(The Waiting Is Almost Over: 36)
memang usia kita muda, namun cinta soal hati
biar mereka bicara, telinga kita terkunci
(Iwan Fals, Buku Ini Aku Pinjam)
Selama di kota Jember hari-hariku kuhabiskan untuk jalan-jalan semata. Melewati rumah lama di Jalan Jayanegara, makan di gudeg Lumintu di Kertanegara, menyusuri keramaian kota di Jalan Sultan Agung, ngopi di sekitar kampus Unej di Jalan Kalimantan, dan terdampar di Melody Cassette, sebuah toko kaset di Jalan Diponegoro.
“Masih ingat aku, Ci?” tanyaku senyum-senyum ketika memasuki toko kaset mungil itu.
“Ha?” si Ibu keturunan Cina pengelola toko pun mengernyitkan dahi. “Kamu kan…”
“Iya.”
“Ya ampuuunnn…” ia terbelalak. “Dulu sering kemari kan?”
“Selalu!” jawabku masih saja tersenyum.
“Ya ampuuunnn… Sudah sebesar ini?” ia tergopoh-gopoh keluar dari kassa, menghampiriku. “Di mana sekarang tinggal?”
“Di Bandung, Ci. Ci sehat?”
“Sehat. Sehat. Sekarang lagi di Jember?”
“Iya. Sedang mampir ke Jember. Kebetulan lewat sini, mampir sekalian.” jawabku sembari melempar pandangan ke seluruh penjuru toko. “Gimana, Ci? Rame kaset sekarang? Orang sudah beralih ke CD semua ya?”
“Wah, susah. Sekarang orang lebih mudah dapat bajakan. Entah gimana ini. Hukumnya ada, tapi begitu di lapangan ya sama aja.”
Aku hanya tercenung. Tak tahu mesti berbuat apa. Soal bajakan memang repot. Hal itu bisa terjadi di kota manapun di Indonesia. Lebih mengibakan lagi: di Jember tadinya ada banyak bioskop. Dari mulai misbar (gerimis bubar) sampai Grup 21. Tapi sekarang tutup semua. Kenapa?
Bagaimana tidak tutup. Bioskop-bioskop di kota Jember nyaris selalu telat menayangkan film baru. Master film memang terbatas secara nasional (secara geografis besar sekali negara kepulauan ini). Dan jelas lebih diperuntukkan untuk pasokan bioskop kota besar. Alhasil, film di kota kecil semacam Jember selalu ketinggalan masa putar.
Akhirnya masyarakat lebih memilih DVD player, bisa nyewa player-nya, dan ditonton beramai-ramai. DVD-nya? Bajakan tentu saja. Lambat laun bioskop di kota Jember ambruk tak menyisakan penonton sama sekali. Ironis memang. Namun bahwa modal besar (monopoli peredaran film) bisa dikalahkan oleh kekuatan massa betul telah terjadi dan terbukti. Meski lewat film bajakan. Tapi tetap saja ironis.
Aku masih jalan-jalan sesuka hati. Di pagi hari yang cerah, kukunjungi bekas SMA-ku di Jalan Hayam Wuruk. Rupanya sudah banyak yang berubah. Bangunan utama memang tetap, namun sudah mendapat sentuhan manis di sana-sini.
Aku masuki ruang guru pada saat jam istirahat berbunyi. Beberapa guru muda tampak memicingkan mata. Aku hanya tersenyum menganggukkan kepala. Suasana tampak ramai. Kudekati seorang guru yang sedang duduk di balik meja.
“Siang, Ibu…” sapaku tersenyum.
“Siang?”
“Masih ingat saya pasti…”
“Ya Allah!!” Bu Musiati terbelalak menyebut nama asliku.
Aku menganggukkan kepala. Kucium punggung tangannya. Dipeluknya aku. Pipiku malah diusap-usap dengan kedua tangannya. Aku hanya tertawa geli. Aku senang beliau masih lagi mengingatku.
