Soliloquy

Epilog

18 Mei 2009 · & Komentar

(Tentang The Waiting Is Almost Over)

Oleh Daniel Mahendra

Ada yang berkata: sastra yang indah atau tulisan yang baik tidak lagi memerlukan penjelasan. Ia sudah berkisah dengan sendirinya tanpa memerlukan bantuan pengarangnya untuk menerangkan cerita yang sesungguhnya. Segala tafsir berpulang pada alamat si pembaca.

Setuju atau tidak setuju dengan pendapat di atas, berangkat dari bahwa The Waiting Is Almost Over bukanlah karya sastra yang indah maupun tulisan yang baik, maka izinkanlah aku berapologi tentang hal tersebut.

Aku termasuk orang yang setuju kalau sebuah karya memang tidak harus dihubung-hubungkan dengan latar belakang pembuatannya. Pengalaman seorang penulis mungkin lebih menarik sebagai gosip, tapi tidak perlu menjadi faktor yang ikut menentukan kualitas sebuah tulisan.

Awalnya aku ragu menulis serial The Waiting Is Almost Over. Apa boleh buat, terlalu banyak tulisan di dalamnya yang hanya berbicara tentang diri sendiri, dan celakanya mungkin tidak penting sama sekali untuk orang lain. Pasti akan ada orang yang merasa muak –bahkan meskipun sebelum membacanya.

Semua berawal dari kejenuhan aktivitas nge-blog di awal tahun 2009, aku merasa memerlukan energi baru. Suntikan baru. Nuansa baru. Atau atmosfer baru dalam aktivitas nge-blog yang telah kulakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Setiap hari merawi soal keseharian ternyata ada jenuhnya juga. Yang, seperti sudah kukatakan tadi, barangkali soal keseharian itu acap kali tak penting-penting amat untuk diketahui orang lain. Tapi itulah blog.

Berangkat dari pemikiran tersebut, tergelitik sebuah pemikiran: aku akan tetap menulis (bagaimana mungkin aku bisa berhenti menulis?) tentang kehidupan, tentang apa saja yang dapat dipikirkan, namun dengan kerangka sebuah cerita serial yang seolah-olah bagaikan seseorang yang sedang melakukan traveling, pergi dari rumah, menemui banyak kejadian, banyak pertemanan, duka nestapa, juga kegembiraan, selama di perjalanan.

Awalnya serial tersebut tidaklah dengan sengaja kubuat secara serial. Cerita pertama, dengan judul The Waiting Is Almot Over, adalah sebuah tulisan yang sejatinya berdiri sendiri. Ketika kali pertama di-publish dan mendapat respon, aku berpikir untuk melanjutkan cerita tersebut secara bersambung atau sebagai serial pada postingan-postingan berikutnya.

Sementara tokoh ‘Dan’ dalam cerita The Waiting Is Almost Over tidak praktis harus diidentikkan sebagai diriku pribadi. Tokoh ‘Dan’ bisa sebagai siapa saja. Namun secara langsung maupun tidak langsung harus kuakui: ‘Dan’ merupakan representasi atau alter ego dari diriku sendiri.

Sehingga pada perkembangannya The Waiting Is Almost Over atau TWIAO berhasil di-publish sebagai cerita berseri sejak 7 Januari 2009 s/d 6 April 2009 (di danielmahendra.com) dan 19 April 2009 s/d 13 Mei 2009 (di penganyamkata.wordpress.com).

Mengapa aku menghentikan TWIAO?

Pada awalnya, aku tak pernah punya rencana bakal seperti apa jalan cerita TWIAO. Aku menulis semau-maunya saja. Kalau hati sedang bersuka, maka gembiralah yang aku tampilkan. Kalau hati sedang berduka, maka nestapalah yang terpantul di sana. Meminjam kata-kata yang sangat kusuka dari sahabatku Lisa Febriyanti; kepala saya adalah pabrik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya. Maka seperti blogger yang lain, aku menulis seperti apa yang kurasakan. Begitulah TWIAO.

Dengan konsep seperti itu, aku merasa ada nuansa baru dalam aktivitas nge-blog. Aku merasa tidak lagi harus menulis tentang keseharian (yang saat itu) kurasa sangat menjenuhkan. Dengan menggunakan seorang tokoh ‘Dan’ yang seolah melakukan perjalanan, aku tetap bisa bercerita tentang apa saja. Sembari sesekali dengan diam-diam menyelipkan secuil filosofi hidup yang sebetulnya tak penting-penting amat untuk disimak.

Maka dalam perjalanannya, cerita tersebut menemukan bentuknya sendiri. Menemukan arah kemana sebaiknya cerita itu kubawa pergi. Aku seperti mendapatkan energi baru dalam aktivitas nge-blog. Meski demikian, nyaris dari kesemuanya, aku tetap melakukan riset terlebih dahulu dalam merawinya. Tulisan asal jadi tak pernah masuk dalam kamusku.

