<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Soliloquy</title>
	<atom:link href="http://penganyamkata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penganyamkata.wordpress.com</link>
	<description>Penganyam Kata Perjuangan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Nov 2009 07:41:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='penganyamkata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ed52bd92ffc5bc959db8c0c3483bf424?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Soliloquy</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Epitaph, Sebuah Novel</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/11/27/epitaph-sebuah-novel/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/11/27/epitaph-sebuah-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 07:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=1362</guid>
		<description><![CDATA[Epitaph adalah novel bagian pertama dari The Epitaph Trilogy (Epitaph, Epigraf, dan Epilog). Pernah dimuat secara bersambung di danielmahendra.com mulai 16 Mei 2008 s/d 8 Agustus 2008 sebanyak 45 postingan.
Awalnya berupa cerita pendek berjudul Peristirahatan Abadi yang dimuat di majalah Suara Mahasiswa pada sekira September 1996. Lalu dimasukkan ke dalam buku kumpulan cerpen Selamat Datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1362&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Epitaph</em> adalah novel bagian pertama dari <em>The Epitaph Trilogy</em> (Epitaph, Epigraf, dan Epilog). Pernah dimuat secara bersambung di danielmahendra.com mulai 16 Mei 2008 s/d 8 Agustus 2008 sebanyak 45 postingan.</p>
<p>Awalnya berupa cerita pendek berjudul <em>Peristirahatan Abadi</em> yang dimuat di majalah <em>Suara Mahasiswa</em> pada sekira September 1996. Lalu dimasukkan ke dalam buku kumpulan cerpen <em>Selamat Datang di Pengadilan</em> dengan judul <em>Epitaph</em> pada September 2001. Pada Desember 2006 dikembangkan lagi dan rampung sebagai naskah novel. Memerlukan waktu hingga sepuluh tahun sejak 1996 hingga 2006 untuk bisa menjadi novel seperti yang pernah dimuat di blog danielmahendra.com. Namun pada proses penulisannya hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 30 hari.</p>
<p>Lalu pada Juli 2009 naskah <em>Epitaph</em> ditulis ulang serta diperluas kembali agar lengkap sebagai naskah novel yang siap terbit: Desember 2009.</p>
<p style="text-align:left;">Salam,<br />
D.M.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/11/epitaph-paling-oke-3.jpg?w=450&#038;h=237" alt="" width="450" height="237" /></p>
<p><span id="more-1362"></span></p>
<p>Tragis! Memainkan emosi pembaca. Membuat kita mereka-reka: mana fiksi dan mana fakta.<br />
<strong>Geson Poyk</strong><em>, Sastrawan dan Wartawan Senior.</em></p>
<p>Hidup terdiri dari banyak kisah. Anggapan hidup adalah realitas jadi bias, karena setiap hari terhampar di hadapan kita kisah-kisah manusia luar biasa yang seolah fiksi, mampu menerobos batas akal manusia. Seperti halnya “Epitaph”; menyodorkan antara realitas dan fiksi. Membaca &#8220;Epitaph&#8221; kita bertanya-tanya, apakah ini berdasarkan realitas ataukah fiksi. Bahkan di akhir cerita, justru kita memiliki fantasi sendiri, jangan-jangan tulisan di batu nisan itu adalah diri kita!<br />
<strong>Gola Gong</strong><em>, Pemimpin Redaksi www.rumahdunia.net, pengarang.</em></p>
<p>Epitaph adalah novel yang mengemas dunia jurnalistik, ditulis dengan semangat menggabungkan antara suspens dan romantik. Sedap.<br />
<strong>Kurnia Effendi</strong><em>, Penulis memoar Hee Ah Lee, The Four Fingered Pianist.</em></p>
<p>Mengalir dengan kisah dan data yang cukup kuat. Novel Epitaph menyajikan kisah berbingkai dan pecahan alur yang indah di tiap babnya untuk membangun utuh fenomena yang lebih pelik; hegemoni negara.</p>
<p>Semata-mata bukan buruknya sistem penerbangan kita, bukan juga lembaga pemerintahan yang mendistorsi kenyataan demi tujuan bersifat material, novel bagian awal dari trilogi ini secara “cair” mengisahkan problem yang lebih rumit bila dijelaskan dengan fakta oleh para ilmuwan, jurnalis atau pun politisi.<br />
<strong>Sihar Ramses Simatupang</strong><em>, Redaktur Budaya Harian Sinar Harapan dan finalis 10 besar Khatulistiwa Literary Award tahun 2009 untuk kategori prosa.</em></p>
<p>Epitaph mengolah tema cinta dengan gaya ungkap yang menarik untuk direnungkan. Ada banyak pertanyaan filosofis yang diselipkan dalam benak para tokohnya, yang membuat kita bertanya-tanya dengan sesungguh hati, misal apa itu cinta dan dicintai, atau apa itu cinta dan mencintai? Epitaph tidak hanya bercerita atau berkisah lewat tokoh-tokoh yang dihidupkannya, akan tetapi juga ia tengah menggugat kesadaran kita agar kembali memahami dengan sesungguh hati tentang apa itu cinta dan dicintai dalam pengertian seluas-luasnya.<br />
<strong>Soni Farid Maulana</strong><em>, Redaktur Senior Harian Pikiran Rakyat dan finalis 5 besar Khatulistiwa Literary Award tahun 2006, tahun 2007, dan finalis 10 besar tahun 2009 untuk kategori puisi.</em></p>
Posted in Catatan Harian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/1362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/1362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/1362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/1362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/1362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/1362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/1362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/1362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/1362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/1362/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1362&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/11/27/epitaph-sebuah-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/11/epitaph-paling-oke-3.jpg?w=500" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Naik Becak Bermotor</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/07/02/jangan-naik-becak-bermotor/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/07/02/jangan-naik-becak-bermotor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 16:53:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=1153</guid>
		<description><![CDATA[
Jangan (Lagi-lagi jangan. Kayak zaman Orde Jangan saja!). Baiklah. Jangan terlampau terprovokasi dengan judul di atas. Tulisan ini hanya untuk mengolok-olok diriku sendiri atas pengalaman dua kali naik becak bermotor di kota Jogja, dan dua kali pula dibohongi. Begini ceritanya.
