Soliloquy

Buku Ini Aku Pinjam

30 April 2009 · & Komentar

(The Waiting Is Almost Over: 36)

memang usia kita muda, namun cinta soal hati
biar mereka bicara, telinga kita terkunci

(Iwan Fals, Buku Ini Aku Pinjam)

Selama di kota Jember hari-hariku kuhabiskan untuk jalan-jalan semata. Melewati rumah lama di Jalan Jayanegara, makan di gudeg Lumintu di Kertanegara, menyusuri keramaian kota di Jalan Sultan Agung, ngopi di sekitar kampus Unej di Jalan Kalimantan, dan terdampar di Melody Cassette, sebuah toko kaset di Jalan Diponegoro.

“Masih ingat aku, Ci?” tanyaku senyum-senyum ketika memasuki toko kaset mungil itu.
“Ha?” si Ibu keturunan Cina pengelola toko pun mengernyitkan dahi. “Kamu kan…”
“Iya.”
“Ya ampuuunnn…” ia terbelalak. “Dulu sering kemari kan?”
“Selalu!” jawabku masih saja tersenyum.
“Ya ampuuunnn… Sudah sebesar ini?” ia tergopoh-gopoh keluar dari kassa, menghampiriku. “Di mana sekarang tinggal?”
“Di Bandung, Ci. Ci sehat?”
“Sehat. Sehat. Sekarang lagi di Jember?”
“Iya. Sedang mampir ke Jember. Kebetulan lewat sini, mampir sekalian.” jawabku sembari melempar pandangan ke seluruh penjuru toko. “Gimana, Ci? Rame kaset sekarang? Orang sudah beralih ke CD semua ya?”
“Wah, susah. Sekarang orang lebih mudah dapat bajakan. Entah gimana ini. Hukumnya ada, tapi begitu di lapangan ya sama aja.”

Aku hanya tercenung. Tak tahu mesti berbuat apa. Soal bajakan memang repot. Hal itu bisa terjadi di kota manapun di Indonesia. Lebih mengibakan lagi: di Jember tadinya ada banyak bioskop. Dari mulai misbar (gerimis bubar) sampai Grup 21. Tapi sekarang tutup semua. Kenapa?

Bagaimana tidak tutup. Bioskop-bioskop di kota Jember nyaris selalu telat menayangkan film baru. Master film memang terbatas secara nasional (secara geografis besar sekali negara kepulauan ini). Dan jelas lebih diperuntukkan untuk pasokan bioskop kota besar. Alhasil, film di kota kecil semacam Jember selalu ketinggalan masa putar.

Akhirnya masyarakat lebih memilih DVD player, bisa nyewa player-nya, dan ditonton beramai-ramai. DVD-nya? Bajakan tentu saja. Lambat laun bioskop di kota Jember ambruk tak menyisakan penonton sama sekali. Ironis memang. Namun bahwa modal besar (monopoli peredaran film) bisa dikalahkan oleh kekuatan massa betul telah terjadi dan terbukti. Meski lewat film bajakan. Tapi tetap saja ironis.

Aku masih jalan-jalan sesuka hati. Di pagi hari yang cerah, kukunjungi bekas SMA-ku di Jalan Hayam Wuruk. Rupanya sudah banyak yang berubah. Bangunan utama memang tetap, namun sudah mendapat sentuhan manis di sana-sini.

Aku masuki ruang guru pada saat jam istirahat berbunyi. Beberapa guru muda tampak memicingkan mata. Aku hanya tersenyum menganggukkan kepala. Suasana tampak ramai. Kudekati seorang guru yang sedang duduk di balik meja.

“Siang, Ibu…” sapaku tersenyum.
“Siang?”
“Masih ingat saya pasti…”
“Ya Allah!!” Bu Musiati terbelalak menyebut nama asliku.

Aku menganggukkan kepala. Kucium punggung tangannya. Dipeluknya aku. Pipiku malah diusap-usap dengan kedua tangannya. Aku hanya tertawa geli. Aku senang beliau masih lagi mengingatku.

Bu Musiati memanggil guru-guru lain. Kupeluk Pak Robani si guru matematika, Pak Tohar si guru biologi, dan Pak Nahrowi si guru pembina Pencinta Alam.