Sejatinya, tokoh ‘Dan’ akan betul-betul melakukan perjalanan keliling Indonesia. Betul-betul keliling Indonesia, bahkan dunia (Karl May saja bisa bikin Winnetou sebegitu cemerlang tanpa ia pernah menginjakkan kaki di benua Amerika sebelumnya, ya toh?). Namun aku, Daniel Mahendra, tetap berada di Bandung. Tidak kemana-mana.

Memang ada beberapa cerita yang berkisah secara nyata. Terutama saat perjalanan ke Jogjakarta, Semarang, Kendal, Purworejo, dan Gunung Kelir. Namun sisanya sepenuhnya fiksi belaka. Tapi tetap, meski tersaji dalam nampan fiksi, cerita-cerita dalam TWIAO tetaplah berangkat dari kisah nyata. Semua tempat yang kuceritakan di sana nyaris pernah kudatangi seluruhnya. Baik kota, desa, gunung, maupun pantai. Sementara cinta dan persahabatan hanyalah bumbu penyedap cerita yang tak sepenuhnya benar-benar terjadi.

Sejatinya TWIAO akan betul-betul berhenti di kota Medan, Sumatera Utara. Tokoh ‘Dan’ akan kumatikan di Gunung Sibayak. Bukan di Gunung Raung seperti yang kukisahkan di “Niskala” melalui mulut Ali Bustamin. Namun pada perkembangannya, dunia blog telah membuatku jenuh setengah mati. Aku nyaris mati rasa dengan blog. Itu pula salah sebuah alasan mengapa aku tidak jua cepat-cepat menghidupkan danielmahendra.com

Nyaris ada keinginan untuk berhenti nge-blog (bukan berhenti menulis), tapi tiba-tiba tergelitik pemikiran untuk istirahat saja dulu sejenak dari semua ini. Meski kuakui, melalui blog aku banyak menemukan teman-teman baru, persahabatan yang manis, serta mengenal berbagai karakter orang, baik saat di dunia maya maupun di dunia nyata. Lambat laun, suka atau tidak suka, teman-temanku yang sesungguhnya justru para blogger itu sendiri.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk menghentikan serial TWIAO. Karena siapalah yang paling berhak menentukan tulisanku selain diriku sendiri. Siapalah yang berhak menghentikan blog-ku selain diriku sendiri. Tak ada seorang pun yang bernafas di atas bumi ini yang berhak menentukan bilamana dan bagaimana aku menulis bukan?

Dengan demikian, berangkat dari semua pemikiran di atas, maka izinkahlah aku pamit sejenak dari dunia blog yang menyenangkan ini. Aku ingin istirah sejenak dari hiruk pikuk selama ini. Ini kulakukan semata agar aku tak lantas meracau dengan tulisan sekenanya hanya karena aku sedang jenuh nge-blog. Namun aku akan tetap berkunjung ke rumah kawan-kawan. Membacai rawiannya serta sesekali meninggalkan komentar. Sementara itu aku akan menggunakan waktu untuk membangun kembali danielmahendra.com serta sebuah domain baru (thanx to Ria–D’girls atas usulan hebatnya!).

Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada kawan-kawan semua yang telah mengikuti tulisan-tulisan di blog-ku. Baik yang mampir, membaca, berkomen, hingga yang pura-pura berkomen. Semua kuhargai serta kuhormati dengan segala kapasitasnya. Semua komentar adalah masukan bagiku. Baik yang bergizi dan bervitamin maupun sebaliknya. Namun semua tetap merupakan kontribusi bagi terciptanya atmosfer dialogis serta dialektika perbincangan.

Aku juga mohon maaf pada sebagian kawan-kawan yang menyangka bahwa TWIAO adalah cerita sungguhan. Sejatinya, tak pernah aku menuliskan nama ‘Dan’ adalah Daniel di seluruh cerita TWIAO. Meski menggunakan kata ganti orang pertama: aku, dalam pola bertuturnya, ‘Dan’ adalah ‘Dan’. Bukan Daniel Mahendra.

Hingga siapa nyana, sejak di-posting-nya cerita “Niskala”, mulai masuk email-email di inbox alibustamin@yahoo.com yang menanyakan kabar Dan, perkembangan terakhir Dan, serta minta keterangan lebih lanjut soal hilangnya Dan. Maka sudah sejak paragraf awal kuniatkan, tulisan “Epilog” ini adalah pertanggung jawaban moralku sebagai penulis untuk menjelaskan itu semua.

Apa boleh buat, menjadi seorang penulis memang mesti bisa mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa ia diciptakan. Menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya, demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya.

Bisa jadi yang fantasi bukan lagi fantasi sama sekali. Bisa fantasi bisa tidak. Tepatnya, fantasi atau bukan fantasi, hal itu sudah tidak penting lagi. Masalahnya, kita bisa setia atau tidak kepada realitas apa pun yang kita lewati. Kalau kita memang penulis, maka kita akan menuliskan apa pun yang menyentuh kita. Sehingga memang tidak ada yang terlalu istimewa dengan menjadi seorang penulis.

