Soliloquy

Setelah Pesta Usai

5 Juni 2009 · & Komentar

party2

Apa yang terjadi setelah sebuah pesta selesai digelar? Ketika tikar digulung, ketika tetamu pulang kampung, dan sisa makanan telah dilarung? Apakah kehidupan kembali seperti sediakala? Adakah hanya menyisakan satu perbedaan: suasana?

Seorang teman berulangkali berkata padaku:
“Menikah itu mudah, Dan.”
“Lalu?”
“Yang tidak mudah adalah satu hari setelah pesta pernikahan berlalu.”
“Kenapa rupanya?”
“Kau akan tau sendiri nanti.”

Ketika persiapan pemilu dirancang, sebagian orang gegap gempita menyambutnya. Kalau perlu seluruh jiwa raga disuguhkan sepenuhnya demi pemilu semata. Yang mengeluarkan kocek dan yang mendulang kocek saling berebut tempat.

Ketika hari H dan pengumuman pemenang dikumandangkan, suasana kehidupan bernegara kembali seperti biasa. Anak-anak pergi ke selolah, orang dewasa bekerja, jalanan tetap macet, dan pengemis tidak lantas surut.

Orang berkata: tujuan bukanlah utama. Yang utama adalah prosesnya. Namun ketika tujuan telah tercapai, adakah sebuah perbedaan di sana? Ataukah hanya menyisakan secuil perasaan serta suasana hati baru semata?

Orang-orang berpeluh rezeki di pinggiran hari. Mengharapkan satu petak tanah surga yang tak seorang pun pernah pergi ke sana dan menceritakan bagaiamana suasananya…

Bandung, 5 Juni 2009 | 03:23 wib

Ilustrasi: party

Kategori: Ekawicara

28 tanggapan so far ↓

  • AtA chan // 5 Juni 2009 pada 06:19 | Balas

    Habis pesta ngitung amplop mas, balik modal atau enggak..
    Hahaha.. :-D

  • vizon // 5 Juni 2009 pada 07:42 | Balas

    setelah pesta:
    1. sampah bergelimpangan
    2. tuan rumah kecapaian
    3. tagihan menunggu dibayar
    4. pengantin asyik maksyuk

    setelah pemilu:
    1. orang miskin terlupakan
    2. tim sukses ngos-ngosan
    3. utang negara meningkat, karena apbn habis untuk biaya pemilu
    4. presiden dan wapres terpilih bersorak sorai merayakan kemenangan

  • suryaden // 5 Juni 2009 pada 09:12 | Balas

    surga, hanya khusus untuk orang yang bisa kesana saja mas, dan sebenarnya adalah yang bisa memetik kuasa hikmah atas pesta yang selalu berlangsung, pesta dalam keriangan meninggalkan penjara dunia, penjara kehidupan, penjara waktu, penjara ruang, penjara nafsu, penjara cinta, penjara logika….

  • goenoeng // 5 Juni 2009 pada 09:21 | Balas

    nah, di sini boleh komen gak penting toh ?
    pesta = pemilu = buang2 duit.
    pesta = pemilu = membosankan.
    aku gak seneng pesta, dab. bikin pening !

  • marsh // 5 Juni 2009 pada 11:34 | Balas

    aku males ke pesta.
    karena aku tak suka
    kerepotan sebelum dan sesudahnya.
    kecuali kalau ke pesta boleh tanpa dandan,
    dan boleh tak bawa angpau,
    trus pulangnya bawa rantang,
    buat makan sesiapa yang tak datang.

    di pestamu bagaimana, goniel?

  • ladangkata // 6 Juni 2009 pada 00:40 | Balas

    @Mas Goen & Uni Hemma…

    Tozz!

    Sama..aku juga ga doyan pesta dan segala atributnya..jadi gimana kalo kita bikin “pesta” untuk orang-orang yang tak suka berpesta? :D

    • marshmalow // 6 Juni 2009 pada 08:12 | Balas

      ghyaaa… ide yang menarik, cha!
      jadi yang hadir nggak wajib dandan atau pake high heels, boleh pake denim dan baju kaos serta sandal jepit!

      tosss!!!

      • marshmalow // 6 Juni 2009 pada 08:13 | Balas

        setelah kubaca ulang, kok seperti mau pergi “pesta” di toilet aja, yak? hihi…

        • ladangkata // 6 Juni 2009 pada 11:54 | Balas

          @Uni,

          heheh kalo ke toilet kita bawa koran…kalau “pesta” ini kita boleh bawa laptop sendiri-sendiri..autis bersama…kita tanpa suara..bersapaan lewat blog masing-masing :D

    • goenoeng // 6 Juni 2009 pada 08:27 | Balas

      TOS, dulu !
      pesta di angkringan ? sambil nanggap esteh duagelas ya, Cha. :D

      • ladangkata // 6 Juni 2009 pada 11:55 | Balas

        @Mas Goen,
        dan tentu saja, ketika pengamen mendatangi, kita pasti requestkan lagu “kamu..kamu..kamu” ya?

        atau Mas Goen juga ingin Doi-nya Kangen Band… huahahahhaha

  • Muzda // 6 Juni 2009 pada 00:53 | Balas

    Setelah pesta usai ?
    Bangkrut.
    Kalau angpao-nya gede sih, lumayan buat nombok.
    Impas.

