Soliloquy

Seandainya Kartini Bukan Seorang Priayi

19 April 2009 · & Komentar

Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula (surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)

130 tahun sejak lahirnya Kartini, kini orang mahfum bahwa di setiap 21 April adalah Hari Kartini, perempuan Jepara itu. Diperingati tidak diperingati, mengerti tidak mengerti, lupa tidak lupa, 21 April dianggap sebagai hari seorang perempuan yang memiliki kontribusi besar bagi kaum perempuan. Kenapa?

Adalah betul Kartini membaca dan menulis dalam Belanda. Adalah betul Kartini ingin bersekolah lebih tinggi lagi dari yang pernah ia kecap, kalau perlu sampai ke negeri Belanda. Adalah betul bahwa Kartini cemburu dengan perempuan-perempuan Belanda yang memiliki otoritas dalam berpikir maupun berkehendak. Tetapi apakah hanya Kartini?

Apakah hanya Kartini, yang kebetulan seorang dari kalangan kelas bangsawan Jawa, yang justru dapat mengecap bangku sekolah, sehingga dapat baca tulis serta berkorespondensi dengan karib Belanda? Apakah betul kegelisahan dalam surat-suratnya merupakan kegelisahan rata-rata perempuan pribumi atau malah semata keinginannya untuk dapat bersekolah lebih tinggi lagi, serta mempunyai kemajuan dalam berpikir seperti perempuan Eropa?

Andai Kartini Bukan Anak Bupati
Kita memang tidak fair jika sekadar berandai-andai. Tapi seandainya saja Kartini bukan putri Raden Mas Sosroningrat yang Bupati Jepara itu, apakah ia bisa bersekolah ELS (Europese Lagere School), yang sampai usia 12 tahun mesti tinggal di rumah karena memasuki masa pingit?

Andai Kartini bukan putri bupati, apakah ia dapat berkorespondensi dengan Rosa Abendanon? Apakah Kartini akan membaca De Locomotief, surat kabar terbitan Semarang itu. Apakah ia akan menerima Leestrommel, paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan. Apakah ia akan mengirimkan tulisannya pada De Hollandsche Lelie, sebuah majalah wanita Belanda, dan dimuat pula.

Andai Kartini bukan putri bupati, apakah ia, yang sebelum berusia 20 tahun, bisa melahap Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli? Apakah Kartini akan mengunyah De Stille Kraacht karya Louis Coperus, juga karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek, serta sebuah roman anti-perang, Die Waffen Nieder, karya Berta Von Suttner.

Andai Kartini bukan putri bupati, apakah ia bakal dapat sokongan moril dari karib-karib Belandanya untuk melanjutkan sekolah ke negeri kincir angin? Yang pada akhirnya cukup di Betawi saja. Yang pada akhirnya pun mesti ia urungkan juga untuk, terpaksa, menikah saja.

Memang tak dapat dipungkiri, surat-surat korespondensi Kartini berupa pemikiran serta gugatannya atas lemahnya kedudukan sosial perempuan pribumi (Jawa) akibat kungkungan adat, tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Kalau Kartini bukan putri seorang bupati, apakah ia berani berkeinginan menjadi seperti kaum muda Eropa, seperti isi surat-suratnya yang berisi harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar pada Estelle Zeehandelaar, karibnya yang lain.

Andai Kartini Bukan Istri Bupati
Berangkat dari gugatan soal kedudukan seorang perempuan di depan mimbar pernikahan, pada akhirnya Kartini pun dinikahkan oleh ayahnya dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri, pada November 1903 (usia 24 tahun).

Siapa nyana, suami Kartini malah memahami keinginan Kartini dan ia diberi kebebasan serta dukungan untuk mendirikan sekolah wanita di kabupaten Rembang (di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten).

Terjadi perubahan pemikiran Kartini dalam memandang adat Jawa. Tampak ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan pribumi.

Beberapa hari setelah Kartini melahirkan anak tunggal, RM Soesalit, ia meninggal pada 17 September 1904, di usia 25 tahun.

Perebutan Pengaruh Kekuasaan
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon (saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda ) mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini pada para karibnya di Eropa. Diberi judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), diterbitkan pada 1911, dan dicetak sebanyak lima kali.

Diakui atau tidak, terbitnya surat-surat Kartini mencuri perhatian masyarakat Belanda. Pemikiran-pemikirannya mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi (Jawa).