Dengan segenap disiplin yang telah menyatu dalam darahnya, ia menulis seperti bernapas, meskipun risikonya kematian. Karena itu semua memang merupakan tugas yang diberikan oleh alam. Ada pun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur –meskipun risikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan.

Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apa pun yang bisa dipilihkan untuk manusia. Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa –suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.

Ya, apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri –satu-satunya hal yang membuat kita: ada.

Maka awalnya, bukan akhirnya, selamat untuk terus nge-blog. Jangan berhenti menulis. Karena tulisan ini akan kututup dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer dalam roman Rumah Kaca: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Jadi, jaga kesehatan selalu. Cintai orang-orang di sekitar kalian. Sampai bertemu di suatu hari yang lebih baik lagi. Dirgahayu untuk semuanya.

Tabik!

Bandung, 18 Mei 2009 | 12.12 wib

Kategori: The Waiting Is Almost Over

43 tanggapan so far ↓

  • marshmallow // 18 Mei 2009 pada 13:08 | Balas

    welcome back! ;)
    sementara itu dulu…

    Ayem bek!

  • ladangkata // 18 Mei 2009 pada 13:13 | Balas

    speech yang bikin speechless! :D

    Nopo tho, Lis…
    Jadi jika diibaratkan buku seperti katamu, sudah ketebak belum isi dari buku bernama Daniel Mahendra? Hihihi. Tengkyu ah.

  • p u a k // 18 Mei 2009 pada 13:51 | Balas

    hehehe,.. penulis aja bisa boring.. apalagi daku!..
    ya, sud.. berarti Dan nggak jadi mati.. (oops!) ;)

    Jangan lupa main ke blog ku.. (saran Puak-D’Girls) :mrgreen:

    Eh, siapa tau si Dan belum mati. Ya kan? ;)
    Aku selalu mampir kok, Bu… Tenang.

  • goenoeng // 18 Mei 2009 pada 14:27 | Balas

    ooo… gitu ta… *manggut2*

    mengulang kata2 yang pernah ada : ‘muga lancar kabeh, lahir batin, ben tata tentrem karta raharja, gemah ripah lohjinawi.’ :D

    Kata-kata yang di SMS? Hihihi.
    Sama-sama, Dab.

  • Jamal eL Ahdi // 18 Mei 2009 pada 14:37 | Balas

    Nambahin GM : semoga sakinah ma waddah wa rahmah :D

    Ha? Iki pengantin baru po piye ki?
    Amin… Doakan semoga langgeng ya. Hahaha!

  • ekaria27 // 18 Mei 2009 pada 14:51 | Balas

    Aku udh bertanya2 kemana nich mas DM koq gak muncul2 lagi tulisannya…
    ya sudah titi dj ya mas ;)
    ditunggu doamin barunya..
    dasar ria yg dikasih saran cuma mas DM
    gue enggak
    huuuuh

    Si DM itu nggak kemana-mana kok, Ka… Sedang mengendap-endap saja dia. Mengintai di balik rerimbunan alang-alang, mengamatai keadaan sekitar. Hehehe.

    Domain baru? Sedang disiapkan, Ka… Kalem.
    Si Ria? Emang curang dia. Hihi.

  • Muzda // 18 Mei 2009 pada 15:40 | Balas

    So, the waiting is finally over !

    This is it!

  • Muzda // 18 Mei 2009 pada 15:43 | Balas

    Haduh,, aku akan sangat merindukan comment thread yang jadi mirip acara diskusi ( ngegosip dan cela-celaan ) di sini …

    DM, inget Muzda yaaa :)
    Hahaaa …
    Kalo pas ngangkring di Tugu, telpon aku 7276kali

    Ngogosip dan cela-celaan? Maksudmu aku yang jadi objek celaan? Haha. Dodol!

    Inget Muzda? Sebentar… Muzda itu yang mana ya? Hihihi. Kalem, Muz…

    Ha? Nangkring di Tugu? Ngapaiiinnn…

  • Ria // 18 Mei 2009 pada 15:44 | Balas

    ehh ada namaku disini??? *Tumben*
    hati2 aja mas…jangan sampai tak lelang sama pengemar2mu ya…wakakakakakaka

    *kabur dengan kecepatan angin sebelum di timpuk* :P

    Dilelang?! Woooiii… Riii… Awas!

    Tapi sekali lagi tengkyu banget. Idemu memang yahud. Tapi jadi nggak yahud kalau kamu beli untuk dilelang lagi. Musuhan tujuh turunan! :D

  • mantan kyai // 18 Mei 2009 pada 15:54 | Balas

    finally, its over!!! hiks… ambil pel-pelan eh tisyu :(

    Eh, aku ada pampers nih, Cak. Mau? :p

  • Riris Ernaeni // 18 Mei 2009 pada 17:16 | Balas

    yaaah, kecewa deh, baru aja menikmati gaya tulisanmu Dan..
    tapi ya sudah, aku tak akan merayumu untuk terus menulis di blog ini..
    toh aku bisa menjumpai tulisanmu didomain yg baru kan?

    salam kenal,
    Riris

    Salam kenal kembali, Mbak Riris. Terima kasih telah sudi membuang langkah kemari.