Bu Musiati memanggil guru-guru lain. Kupeluk Pak Robani si guru matematika, Pak Tohar si guru biologi, dan Pak Nahrowi si guru pembina Pencinta Alam.
“Sudah sebesar ini kamu, Dan?” tukas Bu Musiati.
“Ya dikasih makan, Bu. Masa’ kecil terus.” aku nyengir.
“Waduh, kamu itu, masih saja tetap gondrong.” sambung Pak Robani.
“Dan Bapak selalu ngejar-ngejar saya dengan gunting.”
“Hahahaha. Dan kamu kabur mbolos sekolah hari itu.”
“Hahahaha!” semua guru tertawa.
Memang ada cerita unik antara rambut dengan Pak Robani ini. Dulu ia selalu meminjam motorku. Aku sih tenang-tenang saja. Toh tak kupakai selama aku berada di kelas. Beliau selalu baik padaku. Sebabnya hanya satu: beliau tak pernah menyuruhku mengerjakan soal matematika di depan kelas. Tak pernah sama sekali. Hampir semua teman di kelas tiga pernah kebagian. Seolah ada perjanjian tak tertulis (juga tidak secara lisan) antara aku dan beliau: sesuka hatilah pakai motorku, tapi jangan suruh aku mengerjakan soal matematika di depan kelas. Haha!
Tapi pada suatu hari, saat pelajaran lain berlangsung, tiba-tiba beliau masuk ke dalam kelas membawa gunting. Jantungku langsung berdegup: DEGH! Be careful, Dan! tukasku dalam hati. Betul saja. Beliau menghampiri kursiku. Berkata:
“Maaf nih, Dan. Kita keluar sebentar ya.”
Dengan ogah-ogahan aku keluar kelas sembari mengatupkan geraham.
Sesampai di luar ia berkata: “Sebetulnya Pak Guru nggak enak, Dan. Tapi kalau Pak Guru nggak motong rambutmu yang gondrong, malah lebih repot lagi. Nggak enak sama Ibu kepala sekolah.”
Sebal juga aku mendengar alasannya. Tapi sopan juga caranya: hendak memotong rambutku namun minta izin aku dulu. Hihihi. Lagi pula Ibu kepala sekolah kenal baik dengan orangtuaku. Aku jadi serba salah. Akhirnya kubiarkan ia memotong rambutku yang selalu melebihi kerah: KRES! KRES!
“Pak Guru potong sedikit aja ya, Dan. Biar tetap bisa kamu rapihkan.”
Aku hanya diam saja. Tapi dalam hati aku sudah bertekad: jangan pinjam-pinjam motorku lagi! Hahaha! Pendendam juga aku ini.
Pak Robani hanya tertawa mendengar ceritaku itu. Kini ia tampak lebih tua. Maka bertiga bersama Bu Musiati dan Pak Robani aku diantar berjalan-jalan melihat-lihat sekolah.
“Gimana kabar bapak, Dan, sehat?” tanya Pak Robani.
“Oh, Bapak sudah meninggal, Pak.”
“Oh?” ia menggumamkan sesuatu di mulutnya. “Kapan?”
“Tahun sembilan-sembilan, Pak. Persis sepuluh tahun lalu.”
Lalu kami lewati koridor kelas tiga, koridor kelas dua, juga koridor kelas satu. Aku senyum-senyum sendiri ketika melewati kelas-kelas itu. Aku pernah di sana, batinku. Bagaimana kabar pacar-pacar lama ya? Haha! Pasti sudah pada nikah semua.
Namun aku tercenung begitu mengetahui sudah tak ada ekstrakurikuler teater lagi di SMA ini. Aku sedih. Rupanya tak ada penerusnya. Duh. Padahal dulu Teater Papat selalu marajai teater di seluruh SMA Jember. Selalu mewakili kota Jember bertanding di festival teater tingkat provinsi.
Ya, zaman berubah. Segalanya berubah. Tak ada yang abadi. Satu-satunya yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Ini kan dunia, bukan surga. Kita tak bisa selamanya mengharapkan sesuatu bakal terus sama sepanjang umur dunia.