Di suatu siang yang panas, aku ingin sekali makan gudeg asli khas Jogja. Supaya tambah romantis, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1153&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-full wp-image-1154 alignleft" title="becak1" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/07/becak1.jpg?w=240&#038;h=326" alt="becak1" width="240" height="326" /></p>
<p>Jangan (Lagi-lagi jangan. Kayak zaman Orde Jangan saja!). Baiklah. Jangan terlampau terprovokasi dengan judul di atas. Tulisan ini hanya untuk mengolok-olok diriku sendiri atas pengalaman dua kali naik becak bermotor di kota Jogja, dan dua kali pula dibohongi. Begini ceritanya.</p>
<p>Di suatu siang yang panas, aku ingin sekali makan gudeg asli khas Jogja. Supaya tambah romantis, becak pun jadi pilihanku (di Bandung mana bisa naik becak). Setelah tawar-menawar harga, si tukang becak menyodorkan ongkos Rp10 ribu untuk jarak ke Jalan Wijilan. Rasanya itu harga yang pantas. Aku pun loncat ke atas becak. Aku tak mengira, rupanya becaknya becak bermotor. Baiklah.</p>
<p>Tak berapa lama sampailah di Jalan Wijilan. Begitu menyodorkan selembar Rp10 ribu, si tukang becak memprotes:<br />
“Lima belas ribu, Mas.”<br />
“Lho, tadi kan kesepakatannya sepuluh ribu, Pak?”<br />
“Iya. Tapi kalau naik taksi aja berapa, Mas!” jawabnya tak ramah.</p>
<p>Mendapat jawaban seperti itu aku jadi kesal. Bukan kesal karena uang 5 ribu perak. Tapi lebih pada kesepakatan awal: ia telah melanggar perjanjian. Daripada ribut soal selembar uang lima ribu, akhirnya aku mengalah. Tapi dalam hati kejadian itu sedikit mengganggu pikiranku. Itu tak baik bagi kota wisata seperti Jogja.</p>
<p><span id="more-1153"></span>Memang, perwujudanku sangat mudah dikenali sebagai pendatang dengan ransel di punggung. Tapi justru di situlah persoalannya. Orang tidak bisa memainkan harga begitu saja hanya karena melihat tamu yang sedang berkunjung ke kota Jogja. Apalagi Jogja kota wisata. Setiap hari selalu ada <em>traveler-traveler</em> nyasar macam aku.</p>
<p>Naik taksi memang lebih cepat dan sejuk. Tapi aku sengaja naik becak karena memang tidak sedang mengejar waktu. Dan lagi aku ingin menikmati jalan kota Jogja dengan tenang dan santai. Maka becaklah pilihanku. Memang hal sepele. Tapi bagaimana wajah kota Jogja kalau tukang becaknya bisa seenaknya keluar dari perjanjian yang telah disepakati…</p>
<p>Aku tak ingin jadi orang pendendam. Tapi tukang becak yang satu itu rasanya perlu diberi sedikit “pelajaran”. Hehehe. Akhirnya, untuk satu keperluan pemesanan tiket (juga tidak buru-buru), aku kembali melewati tempat nangkring tukang becak yang kemarin sudah “membohongiku”.</p>
<p>Aku minta diantar ke Stasiun Tugu. Seorang tukang becak menyarankan aku untuk naik becak (plus tukang becak) yang kemarin mengantarkan aku ke Jalan Wijilan. Karena mungkin itu gilirannya. Begitu melihat wajahku, si tukang becak yang dimaksud tampak terkesiap. Serta merta aku berkata:</p>
<p>“Siapa yang mengantar? Becaknya bermotor nggak? Kalau iya aku nggak mau.”<br />
“Tapi ini giliran dia, Mas.” sahut tukang becak yang menawari aku.<br />
“Kalau gitu aku nggak mau.”<br />
“Ya sudah saya saja.”<br />
“Ke Stasiun Tugu berapa?”<br />
“Sepuluh ribu aja, Mas.”<br />
“Yakin sepuluh ribu ya? Nggak berubah?”<br />
“Yakin, Mas.”<br />
Dan aku loncat ke dalam becak dengan perasaan menang.</p>
<p>Andai si tukang becak yang kemarin mengantarkan aku tidak membohongi aku, aku akan dengan senang hati naik becak bermotornya dan menambahi barang dua lembar seribuan untuk sekadar uang tambahan. Tapi karena sekali lancung dalam ujian, apa boleh buat, rezeki orang memang sudah ada yang mengatur.</p>
<p>Malam berikutnya aku ada janji bertemu dengan <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/" target="_blank">Uda Vizon</a>, <a href="http://ladangkata.com/" target="_blank">Lisa</a>, dan <a href="http://yainal.web.id/" target="_blank">Yainal</a> di Alun Alun Kidul. Hendak ngobrol-ngobrol santai sembari menikmati suasana malam kota Jogja ditemani wedhang jahe atau seruputan kopi.</p>
<p>Karena hari yang padat, aku mandi dan terburu-buru keluar penginapan. Taksi tak lewat-lewat. Tiba-tiba dari arah samping muncul tukang becak bermotor. Ia menawarkan jasa. Ongkos kami sepakati sebesar 15 ribu perak. Aku pun loncat ke dalam.</p>
<p>Setelah meliuk-liuk, aku diturunkan (awalnya aku tidak tahu diturunkan di mana) di bagian belakang halaman Keraton (dekat Tamansari).</p>
<p>“Lho, mana alun-alunnya?” tanyaku heran.<br />
“Becak nggak boleh lewat situ, Mas.” (Maksudnya tidak boleh melintasi halaman belakang Keraton. Ya iyalah!).<br />
“Jadi?”<br />
“Mas masuk gerbang situ, jalan sebentar, terus keluar gerbang satu lagi, dari situ bisa naik becak lagi ke Alun-Alun Kidul.”</p>
<p>Mendengar penuturannya aku sudah mengumpat: Semprul! Aku dibohongi lagi! Ini sih bukan Alun Alun Kidul, Dodol! semburku dalam hati masygul. Apa karena aku menggendong ransel, jadi tukang becak bisa seenaknya mempermainkan penumpang yang tampak layaknya tamu seperti aku?</p>
<p>Tentu ini tidak <em>fair</em>. Lagi-lagi bukan soal uang, tapi soal melayani penumpang dengan jujur. Ia tidak bekerja dengan hati. Ia menurunkan penumpang seenaknya dengan berbagai alasan. Oke, aku memang tidak hapal seluk beluk kota Jogja seratus persen. Namanya juga tamu. Tapi apa iya bisa diperlakukan seperti itu. Bukan soal akunya, tapi pelayanan transportasi semacam itu memiliki kontribusi dalam membentuk wajah kota juga bukan?</p>
<p>Yang lebih menggelikan kalau melintas trotoar Jalan Malioboro, selalu saja para tukang becak menawari jasanya dengan berkata: “Lima ribu, Mas. Puter-puter. Keraton, Dagadu. Hanya lima ribu. Ayo!”</p>
<p>Aih, yang benar saja…</p>
<p>Meksi demikian aku tak pernah kapok naik becak di Jogja. Mau bagaimana, romantis sih… <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>saya mau tamasya, keliling-keliling kota<br />
hendak melihat-lihat, keramaian yang ada<br />
saya panggilkan becak, kereta tak berkuda<br />
becak, becak, coba bawa saya</em></p>
<p>Jogjakarta, 24 Juni 2009 | 01.25 wib</p>
<p>Foto: DM<br />
Model: Riku Miyashita<br />
Lokasi: Stasiun Tugu, Jogjakarta, April 2009</p>
Posted in Catatan Harian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/1153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1153&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/07/02/jangan-naik-becak-bermotor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/07/becak1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">becak1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Moon Is Walking</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/07/01/the-moon-is-walking/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/07/01/the-moon-is-walking/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 00:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=1134</guid>
		<description><![CDATA[Cukup lama aku baru bisa merawikan perasaanku atas meninggalkanya Michael Jackson dalam bentuk tulisan. Pentingkah? Mungkin tidak bagi banyak orang, tapi namanya juga blog, aku berhak menuliskan apa yang ingin kutuliskan bukan…

