Semoga kamu masih mengingatku. Seseorang yang tak mungkin begitu saja kau hapus dalam dokumentasi kehidupanmu. Kecuali kalau kau memang seperti dugaanku: bukan lagi manusia yang mengenal adab.
Namaku masih tetap sama, Mawar. Nama yang pernah begitu kau sanjung sedemikian rupa. Kau cintai aku hingga mabuk menjura. Hingga kau tempatkan aku di tempat yang paling kirana di hatimu. Semoga kau tak gemetar mendengar namaku.
Sengaja aku menulis surat ini, agar kau tahu, ada yang belum selesai di antara kita. Adalah sebuah kepantasan jika aku menuntutmu untuk dengan berani menyelesaikan apa yang telah terjadi di antara kita. Kau masih lagi pantas disebut lelaki kan?
Aku tak peduli seberapa panjang hubungan yang pernah terjalin di antara kita. Namun pada akhirnya (begitu berat aku mesti mengatakan ini), aku mesti jujur bahwa aku lebih peduli pada apa yang telah terjadi di antara kita.
Mungkin kau sudah tak mencintai aku lagi. Itu terserah! Tapi bersikaplah gentle dan jujur, sebelum kau betul-betul memutuskan menikah dengan perempuan itu. Karena itu semua adalah hakmu. Namun adalah hakku juga untuk meminta kejelasan tentang kita.
Sekali lagi aku sudah tak peduli dengan ribuan musim yang pernah kita lalui. Tapi bagaimana dengan pertanggung jawabanmu atas anak-anak yang tak pernah lahir dari rahimku? Setiap kali aku menggugurkan kandungan, setiap kali itu pula kau berjanji akan menikahiku. Empat kali, Nto! Empat kali aku menggugurkan kandungan! Tidakkah kau memikirkan itu?
Susah payah aku selalu membangun kembali kepercayaan kepadamu. Sementara kau pergi dan datang sekehendakmu. Aku yang menggugurkan kandungan, Nto! Nyawaku yang dipertaruhkan! Sementara kamu? Apa yang kau tangung, Nto? Tak ada! Tak ada bukan? Tapi aku perempuan!! Kenapa harus selalu perempuan yang mesti menanggung risiko?
Tahu kah kau betapa sakit yang mesti kulalui? Berapa usia anak-anak kita yang terpaksa kita gugurkan? Masih ingat kamu? Dua bulan! Tiga bulan! Enam bulan! Dan satu bulan! Hei, dan kau bebas berkeliaran seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Aku yang menanggung semua itu!!
Kini, setelah kau ambangkan hubungan kita, asyik menjalani hidup tanpa penah merasa berdosa, tiba-tiba kudengar kau hendak menikah. Menikah?! Menikah, Nto?! Menikah?! Bagaimana mungkin kau bisa menikahi perempuan lain? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan perempuan yang pernah menggugurkan anak-anakmu?
Kukatakan sekali lagi, aku sudah tak peduli dengan jutaan jam yang pernah kita lewati. Tapi sadar, Nto, dengan apa yang pernah terjadi. Kau belum menyelesaikannya! Bahkan, sekasar-kasarnya kau mengatakan bahwa kita mesti berpisah, putus, atau tak cocok lagi, pun tidak pernah meluncur dari mulutmu! Kenapa tiba-tiba kau bisa menikahi perempuan lain?
Ingat, Nto, aku menulis surat ini bukan dalam rangka mengemis untuk lantas kau nikahi. Tidak! Tidak, kukatakan! Aku hanya menuntut keberanianmu menyelesaikan soal yang belum selesai. Sesuatu yang menggantung. Kecuali kau memang seorang pengecut yang sedang bermanis-manis terhadap perempuan yang hendak kau nikahi itu.
Aku memang tak bersih. Tapi jangan lupa: kau lebih tak bersih lagi. Aku hanya tak sudi melihat kau sedang berpongah seolah-olah menjelma menjadi lelaki yang maha baik, maha manis, dan maha bersih dari dosa. Aku meminta penyelesaian!