Ah, andai aku tinggal di kota ini, akan kubangun lagi teater di SMA ini. Yah, namanya juga andai.
Dari kejauhan tampak Pak Tohar datang menghampiri. Beliau bergabung bersama kami.
“Dan,”
“Ya Pak?”
“Sampai berapa lama kamu di Jember?”
“Nggak lama sih, Pak. Saya masih akan terus ke timur. Tapi minggu-minggu ini masih di Jember. Kenapa, Pak?”
“Mau kamu memberikan pelatihan penulisan di sini? Harinya terserah kamu. Sepulang sekolah lebih baik.”
“Wah! Mau banget, Pak! Mau banget! Dengan senang hati!”
“Serius nih?”
“Lho, iya. Tentukan saja harinya. Besok atau lusa pun bisa.”
“Oke. Nanti kita umumkan siapa saja siswa yang mau ikut. Kamu bisa kasih semacam tips-tips penulisan lah. Bagaimana membiasakan diri untuk menulis, jenis-jenis tulisan, juga bagaimana caranya menembus media atau penerbit. Gimana?”
“Oke banget, Pak Tohar… Dengan segala senang hati!” senyumku girang.
Bu Musiati menggoyang-goyang bahuku sembari tersenyum. “Dan… Dan…”
Aku hanya nyengir.
Setelah membagikan beberapa buku karanganku sekadar buah tangan pada mereka, aku berpamitan pada guru-guru. Lusa aku berjanji akan kembali lagi untuk memberikan pelatihan penulisan pada adik-adik SMA. Aku senang bukan kepalang. Bisa memberikan sesuatu pada SMA-ku ini. Walau itu mungkin hanya secuil.
Guru-guru mengantarkanku sampai ke gerbang. Aku menyeberang jalan. Menuju halte bis di depan sekolah. Wih, halte ini! Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dulu aku kerap juga pulang naik bis. Terutama kalau mesti menemani seorang gadis.
“Bawa pulang motorku ya, Li.” ucapku pada Ali waktu itu.
“Lho, kamu?”
Aku mengedipkan mata.
“Pasti perempuan! Dasar!”
“Hahahaha!” aku tertawa ngakak berlari sembari melemparkan kunci dan STNK padanya.
Geli juga mengingat masa-masa SMA. Di halte aku jadi senyum-senyum sendiri mengenang masa yang telah lalu.
Dan, hup! Aku meloncat ke dalam bis kota. Mengenang sesuatu yang pernah kualami dulu. Ah, masa SMA. Aku bersenandung riang…
30 April 2009 | 18.57 wib
di halte itu kutunggu, senyum manismu kekasih
usai dentang bel sekolah, kita nikmati yang ada
seperti hari yang lain
kau senyum tersipu malu
ketika ku sapa engkau
genggamlah jari, genggamlah hati ini
(Iwan Fals, Buku Ini Aku Pinjam)


47 tanggapan so far ↓
uni mas melo // 30 April 2009 pada 20:32 |
cerita ini bagus sekali, goniel. superb!
aku terharu membacanya.
entah kenapa cerita soal guru (yang berdedikasi) selalu menyentuhku.
dan tulisanmu ini mengangkatnya dengan baik sekali.
semoga mereka sehat selalu.
belum bisa komentar
lebihbanyak saat ini.masih menikmati kesan mendalam yang ditinggalkan.
thanks for making my evening.
ps. tulisan ini bisa juga diberi judul “motor ini aku pinjam,” goniel.
Ikkyu_san // 30 April 2009 pada 21:40 |
Bukan uni…
Bukan “Motor ini aku pinjam”
tapi “Motor ini aku pinjamkan, supaya kubisa naik bus!”
hehehe
Gadis komuter bus itu mempunyai “Mata Indah Bola Pingpong” kah?