“Sudah sebesar ini kamu, Dan?” tukas Bu Musiati.
“Ya dikasih makan, Bu. Masa’ kecil terus.” aku nyengir.
“Waduh, kamu itu, masih saja tetap gondrong.” sambung Pak Robani.
“Dan Bapak selalu ngejar-ngejar saya dengan gunting.”
“Hahahaha. Dan kamu kabur mbolos sekolah hari itu.”
“Hahahaha!” semua guru tertawa.

Memang ada cerita unik antara rambut dengan Pak Robani ini. Dulu ia selalu meminjam motorku. Aku sih tenang-tenang saja. Toh tak kupakai selama aku berada di kelas. Beliau selalu baik padaku. Sebabnya hanya satu: beliau tak pernah menyuruhku mengerjakan soal matematika di depan kelas. Tak pernah sama sekali. Hampir semua teman di kelas tiga pernah kebagian. Seolah ada perjanjian tak tertulis (juga tidak secara lisan) antara aku dan beliau: sesuka hatilah pakai motorku, tapi jangan suruh aku mengerjakan soal matematika di depan kelas. Haha!

Tapi pada suatu hari, saat pelajaran lain berlangsung, tiba-tiba beliau masuk ke dalam kelas membawa gunting. Jantungku langsung berdegup: DEGH! Be careful, Dan! tukasku dalam hati. Betul saja. Beliau menghampiri kursiku. Berkata:

“Maaf nih, Dan. Kita keluar sebentar ya.”
Dengan ogah-ogahan aku keluar kelas sembari mengatupkan geraham.

Sesampai di luar ia berkata: “Sebetulnya Pak Guru nggak enak, Dan. Tapi kalau Pak Guru nggak motong rambutmu yang gondrong, malah lebih repot lagi. Nggak enak sama Ibu kepala sekolah.”

Sebal juga aku mendengar alasannya. Tapi sopan juga caranya: hendak memotong rambutku namun minta izin aku dulu. Hihihi. Lagi pula Ibu kepala sekolah kenal baik dengan orangtuaku. Aku jadi serba salah. Akhirnya kubiarkan ia memotong rambutku yang selalu melebihi kerah: KRES! KRES!

“Pak Guru potong sedikit aja ya, Dan. Biar tetap bisa kamu rapihkan.”
Aku hanya diam saja. Tapi dalam hati aku sudah bertekad: jangan pinjam-pinjam motorku lagi! Hahaha! Pendendam juga aku ini.

Pak Robani hanya tertawa mendengar ceritaku itu. Kini ia tampak lebih tua. Maka bertiga bersama Bu Musiati dan Pak Robani aku diantar berjalan-jalan melihat-lihat sekolah.

“Gimana kabar bapak, Dan, sehat?” tanya Pak Robani.
“Oh, Bapak sudah meninggal, Pak.”
“Oh?” ia menggumamkan sesuatu di mulutnya. “Kapan?”
“Tahun sembilan-sembilan, Pak. Persis sepuluh tahun lalu.”

Lalu kami lewati koridor kelas tiga, koridor kelas dua, juga koridor kelas satu. Aku senyum-senyum sendiri ketika melewati kelas-kelas itu. Aku pernah di sana, batinku. Bagaimana kabar pacar-pacar lama ya? Haha! Pasti sudah pada nikah semua.

Namun aku tercenung begitu mengetahui sudah tak ada ekstrakurikuler teater lagi di SMA ini. Aku sedih. Rupanya tak ada penerusnya. Duh. Padahal dulu Teater Papat selalu marajai teater di seluruh SMA Jember. Selalu mewakili kota Jember bertanding di festival teater tingkat provinsi.

Ya, zaman berubah. Segalanya berubah. Tak ada yang abadi. Satu-satunya yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Ini kan dunia, bukan surga. Kita tak bisa selamanya mengharapkan sesuatu bakal terus sama sepanjang umur dunia.

Ah, andai aku tinggal di kota ini, akan kubangun lagi teater di SMA ini. Yah, namanya juga andai.