Terserah kalau kau menyebut ini sebagai dendam. Tapi kamu memang sudah bersikap tidak fair. Kalau kau betul-betul lelaki, selesaikan! Tunjukkan dirimu yang sebenarnya. Toh kelakuanmu bukan rahasia lagi.
Aku tunggu! Aku tak akan tinggal diam begitu saja. Kecuali kau memang pengecut yang hina dina dan tak pantas disebut manusia berbudaya.
Seseorang yang pernah begitu kau sakiti,
-Mawar-
PS: hati-hati, aku bisa meminta sebelas orang mantan pacarmu yang pernah kau sakiti untuk bicara secara blak-blakan atas segala kelakuanmu. Selusin tahun bukanlah waktu yang panjang, Nto. Ingat itu!
* * *
Catatan:
Tulisan ini pertama kali di-posting di penganyamkata.wordpress.com pada 17 April 2009 pukul 04.04 wib, yang selama ini merupakan blog alternatifku. Karena blog utama, danielmahendra.com, sedang semaput sejak Rabu, 8 April 2009 sore, disebabkan perusahaan penyedia hosting tempat bernaungnya blog tersebut sama sekali tidak menginformasikan tanggal expired domain-nya (7 April 2009). Apa boleh buat, tulisan ini mesti diparkir di sini dulu sampai blog utama siuman.


35 tanggapan so far ↓
Zulmasri // 16 April 2009 pada 21:51 |
Kapan mas? Jangan lupa undangannya ya. Siapa tahu pestanya jadi pesta bloger juga. Pesta warga kampung blagu.
:$ mawar
adakah samudera hatimu
mengimpikan ombak dan tamparan angin?
edratna // 16 April 2009 pada 22:00 |
Akhh Mawar, salahmu sendiri, kenapa tak kau jaga kesucianmu, dan betapa mudahnya engkau menyerahkan dirimu padaku?
Tahukan engkau Mawar, bagi laki-laki pada akhirnya tetap akan memilih seorang ibu yang dianggap akan baik bagi anak-anaknya, ibu yang masih suci….
(masih perlukah syarat keperawanan saat ini? Jawabannya tetap perlu..hal yang perlu dimaafkan hanyalah kalau ada keterpaksaan, seperti diperkosa dll)
Ikkyu_san // 16 April 2009 pada 23:31 |
Cinta memang tidak memandang bulu.
Meskipun tahu dan sadar bahwa dia tak patut dicintai. Tetap!
Apa daya perempuan lebih memakai hatinya daripada otaknya.
(makanya ambil dong hati dan otak yang telah dititipkan pada ibu warung di kampung blagu! Pasang hati itu kembali ke pria yang telah menanamkan benih. Dan pasang otak kembali ke kepalamu wahai Mawar tak berduri, sehingga engkau tidak jatuh lagi yang ke lima kalinya)
EM
Chandra // 17 April 2009 pada 00:07 |
Ini masih ngomongin politik ya?
p u a k™ // 17 April 2009 pada 00:57 |
Kudengar kau sudah mati, Nto!
Semoga para perempuan yang tinggal denganmu di Neraka sana, masih menyediakan ranjangnya untukmu.
(halah!.. iki maksute opo tho?,.. ra dong!)
Jamal eL Ahdi // 17 April 2009 pada 01:16 |
@mawar :
Mawar ribuan musim yg kita jalani memang tak berarti apapun,4 calon bayi yg tak lahir darimu,2 janin dari melati,3 jabang bayi dari kenanga dan belasan orok yg mati semua adalah tumbal nafsu yg menguasai jiwa,jadi tidak perlu kau pertanyakan lagi. apalagi menuntut. jika kau ingin meminta,mintalah pada iblis dineraka,karena dia yg memabukkan kita saat dilanda asmara.
tahukah kamu bahwa itu tumbal untuk kambing etawa ??
by …nto gunung kelir .. lo piyo to iki hehehhehehe… ampun masss…….