Yang menarik, ada teori yang dapat disodorkan di sana: bahwa Abendanon yang berasal dari golongan ethiek Belanda, yang mengimpikan perubahan bagi kehidupan rakyat Hindia Belanda, ternyata menginginkan posisi Gubernur Jenderal. Ia disokong golongan ethiek, yang saat itu berseberangan dengan golongan militer yang “turun-temurun” selalu menguasai pemerintahan Hindia Belanda.

Ia mengangkat Kartini sebegitu mulia dan hebat sebagai perempuan pribumi (tanpa embel-embel putri bupati) dengan segala pemikiran serta cita-citanya yang dahsyat untuk ukuran saat itu. Dalam pada itu, pada 1912 di Semarang didirikan Yayasan Kartini oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh politik ethiek.

Sejak itu Yayasan Kartini banyak mendirikan sekolah-sekolah wanita (yang kemudian diberi nama Sekolah Kartini) di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya.

Di lain pihak, beberapa tahun kemudian pada saat suami Kartini, Raden Adipati Joyodiningrat, meninggal, Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg (menjabat 18 Desember 1909 s/d 21 Maret 1916), melayat ke Rembang.

Seorang Gubernur Jenderal dari kalangan militer, dengan tingkat kekuasaan tak terbatas di seluruh Hindia Belanda, mau melayat ke Jawa Tengah dalam rombongan besar pejabat pemerintahan untuk melayat seorang bupati! Hanya seorang bupati! Yang derajat tingkatannya jauh di bawah seorang Gubernur Jenderal. Jelas, pelayatan tersebut merupakan aksi politik untuk memadamkan ulusi golongan ethiek yang menginginkan Abendanon maju sebagai Gubernur Jenderal.

Suka tidak suka, pelayatan tersebut merupakan pelayatan politik, bahwa Idenburg yang militer memuliakan almarhum. Ia hendak memadamkan usaha golongan ethiek yang mengimpikan kekuasaan di Hindia Belanda. Pupuslah harapan golongan ethiek.

Akhirnya,
Andai Kartini bukan putri bupati, Andai Kartini bukan istri bupati, andai golongan ethiek tidak sedang “berebut” pengaruh dengan golongan militer, apakah pemikiran, kegelisahan, serta gugatan-gugatan Kartini lebih ditujukan pada nasib dirinya pribadi atau memang kondisi sosial perempuan pribumi sebangsanya?

Kartini dimuliakan dengan sederet pengakuan. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional serta menetapkan hari lahirnya untuk diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini.

Di Belanda ia dimuliakan sebagai pejuang emansipasi Hindia-Belanda sejak dulu hingga sekarang. Pemda Den Haag pada 2007 menyediakan Kartini-Trophy untuk perorangan/organisasi di Den Haag yang berjuang dalam bidang emansipasi a la Kartini.

Adakah Kartini mengimpikan itu semua?

Sementara sampai dengan saat ini, setiap tanggal 21 April, anak-anak sekolah di (seluruh) Indonesia dianjurkan mengenakan pakaian adat. Tak kurang di kantor-kantor maupun di wajah-wajah media massa.

130 tahun sejak lahirnya Kartini, dapatkah kita memetik esensinya? Adakah silogisme dari semua itu…

* * *

Kategori: Opini

25 tanggapan so far ↓

  • prameswari // 19 April 2009 pada 17:48 | Balas

    Sebenarnya esensi lahiriah untuk seorang Kartini akan terasa betul jika kita tak hanya membaca dan merayakan Hari Kartini secara konteks Hari besar saja….

    Mana bisa kita bandingkan dengan keadaan bagaimana jika Kartini tidak,….bagaimana jika Kartini tidak……
    mungkin ada Kartini-Kartini lainnya…. dengan jalan hidupnya sendiri tentunya

    Sari hidupnya yang kini jadi sejarah tersendiri bagi perempuan Indonesia tentulah sudah melalui proses yang panjang dan juga dengan berbagai pemikiran.
    Bahwa pengejawantahan dalam kehidupan kita sehari-hari tentang hak, kodrat, dan posisi perempuan itu mutlak tidak ditentukan oleh Kartini semata, itu juga suatu proses.
    Tapi sejarah tetap sejarah, dan patut dikenang

    Selamat Hari Kartini buat semua perempuan Indonesia dimanapun

    Tapi sejarah tidak juga bersifat statis. Ia bisa bergerak jika dapat ditemukan hipotesa-hipotesa baru. Adalah betul Kartini dengan segala gugatannya. Namun ada kondisi-kondisi di mana membuat perbedaan yang sangat signifikan antara andai beliau seorang priayi dibanding bukan seorang priayi.