EM
prameswari // 30 April 2009 pada 22:03 |
Kepala sekolahnya….kepala sekolahnya…..
si ibu itukah? Bu Sus?
prameswari // 2 Mei 2009 pada 15:22 |
Hei….kebalik atuh kang…..
prameswari // 30 April 2009 pada 22:12 |
Mas Niel,
Mas mengingatkan ade dengan kota kecil Jember yang amat manis buat dikenang….
semuanya menyenangkan.
Sebagai kota kecil, Jember punya semuanya dengan ukuran yang tak terlalu lengkap dibandingkan kota besar, namun mudah didapat. Kita seringkali membahasnya.
Seperti juga yang mas Niel ceritakan, Ade punya langganan toko sepatu di dekat Pasar Tanjung dan toko buku di jalan raya Sultan Agung yang selalu ingat kala kita kembali lagi kesana…
Ah Jember dan Lagu mas itu bikin ade pengen kembali kesana…
Buku ini aku pinjam ? jadi inget yang pinjam buku Ade di depan garasi rumah. ….hihihi
Catra // 1 Mei 2009 pada 16:39 |
Jember, hmmm jadi pengen ke sana nih. Menjelajah pulau Jawa kayak mas Goniel
agoyyoga // 1 Mei 2009 pada 01:25 |
Salut Dan, kamu masih mengingat guru-gurumu.
*Kalo bicara soal Jember, belum lengkap kalau belum menyebut suwar-suwir, tape, Madura, tempat wisata yang di PTP itu namanya apa ya? Rembangan? cmiiw… Pasir Putih, eh yang ini agak keluar kota Jember, ke arah Situbondo ya? Penjual ketan malam-malam di dekat pasar Johar–cmiiw lagi, dan buatku ada gang kecil yang selalu kuingat, jalan Kartini gang 3*
prameswari // 1 Mei 2009 pada 05:12 |
Pasir Putih ada 2 Yog, ada yang di Situbondo, ada juga yang ada di dalam Watu Ulo ambulu.Semuanya cantik-cantik.
Cie……. ada memori juga niy si Yoga ama Jember….
Omong2 Yog, kamu kan juga pasti inget guru SDmu toh Yog…
la wong serumah…… hehehe
*Inget cerita mbak Icha kalo kamu selalu juara kelas* Cieee
agoyyoga // 1 Mei 2009 pada 06:13 |
Nggak Nung, nggak serumah, aku sendirian.
Yang diceritain Icha itu bukan guru SD. Juara kelas Nung? Hehehe jadi malu disebut-sebut di sini, OOT tauu
Hem… iya ngaku, juara gaple di kelas hehehe…
prameswari // 1 Mei 2009 pada 05:07 |
Mau nostalgia gudeg Lumintu ah…
Gudegnya enak, gudeg khas jember yang gak terlalu manis, sedikit pedes, gak terlalu kering, enak banget terutama buat sarapan, tapi mau maem butuh perjuangan dulu deh.
Ibu yang jual judes banget deh, apalagi kalo lagi rame….judesnya kumat.
Hihihi….
prameswari // 1 Mei 2009 pada 05:17 |
eh belum ngasiy salam. Pagiiiii mas Niell.
Chandra // 1 Mei 2009 pada 06:03 |
Si Dan itu besar apanya sih Mas, ampe pada terheran-heran… :p
—————-
Masa SMA ya, kata orang masa yg paling indah, kalo buatku sih biasa-biasa aja soalnya aku dulu terlalu lugu, udah gitu ceking dan hitam…duh…
—————-
Kalo aku balik Bandung, aku dikasih buku juga ngga? kikikikik.. *ngarep*
marsh // 1 Mei 2009 pada 19:32 |
si dan itu gede apanya?
ah, masak musti aku yang ngasih tau, chand?
si dan itu gedeeee… BO’ONGNYAAAA…!!!
huahahahaaa…
*ditabokin*
hai, goniel! sehat?