Ria // 17 April 2009 pada 01:23 |
mawar…mawar…
tenang kamu masih berhak atas seseorang pria yang baik dan tidak seperti nto! dia itu bukan pria yang baik ketika bahkan menyuruhmu menggugurkan kandungan padahal itu adalah anaknya sendiri…
kalaupun dia nantinya menikah…mari kita datang ke pestanya tunjukkan bahwa kita masih punya hati seluas samudra untuk menampung semua kesalahan yang dia perbuat…sehingga dia akan malu sama diri sendiri…ah mawar…maaf kalau aku meminta kamu memaafkan bukan malah menghakimi karena maaf itu lebih baik dari pada dendam…dan 1000 x lebih baik dari pada menyimpan dendam
vizon // 17 April 2009 pada 01:25 |
Mengapa setiap kali aku membaca cerita seperti ini yg muncul adalah “kasihan”… aku kasihan dg mawar yg telah dg bodohnya mau diperbudak cinta… dikemanakan otaknya? menggugurkan kandungan itu bukankah sakit bukan kepalang? kok mau2nya mengulang kembali, bahkan sampai empat kali..? masya Allah!
yessymuchtar // 17 April 2009 pada 01:54 |
Komen asal:
Mawar..no telpon lo berapa…entar gue ajarin gimana caranya bisa gak hamil!
Lo bego banget siy..hari gini masih hamil…ya elah!!! *tephok jidat*
Komen serius:
Kenapa setiap kali ada permasalahan begini selalu perempuan yang disalahkan?
Perempuannya murah?
Perempuannya yang gak tau diri?
Perempuannya yang diperbudak cinta?
Again…kalo udah ngomongin cinta..apa ada orang yang bisa bersifat waras? setau gue..bahkan mata yang jelas bisa jadi buta kalo lagi kelepek kelepek sama cinta…iya..B-U-T-A…
Tapi sekali lagi…gue gak bisa ngomong siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut gue….SEX..dengan cinta atau tidak…adalah perbuatan dewasa yang menuntut tanggung jawab!
Entah itu gimana..apapun itu….tapi bentuknya tetap bertanggung jawab.
Gua gak mau munafik untuk menasihati orang..makanyaa..jangan ngesex dulu kalo belum nikah (walaupun itu tetap pilihan yang paling benar dan tidak ada yang bisa pungkiri itu)…bisa bisa gue di kasih kaca sama orang dan disuruh ngaca…*gue balikin kacanya, gak butuh*
Tapi tidak sesusah itu untuk melakukan hubungan ini ..what ever you call it…APA?..bercinta?, make love? …intinya having sex kan???
Be responsible!!!
Kata sebuah produk siy ya…
Safety can be Fun…Dari pada nahan nahan dan kebobolan???
All about the mind set, and it depends how you manage it.
yessymuchtar // 17 April 2009 pada 01:59 |
Lupa lagi….
Mawar…
Lo tuh gak usah minta pertanggung jawaban buat si siapa namany nto???
Tuh orang dari namanya aja udah gak banget!!!
Gimana dia mau bertanggung jawab kalo waktu nidurin lo aja dia gak mikir pake otak…dia mikirnya pake dengkul!
Terserah dia mau jadi maha apa..MAHA KARYA juga bodo amat!
Yang penting…gue kasih tau ya….lo tuh beruntung benerrr kali gak jadian sama tu orang…
TRUST ME..someone..somewhere…is out there for you…
@DM
APE????
goenoeng // 17 April 2009 pada 02:50 |
sebut saja Mawar (bukan nama sebenarnya).
betapa bodohnya Mawar, yang akan menjadi bukan nama sebenarnya bila di koran2 itu. kenapa dengan dalih cinta bisa membuang otaknya ? uhhuiii… makan tuh cinta !
Nto. sip ! lanjutkan perjuanganmu. cari lagi korban yang banyak. mumpung kamu masih mampu.
hehehe… habis, aku mau ngomong apa coba. wong dua orang itu samimawon !
*siul2 sambil nonton sinetron*
Lala // 17 April 2009 pada 02:53 |
Setuju ama Yessy.
Kenapa selalu perempuan yang disalahin?
Kenapa selalu perempuan yang dibodoh2in?