Dari kejauhan tampak Pak Tohar datang menghampiri. Beliau bergabung bersama kami.
“Dan,”
“Ya Pak?”
“Sampai berapa lama kamu di Jember?”
“Nggak lama sih, Pak. Saya masih akan terus ke timur. Tapi minggu-minggu ini masih di Jember. Kenapa, Pak?”
“Mau kamu memberikan pelatihan penulisan di sini? Harinya terserah kamu. Sepulang sekolah lebih baik.”
“Wah! Mau banget, Pak! Mau banget! Dengan senang hati!”
“Serius nih?”
“Lho, iya. Tentukan saja harinya. Besok atau lusa pun bisa.”
“Oke. Nanti kita umumkan siapa saja siswa yang mau ikut. Kamu bisa kasih semacam tips-tips penulisan lah. Bagaimana membiasakan diri untuk menulis, jenis-jenis tulisan, juga bagaimana caranya menembus media atau penerbit. Gimana?”
“Oke banget, Pak Tohar… Dengan segala senang hati!” senyumku girang.
Bu Musiati menggoyang-goyang bahuku sembari tersenyum. “Dan… Dan…”
Aku hanya nyengir.

Setelah membagikan beberapa buku karanganku sekadar buah tangan pada mereka, aku berpamitan pada guru-guru. Lusa aku berjanji akan kembali lagi untuk memberikan pelatihan penulisan pada adik-adik SMA. Aku senang bukan kepalang. Bisa memberikan sesuatu pada SMA-ku ini. Walau itu mungkin hanya secuil.

Guru-guru mengantarkanku sampai ke gerbang. Aku menyeberang jalan. Menuju halte bis di depan sekolah. Wih, halte ini! Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dulu aku kerap juga pulang naik bis. Terutama kalau mesti menemani seorang gadis.

“Bawa pulang motorku ya, Li.” ucapku pada Ali waktu itu.
“Lho, kamu?”
Aku mengedipkan mata.
“Pasti perempuan! Dasar!”
“Hahahaha!” aku tertawa ngakak berlari sembari melemparkan kunci dan STNK padanya.

Geli juga mengingat masa-masa SMA. Di halte aku jadi senyum-senyum sendiri mengenang masa yang telah lalu.

Dan, hup! Aku meloncat ke dalam bis kota. Mengenang sesuatu yang pernah kualami dulu. Ah, masa SMA. Aku bersenandung riang…

30 April 2009 | 18.57 wib

di halte itu kutunggu, senyum manismu kekasih
usai dentang bel sekolah, kita nikmati yang ada
seperti hari yang lain
kau senyum tersipu malu
ketika ku sapa engkau
genggamlah jari, genggamlah hati ini

(Iwan Fals, Buku Ini Aku Pinjam)

Kategori: The Waiting Is Almost Over

47 tanggapan so far ↓

  • uni mas melo // 30 April 2009 pada 20:32 | Balas

    cerita ini bagus sekali, goniel. superb!
    aku terharu membacanya.
    entah kenapa cerita soal guru (yang berdedikasi) selalu menyentuhku.
    dan tulisanmu ini mengangkatnya dengan baik sekali.
    semoga mereka sehat selalu.
    belum bisa komentar lebih banyak saat ini.
    masih menikmati kesan mendalam yang ditinggalkan.
    thanks for making my evening.

    ps. tulisan ini bisa juga diberi judul “motor ini aku pinjam,” goniel.

    Aih, Ci Goyul mudah terharu rupanya.
    Ini tulisan biasa aja, Goyul. Malah cenderung genit. Tapi paling tidak ditulis dengan jujur.
    Bukan begitu, Goyuuulll……

    • Ikkyu_san // 30 April 2009 pada 21:40 | Balas

      Bukan uni…
      Bukan “Motor ini aku pinjam”
      tapi “Motor ini aku pinjamkan, supaya kubisa naik bus!”
      hehehe

      Gadis komuter bus itu mempunyai “Mata Indah Bola Pingpong” kah?

      EM

      Kayaknya mata indah bola salju. Hihihi.

  • prameswari // 30 April 2009 pada 22:03 | Balas

    Kepala sekolahnya….kepala sekolahnya…..
    si ibu itukah? Bu Sus?

    Cieee… Yang pernah naksir anaknya. Uhuy! ;)

  • prameswari // 30 April 2009 pada 22:12 | Balas

    Mas Niel,
    Mas mengingatkan ade dengan kota kecil Jember yang amat manis buat dikenang….
    semuanya menyenangkan.
    Sebagai kota kecil, Jember punya semuanya dengan ukuran yang tak terlalu lengkap dibandingkan kota besar, namun mudah didapat. Kita seringkali membahasnya.
    Seperti juga yang mas Niel ceritakan, Ade punya langganan toko sepatu di dekat Pasar Tanjung dan toko buku di jalan raya Sultan Agung yang selalu ingat kala kita kembali lagi kesana…
    Ah Jember dan Lagu mas itu bikin ade pengen kembali kesana…

    Buku ini aku pinjam ? jadi inget yang pinjam buku Ade di depan garasi rumah. ….hihihi

    Aih… yang asli orang Jember. Nggak bakal lupa sama kota kelahiran dunk… Jadi lain kali kalo ditanya orang mana, jangan jawab orang Surabaya ya. Sudah tau kan sekarang apa jawabannya? Ya, Jember! Hihihi.