    Aku akan tetap menulis di blog ini kok. Sementara menghidupkan (dan menyiapkan) kembali domain lama, blog ini tetap akan kuisi. Tapi khusus untuk tulisan-tulisan sahibul hikayat saja. Hehe. Thanx.

  • vizon // 18 Mei 2009 pada 18:34 | Balas

    “kata yg belum kau ucapkan, kaulah pengendalinya…
    kata yg telah kau ucapkan, kaulah yg dikendalikan…”

    cerita yg telah kau mulai, kau jualah yg menyudahinya; dengan tanggungjawab…
    lama kutunggu tulisan penutup ini, akhirnya keluar juga…

    nyaris kukatakan engkau adalah orang tak bertanggungjawab… tapi, tulisan ini telah menjawab keraguanku itu… thanks DM!

    sesekali singgah jualah ke surauku…
    itupun bila kau ada waktu dan keikhlasan… tsah!

    Aku suka sekali paragraf pertama, Da: “…kaulah pengendalinya, kaulah yg dikendalikan…” Kurasa betul juga. Suka tidak suka aku ketiban keduanya. Hehe.

    Kalem, Da, aku tau aku mesti menulis “penutup” ini kok ;)

    Singgah ke suraumu? Tak perlu ditawari lagi. Selalu. Tsah!

  • edratna // 18 Mei 2009 pada 20:25 | Balas

    Lho! Kok jadi moksa beneran?

    Saya malah kepikiran setelah baca buku Bangaip, yang menceritakan dunia Cilincing..kampung Cilincing bisa dibuat sedemikian menarik. Terus
    ngobrol dengan anakku..”Wahh, lha tulisan ibu tuh ga ada artinya semua ya, habis kalau “agak serius” mesti ada referensinya.” Lha iya kan saya tak pernah meneliti dan menemukan suatu hipotesa tertentu tentang ilmu ekonomi dsb nya.

    Anakku malah menyemangati, ” Ibu bisa memilahnya, ada kok yang bisa dibuat kumpulan, ya paling untuk kita-kita aja”….hahaha…jadi terus semangat lagi nulisnya, walau ketahuan kalau lagi malas baca buku, lha tulisan selama dua minggu yang ringan2 aja….

    Gpp Niel, istirahat aja dulu…dan sesuai pembicaraan kita, aku udah kangen lho tulisan serius mu. Yang mesti dibaca hati-hati dulu, sebelum memberi komentar

    Moksa, Bu? Tingkatan hidup yang lepas dari ikatan keduniawian? Bebas dari penjelmaan kembali? Wih, sumprit Bu, kalau bisa seperti itu, aku akan pilih jalan itu. Hihihi.

    Ada kok, Bu. Bahkan banyak tulisan Ibu yang bisa dijadikan kompilasi. Tentu mesti dibagi lagi berdasarkan kajian serta tema pembahasan. Bisa banget.

    Iya, Bu. Makasih juga masukannya. Sesungguhnya aku sudah rindu dengan tulisan-tulisan semacam itu. Seperti yang kutulis di atas, aku menulis The Waiting Is Almost Over kan karena berangkat dari kejenuhan saja.

    Namun kini aku sudah menemukan pemecahannya. Blog (wordpress) ini akan tetap kugunakan untuk tulisan-tulisan santai. Sementara blog utama nanti mungkin lebih dalam kajian pembahasannya. Tsah! Kelincipen ngomongku, Bu. Hehe.

  • racheedus // 18 Mei 2009 pada 23:01 | Balas

    Bohong besar kalau saya tidak sedih dengan “perpisahan” ini, Mas. Selama ini tulisanmu selalu saya nanti. Dan ketika edisi Niskala itu, saya betul-betul larut dalam alur tulisan. Doapun sudah kupanjatkan untukmu agar selamat di Gunung Raung. Tapi sesaat kemudian, saya tersadar, gaya bahasamu tidak bisa menipu, Mas. Sangat khas. Betul-betul dua jempol. Sampean memang penulis sejati!

    Selamat beristirah. Gara-gara tulisan Epilog ini, saya jadi harus me-review aktvitas blogging saya. Mungkin juga saya perlu rehat.

    Bung Racheedus, Bung telah membuatku tertegun bahkan haru. Sampai sebegitunya kah? Aku tak menyangka. Bagamana pun terima kasih. Sejak kenal dengan Bung, Bung punya tempat tersendiri di mataku.

    Soal gaya bahasa dalam “Niskala”, jujur saja, aku merasa tulisan itu kurang berhasil. Bahkan tidak berhasil. Ada kebimbangan tersendiri tatkala menuliskan cerita itu. Egoku sebagai Daniel Mahendra kurasa sangat kental di sana. Cara penulisannya sangat aku sekali. Aku bimbang, antara menulis dengan gaya bahasa seseorang yang bernama Ali Bustamin yang tak tahu soal tulis-menulis, atau masih menyeret gayaku sebagai Daniel Mahendra. Masih sulit. Masih harus terus menempa diri dalam dunia penulisan. Yah paling tidak aku telah mencoba dan tau bagaimana hasilnya. Sekali lagi thanx.