  • Ikkyu_san // 19 April 2009 pada 18:38 | Balas

    Makanya aku berharap
    perempuan yang punya jabatan, punya uang dan punya kekuasaan
    untuk lebih memakainya untuk kegiatan masyarakat/sosial
    (juga untuk perkembangan kaumnya)
    bukan pribadi sendiri, atau keluarganya saja …..
    karena dengan jabatan, uang dan kekuasaan itu semua,
    dapat “membeli” masyarakat Indonesia…
    ayo dong… mana kartini modern Indonesia?

    Jepang tidak punya kartini,
    dan tidak ada wanita Jepang yang bisa disanding dengan Kartini.
    Paling-paling Tsuda Umeko yang mendirikan Tsuda Juku.
    Kesempatan perempuan Jepang ternyata jauuuh lebih kecil daripada
    perempuan Indonesia loh. Sampai saat ini.
    Come on perempuan Indonesia…

    EM

    karena dengan jabatan, uang dan kekuasaan itu semua,
    dapat “membeli” masyarakat Indonesia…

    Wih! Seru juga itu. Menarik itu.

    Kesempatan perempuan Jepang ternyata jauuuh lebih kecil daripada perempuan Indonesia loh. Sampai saat ini.

    Serius? Negara semaju Jepang?

    Come on perempuan Indonesia!
    Lha, pada nggak denger, Mbak. Keburu pergi.
    Pada kemana ya…

  • edratna // 19 April 2009 pada 22:53 | Balas

    Andai Kartini bukan anak bupati, sehingga tak bisa tulis menulis, mungkin tak pernah ada tulisan Kartini yang dibukukan.
    Justru itulah, apa yang kita kerjakan, kita lakukan, hendaknya juga dapat dituliskan, untuk bisa menggerakkan orang lain untuk berbuat kebaikan.

    Jika hanya bekerja keras, maka hanya orang sekitarnya yang mengenal dan mencontohnya. Bagi blogger, tulisan juga dapat menggerakkan orang lain, karena dengan tulisan itulah kita memberi arti bagi diri sendiri dan orang lain.

    Kaum perempuan sekarang sudah bisa berkiprah, sejajar dengan kaum pria, jika dulunya seorang Direktur Perempuan adalah tabu, sekarang banyak kaum perempuan yang tidak hanya mimpi menduduki jabatan itu. Juga banyak kaum perempuan yang bergerak di bidang pendidikan dan pelayanan publik. Namun masalahnya, semuanya belum merata, sehingga masih banyak kaum perempuan terpinggirkan, bahkan bisa ditipu bekerja di negara lain, yang akhirnya menjadi PSK.

    Tentunya kita semua, tak hanya kaum perempuan yang menyingsingkan lengan, untuk melakukan koreksi dan perbaikan, sehingga memperoleh kehidupan di masa depan yang lebih baik.

    (Wahh komenku panjang banget…ini bisa dianggap postingan di Satpam kampung Blagu, sesuai pesanan Imoe…)

    Nah, aku suka sekali komentar Ibu, terutama pada paragraf pertama dan kedua. Sangat-sangat bisa menggambarkan saripati dari tulisanku. Memang begitulah yang hendak kumaksud, Ibu.

    Namun jujur saja, aku belum bisa menemukan korelasi antara kemajuan yang telah dicapai perempuan Indonesia dalam segala bidang kehidupan dengan peran Kartini. Masih menyibak-nyibak debu sejarah.

  • Jamal eL Ahdi // 20 April 2009 pada 01:23 | Balas

    ya ya ya
    perlu menjadi pejabat publik atau keluarga pejabat publik untuk dikenal,dihargai dan dikenang.

    habis terang terbitlah gelap

    Aha, logika pemikiran lain ini… Hehe.

  • p u a k // 20 April 2009 pada 01:37 | Balas

    Beuh!.. Disentil lagi soal perempuan Indonesia.
    Sebagian kecil perempuan Indonesia sudah mampu membuktikan dirinya bisa memberikan sumbangsih untuk negaranya.
    Sisanya ini nih, pada kemana ya?..
    (eh, puak!.. mo kemana?) :mrgreen:

    Sisanya pada clubing dong ah…
    Gimana sih.