    • Catra // 1 Mei 2009 pada 16:39 | Balas

      Jember, hmmm jadi pengen ke sana nih. Menjelajah pulau Jawa kayak mas Goniel

      Woooiii… Kok ikut-ikut manggil Goniel?

  • agoyyoga // 1 Mei 2009 pada 01:25 | Balas

    Salut Dan, kamu masih mengingat guru-gurumu.

    *Kalo bicara soal Jember, belum lengkap kalau belum menyebut suwar-suwir, tape, Madura, tempat wisata yang di PTP itu namanya apa ya? Rembangan? cmiiw… Pasir Putih, eh yang ini agak keluar kota Jember, ke arah Situbondo ya? Penjual ketan malam-malam di dekat pasar Johar–cmiiw lagi, dan buatku ada gang kecil yang selalu kuingat, jalan Kartini gang 3*

    Tak ada yang kulupa soal mereka, Yug. Semua terpatri.
    Tapenya memang nggak nahan.
    Tempat wisata PTP sepertinya bukan Rembangan. Duh, lupa.
    Gang kecil? Gang kelinci ya? :p

    • prameswari // 1 Mei 2009 pada 05:12 | Balas

      Pasir Putih ada 2 Yog, ada yang di Situbondo, ada juga yang ada di dalam Watu Ulo ambulu.Semuanya cantik-cantik.
      Cie……. ada memori juga niy si Yoga ama Jember….

      Omong2 Yog, kamu kan juga pasti inget guru SDmu toh Yog…
      la wong serumah…… hehehe
      *Inget cerita mbak Icha kalo kamu selalu juara kelas* Cieee

      • agoyyoga // 1 Mei 2009 pada 06:13 | Balas

        Nggak Nung, nggak serumah, aku sendirian. ;)

        Yang diceritain Icha itu bukan guru SD. Juara kelas Nung? Hehehe jadi malu disebut-sebut di sini, OOT tauu ;)
        Hem… iya ngaku, juara gaple di kelas hehehe…

  • prameswari // 1 Mei 2009 pada 05:07 | Balas

    Mau nostalgia gudeg Lumintu ah…
    Gudegnya enak, gudeg khas jember yang gak terlalu manis, sedikit pedes, gak terlalu kering, enak banget terutama buat sarapan, tapi mau maem butuh perjuangan dulu deh.
    Ibu yang jual judes banget deh, apalagi kalo lagi rame….judesnya kumat.
    Hihihi….

    Kalo yang beli laki-laki nggak judes dia…

  • prameswari // 1 Mei 2009 pada 05:17 | Balas

    eh belum ngasiy salam. Pagiiiii mas Niell.

    Malam, Nungkinung.

  • Chandra // 1 Mei 2009 pada 06:03 | Balas

    Si Dan itu besar apanya sih Mas, ampe pada terheran-heran… :p

    —————-

    Masa SMA ya, kata orang masa yg paling indah, kalo buatku sih biasa-biasa aja soalnya aku dulu terlalu lugu, udah gitu ceking dan hitam…duh…

    —————-

    Kalo aku balik Bandung, aku dikasih buku juga ngga? kikikikik.. *ngarep*

    Besar pasak daripada tiang, Chand.

    aku dulu terlalu lugu, udah gitu ceking dan hitam…
    Lho? Emang sekarang nggak gitu? Hihihi.

    Kamu nggak usah balik-balik ke Bandung lagiiiiii……
    Udah, beranak pinak di Sydney ajah! :p

    • marsh // 1 Mei 2009 pada 19:32 | Balas

      si dan itu gede apanya?
      ah, masak musti aku yang ngasih tau, chand?
      si dan itu gedeeee… BO’ONGNYAAAA…!!!
      huahahahaaa…
      *ditabokin*

      hai, goniel! sehat?