Heran, deh.
Ada masalah di pernikahan.. suami selingkuh, yang ada orang bilang, “Salah sendiri.. mungkin istrinya kurang baik… nggak bisa muasin di ranjang, sibuk ngurus rumah dan anak-anak sampai nggak bisa dandan… nggak bisa ini itu… dll dsb..”
yang intinya: kenapa perempuan yang harus selalu ‘bekerja’? bukankah komitmen dibangun dengan dua kepala?
Aduh, jadi komentar OOT nih, Mas..
Yang jelas,
Mawar bukan perempuan bodoh.
Dia adalah perempuan beruntung yang diselamatkan dari lelaki bajingan seperti Nto itu…
marshmallow // 17 April 2009 pada 03:12 |
ah, lobi-lobi tingkat tinggi itu…
mereka bisa seenaknya memasang masker seolah-olah dulu tak pernah berdosa, melumuri tangan dengan darah anak bangsanya sendiri, dan kini dengan membusungkan dada menyatakan diri sang satria piningit.
mawar, semoga kau dan aku kini telah semakin bijaksana, belajar dari kesalahan masa lalu. jangan pilih orang plin-plan dan munafik sebagai pemimpinmu.
belakangan kecamanmu terhadap para pecundang masa lalu itu makin deras aja, goniel. ingin menumpahkan sakit hati banget sepertinya. forgiven not forgotten, huh?
marsh // 17 April 2009 pada 04:44 |
aku jadi ingat sebuah siaran radio belum lama lalu, goniel.
waktu itu kalau tak silap berbicara mengenai pembunuhan karakter di media internet, terutama fb. pas lagi seru-serunya menjelang pemilu legislatif kemarin. bintang tamunya adalah si anto itu.
nah, dia ngomong dong kalau dia pribadi tidak pernah keberatan difitnah di media. dan sebagai bukti, dia tidak pernah menuntut semua pemberitaan negatif. padahal, katanya, bila kau ketik namaku di mesin pencari google, maka akan muncul 300k entri yang menghujat semua, hanya 2 entri yang positif, yakni yang kutulis sendiri. semua pendengar gerrr waktu itu.
aku malah mencibir, dan kupikir para pendengar live di sana juga sama. kalau memang semua pemberitaan mengenainya jelek, kenapa dia masih membantah bahwa kenyataannya memang jelek? kenapa merasa terzalimi oleh media? dan kenapa jadi sok baik tidak menuntut? bukankah tidak ada asap tanpa ada api?
duh, jadi ikutan esmosi aku. kamu sih…
Miko P // 17 April 2009 pada 04:55 |
Membaca cerita diatas, ditambah episode sebelumnya “forgiven not forgotten”, banyak hal pelik dalam dunia politik memang. Musuh masa lalu bisa jadi lengket dalam sekejap, pun korban-korban masa lalu sekarang malah berada diketiaknya, menjadi ponggawa yang siap membela semua kepentingannya. Apa yang diteriakkan dulu, hilang sekejap hanya dengan sedikit fasilitas kemapanan. Salam kenal Bung Penganyam Kata.
radesya // 17 April 2009 pada 06:38 |
Meong besar!!
Mawar itu bukan melati kan?
andai saja para perempuan menjaga akhlaknya, tak perlu lagi ada mawar-mawar lain di sini. So.., semua bersumber pada akhlak, apapun itu.
Buat Nto : orang seperti kamu seharusnya memiliki akhlak yang baik. Bukan bertingkah bejat!
Jamal eL Ahdi // 17 April 2009 pada 11:19 |
mawar mengajak melati , kenanga ,lili , puspa yang merupakan korban anto ah bento saja aku menyebutnya, untuk membongkar kebusukan bento.
tapi lihatlah bento telah menyediakan preman berwajah garang sampai gigolo berwajah manis.
pembagian kekuasan bernama gigolo itu memang memabukkan dan menggairahkan tapi jangan lupa gigolo itu akan menghabisimu dengan perlahan.
meski berat lebih baik kita bertarung dengan para preman itu ya bertarung.
tanti // 17 April 2009 pada 13:57 |
Mawar,
segala upaya yang kau lakukan,
mudah-mudahan bukan bernafaskan dendam,
(kamu akan capek karenanya)
tapi karena menegakkan kebenaran,
dan memperbaiki keadaan
(ingat, apapun alasannya kamupun ikut andil didalamnya)
Percaya deh,
kebusukan tidak akan dapat disembunyikan,
suatu saat pasti akan terbuka juga,
kebenaran pasti akan terlihat,
yakinlah !
