Cukup lama aku baru bisa merawikan perasaanku atas meninggalkanya Michael Jackson dalam bentuk tulisan. Pentingkah? Mungkin tidak bagi banyak orang, tapi namanya juga blog, aku berhak menuliskan apa yang ingin kutuliskan bukan…

Sulit. Sangat sulit menerima kenyataan bahwa MJ telah meninggal. Apalagi kala kali pertama mendengar berita tersebut. Malam itu (seperti biasa) aku tertidur di depan laptop yang masih menyala di sebuah hotel di Jogjakarta. Pagi-pagi betul aku terbangun dan melihat di list YM hanya satu orang teman yang sedang online. Di sana ia menulis sebuah status: MJ died? Awalnya aku belum kaget. Tapi sudah bisa ditebak: aku langsung membuka berbagai situs berita internasional. Terutama CNN. Dari banyak situs berita yang memuat hal tersebut, aku jadi yakin: Michael Jackson betul telah meninggal dunia.
Bagaimana perasaanku? Sulit untuk menggambarkannya. Pilu, sedih, nestapa, gulana, dengan mata berkaca-kaca? Entahlah. Sudah sejak saat itu aku mendapatkan begitu banyak SMS, telpon, dan email ucapan duka cita dari berbagai teman dan sahabat. Seolah mereka tahu perasaanku. Mulai dari teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman sepermainan, mantan pacar, keluarga, dan berbagai handai taulan. Semua seolah tahu: ada relasi nilai antara diriku dan MJ.
Sebegitu pentingkah arti seorang Michael Jackson bagi diriku? Jawabnya adalah penting. Karena dia lah orang yang menemaniku sejak aku SD hingga sebesar ini. Lewat lagu-lagunya, lewat liriknya, lewat musiknya, lewat tariannya, lewat kisah hidupnya, semua memiliki relasi nilai terhadap jalan hidupku. Apa mau dikata, lebih dari 25 tahun aku mengenal MJ.
Sejak SD aku menyukai MJ. MJ di tahun 80-an adalah hero. Maka menjadikannya sebagai idola adalah juga mengikuti trend musik itu sendiri. Nyaris apa pun yang berhubungan dengan MJ kudokumentasi. Kliping koran, kliping majalah, poster, kaset, CD, VCD, DVD, Video Beta, MP3, buku, bahkan sampai kumpulan download internet.
Tapi dunia berkembang. Manusia juga berubah. Sejalan dengan waktu, mengakui mengidolakan MJ adalah sebuah hal yang menggelikan bagi banyak orang. Paling tidak itu yang kurasakan. Seringkali aku ditertawakan atau merasa terintimidasi kalau ketahuan menyukai MJ. Padahal kesukaanku pada MJ sama sekali tidak mengganggui hak-hak individu orang lain.
Ada banyak argumen mengapa aku menyukai MJ. Dan semua itu berhubungan dengan relasi nilai antara diriku dengan MJ itu sendiri. Baik musiknya maupun kehidupan pribadinya. Yang kesemua itu dipandang dengan tatapan iba di mata banyak teman. Hingga akhirnya, dengan diam-diam aku menikmati MJ secara diam-diam pula.
Namun apa boleh buat, apa yang ia suguhkan seolah dapat mengakomodasi apa yang kubutuhkan. Terutama soal perasaan. Sulit. Sangat sulit menjelaskan bagaimana seorang MJ dapat mengakomodir diriku dengan apa yang ia tampilkan. Tak banyak, bahkan nyaris tak ada orang yang betul-betul dapat memahami mengapa aku memiliki keterikatan terhadap MJ. Tentu yang bisa tahu adalah orang yang bisa memahami MJ itu sendiri.
MJ di mata orang lain bisa jadi hanya sekadar penyanyi pop. Dan itu adalah wajar. Tapi tidak bagiku. MJ bukan sekadar seorang penyanyi. Ia bukan semata seorang idola. Jangakauanku terhadap MJ sudah melampaui tahapan itu tanpa aku harus mengkultuskan dirinya menjadi seolah seorang nabi. Sosok MJ bagiku telah melebihi sebutan-sebutan yang umum dilekatkan orang pada dirinya. MJ adalah sikap. MJ juga adalah suatu kepribadian bagi diriku.