Sulit. Sangat sulit menerima kenyataan bahwa MJ telah meninggal. Apalagi kala kali pertama mendengar berita tersebut. Malam itu (seperti biasa) aku tertidur di depan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1134&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cukup lama aku baru bisa merawikan perasaanku atas meninggalkanya Michael Jackson dalam bentuk tulisan. Pentingkah? Mungkin tidak bagi banyak orang, tapi namanya juga blog, aku berhak menuliskan apa yang ingin kutuliskan bukan…</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1135" title="childhood" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/07/childhood.jpg?w=463&#038;h=340" alt="childhood" width="463" height="340" /><br />
Sulit. Sangat sulit menerima kenyataan bahwa MJ telah meninggal. Apalagi kala kali pertama mendengar berita tersebut. Malam itu (seperti biasa) aku tertidur di depan laptop yang masih menyala di sebuah hotel di Jogjakarta. Pagi-pagi betul aku terbangun dan melihat di <em>list</em> YM hanya satu orang teman yang sedang <em>online</em>. Di sana ia menulis sebuah status: <em>MJ died?</em> Awalnya aku belum kaget. Tapi sudah bisa ditebak: aku langsung membuka berbagai situs berita internasional. Terutama CNN. Dari banyak situs berita yang memuat hal tersebut, aku jadi yakin: Michael Jackson betul telah meninggal dunia.</p>
<p>Bagaimana perasaanku? Sulit untuk menggambarkannya. Pilu, sedih, nestapa, gulana, dengan mata berkaca-kaca? Entahlah. Sudah sejak saat itu aku mendapatkan begitu banyak SMS, telpon, dan email ucapan duka cita dari berbagai teman dan sahabat. Seolah mereka tahu perasaanku. Mulai dari teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman sepermainan, mantan pacar, keluarga, dan berbagai handai taulan. Semua seolah tahu: ada relasi nilai antara diriku dan MJ.</p>
<p><span id="more-1134"></span></p>
<p>Sebegitu pentingkah arti seorang Michael Jackson bagi diriku? Jawabnya adalah penting. Karena dia lah orang yang menemaniku sejak aku SD hingga sebesar ini. Lewat lagu-lagunya, lewat liriknya, lewat musiknya, lewat tariannya, lewat kisah hidupnya, semua memiliki relasi nilai terhadap jalan hidupku. Apa mau dikata, lebih dari 25 tahun aku mengenal MJ.</p>
<p>Sejak SD aku menyukai MJ. MJ di tahun 80-an adalah hero. Maka menjadikannya sebagai idola adalah juga mengikuti trend musik itu sendiri. Nyaris apa pun yang berhubungan dengan MJ kudokumentasi. Kliping koran, kliping majalah, poster, kaset, CD, VCD, DVD, Video Beta, MP3, buku, bahkan sampai kumpulan download internet.</p>
<p>Tapi dunia berkembang. Manusia juga berubah. Sejalan dengan waktu, mengakui mengidolakan MJ adalah sebuah hal yang menggelikan bagi banyak orang. Paling tidak itu yang kurasakan. Seringkali aku ditertawakan atau merasa terintimidasi kalau ketahuan menyukai MJ. Padahal kesukaanku pada MJ sama sekali tidak mengganggui hak-hak individu orang lain.</p>
<p>Ada banyak argumen mengapa aku menyukai MJ. Dan semua itu berhubungan dengan relasi nilai antara diriku dengan MJ itu sendiri. Baik musiknya maupun kehidupan pribadinya. Yang kesemua itu dipandang dengan tatapan iba di mata banyak teman. Hingga akhirnya, dengan diam-diam aku menikmati MJ secara diam-diam pula.</p>
<p>Namun apa boleh buat, apa yang ia suguhkan seolah dapat mengakomodasi apa yang kubutuhkan. Terutama soal perasaan. Sulit. Sangat sulit menjelaskan bagaimana seorang MJ dapat mengakomodir diriku dengan apa yang ia tampilkan. Tak banyak, bahkan nyaris tak ada orang yang betul-betul dapat memahami mengapa aku memiliki keterikatan terhadap MJ. Tentu yang bisa tahu adalah orang yang bisa memahami MJ itu sendiri.</p>
<p>MJ di mata orang lain bisa jadi hanya sekadar penyanyi pop. Dan itu adalah wajar. Tapi tidak bagiku. MJ bukan sekadar seorang penyanyi. Ia bukan semata seorang idola. Jangakauanku terhadap MJ sudah melampaui tahapan itu tanpa aku harus mengkultuskan dirinya menjadi seolah seorang nabi. Sosok MJ bagiku telah melebihi sebutan-sebutan yang umum dilekatkan orang pada dirinya. MJ adalah sikap. MJ juga adalah suatu kepribadian bagi diriku.</p>
<p>Maka ketika mendapati kenyataan bahwa MJ meninggal dunia, jujur saja, aku kerap masih belum bisa percaya begitu saja bahwa sosok itu telah pergi. Sosok yang di mata banyak orang begitu penuh kontroversi itu. Tapi bukankah ini dunia, bukan surga. Segalanya bisa saja terjadi di atas bumi ini. Sebagaimana kematian merenggut Elvis Presley, John Lennon, atau Freddie Mercury. Meski demikian, musik tetap terus dimainkan.</p>
<p>Hidup tetap terus berlangsung. Ada begitu banyak kematian di sekitar kita. Bagaimana pun kapasitasnya. Memang, adalah sulit bagi penyanyi lain di dunia ini bisa melampaui apa yang telah dicapai MJ. Namun demikian, Michael Jackson tetaplah manusia biasa. Tetap seorang anak ketujuh dari sembilan bersaudara pasangan Katherine Esther Jackson dan Joseph Walter Jackson yang dilahirkan di Gary, Indiana, pada 29 Agustus 50 tahun lalu.</p>
<p>Ia telah menorehkan sejarah, tidak saja bagi keluarga Jackson, tapi juga bagi sejarah musik dunia. Ia yang memutuskan bersolo karir lepas dari saudara-saudaranya dalam The Jacksons. Ia yang melabrak pakem lama bahwa penyanyi kulit hitam tak bisa masuk MTV. Ia yang bisa membuat media internasional mengemis meminta wawancara dengannya ketika kebanyakan media saat itu selalu menganak emaskan penyanyi kulit putih untuk tampil di sampul depan. Ia yang mendapatkan ratusan penghargaan internasional. Ia yang berhasil menjual album paling laris di dunia sepanjang masa. Ia yang dapat membuat musik tak hanya sedap didengar, tapi juga dirasakan.</p>
<p>Lepas dari itu semua, Michael Jackson tetaplah manusia biasa. Ia punya sekeranjang kekurangan, kemalangan, kemurungan hidup, duka nestapa, serta segepok penderitaan sebagai bayaran yang sangat mahal atas kesuksesannya. Orang selalu menyangka MJ memiliki segalanya. Padahal ia sama halnya dengan manusia lainnya. Ia justru sangat menderita hingga harus berkata: <em>sesungguhnya menjadi diriku teramat sangat memedihkan</em>.</p>
<p>Sulit dipungkiri, meninggalnya MJ membuat semesta menundukkan kepala atas kepergiannya. Media sibuk. Google kelabakan. Dan dunia musik menangis tersedu-sedu. Tapi inilah hidup. Kata-katanya dalam lirik lagu <em>Heal The World</em> takkan hilang begitu saja. Sebagaimana tokoh besar lainnya yang pernah hidup dan menginspirasi banyak orang di dunia ini.</p>
<p>Selamat jalan, Mike. Aku beruntung hidup di abad di mana kau ada di dalamnya…</p>
<p><strong>Michael Joseph Jackson<br />
29 Agustus 1958 &#8211; 25 Juni 2009</strong></p>
<p><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-1137" title="Michael" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/07/michael1.jpg?w=243&#038;h=189" alt="Michael" width="243" height="189" /></strong></p>
<p><em>we’ve been together<br />
for such a long time now<br />
music, music and me<br />
don’t care whether all our songs rhyme now<br />
music, music and me</p>
<p>only know wherever I go<br />
we’re as close as two friends can be<br />
there have been others<br />
but never two lovers<br />
like music, music and me</p>
<p>grab a song and come along<br />
you can sing your melody<br />
in your mind you will find<br />
a world of sweet harmony<br />
birds of a feather<br />
we’ll fly together<br />
now music, music and me<br />
music and me</em></p>
<p>(Michael Jakcson &#8211; Music and Me)</p>
