Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula (surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)
130 tahun sejak lahirnya Kartini, kini orang mahfum bahwa di setiap 21 April adalah Hari Kartini, perempuan Jepara itu. Diperingati tidak diperingati, mengerti tidak mengerti, lupa tidak lupa, 21 April dianggap sebagai hari seorang perempuan yang memiliki kontribusi besar bagi kaum perempuan. Kenapa?
Adalah betul Kartini membaca dan menulis dalam Belanda. Adalah betul Kartini ingin bersekolah lebih tinggi lagi dari yang pernah ia kecap, kalau perlu sampai ke negeri Belanda. Adalah betul bahwa Kartini cemburu dengan perempuan-perempuan Belanda yang memiliki otoritas dalam berpikir maupun berkehendak. Tetapi apakah hanya Kartini?
Apakah hanya Kartini, yang kebetulan seorang dari kalangan kelas bangsawan Jawa, yang justru dapat mengecap bangku sekolah, sehingga dapat baca tulis serta berkorespondensi dengan karib Belanda? Apakah betul kegelisahan dalam surat-suratnya merupakan kegelisahan rata-rata perempuan pribumi atau malah semata keinginannya untuk dapat bersekolah lebih tinggi lagi, serta mempunyai kemajuan dalam berpikir seperti perempuan Eropa?
Andai Kartini Bukan Anak Bupati
Kita memang tidak fair jika sekadar berandai-andai. Tapi seandainya saja Kartini bukan putri Raden Mas Sosroningrat yang Bupati Jepara itu, apakah ia bisa bersekolah ELS (Europese Lagere School), yang sampai usia 12 tahun mesti tinggal di rumah karena memasuki masa pingit?
Andai Kartini bukan putri bupati, apakah ia dapat berkorespondensi dengan Rosa Abendanon? Apakah Kartini akan membaca De Locomotief, surat kabar terbitan Semarang itu. Apakah ia akan menerima Leestrommel, paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan. Apakah ia akan mengirimkan tulisannya pada De Hollandsche Lelie, sebuah majalah wanita Belanda, dan dimuat pula.
Andai Kartini bukan putri bupati, apakah ia, yang sebelum berusia 20 tahun, bisa melahap Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli? Apakah Kartini akan mengunyah De Stille Kraacht karya Louis Coperus, juga karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek, serta sebuah roman anti-perang, Die Waffen Nieder, karya Berta Von Suttner.
Andai Kartini bukan putri bupati, apakah ia bakal dapat sokongan moril dari karib-karib Belandanya untuk melanjutkan sekolah ke negeri kincir angin? Yang pada akhirnya cukup di Betawi saja. Yang pada akhirnya pun mesti ia urungkan juga untuk, terpaksa, menikah saja.
Memang tak dapat dipungkiri, surat-surat korespondensi Kartini berupa pemikiran serta gugatannya atas lemahnya kedudukan sosial perempuan pribumi (Jawa) akibat kungkungan adat, tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Kalau Kartini bukan putri seorang bupati, apakah ia berani berkeinginan menjadi seperti kaum muda Eropa, seperti isi surat-suratnya yang berisi harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar pada Estelle Zeehandelaar, karibnya yang lain.
Andai Kartini Bukan Istri Bupati
Berangkat dari gugatan soal kedudukan seorang perempuan di depan mimbar pernikahan, pada akhirnya Kartini pun dinikahkan oleh ayahnya dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri, pada November 1903 (usia 24 tahun).
Siapa nyana, suami Kartini malah memahami keinginan Kartini dan ia diberi kebebasan serta dukungan untuk mendirikan sekolah wanita di kabupaten Rembang (di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten).
Terjadi perubahan pemikiran Kartini dalam memandang adat Jawa. Tampak ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan pribumi.
Beberapa hari setelah Kartini melahirkan anak tunggal, RM Soesalit, ia meninggal pada 17 September 1904, di usia 25 tahun.
Perebutan Pengaruh Kekuasaan
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon (saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda ) mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini pada para karibnya di Eropa. Diberi judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), diterbitkan pada 1911, dan dicetak sebanyak lima kali.
Diakui atau tidak, terbitnya surat-surat Kartini mencuri perhatian masyarakat Belanda. Pemikiran-pemikirannya mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi (Jawa).