Chandra // 17 April 2009 pada 21:07 |
duh nasib tentara berpangkat lebih rendah dari komandannya…
kalo komandannya tidak berhati nurani, simalakama deh, serba salah…ga nurut karir taruhannya, kadang-kadang diawali pake acara ketephak ketephok ciaaattt (silat kali ya komandannya.. :p), karir terhambat penghasilan tersendat anak istri merana secara pangkat rendah gaji pun ala kadarnya…kalo nurut dan akhirnya ketauan kalo operasinya melanggar hukum dan HAM, sidang militer, penjara or pecat! Penjara, pangkat ga naek-naek juga, kondite hancur…Pecat, susah lg memulai karir, kecuali banyak duit kaya raya, belom depresi dan malunya…kasian…
Chandra // 17 April 2009 pada 21:21 |
belom lg tentara lingkarannya kuat, semua angkatan, mulai dari prajurit batang merah 1 di lengan ampe jenderal bintang tujuh pusing-pusing tujuh keliling dapat dengan mudah tau siapa dia, aib pun mudah terendus….duh merananya…belom lg tuh tentara rajin bikin album-album foto kenangan plus keluarganya setiap selesai pendidikan, lengkap ampe cucu-menantu kalo punya! Narsis emang tentara…(lah kok ujungnya jd ga nyambung…)
prameswari // 18 April 2009 pada 04:04 |
Hati yang nestapa dan terinjak-injak itu tak pernah membawa doa baik untuknya, untuk langkahnya, untuk stiap jengkal perbuatan dan keturunannya….
Hati yang terkhianati akan selalu melaknat, selalu merajam, dan membunuh semua rasa untuknya…
Tak ada yang akan bisa dia nikmati
Dia tak akan pernah bisa lupa doa jelek itu akan selalu berlari mengikutinya
Dia tak akan pernah bisa lupa ada banyak orang yang dibunuhnya yang mengharapkan dia terbunuh
Dia tak akan bisa berlindung dari semua yang sudah dia perbuat
tinggal menunggu waktu saja…..
meski dia sudah berubah
prameswari // 18 April 2009 pada 04:07 |
jangan jadi mawar yang bodoh jika begitu……
begitu kan mas Niel?
*mengerling*
2 tulisan terakhir mas berat2 deh….
gak bisa disambi. hiiih… mana kerjaan gak abis2 lagi…
loh…malah curhat..
prameswari // 18 April 2009 pada 04:10 |
Tapi setuju ama mas Goenoeng.
Dua orang itu sami mawon…
trus ngapain susah ikut mikirin….
Timbul Sutrisno // 18 April 2009 pada 07:08 |
nto nto ko blm kesini aja sich
Muzda // 18 April 2009 pada 07:09 |
Busetttt …
Eddyann …
Ni surat si Mawar maknanya berlapis-lapis,, aku sampe jumpalitan bacanya.
Eh, War … dari pada kamu kecewa ma Si ‘Nto,, mending dari awal kamu gak usah terlibat.
Enak si emang awalnya, kabur ma rayuan kata, tapi .. hmm,, investasimu jomplang ma hasil..
Ada tiga pilihan :
1. Ikut mendiami istana
2. Sakit karena dicampakkan
3. Menjadi penonton saja,, kadang penonton itu bisa mempengaruhi hasil,, liat aja Indonesian Idol atau Idola Cilik.
imoe // 18 April 2009 pada 11:23 |
Jangan takut mawar, akan ada seseoarang yang akan datang mendampingimu dengan cara yang tidak kamu ketahui dan itu indah (cieeee).