Posted in Opini  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/1134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/1134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/1134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/1134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/1134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/1134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/1134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/1134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/1134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/1134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1134&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/07/01/the-moon-is-walking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/07/childhood.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">childhood</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/07/michael1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Michael</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gone Too Soon</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/26/gone-too-soon/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/26/gone-too-soon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 00:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laras]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=1105</guid>
		<description><![CDATA[
Like a comet
Blazing &#8216;cross the evening sky
Gone too soon
Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon
Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night
Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon
Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon
Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too Soon
Born to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1105&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-1113 aligncenter" title="gonetoosoon03" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/gonetoosoon031.jpg?w=400&#038;h=272" alt="gonetoosoon03" width="400" height="272" /></p>
<p>Like a comet<br />
Blazing &#8216;cross the evening sky<br />
Gone too soon</p>
<p>Like a rainbow<br />
Fading in the twinkling of an eye<br />
Gone too soon</p>
<p>Shiny and sparkly<br />
And splendidly bright<br />
Here one day<br />
Gone one night</p>
<p>Like the loss of sunlight<br />
On a cloudy afternoon<br />
Gone too soon</p>
<p>Like a castle<br />
Built upon a sandy beach<br />
Gone too soon</p>
<p>Like a perfect flower<br />
That is just beyond your reach<br />
Gone too Soon</p>
<p>Born to amuse, to inspire, to delight<br />
Here one day<br />
Gone one night</p>
<p>Like a sunset<br />
Dying with the rising of the moon<br />
Gone too soon<br />
Gone too soon</p>
<p><span id="more-1105"></span></p>
<p><strong>29 Agustus 1958 &#8211; 25 Juni 2009</strong></p>
Posted in Laras  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/1105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/1105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/1105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/1105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/1105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/1105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/1105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/1105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/1105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/1105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1105&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/26/gone-too-soon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/gonetoosoon031.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gonetoosoon03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuan: Gerbang Tol</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/17/tujuan-gerbang-tol/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/17/tujuan-gerbang-tol/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 23:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekawicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=1073</guid>
		<description><![CDATA[
Selepas menggamit kartu dari petugas gerbang tol tempat asal, satu demi satu mobil berpacu menggerus aspal jalan sepanjang ratusan kilometer. Melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Memburu bagaikan peluru yang mencelat dari senapan. Bergerak seperti petualang yang tak pernah berlama-lama diam di satu tempat.
Si Innova meliuk-liuk pindah jalur. Ke kanan dan ke kiri. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1073&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-full wp-image-1076" title="highway" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/highway2.jpg?w=499&#038;h=321" alt="highway" width="499" height="321" /></p>
<p>Selepas menggamit kartu dari petugas gerbang tol tempat asal, satu demi satu mobil berpacu menggerus aspal jalan sepanjang ratusan kilometer. Melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Memburu bagaikan peluru yang mencelat dari senapan. Bergerak seperti petualang yang tak pernah berlama-lama diam di satu tempat.</p>
<p>Si Innova meliuk-liuk pindah jalur. Ke kanan dan ke kiri. Kadang ia melewati truk yang mengaum berat. Salipannya seolah mengejek bahwa ia lebih lincah dari si truk bermuatan penat. Sementara si Terios melawan angin. Kecepatannya tak terduga. Tampaknya pengemudinya seorang pemuda gesit. Ia tak mau kalah dengan si Innova.</p>
<p>Baleno menderu pelan. Ia tenang seperti anak gadis tertikam cinta. Anggun namun juga cekatan. Di belakangnya tampak Ford Escape mengaum. Sudah sejak tadi si Ford hendak melibas si Baleno. Namun belum juga berhasil. Di sampingnya malah bis besar sedang medengekur pelan.</p>
<p><span id="more-1073"></span>Tiba-tiba dari arah kanan sebuah BMW seri 7 dengan cepat berpindah jalur. Ia masuk jalur kiri, untuk seterusnya menembus bahu jalan. Ini memang tak disaranakan. Tapi kecepatan mobil Jerman itu tak tertandingi. Ia bisa dengan cepat berpindah dan masuk kembali ke jalur kiri. Tubuhnya memang tangguh dan seksi. Orang-orang terpana atas kelincahannya.</p>
<p>Tak berapa lama dari si BMW, rupanya sebuah Mercy hitam nyaris bersirobok di tengah-tengah hamparan. Speedometernya yang cantik sudah memunculkan gambar tengkorak, tanda: awas, hati-hati, Bung! Tapi lagi-lagi stabilitas  mobil Jerman itu memang patut diandalkan. Tubuhnya tak goyang apalagi bergetar. Pengemudinya lihai benar.</p>
<p>Kilometer demi kilometer dilibas dan dilalui. Sawah, pegunungan, sungai, dan perumahan dilewati. Semua untuk satu tujuan: gerbang tol. Tak ada yang bisa keluar tanpa melewati gerbang tol. Kemana pun arah yang hendak dituju, gerbang tol jua yang mesti dilalui. Mengembalikan tiket, serta membayar biaya perjalanan.</p>
<p>Begitulah hidup di dunia. Ada yang naik bis, ada yang naik travel, ada yang mengemudi truk, ada yang mengendarai sedan cantik, ada yang mengemudikan MPV tangguh, tujuannya tetap satu: gerbang tol. Kita bisa berbeda dengan orang lain. Mungkin kecepatannya, mungkin kebandelan mesinnya, mungkin body-nya yang seksi, mungkin aksesorinya yang mulus, tetap saja tujuannya sama: gerbang tol.</p>
<p>Kita bisa berhenti di kilometer sekian. Istirah sejenak, lari ke toilet, menyeruput kopi, menyulut rokok, mengisi bahan bakar, namun untuk kemudian kembali pergi melanjutkan perjalanan. Kita bisa keluar sebentar di pintu tertentu, mampir ke sebuah tempat, tapi tujuan kita tetap tak berubah. Tak jarang ada pula yang mengalami kerusakan ban, ngadat mesin, atau tabrakan. Namun semua tak mengubah tujuan semula: gerbang tol.</p>
