
Selepas menggamit kartu dari petugas gerbang tol tempat asal, satu demi satu mobil berpacu menggerus aspal jalan sepanjang ratusan kilometer. Melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Memburu bagaikan peluru yang mencelat dari senapan. Bergerak seperti petualang yang tak pernah berlama-lama diam di satu tempat.
Si Innova meliuk-liuk pindah jalur. Ke kanan dan ke kiri. Kadang ia melewati truk yang mengaum berat. Salipannya seolah mengejek bahwa ia lebih lincah dari si truk bermuatan penat. Sementara si Terios melawan angin. Kecepatannya tak terduga. Tampaknya pengemudinya seorang pemuda gesit. Ia tak mau kalah dengan si Innova.
Baleno menderu pelan. Ia tenang seperti anak gadis tertikam cinta. Anggun namun juga cekatan. Di belakangnya tampak Ford Escape mengaum. Sudah sejak tadi si Ford hendak melibas si Baleno. Namun belum juga berhasil. Di sampingnya malah bis besar sedang medengekur pelan.
Tiba-tiba dari arah kanan sebuah BMW seri 7 dengan cepat berpindah jalur. Ia masuk jalur kiri, untuk seterusnya menembus bahu jalan. Ini memang tak disaranakan. Tapi kecepatan mobil Jerman itu tak tertandingi. Ia bisa dengan cepat berpindah dan masuk kembali ke jalur kiri. Tubuhnya memang tangguh dan seksi. Orang-orang terpana atas kelincahannya.
Tak berapa lama dari si BMW, rupanya sebuah Mercy hitam nyaris bersirobok di tengah-tengah hamparan. Speedometernya yang cantik sudah memunculkan gambar tengkorak, tanda: awas, hati-hati, Bung! Tapi lagi-lagi stabilitas mobil Jerman itu memang patut diandalkan. Tubuhnya tak goyang apalagi bergetar. Pengemudinya lihai benar.
Kilometer demi kilometer dilibas dan dilalui. Sawah, pegunungan, sungai, dan perumahan dilewati. Semua untuk satu tujuan: gerbang tol. Tak ada yang bisa keluar tanpa melewati gerbang tol. Kemana pun arah yang hendak dituju, gerbang tol jua yang mesti dilalui. Mengembalikan tiket, serta membayar biaya perjalanan.
Begitulah hidup di dunia. Ada yang naik bis, ada yang naik travel, ada yang mengemudi truk, ada yang mengendarai sedan cantik, ada yang mengemudikan MPV tangguh, tujuannya tetap satu: gerbang tol. Kita bisa berbeda dengan orang lain. Mungkin kecepatannya, mungkin kebandelan mesinnya, mungkin body-nya yang seksi, mungkin aksesorinya yang mulus, tetap saja tujuannya sama: gerbang tol.
Kita bisa berhenti di kilometer sekian. Istirah sejenak, lari ke toilet, menyeruput kopi, menyulut rokok, mengisi bahan bakar, namun untuk kemudian kembali pergi melanjutkan perjalanan. Kita bisa keluar sebentar di pintu tertentu, mampir ke sebuah tempat, tapi tujuan kita tetap tak berubah. Tak jarang ada pula yang mengalami kerusakan ban, ngadat mesin, atau tabrakan. Namun semua tak mengubah tujuan semula: gerbang tol.
Tak dipungkiri, ada juga yang belum lagi tahu mesti keluar di pintu tol mana. Ia terus berjalan dan berjalan saja. Tak peduli arah yang sedang ia tempuh. Meski ia tahu, di pintu mana pun ia keluar, tetap gerbang tol juga yang harus ia lewati.
Begitulah hidup. Apa pun kendaraan yang kita gunakan, berapa pun kecepatan yang bisa kita pacu, secantik atau segesit apa pun jalan kita, tetap gerbang tol jua tujuan kita. Ada yang lebih cepat sampai, ada yang tenang-tenang di jalanan, ada yang terseok-seok menempuh perjalanan. Namun dari kesemuanya: tujuannya tetap sama.
Kemana tujuan hidup kita sebenarnya?
Jakarta, 17 Juni 2009 | 00.10 wib
Ilustrasi: Highway


23 tanggapan so far ↓
vizon // 17 Juni 2009 pada 07:52 |
ibrahnya pas nian Kang…
apapun kendaraan yang kita tumpangi, intinya janganlah sampai menabrak atau tertabrak.
proses selama perjalanan itu akan menentukan apa yg akan kita rasakan begitu keluar dari pintu tol itu; apakah dengan mobil yg semakin kinclong ataukah dg mobil yg sudah penyok sana-sini…
daerah yg akan kita tempati setelah keluar dari pintu tol itulah tujuan kita sebenarnya…
prameswari // 17 Juni 2009 pada 09:55 |
Weee…… yang abis lewat jalan tol…
bisa aja idenya dijadiin tulisan…
bagus mas….
sarat dengan pelajaran hidup
perumpamaan jalan tol yang penuh liku
dalam mencapai tujuan
seolah begitulah kita dalam mencapai tujuan hidup…
Tujuan hidup kita sebenarnya?
di hati terdalam setiap orang, pasti tujuan itu sudah tergambar.
Tergambar dengan sketsa, atau sudah dengan warna-warninya, kita juga yang menentukan….