    Ya Bung, aku istirahat sejenak. Tapi aku tetap mlaku-mlaku kok. Intip-intip blog Njenengan yang tulisannya selalu bernas itu ;)

    Tapi kalau boleh usul, Bung, jangan rehat dulu lah… Don’t stop till you get enough (tsah!) ;)

  • Yoga // 18 Mei 2009 pada 23:31 | Balas

    :)

    Maksute?

  • Ikkyu_san // 19 Mei 2009 pada 01:07 | Balas

    angka bagus lagi danny,
    12:12

    12:12? Iya, nggak nyangka lagi. Hihi.

    ternyata Dan tidak mati di seri 33 seperti tebakanku. Malah hilang di 40….

    Setiap membaca TWAIO, aku selalu menebak selanjutnya apa yang terjadi. Kadang seperti membaca cerita spionase, kubaca dulu bagian akhirnya, baru ulang kembali dari atas. Seperti aku sedang membaca sebuah cerita detektif, aku mereka-reka bagaimana endingnya, misalnya Dan mati nantinya, atau mungkin kawin nantinya, atau mungkin tersapu ombak….

    Dan ternyata si Dan betul nggak nikah hingga akhir hayatnya…

    Sampai aku membaca paragraf tulisannya Ali Bustamin. Ah kok musti gini sih akhirnya?(penonton belum siap nih….) tapi baru sadar juga waktu membaca angka 40… angka cantik! Dan kalau Dan tahu bahasa Jepang, angka 39 dibaca dengan san-kyu pengganti kata Inggris “Thank You”. Jadi kalau saya pikir benar-benar penulis yang “tahu diri” kapan musti berhenti, dan bisa membuat penonton kuciwa.

    Hihihi. Ya, bagaimana pun mesti tau diri. Bahaya kalau diteruskan. Bukan saja bagi pembaca, tapi tak kurang: bagi penulisnya sendiri. Bisa sungguhan gila penulisnya kalau diteruskan. Dan itu nyata adanya. Gila dalam arti sebenarnya. Huah. Mengerikan.

    Dalam membaca posting, kadang aku meninggalkan komentar, kadang tidak. Tidak meninggalkan komentar berarti aku merasa bodoh karena tidak menemukan kalimat yang pas untuk ditulis, atau tulisan itu terlalu “tinggi” untuk bisa kumengerti.
    Tapi aku juga selalu membaca komentar-komentar pembaca PK yang kadang…. hebat, karena bisa membaca yang tersirat. heran, karena kok bisa bikin celetukan yang menunjang cerita, tapi kadang juga baca komentar yang hanya membalas komentar yang lain, yang tidak mengomentari tulisan sehingga menjadi ajang chatting. Apalagi sejak ada sistem reply di WP, jadi pusing bacanya. But this is DM’s community (kalau tidak bisa dibilang DMFC hehehe), yang begitu beragam dan unik.

    DM’s community? Hahahaha. Istilah apa pulak itu. Aku tidak membentuk sama sekali. Semua toh terjadi secara alami. Sebabnya? Kenapa juga aku mesti mencari penyebabnya. Setiap blog tentu memiliki keistimewaannya tersendiri. Seperti kalau kawan-kawan kita kerasan berkumpul di rumah kita, berarti rumah kita dianggap malka. Dianggap tempat bertemu. Tinggal bagaimana kita menyikapi itu semua bukan… :)

    well, siapapun bisa capek dan butuh istirahat, butuh “obat kuat”, butuh stimulan.
    penulis bisa capek menulis
    guru bisa jemu mengajar
    murid bisa malas belajar
    blogger juga bisa hiatus

    Dan itu yang sedang kualami kemarin.
    Kini? Wooowww… hati-hati dengan Neo DM. Haha!!
    (Ah, engkau selalu bisa membuatku bersemangat. Love you always!

    Jadi, aku tunggu saja tulisanmu di tempat lain. Asal jangan lama-lama ya, nanti daftar BW-ku jadi tambah pendek. Karena jangan-jangan seperti pak racheedus semua ikut-ikutan rehat juga.
    Selamat ber-vacances

    EM

    Vakansi kemana enaknya ya… Tokyo gitu? Huaaa… mahal! :p
    Tengkyu ya…

    • marshmallow // 19 Mei 2009 pada 15:38 | Balas

      ah, you speak my mind, mbak! bahkan sepertinya pikiran banyak orang juga.
      dinamika di PK memang menarik, tak banyak blog yang bisa mengakomodasi beragam gaya berkomentar seperti ini. pemiliknya sendiri bisa jadi tidak meniatkan ini sejak awal, namun entah bagaimana beginilah kemudian. dan rasanya tak salah juga, toh blog pun termasuk situs jejaring sosial yang salah satu tujuannya adalah menjaring silaturrahim. terlepas dari tujuan-tujuan lain yang lebih personal tentunya.