Jamal eL Ahdi // 1 Mei 2009 pada 08:07 |
Biarlah semua membahas guru,biarlah semua membahas motor atau membahas buku,padahal ga ada cerita buku kecuali buku untuk kenang2an xixixixi.
aku mau berbicara soal matematika ( Makin Tekun Makin Mematikan) hehehe. jangan sampai salah hitung honor ya mas kan ga mau itung2an (kalau honor mah kurang 1000 juga ditagih kakakakaka), gitu caranya yah biar ga maju ? besok ikutan triknya si Dan ah, tapi minjemin apa yah ?
vizon // 1 Mei 2009 pada 08:09 |
aih… indah nian hubungan si Dan dengan guru2 itu…
seandainya semua guru memberi kesan mendalam seperti ketiga guru si Dan itu, betapa indahnya dunia pendidikan kita…
2 pelajaran yg kupetik dari hubungan Dan-Pak Robani:
pertama, jadikanlah muridmu sahabat
kedua, meskipun muridmu memberimu sesuatu, tetaplah menyuruhnya maju kedepan mengerjakan tugas…
Jamal eL Ahdi // 1 Mei 2009 pada 08:12 |
Soal Bioskop dan dvd jangan salah mas, bukan pemilik modal dan massa , itu persaingan sesama pemilik modal. kalau bukan pemilik modal pasti sudah digulung sama pol*s*. karena pol*s* bukan tidak tahu,tapi sok tidak tahu ( atau jangan2 juga dibagi dvd tiap nongol film baru yah ? heheheh)
Catra // 1 Mei 2009 pada 09:17 |
Duh masih ingat masa-masa sekolah itu yah mas… emang masa yang sulit dilupakan
Cak Ri // 1 Mei 2009 pada 10:23 |
seseorang yg tinggal di jember (teman lama) sudah ada yang menelponmu……..?
untuk yg lainnya sementara ‘no comment’ dulu…..:-).
to Prames…, apa kabar anaknya bu kepala sekolahnya si Dan itu ?
prameswari // 1 Mei 2009 pada 10:43 |
Hahaha….. anaknya bu Sus….
yang dokter itu?
Baik *pasang tampang serius* masiy jadi dokter…..hihihi
*ngelirik mas Niel*
yessymuchtar // 1 Mei 2009 pada 10:31 |
Gue setuju sama Uni Dan…cerita ini keren. Masa masa SMA memang selalu manis untuk dikenang. Ada kisah di panggil guru gara gara rok kependekan, ada kisah ketahuan guru BP gara gara mojok di kamar mandi. Ada kisah dipanggil guru PPKN gara gara pake tatto temporary di betis…hehe
Komplit deh.
Tapi satu yang gue gak pernah lupa. Bakso Tahu di kantin belakang sekolah…Damn! enak bangetttttt!!!
Lo udah bawa gue kembali mengenang jaman sekolah dulu Dan. Thanks!
chie // 1 Mei 2009 pada 10:44 |
akhh…mas daN mengingatKAn aq paDa masa2 sMa dLu..
*kangeN soLo…*
ini reaL g mass???atw fiksi doanK??
psTi reaL…;) *soK tww!!!!…*
ekaria27 // 1 Mei 2009 pada 12:41 |
Menelusuri masa sekolah dulu memang memberi romansa tersendiri ya mas Dan
ngarep mode ON hehehehe
Btw aku juga mau dibagi2in buku mas Dan bukan sekedar tapi buah tangan yang pasti kubaca !
p u a k // 1 Mei 2009 pada 14:04 |
Aku suka kalimat ini, Jah,.. eh, Nad!
Nggak ada yang abadi di dunia ini, jadi jangan mengikatkan diri.
)
*sok bijak* (
suryaden // 1 Mei 2009 pada 15:01 |
gak meriah jauh-jauh sampe ke jember cuman ketemu ali dan guru-guru SMA, mungkin setelah “buku ini aku pinjam”, semoga si Dan mencari, mencari, mencari… dan ketemu sehingga ceritanya seperti “ngunduh wohing pakerti”… jiahaha….
imoe // 1 Mei 2009 pada 15:48 |
Wahhh senangnya membuka memori lama….sekolah memang dunia yang tak pernah kita lupakan, begitu banyak kenangan yang sayang untuk di lupakan.