<p>Tak dipungkiri, ada juga yang belum lagi tahu mesti keluar di pintu tol mana. Ia terus berjalan dan berjalan saja. Tak peduli arah yang sedang ia tempuh. Meski ia tahu, di pintu mana pun ia keluar, tetap gerbang tol juga yang harus ia lewati.</p>
<p>Begitulah hidup. Apa pun kendaraan yang kita gunakan, berapa pun kecepatan yang bisa kita pacu, secantik atau segesit apa pun jalan kita, tetap gerbang tol jua tujuan kita. Ada yang lebih cepat sampai, ada yang tenang-tenang di jalanan, ada yang terseok-seok menempuh perjalanan. Namun dari kesemuanya: tujuannya tetap sama.</p>
<p>Kemana tujuan hidup kita sebenarnya?</p>
<p>Jakarta, 17 Juni 2009 | 00.10 wib</p>
<p>Ilustrasi: <a href="http://americatsures.files.wordpress.com/2009/03/americatsures_the-highway.jpg" target="_blank">Highway</a></p>
Posted in Ekawicara  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/1073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/1073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/1073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/1073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/1073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/1073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/1073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/1073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/1073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/1073/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1073&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/17/tujuan-gerbang-tol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/highway2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">highway</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Think I’m In Love</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/09/i-think-i%e2%80%99m-in-love/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/09/i-think-i%e2%80%99m-in-love/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 19:57:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=1023</guid>
		<description><![CDATA[
Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Penting kah? Mungkin tidak untuk kalian. Tapi bisa jadi hal yang sangat berarti bagiku. Ya. Paling tidak ini yang kurasakan saat ini: kembali jatuh cinta! Rasanya? Weh, pasti kalian pun pernah mengalaminya bukan…
Makin kusadari, ternyata aku merasa cocok dengannya. Menarik? Sama sekali tidak memalukan. Cerdas? Itu pertimbangan utama. Cantik? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1023&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-medium wp-image-1029 alignleft" title="love" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/love.gif?w=240&#038;h=226" alt="love" width="240" height="226" /></p>
<p style="text-align:right;">Aku rasa aku sedang jatuh cinta. Penting kah? Mungkin tidak untuk kalian. Tapi bisa jadi hal yang sangat berarti bagiku. Ya. Paling tidak ini yang kurasakan saat ini: kembali jatuh cinta! Rasanya? Weh, pasti kalian pun pernah mengalaminya bukan…</p>
<p style="text-align:right;">Makin kusadari, ternyata aku merasa cocok dengannya. Menarik? Sama sekali tidak memalukan. Cerdas? Itu pertimbangan utama. Cantik? Tentu saja. Paling tidak menurutku. Namun aku yakin pendapat umum pun akan setali tiga uang denganku.</p>
<p>Sepertinya hari-hariku selalu kuhabiskan dengannya. Selalu bersamanya. Amat jarang aku tak bersentuhan dengannya. Barangkali cuma mandi saja yang terputus kontak dengannya (kan nggak mungkin mandi sambil bawa <em>handphone</em>). Ya, kemana pun aku pergi, ia selalu menyertai hari-hariku.</p>
<p>Aku tahu, ada yang lebih cantik, lebih menarik, lebih cerdas, juga lebih seksi dari dirinya. Tapi ini soal kenyamanan. Bukan penilaian-penilaian umum yang belum tentu cocok pada setiap indvidu. Ya, nyaman. Aku merasa nyaman dengannya. Menghabiskan waktu dengannya serasa berarti dan tak ada waktu yang terbuang percuma.</p>
<p>Jujur mesti kuakui, pernah juga aku melirik-lirik pada yang lebih manis dibanding dia. Sekadar mengagumi barangkali. Tapi lagi-lagi aku teringat dia. Dia begitu setia. Tak cerewet. Tak membosankan. Juga tak <em>ngambekan</em>. Dan sama sekali tak pernah bikin aku repot hingga sebal. Kalau ada sedikit kemanjaan, ya wajarlah. Mungkin itu bentuk sayang juga.</p>
<p>Dengannya aku bisa bicara banyak. Menumpahkan segala apa yang kurasakan. Asal tahu saja, tidak pada setiap perempuan aku bisa bicara secara lepas dan terbuka. Ada saja sekat-sekat pembatas yang entah apa, yang kerap membuatku merasa tidak nyaman bersama seseorang. Tapi tidak dengan dirinya.</p>
<p>Hingga akhirnya aku luput mengucapkan terima kasih pada kesetiaannya selama ini. Bukan, bukan berarti tanpanya aku lantas aku tak bisa hidup. Tapi nyatanya dia begitu setia menemani. Baik di saat-saat bahagia, terlebih di saat berduka maupun kesepian. Ia selalu ada.</p>
<p><span id="more-1023"></span></p>
<p><img class="size-medium wp-image-1024 alignleft" title="Meja Kerja DM" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/meja-kerja-dm.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Meja Kerja DM" width="225" height="300" /></p>
<p>Untuk itu, aku ingin mengucapkan terima kasih pada laptopku yang setia ini. Sudah setahun aku bersamanya. Jauh melebihi kebersamaan dengan manusia manapun di dunia ini dalam kurun satu tahun terakhir.</p>
<p>Untuk waktu-waktu ke depan, mungkin aku akan lebih apik merawatnya. Kasihan, nyaris 24 jam ia menyala. Betapa teganya aku. Padahal ada banyak alternatif untuk membuatnya lebih banyak istirahat dan digunakan pada waktu-waktu yang semestinya saja.</p>
<p>Semoga apa yang kuhasilkan di masa-masa mendatang akan jauh lebih berarti dan produktif dengan laptop ini.</p>
<p>Hei, benda apa yang begitu setia mendampingimu hingga kau begitu sayang padanya? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bandung, 9 Juni 2009 | 02.36 wib</p>
<p>Ilustrasi: <a href="http://www.chrismadden.co.uk/yah/tunnel-of-love-cartoon.gif" target="_blank">Tunnel of Love</a></p>
Posted in Catatan Harian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/1023/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/1023/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/1023/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=1023&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/09/i-think-i%e2%80%99m-in-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/love.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">love</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/meja-kerja-dm.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Meja Kerja DM</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Pesta Usai</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/05/setelah-pesta-usai/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/05/setelah-pesta-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 20:44:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekawicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[
Apa yang terjadi setelah sebuah pesta selesai digelar? Ketika tikar digulung, ketika tetamu pulang kampung, dan sisa makanan telah dilarung? Apakah kehidupan kembali seperti sediakala? Adakah hanya menyisakan satu perbedaan: suasana?
Seorang teman berulangkali berkata padaku:
“Menikah itu mudah, Dan.”
“Lalu?”
“Yang tidak mudah adalah satu hari setelah pesta pernikahan berlalu.”
“Kenapa rupanya?”
“Kau akan tau sendiri nanti.”