      KETEPOOOKKKHHH!!!
      Lho, suara apa itu?
      Oh, si Goyul lagi bertengkar sama pengendara motor yang motong jalannya. Hihi.

      “Ngeri kali Kakak itu marahnya…” sungut si pengendara motor gemetar.

  • Jamal eL Ahdi // 1 Mei 2009 pada 08:07 | Balas

    Biarlah semua membahas guru,biarlah semua membahas motor atau membahas buku,padahal ga ada cerita buku kecuali buku untuk kenang2an xixixixi.
    aku mau berbicara soal matematika ( Makin Tekun Makin Mematikan) hehehe. jangan sampai salah hitung honor ya mas kan ga mau itung2an (kalau honor mah kurang 1000 juga ditagih kakakakaka), gitu caranya yah biar ga maju ? besok ikutan triknya si Dan ah, tapi minjemin apa yah ?

    Lho, itu bukan trik, Om. Kesepakatan itu sangat-sangat alami. Nggak ada perjanjiannya sama sekali. Baik lisan maupun tulisan. Mungkin sama-sama paham. Haha!

  • vizon // 1 Mei 2009 pada 08:09 | Balas

    aih… indah nian hubungan si Dan dengan guru2 itu…
    seandainya semua guru memberi kesan mendalam seperti ketiga guru si Dan itu, betapa indahnya dunia pendidikan kita…

    2 pelajaran yg kupetik dari hubungan Dan-Pak Robani:
    pertama, jadikanlah muridmu sahabat
    kedua, meskipun muridmu memberimu sesuatu, tetaplah menyuruhnya maju kedepan mengerjakan tugas… ;)

    Aih, memang sungguh indah, Da. Tapi rasanya ada banyak kok guru-guru yang bersikap bersahabat seperti itu.

    Jadikanlah murid sebagai sehabat? Okey…
    Tetaplah menyuruh maju ke depan kelas? Hahahaha…

  • Jamal eL Ahdi // 1 Mei 2009 pada 08:12 | Balas

    Soal Bioskop dan dvd jangan salah mas, bukan pemilik modal dan massa , itu persaingan sesama pemilik modal. kalau bukan pemilik modal pasti sudah digulung sama pol*s*. karena pol*s* bukan tidak tahu,tapi sok tidak tahu ( atau jangan2 juga dibagi dvd tiap nongol film baru yah ? heheheh)

    Oh, pol*s* sangat tau. Sangat-sangat tau dunk… ;)

  • Catra // 1 Mei 2009 pada 09:17 | Balas

    Duh masih ingat masa-masa sekolah itu yah mas… emang masa yang sulit dilupakan

    Cieee… Sebelah mananya nih yang sulit dilupakan, Cat?

  • Cak Ri // 1 Mei 2009 pada 10:23 | Balas

    seseorang yg tinggal di jember (teman lama) sudah ada yang menelponmu……..?

    untuk yg lainnya sementara ‘no comment’ dulu…..:-).
    to Prames…, apa kabar anaknya bu kepala sekolahnya si Dan itu ?

    Teman lama? Menelpon?
    Heh! Jangan sembarangan ngasih nomor telponku tanpa izin aku ya!

    • prameswari // 1 Mei 2009 pada 10:43 | Balas

      Hahaha….. anaknya bu Sus….
      yang dokter itu?
      Baik *pasang tampang serius* masiy jadi dokter…..hihihi
      *ngelirik mas Niel*

      Lha, kok ngelirik-lirik…

  • yessymuchtar // 1 Mei 2009 pada 10:31 | Balas

    Gue setuju sama Uni Dan…cerita ini keren. Masa masa SMA memang selalu manis untuk dikenang. Ada kisah di panggil guru gara gara rok kependekan, ada kisah ketahuan guru BP gara gara mojok di kamar mandi. Ada kisah dipanggil guru PPKN gara gara pake tatto temporary di betis…hehe

    Komplit deh.

    Tapi satu yang gue gak pernah lupa. Bakso Tahu di kantin belakang sekolah…Damn! enak bangetttttt!!!

    Lo udah bawa gue kembali mengenang jaman sekolah dulu Dan. Thanks!

    Ada kisah dipanggil guru gara-gara rok kependekan?
    Kamu banget…

    Ada kisah ketahuan guru BP gara-gara mojok di kamar mandi?
    Sangat kamu…

    Ada kisah dipanggil guru PPKN gara-gara pake tatto temporary di betis?
    Betapa kamunya… Hihihi.