    Emang pesta tujuannya buat nyari duit ?

  • Zulmasri // 6 Juni 2009 pada 04:24 | Balas

    Yap. Pesta bukanlah puncak kehidupan. Kehidupan sesungguhnya adalah sesudah pesta usai, saat lelah begitu menyesak dan pengunjung sudah kembali kepada kehidupannya masing-masing (ups, jadi ingat novel Opera Jakarta-nya Titi Nginung. Semoga komennya gak sama, walau nyaris persis)

  • dedisuparman // 6 Juni 2009 pada 10:20 | Balas

    Waw…..waw……..waw

  • edratna // 6 Juni 2009 pada 11:23 | Balas

    Kalau mau nikah, jangan memikirkan pestanya, pikirkan apa yang akan diperbuat sesudahnya…
    Dan bagi sebagian orang, sesudah pesta itu jauh lebih nikmat…tak percaya? Tanya uda Vizon

  • dedisuparman // 6 Juni 2009 pada 12:16 | Balas

    waw………….waw…………………………

  • prameswari // 6 Juni 2009 pada 14:56 | Balas

    setelah pesta usai
    gulung tikar
    angkat-angkat
    gulung badan
    bersih-bersih
    gulung koming
    hadapi the real….

  • prameswari // 6 Juni 2009 pada 15:01 | Balas

    Pesta berarti
    bisa dandan cantik
    bisa makan enak
    bisa liat yang indah-indah
    bisa liat bunga bertebaran
    bisa liat semua orang tersenyum bahagia
    Pesta menyenangkan!

  • Jamal eL Ahdi // 6 Juni 2009 pada 17:59 | Balas

    Proses tanpa Hasil =ejakulasi Dini

    Terus berproses dan berproses Jika masih saja sama jangan2 Impotensi.

    ah….

    • goenoeng // 8 Juni 2009 pada 11:09 | Balas

      Om, kamu kok seneng banget nulis yang sebangsa ‘ejakulasi dini’ gitu ta. seingatku dengan yang ini berarti dua kali lho.
      jangan-jangan…
      *siul2tanpadosa*

      • marsh // 8 Juni 2009 pada 15:56 | Balas

        bener juga.
        ayo, jelaskan, om!
        apa ini ada hubungan dengan burung yang om tunjuk-tunjuk itu?
        aku ada lho kenalan dokter yang bisa nyembuhin…
        *pasang tampang lugu*

  • Ikkyu_san // 8 Juni 2009 pada 04:12 | Balas

    Keluarga Mutter yang sableng, suka berpesta karena waktu kami berkumpul hanya di pesta. Pesta Nikah, Pesta Ulang Tahun dan Pesta Kematian! Karena kami bisa tertawa, bersendagurau, menikmati makanan di pesta-pesta sambil bertanya, “Selanjutnya giliran siapa?” dan berdoa semoga selanjutnya BUKAN Pesta Kematian.

    Seusai pesta,
    hubungan bagaikan terputus,
    Sunyi
    Senyap
    sampai ada pesta berikutnya………

    I miss Mutter Family

    EM

  • Jamal eL Ahdi // 8 Juni 2009 pada 16:05 | Balas

    @GM: Jangan2 membicarakan seseorang
    ngaku ayooo … ayooo ngakuuu

    @Mengejar marsh marsh : nyembuhin burung yang ditunjuk ? bukan yg nunjuk kan? xixixixix okre… segera menuju TKP

  • Eka Situmorang-Sir // 10 Juni 2009 pada 18:56 | Balas

    Apa yang terjadi setelah sebuah pesta selesai digelar? Ketika tikar digulung, ketika tetamu pulang kampung, dan sisa makanan telah dilarung?

    MALAM PERTAMA
    hahahaha

    • Ikkyu_san // 11 Juni 2009 pada 04:35 | Balas

      Ka…. sesudah malam pertama?

      “pagi yang cerah dan senyum di bibir merah
      sejuta rasa bahagia yang kauberikan…”
      dudududu……

      (kok Chrisye masih bisa bangun pagi ya? ayooo kamu bangun jam brp?)

      EM

  • Retie // 12 Juni 2009 pada 00:29 | Balas

    mmm pesta..sudah lama aku ngga ke pesta…

    aku telat nich ke launching penganyamkata.net dan penganyamkata.com

    wess segera dech meluncur….

Tinggalkan sebuah Komentar