      aku sendiri menikmati keguyuban di PK, berasa ngumpul di base camp atau apa gitu, karena ketemu banyak bloger yang nyambung aja biar komentarnya ngaco. haha! tapi komentar OOT juga biasanya tetap dalam koridor tulisan toh? walaupun konteksnya jadi ekstensif hingga menjajah ke berbagai topik nggak jelas gitu. bagaimanapun, aku tidak melihat ini jadi mengurangi kualitas PK maupun tulisan-tulisan yang ada di dalamnya kok. *pembenaran banget*

      ya gitu deh. tapi ngetik-ngetik, emang penting ya apa yang kupikirin ini? huehehe… *kabur, ah!*

      Aku ndak perlu mengulas lebih jauh ya… Komenmu ditujukan pada Mbak Imel toh.

      Cuma mau tanya: tujuan-tujuan lain yang lebih personal itu yang seperti apa ya? Hihihi. *kabur ke Timbuktu!*

  • Retie // 19 Mei 2009 pada 02:37 | Balas

    pertama : Puji Tuhan,mas Dan ngga apa-apa. Jujur ya mas, wkt aku baca surat mas Ali itu aku mrebes mili.aku baru kenal sama mas Dan,stiap baca crtmu aku tuch bener2 bisa ngerasain n bayangin kamu tuch bener2 melakukan perjalanan itu.

    Ya kalo itu sudah keputusan bulatmu unt beristirah yaaa wisss asal jgn lama – lama ya mas.

    dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu meski kau ngga ngeblog lagi….. :)
    Jangan lupakan aku yoo mas

    Kalo pas lg nyambangi blognya teman2, jgn lupa mampir ke blogku juga yaaa :)

    Hihihi. Maafkan aku ya, Retie… Bukan maksudku untuk membuatmu menangis. Ya, kau adalah salah seorang dari sekian pembaca yang mengaku menangis ketika membaca “Niskala”.

    Memang, saat menuliskan TWIAO, aku menyerahkan seluruh diriku, segenap perasaanku, seolah akulah yang melakukan perjalanan itu. Hasilnya? Ada yang mengira itu betulan, ada yang menduga-duga, ada yang tersenyum simpul, ada yang marah, ada yang cemburu, ada yang menangis, ada yang kecewa, ada yang mengolok-olok, ada juga yang mencibir.

    Tapi itulah risiko menulis. Mesti berani! Bukankah menulis itu soal keberanian? Satu orang menghadapi ribuan pembaca. Dan masing-masing dari yang ribuan itu berhak mencaci juga berhak memuji. Kalau dia kuat, ya orbitnya makin luas. Kalau tidak kuat, ya habis. Menulis memang soal keberanian.

    Aku nggak akan istirahat lama-lama kok. Istirahat hanyalah bermewah-mewah dengan keadaan. Gila betulan aku kalau mesti berhenti menulis. Sudah tak ada tempat untuk bercerita, nggak nulis pulak? Mati aja itu mah…

    Tapi paragraf ketigamu bikin aku ngakak, Retie. Hehehe. Aku pasti rajin ke blogmu kok. Kalem…

  • DV // 19 Mei 2009 pada 06:17 | Balas

    Walah… lha kok ngene iki akhirane..?
    Berakhir sudah?
    Hiatus?
    Tetanus?
    Keparatussss!!!!

    Donnycus Paleo Javaensis! Hahahaha…

    Nggak jadi ke Bali, Don. Nggak jadi ketemu si Kendi. Hihihi. Padahal udah janjian. Yo wis. Apa boleh buat.

  • bayu200687 // 19 Mei 2009 pada 07:44 | Balas

    hiatus?
    waduh, padahal baru mampir kali ini..
    ah, mencoba menikmati perjalanan ‘Dan’ di kisah2 sebelumnya mungkin mengasyikan ya…meski sudah usang…

    Kita akan bertemu di hari yang lebih menyenangkan lagi, Kawan. Terima kasih sudah sudi membuang langkah kemari :)

  • Billy Koesoemadinata // 19 Mei 2009 pada 10:09 | Balas

    haha.. kirain itu cerita beneran..
    yah, ga beda jauh deh sama yang saya tulis di salah satu blogs saya juga.. pake judul The Journey, di bersambung.wordpress.com.. :D

    eh, koq malah jadi promosi?

    Hehehe. Fiksi… Fiksi… :p
    The Journey itu? Wah, mesti mbaca nih :)

  • Zulmasri // 19 Mei 2009 pada 10:30 | Balas

    orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah

    kalimat yang selalu saya ingat sejak membaca “Rumah Kaca”. Jelas saya sangat setuju dengan untaian kalimat itu.

    Ditunggu cerita lainnya mas.

    Iya, Da Zul. Pandai saja tidak lah cukup. Pandai saja tanpa bermanfaat bagi umat manusia, sejarah akan tersipu-sipu malu melihatnya. Apalagi mencatatnya.