Maka ketika mendapati kenyataan bahwa MJ meninggal dunia, jujur saja, aku kerap masih belum bisa percaya begitu saja bahwa sosok itu telah pergi. Sosok yang di mata banyak orang begitu penuh kontroversi itu. Tapi bukankah ini dunia, bukan surga. Segalanya bisa saja terjadi di atas bumi ini. Sebagaimana kematian merenggut Elvis Presley, John Lennon, atau Freddie Mercury. Meski demikian, musik tetap terus dimainkan.
Hidup tetap terus berlangsung. Ada begitu banyak kematian di sekitar kita. Bagaimana pun kapasitasnya. Memang, adalah sulit bagi penyanyi lain di dunia ini bisa melampaui apa yang telah dicapai MJ. Namun demikian, Michael Jackson tetaplah manusia biasa. Tetap seorang anak ketujuh dari sembilan bersaudara pasangan Katherine Esther Jackson dan Joseph Walter Jackson yang dilahirkan di Gary, Indiana, pada 29 Agustus 50 tahun lalu.
Ia telah menorehkan sejarah, tidak saja bagi keluarga Jackson, tapi juga bagi sejarah musik dunia. Ia yang memutuskan bersolo karir lepas dari saudara-saudaranya dalam The Jacksons. Ia yang melabrak pakem lama bahwa penyanyi kulit hitam tak bisa masuk MTV. Ia yang bisa membuat media internasional mengemis meminta wawancara dengannya ketika kebanyakan media saat itu selalu menganak emaskan penyanyi kulit putih untuk tampil di sampul depan. Ia yang mendapatkan ratusan penghargaan internasional. Ia yang berhasil menjual album paling laris di dunia sepanjang masa. Ia yang dapat membuat musik tak hanya sedap didengar, tapi juga dirasakan.
Lepas dari itu semua, Michael Jackson tetaplah manusia biasa. Ia punya sekeranjang kekurangan, kemalangan, kemurungan hidup, duka nestapa, serta segepok penderitaan sebagai bayaran yang sangat mahal atas kesuksesannya. Orang selalu menyangka MJ memiliki segalanya. Padahal ia sama halnya dengan manusia lainnya. Ia justru sangat menderita hingga harus berkata: sesungguhnya menjadi diriku teramat sangat memedihkan.
Sulit dipungkiri, meninggalnya MJ membuat semesta menundukkan kepala atas kepergiannya. Media sibuk. Google kelabakan. Dan dunia musik menangis tersedu-sedu. Tapi inilah hidup. Kata-katanya dalam lirik lagu Heal The World takkan hilang begitu saja. Sebagaimana tokoh besar lainnya yang pernah hidup dan menginspirasi banyak orang di dunia ini.
Selamat jalan, Mike. Aku beruntung hidup di abad di mana kau ada di dalamnya…
Michael Joseph Jackson
29 Agustus 1958 – 25 Juni 2009

we’ve been together
for such a long time now
music, music and me
don’t care whether all our songs rhyme now
music, music and me
only know wherever I go
we’re as close as two friends can be
there have been others
but never two lovers
like music, music and me
grab a song and come along
you can sing your melody
in your mind you will find
a world of sweet harmony
birds of a feather
we’ll fly together
now music, music and me
music and me
(Michael Jakcson – Music and Me)


24 tanggapan so far ↓
marshmallow // 1 Juli 2009 pada 08:32 |
akhirnya…
marshmallow // 1 Juli 2009 pada 08:45 |
orang-orang yang begitu kagum pada orang lain kerap membuatku kagum. aku sendiri tidak pernah punya kekaguman yang sedemikian besar pada seseorang. dan seperti telah kukatakan pula, life goes on. bagi sebagian orang, kematian MJ mungkin berarti kehilangan separuh kepribadiannya–yang memang terbentuk dari kekaguman itu. namun bagi banyak lainnya, kematian itu sekadar mengguncang sehari, kemudian, well, life goes on.
eventually, life does go on. i can sense (and see) that you’ve sobered yourself from the loss already.