    Nah, soal bakso tahu di kantin belakang itu, si mangnya suka nanya-nanya aku mulu: Yessy mana ya? tanyanya memelas. Soalnya tagihannya numpuk, belum dibayar sejak SMA. Duh, bayangin!

    (eh, ngemeng-ngemeng, kamu jangan GR dulu, kamu SMA atau SMU? Jangan-jangan SMU. Hihihi)

    Thanx juga, Yess…

  • chie // 1 Mei 2009 pada 10:44 | Balas

    akhh…mas daN mengingatKAn aq paDa masa2 sMa dLu..
    *kangeN soLo…*

    ini reaL g mass???atw fiksi doanK??
    psTi reaL…;) *soK tww!!!!…*

    Lha, sudah ditulis dalam bentuk teks begini ya fiksi, Chie… ;)

  • ekaria27 // 1 Mei 2009 pada 12:41 | Balas

    Menelusuri masa sekolah dulu memang memberi romansa tersendiri ya mas Dan ;)
    Btw aku juga mau dibagi2in buku mas Dan bukan sekedar tapi buah tangan yang pasti kubaca ! :) ngarep mode ON hehehehe

    Aih romansaaa…
    Kamu mau buku, Ka? Wah, emang mau jadi guru? Syaratnya mesti jadi guru dulu, Ka… Hihihi.

  • p u a k // 1 Mei 2009 pada 14:04 | Balas

    Aku suka kalimat ini, Jah,.. eh, Nad!

    Kita tak bisa selamanya mengharapkan sesuatu bakal terus sama sepanjang umur dunia

    Nggak ada yang abadi di dunia ini, jadi jangan mengikatkan diri.
    *sok bijak* ( :mrgreen: )

    Lha, yang gajah itu situuuuuuuuu………
    Nad? Hehehe. Suka dengernya!

  • suryaden // 1 Mei 2009 pada 15:01 | Balas

    gak meriah jauh-jauh sampe ke jember cuman ketemu ali dan guru-guru SMA, mungkin setelah “buku ini aku pinjam”, semoga si Dan mencari, mencari, mencari… dan ketemu sehingga ceritanya seperti “ngunduh wohing pakerti”… jiahaha….

    Lho, kan namanya napak tilas… Dadi sing tilas-tilas kuwi yo digoleki, Mas. Hihihi.

  • imoe // 1 Mei 2009 pada 15:48 | Balas

    Wahhh senangnya membuka memori lama….sekolah memang dunia yang tak pernah kita lupakan, begitu banyak kenangan yang sayang untuk di lupakan.

    Btw buku yang di pinjam udah dibalikin gak ya…..trus kok ngak sempat singgah ke WC sekolah siy…WC di sekolah kan paling banyak menjadi saksi bisu rahsia yang terpendam para siswanya hehehehe

    Trus yang di kejar di atas biskota, perempuannya siapa tuh ?

    Eit? WC sekolah? Saksi bisu? Weh-weh-weh. Aku malah baru ngeh yang kayak gituan. Soalnya dulu waktu sekolah nggak ada WC, melainkan kali. Jadi ya nggak kenal WC sekolah. Hihi.

    Perempuan? Perempuannya siapa ya…
    Perempuan jadi-jadian kali :p

  • Cak Ri // 1 Mei 2009 pada 16:38 | Balas

    Gak mampir ke bakso SD yg deket rumahku Dan ?…..or warung ring di daerah kampus ? atau sekalian ke bondowoso menuju kawah ijen, turunnya ambil arah banyuwangi lalu nyebrang ke Bali….

    Lha, kamu sudah nggak ada. Siapa yang bayar nanti…
    Warung pring? Haha. Menggelikan. Dulu udah keren banget untuk ukuran Jember :p

    Bondowoso, Kawah Ijen, Banyuwangi, terus ke Bali?
    Hus!! Kamu buka rute perjalanan si Dan ya? Ngaku!

  • grubik // 1 Mei 2009 pada 17:53 | Balas

    cerita yang panjang, hehe…

    Cerita yang panjang… ;)

  • AL // 1 Mei 2009 pada 18:01 | Balas

    Wah, ingat dulu pak guru english waktu SMA yang selalu menolongku dan seorang kawanku. Gara-garanya, kita satu band. Pak guru itu vokalisnya, huehehe… Saya pasti tidak akan pernah disuruh ke depan ngerjain soal pas pelajaran english. Kalau kawan saya, dia pasti lolos dari razia rambut gondrong.