  • yessymuchtar // 20 April 2009 pada 02:32 | Balas

    Gue udah baca nih Dan…komennya entar entar aja ya?

    Mm..cuma..kalo boleh ngomong, somehow ada atau gak ada Kartini…kelak Perempuan tetep bisa sekolah, berkarier dan sukses di bidang apapun. Juga tetap bisa keren, cakep, sexy..kayak gue deh…

    *PLETAK!!!*

    AUWWW!!!

    Siapa yang lempar gue pake Boomerang!?

    *Nelpon Kartini, mengeluh:

    “Apa ada gugatan lain selain yang ada dalam surat Ibu?”
    “Kenapa memangnya?”
    “Ada yang salah ajar…”
    “Oh, itu mungkin ajaran Kartini-Kartini lain yang bukan aku.”
    “Oh…”

  • hmcahyo // 20 April 2009 pada 03:33 | Balas

    salam aja :D

    Wah, salam juga… :)

  • hatmiati // 20 April 2009 pada 04:10 | Balas

    sakit ya…semoga cepat sembuh…biar pengayam kata bisa kembali berkarya. amin.

    Begitulah, Bu Guru. Terima kasih ya…

  • vizon // 20 April 2009 pada 04:22 | Balas

    Seandainya Kartini bukan seorang Priyai, dia akan kawin dg orang yg menghargainya sebagai manusia, tanpa ada paksaan dari orangtuanya. dia akan memilih menjadi petani dan membesarkan anak2nya dg penuh kasih. Dia akan tanamkan kesamaan hak pada anak laki dan anak perempuannya. Sehingga, anak2nya akan tumbuh menjadi manusia bermartabat yg dapat menghargai perbedaan jenis kelamin, dan menjadi aktivis soal kesetaraan gender. Karena kesuksesan anak2nya, Kartini pun mendapat penghargaan sebagai Ibu yg sukses mendidik anak2nya…

    Woi… berandai2 melulu… bangun bung! :D

    Aha! Ini terdengar lebih alami. Kalau seseorang pada dasarnya jujur dan berani mengemukakan pendapatnya, beliau akan tetap lakukan itu. Priayi atau bukan priayi, terkenal atau tidak terkenal, Semua akan tetap beliau lakukan.

  • Ria // 20 April 2009 pada 08:10 | Balas

    Mas…dari atas tulisanmu seandainya Kartini BUKAN…tapi kenyatanyaan memang Kartini adala seorang perempuan priyayi yang di berikan kepercayaan untuk membimbing perempuan indonesia mas…karea dia di PILIH…

    Aku setuju dengan emansipasi Perempuan tetapi TIDAK setuju jika emansipasi ini dijadikan ajang pembuktian bahwa perempuan lebih kuat dari Lelaki…karena secara kondratnya perempuan itu adalah mitra, pendamping dan pelengkap hidup seorang Lelaki yang nantinya dijadikan pasangan olehnya, bukan malah terkesan ingin lebih didahulukan dari lelakinya, dituruti semua keinginannya dan di penuhi segala hal yang dia mau…*atau mungkin aku aja yang kolot ya* :D

    Ya Ri, pada kenyataannya Kartini adalah seorang priayi. Yang kubeberkan; seandainya beliau bukan. Apakah beliau akan tetap berseru-seru akan hal itu. Mungkin juga iya. Namun akankah tersohor dan diangkat gugatannya tersebut oleh pemerintah Belanda sehingga menjadi seterkenal itu…

    Aku setali tiga uang dengan pemikiranmu. Ada sebagian kaum feminis yang merasa bahwa emansipasi lebih pada perjuangan melawan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Adalah betul itu memang mesti dilawan, namun tidak berarti menjadi salah kaprah bahwa kesataran gender bermanifestasi pada pembuktian perempuan lebih kuat ketimbang lelaki. Bukan di situ perjuangan serta pembuktiannya kukira (ini yang bicara laki-laki lho ya).