Ikkyu_san // 1 Juli 2009 pada 11:00 |
[Orang menyangka mengenal aku
Padahal mereka tidak mengenal aku sama sekali.
sesungguhnya menjadi diriku teramat sangat memedihkan.]
bukankah setiap orang sedang, pernah atau akan mengalami hal itu? yes, its universal.
vizon // 1 Juli 2009 pada 11:58 |
terjawab sudah pertanyaan yg lupa kutanyakan padamu malam itu, melalui tulisan ini…
sungguh, aku sudah ingin menanyakan bagaimana rasanya memiliki sebuah idola. tapi karena keasyikan ngobrol topik yg lain, akhirnya pertanyaan itu terlupakan…
tidak disangka, ternyata pertanyaan yg urung kutanyakan itu, harus terjawab melalui peristiwa besar ini… huh!
tapi sekarang dirimu sudah tidak mellow lagi kan?
mas melo // 2 Juli 2009 pada 08:58 |
uda, padahal ngobrolnya udah sampe tengah malam gitu, masih ada aja yang kelupaan diobrolin? ck, ck, ck…
kata si goniel uda vizon talkative dan nggak pernah kehabisan ide cerita. jadi penasaran…
dewi // 1 Juli 2009 pada 12:45 |
Finally, setelah lama menunggu, isi hati Mas Dan yg ditinggal sang Idola terposting juga
.. Ya, bagaimana pun juga MJ adalah manusia, sama seperti kita yang akan menyusulnya… Saluuuuut. Dengan setumpuk kekurangan dan kehebatan yang melekat di dalam dirinya, tidak mengurangi sedikit pun “rasa cintamu” pada sang Idola. Meski jasadnya tak lagi bisa dipandang, i believe that his music always in our heart, forever… Selamat jalan Jacko..
Fanda // 1 Juli 2009 pada 13:13 |
Sosok MJ memang menginspirasi. Semua yg mengenalnya mengatakan ia pria yg baik dan hangat. Kurasa justru ‘keaslian’ MJ itulah yg menyebabkannya begitu dicintai banyak org. Ia dicintai bkn hanya krn pinter ngedance dan suaranya bagus, tapi lebih2 karena karakternya sbg manusia. Buktinya, meski belakangan banyak kekurangan yg terungkap, org tetap cinta padanya.
Goodbye Jacko, we’ll always remember you..
prameswari // 1 Juli 2009 pada 15:08 |
perasaan kepedihan itu terpancar jelas pada diri mas… Betapa antusiasnya mas di setiap tayangan ttg MJ diberitakan. Mas bahkan mengenali setiap gerak gerik MJ dalam setiap occasion. Benar2 mencengangkan ade dan membuat ade merinding karenanya. Bisa de bayangkan betapa sedihya saat pertamakalinya mas tahu kabar itu. MJ sudah jadi jiwa mas dan tak kan terganti atau tlupa.
QQ bukan Qinoy // 1 Juli 2009 pada 15:28 |
Yang membuat MJ tewas adalah keserakahan. Keserakahan orang2 yang ada di sekelilingnya, yang memaksanya untuk terus hidup. Siapa nyana, MJ tiada dengan meninggalkan tubuh yang tinggal tulang dan penuh bekas suntikan. Poor MJ.
Lepas dari hiruk pikuk pemberitaan mengenai MJ, kita selalu mengenang MJ sebagai manusia yang hebat. Sependapat denganmu, bung….kita beruntung hidup pada satu jaman dimana seorang MJ hidup.
prameswari // 1 Juli 2009 pada 16:00 |
jadi inget tayangan TV one ttg penggemar MJ yg mengesalkan mas itu. Hihihi
radesya // 1 Juli 2009 pada 19:19 |
Bagiku Idola itu sudah menjadi bagian dari jiwa. Saat idola kita sakit, saat idola kita menderita, kita jadi ikut merasakannya. Apalagi sang idola meninggalkan kita untuk selamanya. Terasa sangat hancur hati ini.
Tidak ada yang bisa tau hidup dan mati seseorang kak, padahal MJ dah berjuang, latihan dengan sangat keras agar bisa memberikan yang terbaik buat penggemarnya. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.
Semoga dia lebih tenang dan bahagia sekarang.