    Mokasih, Da.

  • miSSiSSma // 19 Mei 2009 pada 18:21 | Balas

    Om, ceritanya terasa nyata banget. Dan si Dan ini aku rasa memang OM BANGET!! Cuma, bedanya si Dan yang beneran terperangkap deadline di Dixi, kali, yaa..hehehe

    Hahahaha… Si Isma. Tau aja :D

    Btw, datanglah 23 Mei ke Hotel Mandalawangi Tasikmalaya jam 11-14 siang…
    Kita mamam-mamam…
    dulu ke Memet dateng, ke aku juga harus dateng..
    yo, mareeee…..

    Insya Allah ya, Is. Tasikmalaya ya? Mamam-mamam? Cihuy!
    Akhirnyeee… Akhirnyeee… Nikah juga. Hihihi.
    Selamat! Mantap! Bahagia untukmu selalu!

  • tanti // 19 Mei 2009 pada 23:01 | Balas

    The Waiting is Almost Over… but I’m still waiting for the new posts… ;)

    Oh, sure… Thanx, Sis. Love you! ;)

  • radesya // 19 Mei 2009 pada 23:41 | Balas

    Kakak apa kabar? Hiatus mungkin pilihan yang tepat saat kakak merasa penat. Tapi tidak berhenti menulis kan? Karena menulis sudah menjadi nafas kehidupan bagi kakak..

    Kakak tidak akan berhenti menulis, Radesya…
    Tapi, bernafas lewat apa nih? Insang? Hihi.

    Saat seri terakhir “Niskala” aku waktu membacanya jadi sedih beneran lho, tapi aku jadi teringat Niskala Wastu Kencana, putra mahkota raja Sunda Galuh itu..
    Semua rangkaian cerita kakak sangat bagus aku sangat suka, jadi saat seri terakhir seperti kehilangan…

    Semoga kakak temukan semangat baru agar bisa ngeblog lagi..

    Terima kasih, Radesya.
    Nah, mari kita bersemangat. Hup! Hup! Hup! :D

  • radesya // 20 Mei 2009 pada 00:07 | Balas

    Owh iya, mumpung masih bisa koment di sini..
    @semua (kakak”, Om”, Tante”)
    kepada semuanya aku ucapkan beribu terima kasih..

    Selama mengikuti blog kak Daniel, aku merasa memiliki keluarga baru, ada kakak, ada Bunda, ada Tante, ada Om juga, sungguh aku merasa sangat bahagia, membaca koment dari kalian semua bikin aku jadi semangat.., di sini jadi terasa dekat satu sama lain,padahal kita belum pernah bertemu..
    Hingga aku merasa SAYANG pada kalian semua, mungkin dikesempatan ini aku juga ingin meminta maaf jika tanpa sengaja telah berbuat salah dalam ucapan..

    Aku akan merasa kehilangan kebersamaan ini, aku pasti akan merindukan kalian semua…

    Jika waktu masih berpihak padaku, semoga kita dipertemukan lagi di Daniel Mahendra dot com (jika sudah jadi)

    Sekali lagi, mohon maaf ya.. Hiks…
    Thx for all..

    Radesya… kau membuat haru. Banyak dari teman-teman di sini yang berkata pada Kakak bahwa komenmu ini membuat haru perasaan mereka. Sungguh manis.

    Jangan bersedih, Radesya. Kami menyayangimu. Sebagai adik bungsu di sini. Hihihi. Percaya sama Kakak: waktu akan berpihak kepadamu. Pegang kata-kata itu. Waktu akan berpihak kepadamu. Jangan pernah terbersit untuk menyerah. Percayalah. Jangan pernah menyerah ya.

    Ayoh semangat! Kakak selalu ada.

  • hesra // 20 Mei 2009 pada 12:28 | Balas

    saat membaca tulisan-tulisan di serial ini, saya selalu membayangkan seseorang mirip suryomentaram.. yang melakukan perjalanan hanya untuk menemukan dirinya sendiri. dan tatkala ia ‘pulang’ yang ia dapatkan sesungguhnya ya hanya lah dirinya sendiri, tidak ada yang hilang, kecuali ‘modal’ hidupnya bertambah..

    sayang saja, endingnya harus lenyap..
    akh, tapi syukurlah masih lenyap.. masih ada harapan..
    ada harapan sebuah kehidupan..:)

    oke..ditunggu tulisan2 lainnya mas.. yang ‘kaya’.. :)

    Ki Ageng Suryomentaram dari Desa Bringin itu, Ra? Meninggalkan kehidupan sebagai pangeran dalam kraton dan memilih hidup sebagai petani di Desa Bringin-Salatiga. Hmmm… Terdengar menarik. Seperti bayanganku selama ini.

    Ending hanyalah soal cara pandang, Ra. Cerita itu telah memilih jalannya sendiri.

    Ya, selagi masih ada harapan. Harapan sebuah kehidupan bagi orang-orang yang masih lagi berani bermimpi. Tengkyu, Ra.

  • lilliperry // 20 Mei 2009 pada 15:56 | Balas

    walah.. saya baru menemukan blog ini, kok yg punya udah hiatus.. huhuhu

    tapi gak pa2lah, ceritanya pasti tidak akan pernah usang..
    ini lagi mencoba menikmati cerita2nya, salut…
    semoga kembali dengan tulisan2 yang lebih ‘hidup’.. :)

    Ribuan maaf. Seseorang berkata kepadaku: hiatus seringkali mengecewakan pengunjung-pengunjung baru. Aku menyadari itu. Tapi ini soal kondisi. Bukan bermaksud mengecewakan tentu saja.

    Kita akan bertemu di suatu hari yang lebih baik lagi. Terima kasih sudah berani mampir dan mengapresiasi. Salam hangat selalu.

  • Catra // 21 Mei 2009 pada 07:14 | Balas

    Mas, kalau mas aja udah mati rasa dengan Blog, saya bagaimana ya? Jujur karena tulisan2 mas dan teman-teman lainnya saya tetap bersemangat. Walaupun saya juga tidak melanjutkan web rangmudo dot com saya.

    Saya tunggu deh serial2 lainnya dengan semangat baru!!

    Wih Cat, aku kadang kerap lupa menyadari bahwa sebuah tulisan atau sebuah blog bisa punya arti tersendiri bagi orang lain. Menjadi pemicu bagi seseorang yang entah apa alasannya. Terkadang hal seperti itu pula yang membuat seseorang bertahan untuk tetap terus menulis.

    Kukira ini hanya lintasan waktu saja, Cat. Seperti komet di langit. Hanya sebentar. Tengkyu, Cat. Sukses untukmu juga. Btw, kita ini sama-sama di Bandung ya? Hihihi.

  • imoe // 21 Mei 2009 pada 13:52 | Balas

    aku malah menunggu DAN itu ke SUMUT..yahhhh tapi apa daya…….

    Gimana kalau ke Sumbar saja? Hehe.

  • mascayo // 22 Mei 2009 pada 20:34 | Balas

    lah .. padahal saya baru mulai merasakan yang ini …
    “Lambat laun, suka atau tidak suka, teman-temanku yang sesungguhnya justru para blogger itu sendiri.”
    sampai jumpa lagi kang,… weh jadi inget, domain saya juga dah diwarning … mau kapiran apa mau dilanjutkan … hehehe *pikir-pikir dulu ah

    Sudah ada warning soal domain? Weh, mesti cepet-cepet, Kang. Punyaku malah nggak ada warning sama sekali. Tiba-tiba JEBRET. Expired. Gile bener dah! Bikin sakit hati.

    Jangan kapiran… Ayo, dipikir-pikir lagi. Lanjutkan! (tsah, kayak iklan aja :D )

  • septarius // 23 Mei 2009 pada 16:53 | Balas

    lho kok ngene to..
    yok opo iki..

    Kalem… Kalem…

  • suryaden // 24 Mei 2009 pada 00:17 | Balas

    semoga tulisan diatas juga hoax adanya, lha nggak mungkin tukang nulis kok mandeg, tapi emang sudah enam hari ya liburnya…. wakaka

    Hahahaha! Dianggap hoax! :D
    Eit, baru nyadar juga aku. Sudah seminggu ya, Dab? Hihihi.

  • reallylife // 25 Mei 2009 pada 18:38 | Balas

    dan aku menantikan kisah terbarunya
    tetap semangat menulis ya kang

  • Wedul Gembes // 26 Mei 2009 pada 16:49 | Balas

    Penganyam kata Perjuangan pecahan dari Penganyam kata yah ?
    Kenapa pecah ? tidak puas atas jabatan / kursinya ya pak ?

  • Catra // 26 Mei 2009 pada 21:58 | Balas

    Tok..tok..tok ada orang? Gak ada jawaban nih, lagi Hiatus Tidur nih pasti

  • Catra // 26 Mei 2009 pada 21:59 | Balas

    *lho kok di atas hiatus nya gak kecoret ya? hahahahaha :mrgreen:

  • randualamsyah // 27 Mei 2009 pada 15:42 | Balas

    makin gemuk aja sampeyan..
    saya dah lama gak kesini..

  • radesya // 27 Mei 2009 pada 17:32 | Balas

    Saudara-saudara sebangsa dan setanah air..
    Jangan lupa ya, ntar nonton bareng Desya..
    MU vs Barca

    go Barca!!

    @Om jamal, Om racheedus, kak Goen, kak Daniel, jangan lupa nonton bareng..

  • chie // 28 Mei 2009 pada 19:29 | Balas

    yahhhhhhhhhh…………
    taMAt dehh…….

    *kecewa….;( *

  • Nissa Cita // 11 Juni 2009 pada 13:38 | Balas

    Pas baca tulisan Ali Bustamin, aku udah punya feeling, …. D!#M*@T Pangemanann dengan double n! Aku keselek-selek, kesandung dan kesengsem.. haiyaahhhhhhhh

Tinggalkan sebuah Komentar