Ketika persiapan pemilu dirancang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=996&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-999" title="party2" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/party2.jpg?w=200&#038;h=241" alt="party2" width="200" height="241" /></p>
<p>Apa yang terjadi setelah sebuah pesta selesai digelar? Ketika tikar digulung, ketika tetamu pulang kampung, dan sisa makanan telah dilarung? Apakah kehidupan kembali seperti sediakala? Adakah hanya menyisakan satu perbedaan: suasana?</p>
<p>Seorang teman berulangkali berkata padaku:<br />
“Menikah itu mudah, Dan.”<br />
“Lalu?”<br />
“Yang tidak mudah adalah satu hari setelah pesta pernikahan berlalu.”<br />
“Kenapa rupanya?”<br />
“Kau akan tau sendiri nanti.”</p>
<p>Ketika persiapan pemilu dirancang, sebagian orang gegap gempita menyambutnya. Kalau perlu seluruh jiwa raga disuguhkan sepenuhnya demi pemilu semata. Yang mengeluarkan kocek dan yang mendulang kocek saling berebut tempat.</p>
<p>Ketika hari H dan pengumuman pemenang dikumandangkan, suasana kehidupan bernegara kembali seperti biasa. Anak-anak pergi ke selolah, orang dewasa bekerja, jalanan tetap macet, dan pengemis tidak lantas surut.</p>
<p><span id="more-996"></span></p>
<p>Orang berkata: tujuan bukanlah utama. Yang utama adalah prosesnya. Namun ketika tujuan telah tercapai, adakah sebuah perbedaan di sana? Ataukah hanya menyisakan secuil perasaan serta suasana hati baru semata?</p>
<p>Orang-orang berpeluh rezeki di pinggiran hari. Mengharapkan satu petak tanah surga yang tak seorang pun pernah pergi ke sana dan menceritakan bagaiamana suasananya…</p>
<p>Bandung, 5 Juni 2009 | 03:23 wib</p>
<p>Ilustrasi: <a href="http://www.gnu.org/graphics/fsfsociety/party.jpg" target="_blank">party</a></p>
Posted in Ekawicara  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/996/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=996&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/05/setelah-pesta-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/06/party2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">party2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anjangsana</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/01/anjangsana/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/01/anjangsana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 17:01:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Kami atas nama Penganyam Kata mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk menghadiri peluncuran pertama blog Penganyam Kata yang akan kami gelar pada:
Waktu
1 Juni 2009
Jam
00.00 WIB (undangan khusus), dan
07.00 WIB (umum)
Tempat
penganyamkata.net
penganyamkata.com
Pembicara/Orasi Budaya
Daniel Mahendra (pemilik, pengelola, pengurus blog Penganyam Kata)
Performance Art
Tari topeng, tari pendet, tari piring, tari saman, tari perut, tari ular, dan tari-tari lainnya (termasuk Cut Tari barangkali)
Konfirmasi kehadiran
Nggak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=966&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kami atas nama <strong>Penganyam Kata</strong> mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk menghadiri peluncuran pertama blog Penganyam Kata yang akan kami gelar pada:</p>
<p><strong>Waktu</strong><br />
1 Juni 2009</p>
<p><strong>Jam</strong><br />
00.00 WIB (undangan khusus), dan<br />
07.00 WIB (umum)</p>
<p><strong>Tempat</strong><br />
<a href="http://www.penganyamkata.net/" target="_blank">penganyamkata.net</a><br />
<a href="http://www.penganyamkata.com/" target="_blank">penganyamkata.com</a></p>
<p><strong>Pembicara/Orasi Budaya</strong><br />
Daniel Mahendra (pemilik, pengelola, pengurus blog Penganyam Kata)</p>
<p><strong>Performance Art</strong><br />
Tari topeng, tari pendet, tari piring, tari saman, tari perut, tari ular, dan tari-tari lainnya (termasuk Cut Tari barangkali)</p>
<p><strong>Konfirmasi kehadiran</strong><br />
Nggak perlu pakai konfirmasi. Datang saja sesuka hati.</p>
<p><strong>-Tiada kesan tanpa kehadiran Anda-</strong><br />
(dih, kayak undangan ulang tahun waktu kecil aja!)</p>
<p>* * *</p>
<p><span id="more-966"></span></p>
<p><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-970" title="Hitam" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/05/hitam1.jpg?w=99&#038;h=150" alt="Hitam" width="99" height="150" /></p>
<p>Sepuluh jari setangkup sembah,<br />
tabik!</p>
Posted in Catatan Harian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/966/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/966/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/966/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/966/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/966/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/966/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/966/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/966/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/966/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/966/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=966&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/06/01/anjangsana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/05/hitam1.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Hitam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>This Is It!</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/05/29/this-is-it/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/05/29/this-is-it/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 07:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=943</guid>
		<description><![CDATA[Reborn! Mungkin itu kata yang lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Ya, aku ingin dilahirkan kembali. Tidak secara fisik, namun lebih pada baru secara pemikiran. This is it!
Aku menetapkan tanggal 1 Juni 2009 sebagai tanggal resmi peluncuran blog baru dengan domain baru. Bagaimana dengan yang lama? Tak ada soal. Semua content lama dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=943&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Reborn!</em> Mungkin itu kata yang lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Ya, aku ingin dilahirkan kembali. Tidak secara fisik, namun lebih pada baru secara pemikiran. <em>This is it!</em></p>
<p>Aku menetapkan tanggal 1 Juni 2009 sebagai tanggal resmi peluncuran blog baru dengan domain baru. Bagaimana dengan yang lama? Tak ada soal. Semua <em>content</em> lama dari danielmahendra.com tetap terangkut ke domain baru. Mengapa dengan domain lama?</p>
<p>Setelah nyaris 7 minggu danielmahendra.com mati suri, hingga pada akhirnya domain dengan nama tersebut tak dapat kumiliki lagi (paling tidak untuk saat ini), kuputuskan untuk menggunakan domain dan hosting yang baru sama sekali. Sementara itu aku letih jika mesti menceritakan sebab musabab raibnya domain tersebut. Biarlah. Hidup tidak lantas berhenti hanya karena domain dan hosting yang menyebalkan toh?</p>
<p><em>This is it!</em> Banyak kawan menyayangkan jika <em>content</em> dari blog lama tersebut ikut menguap. Ya, pada akhirnya aku bersyukur bahwa semua dapat diselamatkan (ribuan terima kasih pada kawan-kawan yang memberikan <em>support</em>, perhatian, serta solusi atas hal tersebut). Hingga <em>content</em> pada domain dan blog baru nantinya bisa sama persis seperti yang pernah dilihat di blog lama.</p>