Btw buku yang di pinjam udah dibalikin gak ya…..trus kok ngak sempat singgah ke WC sekolah siy…WC di sekolah kan paling banyak menjadi saksi bisu rahsia yang terpendam para siswanya hehehehe
Trus yang di kejar di atas biskota, perempuannya siapa tuh ?
Cak Ri // 1 Mei 2009 pada 16:38 |
Gak mampir ke bakso SD yg deket rumahku Dan ?…..or warung ring di daerah kampus ? atau sekalian ke bondowoso menuju kawah ijen, turunnya ambil arah banyuwangi lalu nyebrang ke Bali….
grubik // 1 Mei 2009 pada 17:53 |
cerita yang panjang, hehe…
AL // 1 Mei 2009 pada 18:01 |
Wah, ingat dulu pak guru english waktu SMA yang selalu menolongku dan seorang kawanku. Gara-garanya, kita satu band. Pak guru itu vokalisnya, huehehe… Saya pasti tidak akan pernah disuruh ke depan ngerjain soal pas pelajaran english. Kalau kawan saya, dia pasti lolos dari razia rambut gondrong.
Iya, memang tidak ada tempat yang paling menyenangkan selain sekolahan. Saya aja balik lagi gak mau pergi dari sekolah.
radesya // 2 Mei 2009 pada 10:13 |
Wah, tante dulu anak band? Pegang apa tante?
Pantes saja tante suka sama ruang kelas, kalau saja waktu bisa diputar, kuingin jadi SD lagi ah, jadi murid tante, bisa maen futsal bareng, bisa ngeband bareng, hihihi…
tanti // 1 Mei 2009 pada 19:37 |
Lah… mana sih bukunya yang dipinjam itu?
buku apa?
punya siapa?
udah dikembaliin belum?
*mencari-cari*
joe // 1 Mei 2009 pada 19:50 |
jadi ingat ni, dengan masa-masa sma dulu …
tanti // 1 Mei 2009 pada 19:51 |
Ah,
ada muatan respek pada guru di sekolah disini !
Beberapa orang guru mungkin memang spesial dan tak mudah dilupakan,
tapi memang sudah sepatutnya kita mengingat guru-guru kita sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih, karena mereka tidak sekedar membagikan ilmu tapi juga membagikan kasih sayang dan perhatian, menjadi panutan dan teladan, hingga kita bisa jadi seperti sekarang ini.
Kok jadi ingat lagu yang dulu sering muncul di TVRI :
…
Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu karena siapa?
Kita jadi pintar dibimbing pak guru,
kita jadi pandai dibimbing bu guru
Guru bak pelita penerang dalam gulita,
jasamu tiada tara
….
*komen menyambut Hardiknas 2 Mei 2009
*
Muzda // 1 Mei 2009 pada 19:53 |
Bajakan yaa ..??
Aargh, aku merasakan susahnya ngapdet film baru di kota kecil, uh uhu ..
Hmm..
Sejauh apa pun kita pergi ya Mas dan mendapat pencapaian yang tinggi, mereka masih di sana, mengajar …
Dulu Pak Rabbani meminjam motor muridnya, sekarang ..?? Sudah punya kah dia Mas ..??
Ah, Guru …
radesya // 1 Mei 2009 pada 23:11 |
Ya Ampuuuuunnn…
Dan dah gedhe ya? Waduh! Segedhe apa ya? Perasaan nggak deh
jadi kangen sama bapak-ibu guruku,aku yakin mereka juga kangen aku hiks..
radesya // 2 Mei 2009 pada 06:27 |
Pagi kakak…
Ayo banguuuuunnnn……
Ketidur lagi ya?
ternyata kakak dulu juga bandel ya, kalau saja aku yang jadi gurunya, pasti aku suruh ngerjain soal matematika di depan kelas tiap hari, biar hafal rumus-rumusnya
*siap-siap mo ikut pelatihan penulisan dari Dan*
racheedus // 2 Mei 2009 pada 12:47 |
Mas Dan, kapan-kapan mampir ke tempatku, memberi pelatihan penulisan di madrasah tempat istriku mengajar. Gimana, setuju nggak?
racheedus // 3 Mei 2009 pada 01:57 |
Oalah, Cak! Emang beda po?
