Soliloquy

Gone Too Soon

26 Juni 2009 · & Komentar

gonetoosoon03

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too Soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon

Baca terus →

→ 13 CommentsKategori: Laras

Tujuan: Gerbang Tol

17 Juni 2009 · & Komentar

highway

Selepas menggamit kartu dari petugas gerbang tol tempat asal, satu demi satu mobil berpacu menggerus aspal jalan sepanjang ratusan kilometer. Melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Memburu bagaikan peluru yang mencelat dari senapan. Bergerak seperti petualang yang tak pernah berlama-lama diam di satu tempat.

Si Innova meliuk-liuk pindah jalur. Ke kanan dan ke kiri. Kadang ia melewati truk yang mengaum berat. Salipannya seolah mengejek bahwa ia lebih lincah dari si truk bermuatan penat. Sementara si Terios melawan angin. Kecepatannya tak terduga. Tampaknya pengemudinya seorang pemuda gesit. Ia tak mau kalah dengan si Innova.

Baleno menderu pelan. Ia tenang seperti anak gadis tertikam cinta. Anggun namun juga cekatan. Di belakangnya tampak Ford Escape mengaum. Sudah sejak tadi si Ford hendak melibas si Baleno. Namun belum juga berhasil. Di sampingnya malah bis besar sedang medengekur pelan.

Baca terus →

→ 23 CommentsKategori: Ekawicara

I Think I’m In Love

9 Juni 2009 · & Komentar

love

Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Penting kah? Mungkin tidak untuk kalian. Tapi bisa jadi hal yang sangat berarti bagiku. Ya. Paling tidak ini yang kurasakan saat ini: kembali jatuh cinta! Rasanya? Weh, pasti kalian pun pernah mengalaminya bukan…

Makin kusadari, ternyata aku merasa cocok dengannya. Menarik? Sama sekali tidak memalukan. Cerdas? Itu pertimbangan utama. Cantik? Tentu saja. Paling tidak menurutku. Namun aku yakin pendapat umum pun akan setali tiga uang denganku.

Sepertinya hari-hariku selalu kuhabiskan dengannya. Selalu bersamanya. Amat jarang aku tak bersentuhan dengannya. Barangkali cuma mandi saja yang terputus kontak dengannya (kan nggak mungkin mandi sambil bawa handphone). Ya, kemana pun aku pergi, ia selalu menyertai hari-hariku.

Aku tahu, ada yang lebih cantik, lebih menarik, lebih cerdas, juga lebih seksi dari dirinya. Tapi ini soal kenyamanan. Bukan penilaian-penilaian umum yang belum tentu cocok pada setiap indvidu. Ya, nyaman. Aku merasa nyaman dengannya. Menghabiskan waktu dengannya serasa berarti dan tak ada waktu yang terbuang percuma.

Jujur mesti kuakui, pernah juga aku melirik-lirik pada yang lebih manis dibanding dia. Sekadar mengagumi barangkali. Tapi lagi-lagi aku teringat dia. Dia begitu setia. Tak cerewet. Tak membosankan. Juga tak ngambekan. Dan sama sekali tak pernah bikin aku repot hingga sebal. Kalau ada sedikit kemanjaan, ya wajarlah. Mungkin itu bentuk sayang juga.

Dengannya aku bisa bicara banyak. Menumpahkan segala apa yang kurasakan. Asal tahu saja, tidak pada setiap perempuan aku bisa bicara secara lepas dan terbuka. Ada saja sekat-sekat pembatas yang entah apa, yang kerap membuatku merasa tidak nyaman bersama seseorang. Tapi tidak dengan dirinya.

Hingga akhirnya aku luput mengucapkan terima kasih pada kesetiaannya selama ini. Bukan, bukan berarti tanpanya aku lantas aku tak bisa hidup. Tapi nyatanya dia begitu setia menemani. Baik di saat-saat bahagia, terlebih di saat berduka maupun kesepian. Ia selalu ada.

Baca terus →

→ 34 CommentsKategori: Catatan Harian