    Iya, memang tidak ada tempat yang paling menyenangkan selain sekolahan. Saya aja balik lagi gak mau pergi dari sekolah.

    Hahaha. Pola serupa dalam bentuk yang berbeda. Boleh juga…
    Tapi balik laginya dalam posisi yang berbeda kan… ;)

    • radesya // 2 Mei 2009 pada 10:13 | Balas

      Wah, tante dulu anak band? Pegang apa tante?
      Pantes saja tante suka sama ruang kelas, kalau saja waktu bisa diputar, kuingin jadi SD lagi ah, jadi murid tante, bisa maen futsal bareng, bisa ngeband bareng, hihihi…

  • tanti // 1 Mei 2009 pada 19:37 | Balas

    Lah… mana sih bukunya yang dipinjam itu?
    buku apa?
    punya siapa?
    udah dikembaliin belum?

    *mencari-cari*

    buku ini aku pinjam
    kan kutulis sajak indah
    hanya untukmu seorang
    tentang mimpi-mimpi malam

  • joe // 1 Mei 2009 pada 19:50 | Balas

    jadi ingat ni, dengan masa-masa sma dulu …

    Aha! Ada yang tak bisa dilupakan barangkali? ;)

  • tanti // 1 Mei 2009 pada 19:51 | Balas

    Ah,
    ada muatan respek pada guru di sekolah disini !
    Beberapa orang guru mungkin memang spesial dan tak mudah dilupakan,
    tapi memang sudah sepatutnya kita mengingat guru-guru kita sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih, karena mereka tidak sekedar membagikan ilmu tapi juga membagikan kasih sayang dan perhatian, menjadi panutan dan teladan, hingga kita bisa jadi seperti sekarang ini.

    Kok jadi ingat lagu yang dulu sering muncul di TVRI :


    Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?
    Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu karena siapa?
    Kita jadi pintar dibimbing pak guru,
    kita jadi pandai dibimbing bu guru
    Guru bak pelita penerang dalam gulita,
    jasamu tiada tara
    ….

    *komen menyambut Hardiknas 2 Mei 2009 :D *

    terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru
    namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

    Oh-oh, lagu itu…

  • Muzda // 1 Mei 2009 pada 19:53 | Balas

    Bajakan yaa ..??
    Aargh, aku merasakan susahnya ngapdet film baru di kota kecil, uh uhu ..

    Hmm..

    Sejauh apa pun kita pergi ya Mas dan mendapat pencapaian yang tinggi, mereka masih di sana, mengajar …
    Dulu Pak Rabbani meminjam motor muridnya, sekarang ..?? Sudah punya kah dia Mas ..??
    Ah, Guru …

    Tapi bukan berarti membeli bajakan menjadi suatu pembenaran kan, Muz… Bukankah dalam suatu karya ada banyak hak. Hak cipta, hak royalti, dsb. Kita pasti sedih kalau karya kita dibajak dan orang malah membeli bajakannya. Kompleks memang.

    Ya, mereka masih di sana. Mengajar. Soal kondisi saja yang membedakan.

    Beliau sudah pakai vespa. Aih, vespa. Sekuter.

  • radesya // 1 Mei 2009 pada 23:11 | Balas

    Ya Ampuuuuunnn…
    Dan dah gedhe ya? Waduh! Segedhe apa ya? Perasaan nggak deh :D

    jadi kangen sama bapak-ibu guruku,aku yakin mereka juga kangen aku hiks..

    Mereka? Mana ada guru yang lupa sama anak badung! :p

  • radesya // 2 Mei 2009 pada 06:27 | Balas

    Pagi kakak…
    Ayo banguuuuunnnn……

    Ketidur lagi ya? :)

    ternyata kakak dulu juga bandel ya, kalau saja aku yang jadi gurunya, pasti aku suruh ngerjain soal matematika di depan kelas tiap hari, biar hafal rumus-rumusnya :D

    *siap-siap mo ikut pelatihan penulisan dari Dan*

    Hoaammhh… Siapa ini? Oh, Meong Kecil.
    Duh, lagi enak-enak tidur juga.

    Kalo Ra yang jadi gurunya, udah aku jewer. Haha!