<p>Di sisi lain aku pun bersyukur dengan kejadian hilangnya domain lama tersebut. Seperti seorang yang rumahnya digusur, padahal memiliki sertifikat tanah lengkap. Sehingga harus mengontrak sementara di sebuah apartemen bernama wordpress.com (biar terkesan keren! Ketimbang kusebut rusun, hayo?) selama hampir dua bulan lamanya. Maka dari kejadian itu, secara langsung maupun tidak langsung aku dituntut untuk lebih <em>corect</em> serta mendalami lebih dekat lagi mengenai blog secara lebih teknis. Barangkali tak sekadar itu. Hikmah yang kudapatkan dari serentetan kejadian selama dua bulan ini membuatku makin tersadar untuk bagaimana memandang kehidupan (tsah! <em>Kelincipen ngomongku iki</em>).</p>
<p>Nah, aku takkan berpanjang-panjang lagi. Setelah tulisan ini akan ada satu postingan lagi berupa undangan untuk menghadiri peluncuran domain baru. Mungkin akan ku-posting Minggu. Sementara aparatemen bernama wordpress.com ini tetap akan kugunakan. Namun barangkali lebih diperuntukkan bagi postingan-postingan santai, tanpa pemikiran, senda gurau, serta berkelakar semata.</p>
<p>Dan tanggal resmi peluncurannya tetap: 1 Juni 2009. Kenapa 1 Juni? Mengapa tidak 6 Juni saja? Kan angkanya tampak bagus?</p>
<p>Mungkin. Mungkin angka 6-6 terkesan cantik dan seksi. Tapi itu berarti Sabtu depan. Dan itu terlampau lama. Sementara aku sudah merindu tiada tara untuk kembali nge-blog dan menyambangi blog kawan-kawan semua. Hidup toh tak semata soal angka dan kesan. Sastra yang cemerlang toh bukan bagaimana mengindah-indahkan bahasanya. Sementara kecantikan perempuan tak melulu soal apa yang ia tampilkan di luar sebagai <em>packaging</em>. Namun lebih pada apa yang bersamayam di dalamnya (hayah-hayah… tambah nggak karuan ngomongku).</p>
<p>Jadi? <em>This is it!</em> 1 Juni 2009. Tanggal resmi bagi kelahiran baru. Hidup baru. Hidup yang lebih baik lagi. Segalanya akan betul-betul dimulai sejak 1 Juni 2009. <em>So? This is it!</em></p>
<p>Samsara!</p>
<p><span id="more-943"></span>Bandung, 29 Mei 2009 | 13.00 wib</p>
<p><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-948" title="dm22" src="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/05/dm222.jpg?w=150&#038;h=76" alt="dm22" width="150" height="76" /></p>
<p>Kami yang berbahagia,<br />
-kedua mempelai-<br />
(Daniel Mahendra dan blog-nya maksudnyaaa…)</p>
Posted in Catatan Harian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/943/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/943/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/943/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/943/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/943/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/943/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/943/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/943/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/943/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/943/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=943&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/05/29/this-is-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penganyamkata.files.wordpress.com/2009/05/dm222.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">dm22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Epilog</title>
		<link>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/05/18/epilog/</link>
		<comments>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/05/18/epilog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 06:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DM</dc:creator>
				<category><![CDATA[The Waiting Is Almost Over]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penganyamkata.wordpress.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[(Tentang The Waiting Is Almost Over)
Oleh Daniel Mahendra
Ada yang berkata: sastra yang indah atau tulisan yang baik tidak lagi memerlukan penjelasan. Ia sudah berkisah dengan sendirinya tanpa memerlukan bantuan pengarangnya untuk menerangkan cerita yang sesungguhnya. Segala tafsir berpulang pada alamat si pembaca.
Setuju atau tidak setuju dengan pendapat di atas, berangkat dari bahwa The Waiting Is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=901&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(<strong>Tentang The Waiting Is Almost Over</strong>)</p>
<p><strong>Oleh Daniel Mahendra</strong></p>
<p>Ada yang berkata: sastra yang indah atau tulisan yang baik tidak lagi memerlukan penjelasan. Ia sudah berkisah dengan sendirinya tanpa memerlukan bantuan pengarangnya untuk menerangkan cerita yang sesungguhnya. Segala tafsir berpulang pada alamat si pembaca.</p>
<p>Setuju atau tidak setuju dengan pendapat di atas, berangkat dari bahwa <em>The Waiting Is Almost Over</em> bukanlah karya sastra yang indah maupun tulisan yang baik, maka izinkanlah aku berapologi tentang hal tersebut.</p>
<p>Aku termasuk orang yang setuju kalau sebuah karya memang tidak harus dihubung-hubungkan dengan latar belakang pembuatannya. Pengalaman seorang penulis mungkin lebih menarik sebagai gosip, tapi tidak perlu menjadi faktor yang ikut menentukan kualitas sebuah tulisan.</p>
<p>Awalnya aku ragu menulis serial <em>The Waiting Is Almost Over</em>. Apa boleh buat, terlalu banyak tulisan di dalamnya yang hanya berbicara tentang diri sendiri, dan celakanya mungkin tidak penting sama sekali untuk orang lain. Pasti akan ada orang yang merasa muak –bahkan meskipun sebelum membacanya.</p>
<p>Semua berawal dari kejenuhan aktivitas nge-blog di awal tahun 2009, aku merasa memerlukan energi baru. Suntikan baru. Nuansa baru. Atau atmosfer baru dalam aktivitas nge-blog yang telah kulakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Setiap hari merawi soal keseharian ternyata ada jenuhnya juga. Yang, seperti sudah kukatakan tadi, barangkali soal keseharian itu acap kali tak penting-penting amat untuk diketahui orang lain. Tapi itulah blog.</p>
<p>Berangkat dari pemikiran tersebut, tergelitik sebuah pemikiran: aku akan tetap menulis (bagaimana mungkin aku bisa berhenti menulis?) tentang kehidupan, tentang apa saja yang dapat dipikirkan, namun dengan kerangka sebuah cerita serial yang seolah-olah bagaikan seseorang yang sedang melakukan <em>traveling</em>, pergi dari rumah, menemui banyak kejadian, banyak pertemanan, duka nestapa, juga kegembiraan, selama di perjalanan.</p>
<p>Awalnya serial tersebut tidaklah dengan sengaja kubuat secara serial. Cerita pertama, dengan judul <em>The Waiting Is Almot Over</em>, adalah sebuah tulisan yang sejatinya berdiri sendiri. Ketika kali pertama di-<em>publish</em> dan mendapat respon, aku berpikir untuk melanjutkan cerita tersebut secara bersambung atau sebagai serial pada postingan-postingan berikutnya.</p>
<p>Sementara tokoh ‘Dan’ dalam cerita <em>The Waiting Is Almost Over</em> tidak praktis harus diidentikkan sebagai diriku pribadi. Tokoh ‘Dan’ bisa sebagai siapa saja. Namun secara langsung maupun tidak langsung harus kuakui: ‘Dan’ merupakan representasi atau alter ego dari diriku sendiri.</p>
<p>Sehingga pada perkembangannya <em>The Waiting Is Almost Over</em> atau TWIAO berhasil di-<em>publish</em> sebagai cerita berseri sejak 7 Januari 2009 s/d 6 April 2009 (di danielmahendra.com) dan 19 April 2009 s/d 13 Mei 2009 (di penganyamkata.wordpress.com).</p>
<p><strong>Mengapa aku menghentikan TWIAO?</strong></p>
<p><span id="more-901"></span></p>
<p>Pada awalnya, aku tak pernah punya rencana bakal seperti apa jalan cerita TWIAO. Aku menulis semau-maunya saja. Kalau hati sedang bersuka, maka gembiralah yang aku tampilkan. Kalau hati sedang berduka, maka nestapalah yang terpantul di sana. Meminjam kata-kata yang sangat kusuka dari sahabatku Lisa Febriyanti; <em>kepala saya adalah pabrik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya</em>. Maka seperti blogger yang lain, aku menulis seperti apa yang kurasakan. Begitulah TWIAO.</p>