Yang menarik, ada teori yang dapat disodorkan di sana: bahwa Abendanon yang berasal dari golongan ethiek Belanda, yang mengimpikan perubahan bagi kehidupan rakyat Hindia Belanda, ternyata menginginkan posisi Gubernur Jenderal. Ia disokong golongan ethiek, yang saat itu berseberangan dengan golongan militer yang “turun-temurun” selalu menguasai pemerintahan Hindia Belanda.
Ia mengangkat Kartini sebegitu mulia dan hebat sebagai perempuan pribumi (tanpa embel-embel putri bupati) dengan segala pemikiran serta cita-citanya yang dahsyat untuk ukuran saat itu. Dalam pada itu, pada 1912 di Semarang didirikan Yayasan Kartini oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh politik ethiek.
Sejak itu Yayasan Kartini banyak mendirikan sekolah-sekolah wanita (yang kemudian diberi nama Sekolah Kartini) di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya.
Di lain pihak, beberapa tahun kemudian pada saat suami Kartini, Raden Adipati Joyodiningrat, meninggal, Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg (menjabat 18 Desember 1909 s/d 21 Maret 1916), melayat ke Rembang.
Seorang Gubernur Jenderal dari kalangan militer, dengan tingkat kekuasaan tak terbatas di seluruh Hindia Belanda, mau melayat ke Jawa Tengah dalam rombongan besar pejabat pemerintahan untuk melayat seorang bupati! Hanya seorang bupati! Yang derajat tingkatannya jauh di bawah seorang Gubernur Jenderal. Jelas, pelayatan tersebut merupakan aksi politik untuk memadamkan ulusi golongan ethiek yang menginginkan Abendanon maju sebagai Gubernur Jenderal.
Suka tidak suka, pelayatan tersebut merupakan pelayatan politik, bahwa Idenburg yang militer memuliakan almarhum. Ia hendak memadamkan usaha golongan ethiek yang mengimpikan kekuasaan di Hindia Belanda. Pupuslah harapan golongan ethiek.
Akhirnya,
Andai Kartini bukan putri bupati, Andai Kartini bukan istri bupati, andai golongan ethiek tidak sedang “berebut” pengaruh dengan golongan militer, apakah pemikiran, kegelisahan, serta gugatan-gugatan Kartini lebih ditujukan pada nasib dirinya pribadi atau memang kondisi sosial perempuan pribumi sebangsanya?
Kartini dimuliakan dengan sederet pengakuan. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional serta menetapkan hari lahirnya untuk diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini.
Di Belanda ia dimuliakan sebagai pejuang emansipasi Hindia-Belanda sejak dulu hingga sekarang. Pemda Den Haag pada 2007 menyediakan Kartini-Trophy untuk perorangan/organisasi di Den Haag yang berjuang dalam bidang emansipasi a la Kartini.
Adakah Kartini mengimpikan itu semua?
Sementara sampai dengan saat ini, setiap tanggal 21 April, anak-anak sekolah di (seluruh) Indonesia dianjurkan mengenakan pakaian adat. Tak kurang di kantor-kantor maupun di wajah-wajah media massa.
130 tahun sejak lahirnya Kartini, dapatkah kita memetik esensinya? Adakah silogisme dari semua itu…
* * *


25 tanggapan so far ↓
prameswari // 19 April 2009 pada 17:48 |
Sebenarnya esensi lahiriah untuk seorang Kartini akan terasa betul jika kita tak hanya membaca dan merayakan Hari Kartini secara konteks Hari besar saja….
Mana bisa kita bandingkan dengan keadaan bagaimana jika Kartini tidak,….bagaimana jika Kartini tidak……
mungkin ada Kartini-Kartini lainnya…. dengan jalan hidupnya sendiri tentunya
Sari hidupnya yang kini jadi sejarah tersendiri bagi perempuan Indonesia tentulah sudah melalui proses yang panjang dan juga dengan berbagai pemikiran.
Bahwa pengejawantahan dalam kehidupan kita sehari-hari tentang hak, kodrat, dan posisi perempuan itu mutlak tidak ditentukan oleh Kartini semata, itu juga suatu proses.
Tapi sejarah tetap sejarah, dan patut dikenang
Selamat Hari Kartini buat semua perempuan Indonesia dimanapun
Ikkyu_san // 19 April 2009 pada 18:38 |
Makanya aku berharap
perempuan yang punya jabatan, punya uang dan punya kekuasaan
untuk lebih memakainya untuk kegiatan masyarakat/sosial
(juga untuk perkembangan kaumnya)
bukan pribadi sendiri, atau keluarganya saja …..
karena dengan jabatan, uang dan kekuasaan itu semua,
dapat “membeli” masyarakat Indonesia…
ayo dong… mana kartini modern Indonesia?
Jepang tidak punya kartini,
dan tidak ada wanita Jepang yang bisa disanding dengan Kartini.
Paling-paling Tsuda Umeko yang mendirikan Tsuda Juku.
Kesempatan perempuan Jepang ternyata jauuuh lebih kecil daripada
perempuan Indonesia loh. Sampai saat ini.
Come on perempuan Indonesia…
EM
edratna // 19 April 2009 pada 22:53 |
Andai Kartini bukan anak bupati, sehingga tak bisa tulis menulis, mungkin tak pernah ada tulisan Kartini yang dibukukan.
Justru itulah, apa yang kita kerjakan, kita lakukan, hendaknya juga dapat dituliskan, untuk bisa menggerakkan orang lain untuk berbuat kebaikan.
Jika hanya bekerja keras, maka hanya orang sekitarnya yang mengenal dan mencontohnya. Bagi blogger, tulisan juga dapat menggerakkan orang lain, karena dengan tulisan itulah kita memberi arti bagi diri sendiri dan orang lain.
Kaum perempuan sekarang sudah bisa berkiprah, sejajar dengan kaum pria, jika dulunya seorang Direktur Perempuan adalah tabu, sekarang banyak kaum perempuan yang tidak hanya mimpi menduduki jabatan itu. Juga banyak kaum perempuan yang bergerak di bidang pendidikan dan pelayanan publik. Namun masalahnya, semuanya belum merata, sehingga masih banyak kaum perempuan terpinggirkan, bahkan bisa ditipu bekerja di negara lain, yang akhirnya menjadi PSK.
Tentunya kita semua, tak hanya kaum perempuan yang menyingsingkan lengan, untuk melakukan koreksi dan perbaikan, sehingga memperoleh kehidupan di masa depan yang lebih baik.
(Wahh komenku panjang banget…ini bisa dianggap postingan di Satpam kampung Blagu, sesuai pesanan Imoe…)
Jamal eL Ahdi // 20 April 2009 pada 01:23 |
ya ya ya
perlu menjadi pejabat publik atau keluarga pejabat publik untuk dikenal,dihargai dan dikenang.
habis terang terbitlah gelap
p u a k // 20 April 2009 pada 01:37 |
Beuh!.. Disentil lagi soal perempuan Indonesia.
Sebagian kecil perempuan Indonesia sudah mampu membuktikan dirinya bisa memberikan sumbangsih untuk negaranya.
Sisanya ini nih, pada kemana ya?..
(eh, puak!.. mo kemana?)
yessymuchtar // 20 April 2009 pada 02:32 |
Gue udah baca nih Dan…komennya entar entar aja ya?
Mm..cuma..kalo boleh ngomong, somehow ada atau gak ada Kartini…kelak Perempuan tetep bisa sekolah, berkarier dan sukses di bidang apapun. Juga tetap bisa keren, cakep, sexy..kayak gue deh…
*PLETAK!!!*
AUWWW!!!
Siapa yang lempar gue pake Boomerang!?
hmcahyo // 20 April 2009 pada 03:33 |
salam aja
hatmiati // 20 April 2009 pada 04:10 |
sakit ya…semoga cepat sembuh…biar pengayam kata bisa kembali berkarya. amin.
vizon // 20 April 2009 pada 04:22 |
Seandainya Kartini bukan seorang Priyai, dia akan kawin dg orang yg menghargainya sebagai manusia, tanpa ada paksaan dari orangtuanya. dia akan memilih menjadi petani dan membesarkan anak2nya dg penuh kasih. Dia akan tanamkan kesamaan hak pada anak laki dan anak perempuannya. Sehingga, anak2nya akan tumbuh menjadi manusia bermartabat yg dapat menghargai perbedaan jenis kelamin, dan menjadi aktivis soal kesetaraan gender. Karena kesuksesan anak2nya, Kartini pun mendapat penghargaan sebagai Ibu yg sukses mendidik anak2nya…
Woi… berandai2 melulu… bangun bung!
Ria // 20 April 2009 pada 08:10 |
Mas…dari atas tulisanmu seandainya Kartini BUKAN…tapi kenyatanyaan memang Kartini adala seorang perempuan priyayi yang di berikan kepercayaan untuk membimbing perempuan indonesia mas…karea dia di PILIH…
Aku setuju dengan emansipasi Perempuan tetapi TIDAK setuju jika emansipasi ini dijadikan ajang pembuktian bahwa perempuan lebih kuat dari Lelaki…karena secara kondratnya perempuan itu adalah mitra, pendamping dan pelengkap hidup seorang Lelaki yang nantinya dijadikan pasangan olehnya, bukan malah terkesan ingin lebih didahulukan dari lelakinya, dituruti semua keinginannya dan di penuhi segala hal yang dia mau…*atau mungkin aku aja yang kolot ya*
Muzda // 20 April 2009 pada 18:08 |
Seandainya Kartini bukan seorang priayi ….
Takkan ada Hari Kartini ..
Yang ada hanya anak-anak Kartini,, yang seperti kata Uda Vizon, akan diajarkan kepada mereka emansipasi wanita, dan juga emansipasi bangsa
racheedus // 20 April 2009 pada 23:32 |
Seandainya, Kartini bukan anak Bupati sehingga memperoleh pendidikan yang memadai untuk zamannya, mungkin ia tidak akan melontarkan gugatan-gugatan teologis yang begitu dahsyat. Ada pergulatan spritual yang begitu tajam yang melampaui pikiran wanita di zamannya. Tapi, toh, akhirnya, Kartini berdamai dengan gugatan-gugatan itu dan pulang kepada-Nya.
radesya // 21 April 2009 pada 09:10 |
Seandainya kartini bukan putri bupati? Yang pasti tak akan ada buku Door Duisfernis Tot Licht.
Bukankah banyak putri bupati yang lain di tanah jawa, tapi cuma Kartini yang berani memulai. Sebenarnya ini bukan apa dan siapa untuk digoreskan dalam sejarah jika dibandingkan dengan sederet pejuang perempuan di negri ini, tapi kartinilah yang mencetuskan perubahan besar bagi kaum perempuan..
agoyyoga // 21 April 2009 pada 10:08 |
Hello Minke!
I couldn’t BW and LMC (leave my comment) in blogosphere. Next time better. See you Daniel.
mommyciku // 21 April 2009 pada 12:37 |
mengapa kartini? mengapa bukan cut nyak dien, dewi sartika atau cut meutia?
idur // 21 April 2009 pada 14:31 |
tanpa mengurangi rasa hormat terhadap ibu kartini. Aku justru merasa bahwa penetapan tanggal lahir Kartini sebagai hari emansipasi wanita sebagai salah satu bentuk dari manifesto politik etis belanda. Beliau begitu dekat dengan pejabat belanda. sedangkan Cut Nyak Dien, Cut Meutia .. jelas sekali mereka berperang dibarisan depan melawan belanda.
Dewi Sartika (1884-1947) bahkan berbuat lebih banyak daripada Kartini,toh beliau hanya dijadikan ‘icon’ ibu saja. Alasan yang paling sering kita Jumpai, jika membandingkan keduanya adalah karena Dewi Sartika sangat jarang menulis, sedangkan Kartini sering (dalam bentuk Surat).
Rohana Kudus (1884-1972), disebut sebut sebagai jurnalis wanita pertama di Indonesia, pasti jarang dari kita yang mengenal beliau, padahal tulisannya telah dimuat dibanyak surat kabar di Padang dan Medan, melebihi kartini yang hanya menulis surat.
anyway, Selamat menjadi wanita yang Tangguh dan Terhormat buat seluruh Wanita Indonesia
mas melo // 21 April 2009 pada 15:15 |
seandainya kartini bukan seorang priayi tapi rakyat biasa
seandainya kartini bukan berkebaya tapi berbeskap
seandainya kartini bukan bersanggul tapi memakai blangkon
seandainya kartini tak berlipstik tapi berkumis
pasti tidak dipanggil kartini, tapi kartono…
radesya // 21 April 2009 pada 15:36 |
@mas melo
hihihi…
Kak Hema lucu deh
kalau Kartono (RMP Sosro Kartono) itu mah ayah Kartini
@kak Daniel
owh iya, bukan kartini saja ya kak yang kirim surat ke Abendanon, ada Roekmini 29 surat, Kardinah 7 surat, Kartinah 3 surat, Soemantri 1 surat, Kartono 1 surat dan Djojo Adiningrat juga 1 surat.