  • Muzda // 20 April 2009 pada 18:08 | Balas

    Seandainya Kartini bukan seorang priayi ….
    Takkan ada Hari Kartini ..
    Yang ada hanya anak-anak Kartini,, yang seperti kata Uda Vizon, akan diajarkan kepada mereka emansipasi wanita, dan juga emansipasi bangsa :)

    Ah ya. Ini terdengar lebih jujur, Muzda. Bahwa Kartini akan tetap menggugat kondisi perempuan. Dan beliau akan tetap berseru-seru tentang emansipasi. Dikenal atau tidak dikenal ia.

  • racheedus // 20 April 2009 pada 23:32 | Balas

    Seandainya, Kartini bukan anak Bupati sehingga memperoleh pendidikan yang memadai untuk zamannya, mungkin ia tidak akan melontarkan gugatan-gugatan teologis yang begitu dahsyat. Ada pergulatan spritual yang begitu tajam yang melampaui pikiran wanita di zamannya. Tapi, toh, akhirnya, Kartini berdamai dengan gugatan-gugatan itu dan pulang kepada-Nya.

    Nah, ini dia sebagian dari jawaban jitu dari tulisanku. Thanx, Mas. Aku sama sekali tidak menafikan gugatan Kartini terhadap kondisi kaum perempuan saat itu. Itu nyata. Yang jadi soal adalah wajah pemerintah Belanda dalam “memperebutkan” Kartini.

  • radesya // 21 April 2009 pada 09:10 | Balas

    Seandainya kartini bukan putri bupati? Yang pasti tak akan ada buku Door Duisfernis Tot Licht.
    Bukankah banyak putri bupati yang lain di tanah jawa, tapi cuma Kartini yang berani memulai. Sebenarnya ini bukan apa dan siapa untuk digoreskan dalam sejarah jika dibandingkan dengan sederet pejuang perempuan di negri ini, tapi kartinilah yang mencetuskan perubahan besar bagi kaum perempuan..

    Ya Ra. Logikanya kan: kalau beliau bukan anak Bupati, mungkin tak bisa sekolah ELS. Kalau beliau tak bisa sekolah ELS, mungkita tak bisa menulis dan membaca dalam Belanda. Kalau beliau tak bisa menulis dan membaca Belanda, mungkin tak bisa bersurat dalam Belanda. Begitu seterunya. Bukankah begitu? Nah, jadi mengapa pemerintah Belanda mengangkat dia sebegitu bersemangat… Itu logika sederhana lho.

  • agoyyoga // 21 April 2009 pada 10:08 | Balas

    Hello Minke!

    I couldn’t BW and LMC (leave my comment) in blogosphere. Next time better. See you Daniel.

    Halo Minem. Kalem…
    See you, Minem!

  • mommyciku // 21 April 2009 pada 12:37 | Balas

    mengapa kartini? mengapa bukan cut nyak dien, dewi sartika atau cut meutia?

    Nah, itulah mengapa aku menulis seperti di atas, Kawan…

  • idur // 21 April 2009 pada 14:31 | Balas

    tanpa mengurangi rasa hormat terhadap ibu kartini. Aku justru merasa bahwa penetapan tanggal lahir Kartini sebagai hari emansipasi wanita sebagai salah satu bentuk dari manifesto politik etis belanda. Beliau begitu dekat dengan pejabat belanda. sedangkan Cut Nyak Dien, Cut Meutia .. jelas sekali mereka berperang dibarisan depan melawan belanda.

    Dewi Sartika (1884-1947) bahkan berbuat lebih banyak daripada Kartini,toh beliau hanya dijadikan ‘icon’ ibu saja. Alasan yang paling sering kita Jumpai, jika membandingkan keduanya adalah karena Dewi Sartika sangat jarang menulis, sedangkan Kartini sering (dalam bentuk Surat).

    Rohana Kudus (1884-1972), disebut sebut sebagai jurnalis wanita pertama di Indonesia, pasti jarang dari kita yang mengenal beliau, padahal tulisannya telah dimuat dibanyak surat kabar di Padang dan Medan, melebihi kartini yang hanya menulis surat.

    anyway, Selamat menjadi wanita yang Tangguh dan Terhormat buat seluruh Wanita Indonesia

    Aha! Aku suka komentar ini. Thanx. Inilah yang hendak kumaksud pada tulisanku di atas.

    Ini sama halnya dengan penetapan Budi Utomo sebagai hari kebangkitan nasional (pernah kutulis juga). Karena nyata-nyata yang boleh masuk menjadi anggota Budi Utomo adalah priayi Jawa. Sekali lagi: priayi Jawa. Yang bukan Jawa, jelas tidak boleh. Yang priayi tapi bukan Jawa, tidak boleh juga. Dan yang Jawa tapi bukan priayi, tetap tidak boleh.