  • racheedus // 2 Mei 2009 pada 12:47 | Balas

    Mas Dan, kapan-kapan mampir ke tempatku, memberi pelatihan penulisan di madrasah tempat istriku mengajar. Gimana, setuju nggak?

    Eh, ini nanya ke Mas Dan atau ke Mas DM nih, Mas? Kalo ke DM, wah, dengan segala senang hati, Mas… Honornya cukup secangkir kupi saja. Hehehe.

  • DV // 2 Mei 2009 pada 13:34 | Balas

    Hmmm “lama” nggak menyambangi blogmu ini :)
    Bukan berarti aku memang “selalu mbaca tapi lom sempat komen” tapi memang benar-benar kemarin nggak sempat mampir apalagi mbaca dan komen :)

    Tulisanmu sperti biasa menyentuh.
    Dari paragraf awal aku menunggu dengan berdegup-degup kencang dimana kamu akan mulai memperkenalkan “Sang Ade” pada forum pembaca tapi ternyata sampai akhir juga tak kau sebutkan sampai akhirnya si Ade yang memberi isyarat ternyata kalian bertransaksi buku di depan garasi tho huahuahua :)

    Transaksi buku? Transaksi narkoba kali… Aku kan dulu bandar. Iya, bandar beras! Haha.

  • marshmallow // 3 Mei 2009 pada 13:06 | Balas

    goniel, aku heran nih, kenapa si cici penjual kaset tak ikut berjualan CD dan DVD sekarang? atau beralih ke usaha lain yang lebih diminati produknya?
    apa tambah dengan arloji dan alat elektronik lain gitu.
    jual komputer juga bisa.
    buka warnet nggak papa juga.
    eh, jual bahan bangunan lebih bagus!
    atau usaha butik?
    bikin kafe aja deh kayaknya.
    atau jadi artis sinetron?

    trus aku ada ide nih. bagus banget: gimana kalau kamu pos tulisan baru?

    • vizon // 3 Mei 2009 pada 16:28 | Balas

      setujuuuuuuuuuuu banget dg usulan uni yg terakhir…
      ingat itu Dan… itu adalah perintah dari sri ratu… *dilempar uni pakai jarum suntik*

      • marshmallow // 3 Mei 2009 pada 19:33 | Balas

        itu memang aslinya perintah sri ratu kanjeng roro kidul, da vizon. saya hanya bertugas menyampaikan.

        *nggak ngelempar jarum suntik, takut meleset. pake tombak aja sekalian.*

        tulisan baruuuu…!!! *sambil ngamuk gak sabar, ngerusak-rusak PK, ngelempar-lempar kursi, bakar ban, orasi, cegat bus, nyuruh penumpang pada turun, mbentang spanduk, pokoknya anarkislah*

  • goenoeng // 3 Mei 2009 pada 22:44 | Balas

    ‘Bagaimana kabar pacar-pacar lama ya? Haha! Pasti sudah pada nikah semua.’
    tinggal mantan pacarnya yang belum nikah. :P

    ternyata, kita punya persoalan yang sama, Dab. pacar-pacar dan rambut gondrong… huehehehe…

  • anakilang // 4 Mei 2009 pada 13:01 | Balas

    Buku ini aq pinjam
    Kan qu tulis sajak indah
    hanya untuk mu seorang
    tentang mimpi-mimpi malam.

    Cuma ngelanjutin nyanyi aja. sambil mengingat-ingat masa sekolah…hehehehhe

  • edratna // 6 Mei 2009 pada 21:41 | Balas

    Masa SMA memang masa yang paling menyenangkan, banyak memori yang terpatri disana.
    Dan mungkin awal mengenal rasa sayang pada lawan jenis…
    Juga pertama kalinya boleh menonton film dengan teman seiring….

    Ternyata Dan sejak dulu suka gondrong ya…..???

  • EKA – guru KILLER ! « EKA’s little story // 20 Mei 2009 pada 12:47 | Balas

    [...] seorang sobat yang berjanji memberikan bukunya sebagai buah tangan, menepati janji setelah membaca postingan ini. [...]

  • EKA – guru KILLER ! » ceritaeka.com // 6 Oktober 2009 pada 16:38 | Balas

    [...] seorang sobat yang berjanji memberikan bukunya sebagai buah tangan, menepati janji setelah membaca postingan ini. [...]

Tinggalkan sebuah Komentar