Kartini sendiri menulis 150 surat curahan hatinya.
Kalau sekarang dah kebalik, bukan Habis gelap terbitlah terang tapi habis terang terbitlah gelap
(listrik padam mulu)
*bisik-bisik*
Chandra // 21 April 2009 pada 17:45 |
Mungkin ga ada Hari Kartini.
Sawali Tuhusetya // 22 April 2009 pada 00:08 |
ya, ya, ya, kebenaran sejarah ttg kartini dan surat2 yang terkumpul dalam “habis gelap terbitlah terang” memang sempat menimbulkan kontroversi. apakah memang benar abendanon mengungkapkan hal yang sesungguhnya? apalagi dia agaknya juga tak lepas dari pamrih2 politik. meski demikian, harus jujur diakui, mas dan, sosok kartini telah menjadi sumber inspirasi bagi kaumnya dalam memperjuangkan hak2nya tanpa harus mengerti benar bagaimana kiprah perjuangan kartini yang konon tak mau disapa dengan gelar aristokrat “raden ajeng” itu.
Zulmasri // 22 April 2009 pada 02:41 |
andai kartini istri saya….
Mas, judul buku versi Indonesia dari kumpulan karya Kartini apa memang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ mas? Setahu saya judulnya bukan itu.
Maghleb // 23 April 2009 pada 10:23 |
waaa,,menarik sekali..
sedari dulu saya jg suka menggugat (hari) kartini yg perayaannya hanya berupa pawai pakaian daerah dan menyanyi lagu kesohornya itu..
memang terlalu politis berbagai alasan dari penerbitan bukunya hingga penetapan hari lahirnya sebagai hari besar ( RAK sejajar dgn Yesus dan Muhammad
)
well,,yg jelas paham egaliterian perempuan saat ini sungguh sudah tidak pada tempatnya..saya sendiri yg perempuan jg gk terlalu berbangga hati dengannya..
dgn tameng melanjutkan perjuangan RAK,para aktivis perempuan terus meningkatkan eskalasi tnp pernah sadar bahwa usaha mereka di back up terus utk kepentingan liberalis dan kapitalis..tau sndr klo perempuan makin bebas..produk2 khusus perempuan pasti makin laku,,bhkn yg harganya gk masuk diakal..hehe..itu pikiran konyol aku sii..
aku tidak ingin menegasikan usaha RAK (itupun kalau memang surat2 dan eksistensi beliau adalah hal yg Nyata),krn buatku wacana (sprti yg dilakukan beliau) adalah tindakan selemah-lemahnya iman..
hehe…
hidup perempuan kuat Indonesia dimanapun anda berada…yg ttp memperjuangkan haknya tanpa menanggalkan kewajibannya meski tanggal lahirnya tidak dijadikan hari besar
ekaria27 // 23 April 2009 pada 18:03 |
Dalem mas, andai lebih banyak wanita dengan segala keberuntungannya mampu memaksimalkan potensinya… akan tercipta kehidupan yang lebih baik..
The Bitch // 11 Mei 2009 pada 17:05 |
Hail Anais Nin dan Fay Weldon!
andreas // 16 Mei 2009 pada 23:55 |
Sisi Lain Kartini : Pelopor Kebangkitan Nasional
Sejarawan George Mc Turnan Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution Indonesia, mengatakan bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia melainkan Kartini. Sementara itu Profesor Ahmad M. Suryanegara, dalam buku Menemukan Sejarah, menuturkan Kartini tidak hanya berjuang untuk perempuan, tapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Asvi Warman Adam menyimpulkan pula Kartini tidak hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga pelopor kebangkitan nasional.
Selengkapnya
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/kartini-pelopor-kebangkitan-nasional.html