Ntar loe cari aja dia, loe ajak mantan pacarnya rame-rame untuk gebukin Nto…biar tahu rasa…mau enaknya aja tuh orang…
Eh mas DM : aku lihat kok belakangan komen-komen uni mallow ke tulisan mas agak formal dan kaku ya…., ngerasa gak ya….terlalu serius…hehehehehe
suryaden // 18 April 2009 pada 11:38 |
harumnya merah mawar dendam dan benci itu semoga masih mewangi….
goenoeng // 18 April 2009 pada 12:15 |
hmmm… pigimana kalo nyang jadi satria piningit itu aku sahaja. daripada daripada, hayo… maksutku, daripada si Nto yang ndak tata, lumayan aku yang sedikit tertata. soalnya, aku juga merasa terdzalimi dengan semaputnya PK, ndak bisa cuap2 di sotbok-nya. mumpung aku belum mengadaken konprensi pers lho. ini serius !
*siyap2 mau bikin poros tengah di Tlatah Tengah*
marsh // 18 April 2009 pada 13:29 |
@imoe:
hayah! dipikirin gitu.
ini kan mengesankan komentar serius pengamat politik, moe.
siapa tau ada stasiun tv yang berminat, terus aku disuruh ngomong di media. ntar tak bagi tanda tangan deh kalau udah ngetop.
@DM:
hapah?! datang bulan?! belum tau aja kamu! berani ngadepin cewek yang sedang PMS? nantangin nih? nekat nyoba? serius? udah siap mental? nggak takut? yakin?
racheedus // 18 April 2009 pada 18:58 |
Anto itu mungkin seperti dasamuka dalam cerita pewayangan. Atau seperti Ken Arok dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Penculikan Tim Mawar itu masih lekat kuingat, Mas.
Kritik politik nan tajam yang berbungkus indah, Mas Dan! Salut.
Chandra // 18 April 2009 pada 21:08 |
Si Anto pernah ngga naik tingkat??? BENARRRR!!!! Hehehehehehehehehehehehehehehe..aku pun dapet dari sumber yang juga suangat-suangat terpercaya!!! Karena si sumber itu jg seangkatan ma Anto…haha you know lah sapa Mas si sumber itu…hehehe
imoe // 19 April 2009 pada 11:16 |
Wah…gilamasa DM tahu jadwaldatang bulannya uni mallow? hahahahaha jangan jangan jangan jangan……hayoooo
Jamal eL Ahdi // 21 April 2009 pada 08:20 |
Pangeran Brengsek
Iwan Fals, Djody, Jabo & Jockie (Album Kantata Samsara 1998)
Pangeran brengsek gudel ngepet
Suka nyopet mati disantet
Pangeran brengsek gegar otak
Padahal jelas tak punya otak
Aku seperti monyet botak
Monyet botak seperti aku
Monyet botak seperti gudel
Gudel ngepet seperti pangeran
Oh ya
Ngaku dermawan suka nyopet
Oh ya
Ee ee ati ati disantet
Sudah kubilang jangan protes
Pangeran brengsek
Sudah kubilang jangan nyopet
Pangeran brengsek sek sek sek sek
Pangeran brengsek suka nggelek
Pingin jadi caleg tapi gebleg
Jual tampang dikoran koran
Ha ha ha pahlawan kesiangan
Oh ya
Ngaku dermawan suka nyopet
Oh ya
Ee ee ati ati disantet
Sudah kubilang jangan protes
Pangeran brengsek
Sudah kubilang jangan nyopet
Pangeran brengsek
Senang bernyanyi kaya Sengkuni
Senang berkhotbah kaya Dorna
Ngomongnya ngaco co co co co co
Sek sek sek sek sek sek sek sek sek
——————————————
Chandra // 21 April 2009 pada 17:38 |
Yap, pelanggaran disiplin, 4 hari ninggalin kampus tanpa izin.
kartini kampung blagu (3) « surauinyiak // 22 April 2009 pada 11:52 |
[...] memberikan segalanya, termasuk rahimnya. