
Jangan (Lagi-lagi jangan. Kayak zaman Orde Jangan saja!). Baiklah. Jangan terlampau terprovokasi dengan judul di atas. Tulisan ini hanya untuk mengolok-olok diriku sendiri atas pengalaman dua kali naik becak bermotor di kota Jogja, dan dua kali pula dibohongi. Begini ceritanya.
Di suatu siang yang panas, aku ingin sekali makan gudeg asli khas Jogja. Supaya tambah romantis, becak pun jadi pilihanku (di Bandung mana bisa naik becak). Setelah tawar-menawar harga, si tukang becak menyodorkan ongkos Rp10 ribu untuk jarak ke Jalan Wijilan. Rasanya itu harga yang pantas. Aku pun loncat ke atas becak. Aku tak mengira, rupanya becaknya becak bermotor. Baiklah.
Tak berapa lama sampailah di Jalan Wijilan. Begitu menyodorkan selembar Rp10 ribu, si tukang becak memprotes:
“Lima belas ribu, Mas.”
“Lho, tadi kan kesepakatannya sepuluh ribu, Pak?”
“Iya. Tapi kalau naik taksi aja berapa, Mas!” jawabnya tak ramah.
Mendapat jawaban seperti itu aku jadi kesal. Bukan kesal karena uang 5 ribu perak. Tapi lebih pada kesepakatan awal: ia telah melanggar perjanjian. Daripada ribut soal selembar uang lima ribu, akhirnya aku mengalah. Tapi dalam hati kejadian itu sedikit mengganggu pikiranku. Itu tak baik bagi kota wisata seperti Jogja.
Memang, perwujudanku sangat mudah dikenali sebagai pendatang dengan ransel di punggung. Tapi justru di situlah persoalannya. Orang tidak bisa memainkan harga begitu saja hanya karena melihat tamu yang sedang berkunjung ke kota Jogja. Apalagi Jogja kota wisata. Setiap hari selalu ada traveler-traveler nyasar macam aku.
Naik taksi memang lebih cepat dan sejuk. Tapi aku sengaja naik becak karena memang tidak sedang mengejar waktu. Dan lagi aku ingin menikmati jalan kota Jogja dengan tenang dan santai. Maka becaklah pilihanku. Memang hal sepele. Tapi bagaimana wajah kota Jogja kalau tukang becaknya bisa seenaknya keluar dari perjanjian yang telah disepakati…
Aku tak ingin jadi orang pendendam. Tapi tukang becak yang satu itu rasanya perlu diberi sedikit “pelajaran”. Hehehe. Akhirnya, untuk satu keperluan pemesanan tiket (juga tidak buru-buru), aku kembali melewati tempat nangkring tukang becak yang kemarin sudah “membohongiku”.
Aku minta diantar ke Stasiun Tugu. Seorang tukang becak menyarankan aku untuk naik becak (plus tukang becak) yang kemarin mengantarkan aku ke Jalan Wijilan. Karena mungkin itu gilirannya. Begitu melihat wajahku, si tukang becak yang dimaksud tampak terkesiap. Serta merta aku berkata:
“Siapa yang mengantar? Becaknya bermotor nggak? Kalau iya aku nggak mau.”
“Tapi ini giliran dia, Mas.” sahut tukang becak yang menawari aku.
“Kalau gitu aku nggak mau.”
“Ya sudah saya saja.”
“Ke Stasiun Tugu berapa?”
“Sepuluh ribu aja, Mas.”
“Yakin sepuluh ribu ya? Nggak berubah?”
“Yakin, Mas.”
Dan aku loncat ke dalam becak dengan perasaan menang.
Andai si tukang becak yang kemarin mengantarkan aku tidak membohongi aku, aku akan dengan senang hati naik becak bermotornya dan menambahi barang dua lembar seribuan untuk sekadar uang tambahan. Tapi karena sekali lancung dalam ujian, apa boleh buat, rezeki orang memang sudah ada yang mengatur.
Malam berikutnya aku ada janji bertemu dengan Uda Vizon, Lisa, dan Yainal di Alun Alun Kidul. Hendak ngobrol-ngobrol santai sembari menikmati suasana malam kota Jogja ditemani wedhang jahe atau seruputan kopi.
Karena hari yang padat, aku mandi dan terburu-buru keluar penginapan. Taksi tak lewat-lewat. Tiba-tiba dari arah samping muncul tukang becak bermotor. Ia menawarkan jasa. Ongkos kami sepakati sebesar 15 ribu perak. Aku pun loncat ke dalam.
Setelah meliuk-liuk, aku diturunkan (awalnya aku tidak tahu diturunkan di mana) di bagian belakang halaman Keraton (dekat Tamansari).
“Lho, mana alun-alunnya?” tanyaku heran.
“Becak nggak boleh lewat situ, Mas.” (Maksudnya tidak boleh melintasi halaman belakang Keraton. Ya iyalah!).
“Jadi?”
“Mas masuk gerbang situ, jalan sebentar, terus keluar gerbang satu lagi, dari situ bisa naik becak lagi ke Alun-Alun Kidul.”
Mendengar penuturannya aku sudah mengumpat: Semprul! Aku dibohongi lagi! Ini sih bukan Alun Alun Kidul, Dodol! semburku dalam hati masygul. Apa karena aku menggendong ransel, jadi tukang becak bisa seenaknya mempermainkan penumpang yang tampak layaknya tamu seperti aku?
Tentu ini tidak fair. Lagi-lagi bukan soal uang, tapi soal melayani penumpang dengan jujur. Ia tidak bekerja dengan hati. Ia menurunkan penumpang seenaknya dengan berbagai alasan. Oke, aku memang tidak hapal seluk beluk kota Jogja seratus persen. Namanya juga tamu. Tapi apa iya bisa diperlakukan seperti itu. Bukan soal akunya, tapi pelayanan transportasi semacam itu memiliki kontribusi dalam membentuk wajah kota juga bukan?
Yang lebih menggelikan kalau melintas trotoar Jalan Malioboro, selalu saja para tukang becak menawari jasanya dengan berkata: “Lima ribu, Mas. Puter-puter. Keraton, Dagadu. Hanya lima ribu. Ayo!”
Aih, yang benar saja…
Meksi demikian aku tak pernah kapok naik becak di Jogja. Mau bagaimana, romantis sih…
saya mau tamasya, keliling-keliling kota
hendak melihat-lihat, keramaian yang ada
saya panggilkan becak, kereta tak berkuda
becak, becak, coba bawa saya
Jogjakarta, 24 Juni 2009 | 01.25 wib
Foto: DM
Model: Riku Miyashita
Lokasi: Stasiun Tugu, Jogjakarta, April 2009


34 tanggapan so far ↓
mas melo // 3 Juli 2009 pada 00:52 |
hakhakhak…
kecian banget deh si goniel.
ngakak aku bacanya. (eh, kamu toh denger aku ngakak, ya?)
kalau gitu naik beca bermotor di medan aja, bung.
biar kata orang medan itu keras, tapi nggak pernah menyalahi kesepakatan, tukang beca sekalipun! hihi…
lanjutin deh cerita di jogjanya.
mas melo // 6 Juli 2009 pada 10:17 |
wew!
kemarin kan karena peak season, goniel. kalau nggak mah nggak musti sampe segitu kali…
yessymuchtar // 6 Juli 2009 pada 13:24 |
oh ..oh ..abis ketemuan! uhuuyy!
prameswari // 3 Juli 2009 pada 01:18 |
Mas Niel diboongin ya,….kacian…..
gini…gini….supaya gak diboongin
Mas Niel bawa peta lengkap seperti biasanya kalo mas Niel pergi.
Di Laptop dengan layar dibuka,mas Niel yang langsung bawa becaknya… seperti pas mas mau kerumah mbak Imel itu……
atau gini-gini….. tukang becaknya yang jadi penunjuk jalannya, mas Niel yang bawa becaknya
*d’ooh usulnya belum baik juga ya*
atau naik becak, dipandu pak taksi di depan….
Hahaha….
mestinya foto jogjanya itu pas naik becak itu, percaya deh bukan di Bandung. Masak foto di depan pintu, di depan laptop dibilang di Jogja, mana percaya…….
mmm…Riku ganteng banget
eh itu medionya bukannya Maret 2009 pas kopdar itu bukan April
Ikkyu_san // 3 Juli 2009 pada 04:18 |
aduuuh ada model cakep..
eh itu anakku ya? Kok bukan foto yang ada mamanya? hush… mamanya mengganggu!
Aku tidak tahu bahwa pengemudi becak (atau mungkin juga profesi lain) di Yogya tidak bisa memenuhi kesepakatan harga dan tujuan. Kalau memang benar begitu, perlu protes lewat Bu Dyah, dan mohon mereka ditatar kembali. Karena meskipun hal yang kecil, itu tidak boleh! Demi kemajuan Yogyakarta sendiri. Masak harus tanda tangan kesepakatan dulu setiap kali mau naik becak?
Ya benar Nungki yang ingatannya tajam (soalnya saat-saat penuh kenangan ya Nung
)
9 Maret 2009
EM
prameswari // 6 Juli 2009 pada 18:05 |
Jogja penuh kenangan? yang pasti kenangan indah bersama semuanya jadi terbayang. Mbak Imel, mas Nielnot,Bu Diah, Bu Tutinonka, Lala, mbak Tan,Uda, istri uda mas Goenoeng, mas Gentho, mas Suryaden, Hesra, Ipi,dan yang lain ……. ih pake dikedipin lagi….jadi malu ma mbak….hihihi
DM // 3 Juli 2009 pada 07:55 |
Foto becak dengan model Riku itu betul-betul nggak sengaja. Aku googling dengan memasukkan kata kunci ‘becak’. Tentu yang muncul gambar becak (masa’ gambar marmut). Nggak taunya muncul foto Riku sedang naik becak. Mungkin karena nama file foto itu ‘becak’ ya.
Kupikir, daripada pakai foto orang lain, mending pakai foto yang memang kufoto sendiri saja. Maka naiklah Riku ke atas panggung. Hehe.
Jadi Maret ya? Lupa… :p
ikkkyu_san // 3 Juli 2009 pada 09:25 |
sengaja juga gpp kok DM. Mau ngelamar jadi managernya Riku ngga? Aku mau masukin dia di jannis nih (semacam PH)
EM
vizon // 3 Juli 2009 pada 10:44 |
mau tau kalimat yang sering kami sebut2 sebelum dirimu datang? “petualang kok nyasar?”, huahahaha….
pelajarannya, lain kali jangan sungkan untuk mengatakan dimana posisimu yg sesungguhnya, sehingga “para tuan rumah” dapat mendatangi, tanpa dirimu harus mengalami peristiwa tragis itu lagi, hehehe…
ditunggu kunjungan berikutnya…
Mbah Jambrong // 4 Juli 2009 pada 11:31 |
Sebagai Ketua Asosisiasi Pengusaha Becak Bermotor Internasional, saya akan menuntut Mas DM ke meja hijau. Posting yang Anda merupakan pelecehan profesi. Apalagi ada nada ajakan untuk tidak menggunakan jasa becak bermotor. Ini sudah keterlaluan. Tak termaafkan! Seperti Prita Mulyasari, Anda harus masuk bui biar kapok!
Wakkakka. It’s only joke. Salam dari Mbah Jambrong
imoe // 4 Juli 2009 pada 16:11 |
Hahahaha, kasian dehhh di boongin terus…
QQ bukan Qinoy // 4 Juli 2009 pada 19:41 |
pada hari minggu ku turut ayah ke kota
naik delman istimewa, ku duduk di muka
duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja
mengendarai kuda supaya laju jalannya….
tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk….
tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk….
suara bunyi kuda.
eh…koq jadi delman ya? padahal lagi ceritain becak? hihihihi….
serius mode on :
kalo aku…udah kugebok tukang becak bermotornya. Berani2nya menipu. btw, tumben tidak emosi sehabis dikadalin, bung?
suryaden // 4 Juli 2009 pada 23:21 |
duh nasibmu mas… misakne puoll…
Yoga // 5 Juli 2009 pada 00:39 |
Naik becak romantis? Ah yang bener? Masak Sih?
yessymuchtar // 6 Juli 2009 pada 13:27 |
Soalnya Di becak, si DM ini sambil candle light dinner gituh, mbak..makanya romantis
Lala // 11 Juli 2009 pada 10:39 |
HUakakakakakaka….
hesra // 5 Juli 2009 pada 19:53 |
bukan rasis..
tapi bicaralah dengan dialek Batak, konon ada kabar menyebutkan jika menggunakan dialek itu, tak berani mereka menipu.. :p
Mal // 6 Juli 2009 pada 13:21 |
Hampir disetiap tempat wisata di indonesia penuh dg kebohongan (setidaknya terhadap pendatang) istilah bahasa jerman (jejer kauman) ngepruk. harga pendatang harga pribumi
jadi mikir mending di lapangan tembak xixixixiixix
Pernah makan bakso di warung biasa saja dg harga 20 ribu ?
Mal // 6 Juli 2009 pada 13:26 |
loh kok tanda tidak sama dengannya ilang ?
harga pribumi tidak sama dengan harga pendatang
radesya // 6 Juli 2009 pada 23:40 |
coba kakak bawa kuda….., lebih keren lagi tuh….
bawa ransel tapi naik kuda
eit, jangan dijewer lagi…..
xurnix // 7 Juli 2009 pada 10:27 |
wah, kasihan bgt dibohongin terus.
tp ini jauh sekali dengan image tukang becak bagi saya.
beberapa kali saya naih becak di Jogja, orangnya ramah2. dan biayanya murah sekali. Dari stasiun Tugu sampai ring-road utara cuma 15rb. padahal siang-bolong dan jalanannya menanjak pula.
mungkin sedang sial aja kali.
nice story anyway
suryahrhesra // 15 Juli 2009 pada 08:50 |
gila! itu mah kebangeten.. jauh itu, teman…
Hery Azwan // 7 Juli 2009 pada 15:09 |
Aku juga pengalaman naik becak di Yogya. Biasanya mereka memang menawari sbb:,”Lima ribu, Mas udah muter2 sampe keraton”. Akhirnya, setelah kita naik, sang tukang becak akan membawa kita ke tempat2 yang bukan tujuan kita seperti toko oleh2, toko batik, toko lukisan, dsb. Bahkan ada yang membawa ke kolam bekas pemandian sultan dan nyi roro kidul. Sebel nggak tuh…Emang kita suka apa dibawa ke situ. Kalau memang kita yang ngajak sih nggak masalah…Becak Yogya memang aneh…
Eka Situmorang-Sir // 9 Juli 2009 pada 00:03 |
aiiih baru mampir
daaaaaaaaan ternyata selama ini tebakan gue bener
ada yg bahagia karena
hahahahhaha
mas’e.. mas’e
kasian bener siy buaya ditipu kadal koq mau hahahahha
nh18 // 10 Juli 2009 pada 16:24 |
Huahahha …
Tukang Becak di Yogya sudah “Pinter” Mas …
(Pinter ?? )
AFDHAL // 13 Juli 2009 pada 12:31 |
Huahahaha…
(ikutan tertawa kayak yang lain)
jalan kaki aja kallee, murah meriah n dekat..
nanti kita balas tukang becaknya bro
marshmallow // 17 Juli 2009 pada 11:08 |
selamat ultah ya, tan?
semoga sehat senantiasa.
mau dong dikirimin lontong sayurnya…
boyin // 21 Juli 2009 pada 08:37 |
duh hidup emang keras yah…yah yang masih waras dan berpnghasilan ngalah lah mas…kasian
edratna // 23 Juli 2009 pada 19:54 |
Coba nawarnya pake bahasa Jawa, dan sepanjang jalan pake kromo inggil…wahh dia tambah seneng tuh.
Btw kalau ke Yogya aku suka naik becak, tapi kok nggak pernah dibohongi ya..jangan2 karena DM punya tampang kaya…hehehe….
prameswari // 1 Agustus 2009 pada 00:03 |
Met Ultah mas Nielnot….
mmm hore traktiran coming soon….
Dedi Suparman // 1 Agustus 2009 pada 20:09 |
WAW……….WAWA………..WAWA……..
KangBoed // 20 Agustus 2009 pada 00:57 |
Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
anakilang // 13 Oktober 2009 pada 10:11 |
Bener loh mas daniel 5ribu puter-puter naik becak ke keraton dagadu dll. aku pernah coba tapi yang bawa becak aku, abang becak nya di depan…whahahaha….
frezyprimaardi // 30 Oktober 2009 pada 01:25 |
hahhaa…
kita ambil nilai hikmah nya aja mas…
tapi kalo dipikir-pikir, emang keterlaluan banget tu si tukang becaknya…udah dapet rejeki dari orang,malah ngebohong biar dapet rejeki lagi…
beeeuuhhh…parah pisan euy…