Soliloquy

Tujuan: Gerbang Tol

17 Juni 2009 · & Komentar

highway

Selepas menggamit kartu dari petugas gerbang tol tempat asal, satu demi satu mobil berpacu menggerus aspal jalan sepanjang ratusan kilometer. Melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Memburu bagaikan peluru yang mencelat dari senapan. Bergerak seperti petualang yang tak pernah berlama-lama diam di satu tempat.

Si Innova meliuk-liuk pindah jalur. Ke kanan dan ke kiri. Kadang ia melewati truk yang mengaum berat. Salipannya seolah mengejek bahwa ia lebih lincah dari si truk bermuatan penat. Sementara si Terios melawan angin. Kecepatannya tak terduga. Tampaknya pengemudinya seorang pemuda gesit. Ia tak mau kalah dengan si Innova.

Baleno menderu pelan. Ia tenang seperti anak gadis tertikam cinta. Anggun namun juga cekatan. Di belakangnya tampak Ford Escape mengaum. Sudah sejak tadi si Ford hendak melibas si Baleno. Namun belum juga berhasil. Di sampingnya malah bis besar sedang medengekur pelan.

Baca terus →

→ 23 CommentsKategori: Ekawicara

I Think I’m In Love

9 Juni 2009 · & Komentar

love

Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Penting kah? Mungkin tidak untuk kalian. Tapi bisa jadi hal yang sangat berarti bagiku. Ya. Paling tidak ini yang kurasakan saat ini: kembali jatuh cinta! Rasanya? Weh, pasti kalian pun pernah mengalaminya bukan…

Makin kusadari, ternyata aku merasa cocok dengannya. Menarik? Sama sekali tidak memalukan. Cerdas? Itu pertimbangan utama. Cantik? Tentu saja. Paling tidak menurutku. Namun aku yakin pendapat umum pun akan setali tiga uang denganku.

Sepertinya hari-hariku selalu kuhabiskan dengannya. Selalu bersamanya. Amat jarang aku tak bersentuhan dengannya. Barangkali cuma mandi saja yang terputus kontak dengannya (kan nggak mungkin mandi sambil bawa handphone). Ya, kemana pun aku pergi, ia selalu menyertai hari-hariku.

Aku tahu, ada yang lebih cantik, lebih menarik, lebih cerdas, juga lebih seksi dari dirinya. Tapi ini soal kenyamanan. Bukan penilaian-penilaian umum yang belum tentu cocok pada setiap indvidu. Ya, nyaman. Aku merasa nyaman dengannya. Menghabiskan waktu dengannya serasa berarti dan tak ada waktu yang terbuang percuma.

Jujur mesti kuakui, pernah juga aku melirik-lirik pada yang lebih manis dibanding dia. Sekadar mengagumi barangkali. Tapi lagi-lagi aku teringat dia. Dia begitu setia. Tak cerewet. Tak membosankan. Juga tak ngambekan. Dan sama sekali tak pernah bikin aku repot hingga sebal. Kalau ada sedikit kemanjaan, ya wajarlah. Mungkin itu bentuk sayang juga.

Dengannya aku bisa bicara banyak. Menumpahkan segala apa yang kurasakan. Asal tahu saja, tidak pada setiap perempuan aku bisa bicara secara lepas dan terbuka. Ada saja sekat-sekat pembatas yang entah apa, yang kerap membuatku merasa tidak nyaman bersama seseorang. Tapi tidak dengan dirinya.

Hingga akhirnya aku luput mengucapkan terima kasih pada kesetiaannya selama ini. Bukan, bukan berarti tanpanya aku lantas aku tak bisa hidup. Tapi nyatanya dia begitu setia menemani. Baik di saat-saat bahagia, terlebih di saat berduka maupun kesepian. Ia selalu ada.

Baca terus →

→ 33 CommentsKategori: Catatan Harian

Setelah Pesta Usai

5 Juni 2009 · & Komentar

party2

Apa yang terjadi setelah sebuah pesta selesai digelar? Ketika tikar digulung, ketika tetamu pulang kampung, dan sisa makanan telah dilarung? Apakah kehidupan kembali seperti sediakala? Adakah hanya menyisakan satu perbedaan: suasana?

Seorang teman berulangkali berkata padaku:
“Menikah itu mudah, Dan.”
“Lalu?”
“Yang tidak mudah adalah satu hari setelah pesta pernikahan berlalu.”
“Kenapa rupanya?”
“Kau akan tau sendiri nanti.”

Ketika persiapan pemilu dirancang, sebagian orang gegap gempita menyambutnya. Kalau perlu seluruh jiwa raga disuguhkan sepenuhnya demi pemilu semata. Yang mengeluarkan kocek dan yang mendulang kocek saling berebut tempat.

Ketika hari H dan pengumuman pemenang dikumandangkan, suasana kehidupan bernegara kembali seperti biasa. Anak-anak pergi ke selolah, orang dewasa bekerja, jalanan tetap macet, dan pengemis tidak lantas surut.

Baca terus →

→ 28 CommentsKategori: Ekawicara