa “when you want something all the universe conspires in helping you to achieve it”. Di awal kita akan diajak bermain di mimpi seorang Daniel dalam menggapai mimpinya, terlepas dari itu memang di buku ini akan banyak di temui quotes-quotes yang menginspirasi (terutama bagi mereka yamg memiliki keinginan kuat) dalam meraih impian.

Baca lebih lanjut

Ketika Bangkai Pesawat Itu Ditemukan

Resensi Selamat Datang di Pengadilan | #8

Oleh Yati

Selamat Datang di Pengadilan. Saya teringat lagi dengan buku kumpulan cerpen karya Daniel Mahendra yang saya baca zaman kuliah dulu. Banyak cerita heroik di dalamnya, khas aktivis mahasiswa, yang selalu ingin melihat negerinya semakin baik. Cerita yang penuh semangat, dibumbui kisah cinta, dan juga menyelipkan kisah kelam negeri ini yang tentu saja menimbulkan kegeraman Daniel yang ketika itu aktif bergelut di dunia pers mahasiswa di Bandung. Saya sudah menduga, salah satu atau bahkan hampir seluruh cerpen di buku itu diangkat dari kisah nyata keseharian aktivis yang tak pernah jauh dari buku, cinta dan demonstrasi. Tapi saya sama sekali tidak menyangka, cerita tentang pesawat jatuh dan mayat korban yang ditenteng dalam travel bag adalah kisah nyata yang dialami sendiri oleh kakak dari Daniel (atau hanya kesamaan nama ya?). Ketika itu, saya benar-benar menangis membacanya. Rasanya marah banget. Marah dengan kelakuan cecurut, aparat yang sibuk berbisnis, tapi tak berbuat apa-apa saat satu per satu pulau negeri ini lepas karena dicaplok negara lain.

Serapih apa pun menyembunyikan borok, pasti ketahuan juga akhirnya. Dan kemarin, bangkai pesawat yang hilang 13 tahun lalu itu ditemukan di Deli Serdang. Saya terhenyak sejenak. Ini rupanya yang ada dalam cerpen Daniel itu. Tapi terlalu banyak keanehan di sana. Mulai dari kalung Wanadri yang diduga milik Diaz Barlean, kartu mahasiswa, penemuan tulang belulang dan sebagainya.

Baca lebih lanjut

Review Buku Daniel Mahendra, “Perjalanan ke Atap Dunia”

Resensi Perjalanan ke Atap Dunia | #54

Oleh Fubuki Aida

Sebetulnya buku ini sudah niat saya ambil dari rak buku Perpustakaan Ganesha sejak dulu-dulu. Tapi lantaran lagi sok sibuk, ciut nyali untuk mengambil buku setebal itu. Eh, entah karena dorongan apa, beberapa waktu lalu main lagi ke Perpustakaan Ganesha: sebuah perpustakaan keren di Solo, buku ini seolah memanggil-manggil. Tanpa pikir panjang langsung saja kucomot. Dan wow! Saya benar-benar merasa ini buku yang saya rindukan.

Perjalanan ke Atap Dunia, adalah sebuah kisah perjalanan seorang Daniel Mahendra mengunjungi impiannya. Impian yang ia dapatkan sedari kecil untuk berkunjung ke Tibet, Negeri Atap Dunia, lantaran sebuah hadiah komik: Tintin di Tibet. Buku ini bercerita bagaimana alam raya berkonspirasi mewujudkan impian yang sejak dulu selalu Daniel gaungkan.

Suatu hari di awal 2011, seorang kawan, Ijul namanya, lagi-lagi bertanya padaku, “Jadi kapan mau ke Tibet?” Aduh! Aku masih belum bisa menjawab. Ketika aku hanya bisa tertawa, di situlah aku sadar: rupanya aku tidak pernah betul-betul kongkret dalam mewujudkan impianku soal Tibet. Semata angan belaka. Lamunan tanpa tahu malu. Lalu Ijul menambahi,”Kalau kamu nggak pernah merencanakan pergi, kapan sampainya?” tetaknya saat itu. Hmm, betul juga dia.

Baca lebih lanjut