Tujuan mas?
ladangkata // 17 Juni 2009 pada 11:39 |
tujuan: pulang!
lewat tol atau tidak….
marsh // 17 Juni 2009 pada 14:23 |
ceritain dong gimana setelah tiba di gerbang tol, ambil tujuan cikini, brenti di TIM… uhuy! not to forget cerita kesasarnya, goniel. hakhakhak… goniel tukang nyasar…
semua orang sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sama. yang membedakan hanya kecepatan tibanya dan apa yang menanti di ujung sana.
yessymuchtar // 19 Juni 2009 pada 15:08 |
mungkin si Goniel ini harus bawa peta kemana-mana ya Uni
tanti // 17 Juni 2009 pada 21:35 |
Ada pula sebuah Kijang dengan pengemudinya yang cantik, melaju tenang tapi pasti menuju ke satu jalur : Highway to Heaven
Zulmasri // 18 Juni 2009 pada 00:08 |
Menurut saya perjalanan sebenarnya adalah pada saat gerbang tol telah terlewati. Barangkali kita akan berhenti, kejebak macet, bertabrakan, dikerubuti, atau melewati jalanan dg nyaman. Hakikat hidup yg akan dilewati setiap manusia usai melewati gerbang kematian
suryaden // 18 Juni 2009 pada 01:19 |
tak ada yang lebih cantik dalam tol ke gerbang tol kehidupan selanjutnya… kebalikan dari tulisanmu kang… kalo hidup menuju ke gerbang tol selanjutnya haruslah dalam keadaan kendaraan dan badan yang lebih bersih,… meski ngebut namun tetap bersih,… meski lambat karena menikmati pemandangan haruslah lebih bersih dan mengkilap… bukan berdebu karena terkena umpatan knalpot truk yang wuasyu… nggak pernah diurusin… emangnya gak ada jurinya …
septarius // 18 Juni 2009 pada 05:51 |
Jalan tol kan satu arah, jadi semua tujuannya sama.
Mas aku gak punya mobil pribadi, jadi pilih naik bis aja..
Jamal eL Ahdi // 18 Juni 2009 pada 10:13 |
Tol Jakarta lurus2 aja mas
yg berkelok2 kan cipularang xixixiixix.
tujuan saya keluar tol cikampek, cirebon terus semarang mas
anisa // 19 Juni 2009 pada 08:58 |
mas mahendraaaaa !!!!!!!
ternyata mas mahendra disiniiiii !!!!
anisa capek mencari-cari , taunya mas mahendra ganti blog .
untung anisa akhirnya brosing pake nama mas mahendra , jadi ketemu ……..
mas ………. blog yang lama kenapa ???
anisa kangen banget …. hik ……….
mas kangen juga nggak sama anisa ???
yessymuchtar // 19 Juni 2009 pada 15:10 |
Jiaaaaaaaaaaaaaa!! Anisa yang kemana ajaaaaaaa!! kiat semua kangen mencari anisa!! tapi kemana?!?! kan kita gak tauu?!!! Anisa kan gak ada linknya!! Aduhh…selamat datang ya Anisa….dan please stayy..jangan pernah pergi lagi ya Anisaaa!!!..Pleaseeee!!!
nh18 // 19 Juni 2009 pada 14:03 |
HHmmmm …
Gerbang tol tujuan kita …
(BTW ini bayar didepan …
atau bayar di belakangya …??)
(halah ngebahas bayar tol …)
AFDHAL // 19 Juni 2009 pada 17:21 |
hmm boleh juga nih analoginya
sipp bro
Muzda // 19 Juni 2009 pada 20:04 |
Setelah sampai gerbang tol pun perjalanan pulang juga masih panjang.
Aku pernah setelah sampai di tol, justru berhenti, menepi.
Sampai aku kesalip banyak, sampai malam, bahkan tertidur di sana.
Untung, sekarang sudah jalan lagi.
marshmallow // 20 Juni 2009 pada 19:38 |
hati-hati di jalan…
jangan lama-lama di sana…
bawa flash-nya biar masih bisa ngenet.
cepet balik bandung…
bawa oleh-oleh…
borobudur aja untukku.
ya, goniel?
prameswari // 21 Juni 2009 pada 07:43 |
Pagiii mas Niel….
wah……dah di jalan…….
Tapi yang ini gak lewat tol..
moga urusannya lancar disana
jangan kelupaan maemnya ya…
alarmnya De bunyiin dulu ‘DUENG’ hehehe
cepet pulang….
buat perjalanan selanjutnya……ehem…
goenoeng // 21 Juni 2009 pada 18:02 |
kalo boleh sama2 milih, aku mending pakai ford mustang atawa mini cooper. nggaya !
@Anisa
anisaaaa… kemana aja. kangen banget aku.
asik, asiiiik…
*berlalu sambil siul2 girang*
boyin // 22 Juni 2009 pada 09:02 |
gak penting cepat atau lambat yang penting sampai dengan kebahagiaan.
edratna // 22 Juni 2009 pada 15:50 |
Memang asyik ya melihat cara orang berkendara di jalan Tol, meliuk-liuk, saling menyalip, ada yang tak sabaran….ada yang tenag2 aja padahal ambil jalan Tol.Penafsiranmu tepat, itulah kehidupan ..semua bergerak ke satu tujuan, namun berbeda dalam memaknai nya.
Eka Situmorang-Sir // 22 Juni 2009 pada 18:49 |
Merenung.
Jamal eL Ahdi // 23 Juni 2009 pada 11:48 |
Horeeee annisa datang …
HOreeee annisa muncul….
Ikkyu_san // 23 Juni 2009 pada 22:06 |
aku pilih jalan biasa aja deh… ngga usah naik tol juga boleh kan? Santai dan menikmati sisi kanan kiri jalan. apalagi kalau tiba-tiba ada yang menemani di tempat duduk samping, bisa wawancara ttg dunianya.
EM