    Lalu bahasa komunikasi di dalam BU adalah Bahasa Jawa. Lalu kalau pengertian organisasi modern adalah dilengkapinya perkumpulan tersebut dengan AD/ART, lha, AD/ART Budi Utomo dibuat dalam bahasa Belanda.

    Jadi di mana pengertian kebangsaannya…
    Di mana sifat nasionalismenya…

    Artinya, gerak para dokter Stovia itu secara kongkrit memang jelas. Tak dinafikan. Tapi bahwa penetapan hari kebangkitan nasional jatuh pada lahirnya BU, itu yang mesti didiskusikan lebih lanjut…

  • mas melo // 21 April 2009 pada 15:15 | Balas

    seandainya kartini bukan seorang priayi tapi rakyat biasa
    seandainya kartini bukan berkebaya tapi berbeskap
    seandainya kartini bukan bersanggul tapi memakai blangkon
    seandainya kartini tak berlipstik tapi berkumis
    pasti tidak dipanggil kartini, tapi kartono…

    Seandainya Hemma bukan rakyat biasa, tapi seorang priayi
    Seandainya Hemma berbeskap, bukan berkebaya
    Seandainya Hemma berblangkon, bukan bersanggul (emang punya rambut?)
    Seandainya Hemma berkumis, bukan berlipstik (emang bisa?)
    Pasti tidak dipanggil Hemma, melainkan Hommo…

    *kabur*

  • radesya // 21 April 2009 pada 15:36 | Balas

    @mas melo
    hihihi…
    Kak Hema lucu deh :D
    kalau Kartono (RMP Sosro Kartono) itu mah ayah Kartini ;)

    @kak Daniel
    owh iya, bukan kartini saja ya kak yang kirim surat ke Abendanon, ada Roekmini 29 surat, Kardinah 7 surat, Kartinah 3 surat, Soemantri 1 surat, Kartono 1 surat dan Djojo Adiningrat juga 1 surat.
    Kartini sendiri menulis 150 surat curahan hatinya.

    Kalau sekarang dah kebalik, bukan Habis gelap terbitlah terang tapi habis terang terbitlah gelap
    (listrik padam mulu) :D
    *bisik-bisik*

    Kak Hemma lucu? Wih, itu mah hobi dia, Ra.
    (hobi lho, bukan orangnya…)

    Iya. Dan tak hanya Kartini yang merasa kaum perempuan pada saat itu tampak terbelakang dalam konteks sosial masyarakat.

    Listrik padam mulu? BSD itu desa ya?
    Bumi Serpong Desa. Haha!

  • Chandra // 21 April 2009 pada 17:45 | Balas

    Mungkin ga ada Hari Kartini.

    Jadi hari apa dunk…

  • Sawali Tuhusetya // 22 April 2009 pada 00:08 | Balas

    ya, ya, ya, kebenaran sejarah ttg kartini dan surat2 yang terkumpul dalam “habis gelap terbitlah terang” memang sempat menimbulkan kontroversi. apakah memang benar abendanon mengungkapkan hal yang sesungguhnya? apalagi dia agaknya juga tak lepas dari pamrih2 politik. meski demikian, harus jujur diakui, mas dan, sosok kartini telah menjadi sumber inspirasi bagi kaumnya dalam memperjuangkan hak2nya tanpa harus mengerti benar bagaimana kiprah perjuangan kartini yang konon tak mau disapa dengan gelar aristokrat “raden ajeng” itu.

    Betul, Pak Sawali. Banyak hipotesa yang bisa disodorkan mengenai Kartini. Dan untuk mendiskusikan hal tersebut tetap tak ada habis-habisnya. Meski tetap menarik, karena dari sana kita pun belajar berdialektika. Tidak menerima begitu saja sesuatu yang disodorkan kepada kita, sejauh ada argumen.

    Kartini toh tak pernah tahu bahwa surat-suratnya dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan menjadi buku. Kartini tak pernah tahu bahwa tulisan-tulisannya menginspirasi banyak orang dan membangkitkan kaum wanita (saat itu!). Ia tak pernah tahu.