Oke deh. Saya tunggu dengan hati berdebar-debar. Hiks.
DV // 2 Mei 2009 pada 13:34 |
Hmmm “lama” nggak menyambangi blogmu ini
Bukan berarti aku memang “selalu mbaca tapi lom sempat komen” tapi memang benar-benar kemarin nggak sempat mampir apalagi mbaca dan komen
Tulisanmu sperti biasa menyentuh.
Dari paragraf awal aku menunggu dengan berdegup-degup kencang dimana kamu akan mulai memperkenalkan “Sang Ade” pada forum pembaca tapi ternyata sampai akhir juga tak kau sebutkan sampai akhirnya si Ade yang memberi isyarat ternyata kalian bertransaksi buku di depan garasi tho huahuahua
prameswari // 2 Mei 2009 pada 15:33 |
Cie…..ada yang gak ngaku pinjem buku di depan garasi……
beraninya emang cuman di depan garasi tuh….
uhuy
marshmallow // 3 Mei 2009 pada 13:06 |
goniel, aku heran nih, kenapa si cici penjual kaset tak ikut berjualan CD dan DVD sekarang? atau beralih ke usaha lain yang lebih diminati produknya?
apa tambah dengan arloji dan alat elektronik lain gitu.
jual komputer juga bisa.
buka warnet nggak papa juga.
eh, jual bahan bangunan lebih bagus!
atau usaha butik?
bikin kafe aja deh kayaknya.
atau jadi artis sinetron?
trus aku ada ide nih. bagus banget: gimana kalau kamu pos tulisan baru?
vizon // 3 Mei 2009 pada 16:28 |
setujuuuuuuuuuuu banget dg usulan uni yg terakhir…
ingat itu Dan… itu adalah perintah dari sri ratu… *dilempar uni pakai jarum suntik*
marshmallow // 3 Mei 2009 pada 19:33 |
itu memang aslinya perintah sri ratu kanjeng roro kidul, da vizon. saya hanya bertugas menyampaikan.
*nggak ngelempar jarum suntik, takut meleset. pake tombak aja sekalian.*
tulisan baruuuu…!!! *sambil ngamuk gak sabar, ngerusak-rusak PK, ngelempar-lempar kursi, bakar ban, orasi, cegat bus, nyuruh penumpang pada turun, mbentang spanduk, pokoknya anarkislah*
goenoeng // 3 Mei 2009 pada 22:44 |
‘Bagaimana kabar pacar-pacar lama ya? Haha! Pasti sudah pada nikah semua.’
tinggal mantan pacarnya yang belum nikah.
ternyata, kita punya persoalan yang sama, Dab. pacar-pacar dan rambut gondrong… huehehehe…
anakilang // 4 Mei 2009 pada 13:01 |
Buku ini aq pinjam
Kan qu tulis sajak indah
hanya untuk mu seorang
tentang mimpi-mimpi malam.
Cuma ngelanjutin nyanyi aja. sambil mengingat-ingat masa sekolah…hehehehhe
edratna // 6 Mei 2009 pada 21:41 |
Masa SMA memang masa yang paling menyenangkan, banyak memori yang terpatri disana.
Dan mungkin awal mengenal rasa sayang pada lawan jenis…
Juga pertama kalinya boleh menonton film dengan teman seiring….
Ternyata Dan sejak dulu suka gondrong ya…..???
EKA – guru KILLER ! « EKA’s little story // 20 Mei 2009 pada 12:47 |
[...] seorang sobat yang berjanji memberikan bukunya sebagai buah tangan, menepati janji setelah membaca postingan ini. [...]
EKA – guru KILLER ! » ceritaeka.com // 6 Oktober 2009 pada 16:38 |
[...] seorang sobat yang berjanji memberikan bukunya sebagai buah tangan, menepati janji setelah membaca postingan ini. [...]