<p>Dengan konsep seperti itu, aku merasa ada nuansa baru dalam aktivitas nge-blog. Aku merasa tidak lagi harus menulis tentang keseharian (yang saat itu) kurasa sangat menjenuhkan. Dengan menggunakan seorang tokoh ‘Dan’ yang seolah melakukan perjalanan, aku tetap bisa bercerita tentang apa saja. Sembari sesekali dengan diam-diam menyelipkan secuil filosofi hidup yang sebetulnya tak penting-penting amat untuk disimak.</p>
<p>Maka dalam perjalanannya, cerita tersebut menemukan bentuknya sendiri. Menemukan arah kemana sebaiknya  cerita itu kubawa pergi. Aku seperti mendapatkan energi baru dalam aktivitas nge-blog. Meski demikian, nyaris dari kesemuanya, aku tetap melakukan riset terlebih dahulu dalam merawinya. Tulisan asal jadi tak pernah masuk dalam kamusku.</p>
<p>Sejatinya, tokoh ‘Dan’ akan betul-betul melakukan perjalanan keliling Indonesia. Betul-betul keliling Indonesia, bahkan dunia (Karl May saja bisa bikin <em>Winnetou</em> sebegitu cemerlang tanpa ia pernah menginjakkan kaki di benua Amerika sebelumnya, ya toh?). Namun aku, Daniel Mahendra, tetap berada di Bandung. Tidak kemana-mana.</p>
<p>Memang ada beberapa cerita yang berkisah secara nyata. Terutama saat perjalanan ke Jogjakarta, Semarang, Kendal, Purworejo, dan Gunung Kelir. Namun sisanya sepenuhnya fiksi belaka. Tapi tetap, meski tersaji dalam nampan fiksi, cerita-cerita dalam TWIAO tetaplah berangkat dari kisah nyata. Semua tempat yang kuceritakan di sana nyaris pernah kudatangi seluruhnya. Baik kota, desa, gunung, maupun pantai. Sementara cinta dan persahabatan hanyalah bumbu penyedap cerita yang tak sepenuhnya benar-benar terjadi.</p>
<p>Sejatinya TWIAO akan betul-betul berhenti di kota Medan, Sumatera Utara. Tokoh ‘Dan’ akan kumatikan di Gunung Sibayak. Bukan di Gunung Raung seperti yang kukisahkan di “Niskala” melalui mulut Ali Bustamin. Namun pada perkembangannya, dunia blog telah membuatku jenuh setengah mati. Aku nyaris mati rasa dengan blog. Itu pula salah sebuah alasan mengapa aku tidak jua cepat-cepat menghidupkan danielmahendra.com</p>
<p>Nyaris ada keinginan untuk berhenti nge-blog (bukan berhenti menulis), tapi tiba-tiba tergelitik pemikiran untuk istirahat saja dulu sejenak dari semua ini. Meski kuakui, melalui blog aku banyak menemukan teman-teman baru, persahabatan yang manis, serta mengenal berbagai karakter orang, baik saat di dunia maya maupun di dunia nyata. Lambat laun, suka atau tidak suka, teman-temanku yang sesungguhnya justru para blogger itu sendiri.</p>
<p>Hingga akhirnya kuputuskan untuk menghentikan serial TWIAO. Karena siapalah yang paling berhak menentukan tulisanku selain diriku sendiri. Siapalah yang berhak menghentikan blog-ku selain diriku sendiri. Tak ada seorang pun yang bernafas di atas bumi ini yang berhak menentukan bilamana dan bagaimana aku menulis bukan?</p>
<p>Dengan demikian, berangkat dari semua pemikiran di atas, maka izinkahlah aku pamit sejenak dari dunia blog yang menyenangkan ini. Aku ingin istirah sejenak dari hiruk pikuk selama ini. Ini kulakukan semata agar aku tak lantas meracau dengan tulisan sekenanya hanya karena aku sedang jenuh nge-blog. Namun aku akan tetap berkunjung ke rumah kawan-kawan. Membacai rawiannya serta sesekali meninggalkan komentar. Sementara itu aku akan menggunakan waktu untuk membangun kembali danielmahendra.com serta sebuah domain baru (<em>thanx to</em> Ria–D’girls atas usulan hebatnya!).</p>
<p>Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada kawan-kawan semua yang telah mengikuti tulisan-tulisan di blog-ku. Baik yang mampir, membaca, berkomen, hingga yang pura-pura berkomen. Semua kuhargai serta kuhormati dengan segala kapasitasnya. Semua komentar adalah masukan bagiku. Baik yang bergizi dan bervitamin maupun sebaliknya. Namun semua tetap merupakan kontribusi bagi terciptanya atmosfer dialogis serta dialektika perbincangan.</p>
<p>Aku juga mohon maaf pada sebagian kawan-kawan yang menyangka bahwa TWIAO adalah cerita sungguhan. Sejatinya, tak pernah aku menuliskan nama ‘Dan’ adalah Daniel di seluruh cerita TWIAO. Meski menggunakan kata ganti orang pertama: <em>aku</em>, dalam pola bertuturnya, ‘Dan’ adalah ‘Dan’. Bukan Daniel Mahendra.</p>
<p>Hingga siapa nyana, sejak di-<em>posting</em>-nya cerita “Niskala”, mulai masuk email-email di inbox alibustamin@yahoo.com yang menanyakan kabar Dan, perkembangan terakhir Dan, serta minta keterangan lebih lanjut soal hilangnya Dan. Maka sudah sejak paragraf awal kuniatkan, tulisan “Epilog” ini adalah pertanggung jawaban moralku sebagai penulis untuk menjelaskan itu semua.</p>
<p>Apa boleh buat, menjadi seorang penulis memang mesti bisa mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa ia diciptakan. Menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya, demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya.</p>
<p>Bisa jadi yang fantasi bukan lagi fantasi sama sekali. Bisa fantasi bisa tidak. Tepatnya, fantasi atau bukan fantasi, hal itu sudah tidak penting lagi. Masalahnya, kita bisa setia atau tidak kepada realitas apa pun yang kita lewati. Kalau kita memang penulis, maka kita akan menuliskan apa pun yang menyentuh kita. Sehingga memang tidak ada yang terlalu istimewa dengan menjadi seorang penulis.</p>
<p>Dengan segenap disiplin yang telah menyatu dalam darahnya, ia menulis seperti bernapas, meskipun risikonya kematian. Karena itu semua memang merupakan tugas yang diberikan oleh alam. Ada pun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur –meskipun risikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan.</p>
<p>Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apa pun yang bisa dipilihkan untuk manusia. Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa –suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.</p>
<p>Ya, apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri –satu-satunya hal yang membuat kita: ada.</p>
<p>Maka awalnya, bukan akhirnya, selamat untuk terus nge-blog. Jangan berhenti menulis. Karena tulisan ini akan kututup dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer dalam roman <em>Rumah Kaca</em>: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.</p>
<p>Jadi, jaga kesehatan selalu. Cintai orang-orang di sekitar kalian. Sampai bertemu di suatu hari yang lebih baik lagi. Dirgahayu untuk semuanya.</p>
<p>Tabik!</p>
<p>Bandung, 18 Mei 2009 | 12.12 wib</p>
Posted in The Waiting Is Almost Over  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penganyamkata.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penganyamkata.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penganyamkata.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penganyamkata.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penganyamkata.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penganyamkata.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penganyamkata.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penganyamkata.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penganyamkata.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penganyamkata.wordpress.com/901/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penganyamkata.wordpress.com&blog=999208&post=901&subd=penganyamkata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penganyamkata.wordpress.com/2009/05/18/epilog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40ea3a99463da339b191fe4472fca8e2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">DM</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>