    Bukankah yang lebih penting adalah esensinya. Bukankah yang penting adalah sekarang dan nanti? Mau ada 1000 Kartini yang pernah hidup di Indonesia, kalau angkatan muda tetap korup, ya selamanya korup. Ha, bukankah begitu, Tuan? Maka Panggil Aku Kartini Saja ;)

  • Zulmasri // 22 April 2009 pada 02:41 | Balas

    andai kartini istri saya….

    Mas, judul buku versi Indonesia dari kumpulan karya Kartini apa memang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ mas? Setahu saya judulnya bukan itu.

    Uda Zul, setahuku Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) adalah judul buku yang diterbitkan oleh Abendanon di Belanda pada 1911, berisi surat-surat Kartini kepada kerabatnya.

    Armijn Pane sendiri mencoba menterjemahkan Door Duisternis tot Licht dalam format yang berbeda, dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1922 menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

    Begitu pun Sulastin Sutrisno pun menterjemahkan Door Duisternis tot Licht dalam bentuk versi lengkap dan terbit pada 1979 oleh Penerbit Djambatan dengan judul Surat-Surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya.

    Nah, mengenai kumpulan karya Kartini, aku malah belum lagi tahu, Da Zul. Sudikah memberi tahu…

    Dan andai Kartini istri Uda, yang jelas Uda nikah dengan orang Jawa. Itu satu. Yang kedua, aku nggak yakin kalau Uda adalah seorang Bupati (Bupati mana? Bupati Pariaman? Hehe).

    Karena jangan lupa, Kartini anak Bupati. Minimal beliau pasti dijodohkan dengan anak pejabat pemerintahan atau calon suaminya mesti keturunan priayi. Mutlak itu. Dan yang lebih yakin lagi nih, Da, kalau Kartini itu istri Uda: tidak bakal ada emansipasi wanita di Indonesia. Hahahaha! Peace, Da. Becanda. :p

  • Maghleb // 23 April 2009 pada 10:23 | Balas

    waaa,,menarik sekali..

    sedari dulu saya jg suka menggugat (hari) kartini yg perayaannya hanya berupa pawai pakaian daerah dan menyanyi lagu kesohornya itu..

    memang terlalu politis berbagai alasan dari penerbitan bukunya hingga penetapan hari lahirnya sebagai hari besar ( RAK sejajar dgn Yesus dan Muhammad :lol: )

    well,,yg jelas paham egaliterian perempuan saat ini sungguh sudah tidak pada tempatnya..saya sendiri yg perempuan jg gk terlalu berbangga hati dengannya..

    dgn tameng melanjutkan perjuangan RAK,para aktivis perempuan terus meningkatkan eskalasi tnp pernah sadar bahwa usaha mereka di back up terus utk kepentingan liberalis dan kapitalis..tau sndr klo perempuan makin bebas..produk2 khusus perempuan pasti makin laku,,bhkn yg harganya gk masuk diakal..hehe..itu pikiran konyol aku sii..

    aku tidak ingin menegasikan usaha RAK (itupun kalau memang surat2 dan eksistensi beliau adalah hal yg Nyata),krn buatku wacana (sprti yg dilakukan beliau) adalah tindakan selemah-lemahnya iman..

    hehe…

    hidup perempuan kuat Indonesia dimanapun anda berada…yg ttp memperjuangkan haknya tanpa menanggalkan kewajibannya meski tanggal lahirnya tidak dijadikan hari besar :)

  • ekaria27 // 23 April 2009 pada 18:03 | Balas

    Dalem mas, andai lebih banyak wanita dengan segala keberuntungannya mampu memaksimalkan potensinya… akan tercipta kehidupan yang lebih baik..

  • The Bitch // 11 Mei 2009 pada 17:05 | Balas

    Hail Anais Nin dan Fay Weldon!

  • andreas // 16 Mei 2009 pada 23:55 | Balas

    Sisi Lain Kartini : Pelopor Kebangkitan Nasional

    Sejarawan George Mc Turnan Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution Indonesia, mengatakan bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia melainkan Kartini. Sementara itu Profesor Ahmad M. Suryanegara, dalam buku Menemukan Sejarah, menuturkan Kartini tidak hanya berjuang untuk perempuan, tapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Asvi Warman Adam menyimpulkan pula Kartini tidak hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga pelopor kebangkitan nasional.

    Selengkapnya
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/kartini-pelopor-kebangkitan-nasional.html

Tinggalkan sebuah Komentar