Kakak jangan sedih lagi…
suryaden // 1 Juli 2009 pada 21:56 |
speechless…
ora marai mrebes mili… wassyem..
jadi MJ memang sulit, dari hitam ke putih…, entah apa maksudnya dia, tapi salut aka revolusi bagi driinya itu…
Aulia Rais // 1 Juli 2009 pada 23:03 |
iya tu om… gw jg ikutan sedih… apalagi dulu gw terpikat sama Moon walk sama joget melawan gravitasinya MJ di Smooth Criminal… gw juga masih suka merinding kalo skrg dengerin lg Heal The World sama One Day In Your Life…
btw, sekarang lg beredar kontroversi kalo sebenrnya MJ memalsukan kematiannya, biar bebas dr utang sama biar bs memulai hidup baru… kontroversi ini lagi hot2nya di amrik sono… but for me, MJ already dead, but not his songs in my ears and in my heart…
AL // 2 Juli 2009 pada 00:50 |
Gambarnya memilukan. Kepada saya, gambar itu lebih banyak berkisah dibanding tulisanmu Pak Daniel. Heheh, sory..
Saya gak gitu ‘ngeh’ soal MJ. Gak gitu tau lagunya. Jadi gak gitu berasa dengan mangkatnya. Tapi mengerti bagaimana sedihnyalah… Sekitar 2 tahun yang lalu saya megumpulkan apapun mengenai tokoh idola saya: Karen Armstrong. Kebanyakan sih artikel dan tulisan. Juga rekaman ceramah beliau yang terpublish di youtube. Suatu kali, seorang kawan tanya kenapa saya ngotot banget ngumpulin semuanya dengan kecepatan tinggi. Saya jawab, soalnya saya takut beliau keburu mati. Habis sudah tua sih, he.. Dalam hati, saya bergumam: wah, kalau Karen Armstrong mati, saya pasti nangis bombay. Sama seperti saat Pram meninggal.
Turut berbela sungkawa Pak Daniel. Mudah-mudahan MJ diterima taubat dan segala amalnya, amin..
prameswari // 2 Juli 2009 pada 02:25 |
That day was so MJ with u….
the Suryaden // 2 Juli 2009 pada 03:17 |
tetes air…
Air selalu memberi motivasi dan nuansa dalam banyak pemikiran, bayangkan jika mungkin anda seorang perokok yang sedang bersedih hati karena kematian seorang Michael Jackson. Atau mungkin bukan seorang perokok yang sedang berpikir keras, tentunya secang…
Zulmasri // 2 Juli 2009 pada 05:48 |
bila kau sedih, teteskan saja air mata duka
karena kutahu, di sana ada cinta
dan bila kau menangis, menangislah
biar dunia tahu, betapa kita sejiwa
Selamat jalan MJ….
Billy Koesoemadinata // 2 Juli 2009 pada 09:09 |
michael jackson, bukti nyata betapa dunia hiburan ga selamanya ngasih kebahagiaan..
bukti kalo apa yang kita cari terkadang bukanlah seperti yang terlihat, tapi apa yang tak terlihat.
yessy muchtar // 2 Juli 2009 pada 10:35 |
Semoga Lo gak mellow lagi, itu aja. BT chatting sama orang yang mellow…di tanyain diem, di tanyain lagi balesnya nyengir…di telpon gak di angkat…Iyee..iyeee..curhat colongan gueeee…
Wew…
haris // 2 Juli 2009 pada 13:00 |
ah, saya juga bersimpati sama MJ meski tak mati2an mengidolakannya. turut berduka cita utk anda, bung! kau akan menemukan MJ yang lain.
Jamal eL Ahdi // 2 Juli 2009 pada 13:14 |
Yah DM sudah menemukan MJ yang baru
dan dia adalah
Mas Jamal
hehehehehhe
racheedus // 2 Juli 2009 pada 20:57 |
You are not alone, Mas. Aku juga merasa kehilangan. Aku jadi teringat saat disetrap pak kyai gara-gara bolos ngaji demi nonton tivi yang menayangkan konser MJ.
Salam hangat, Mas. Puji Tuhan, saya masih sehat. Saya sudah kembali.
Deni_borin // 3 Juli 2009 pada 16:47 |
turut berduka cita
Lala // 11 Juli 2009 pada 10:35 |
Hmmm…
Michael Jackson. Aku nggak pernah menyangka kalau aku bakal menangisi seseorang sampai segitunya, Mas… He was the greatest star ever born in the world. Sayang, he’s gone too soon…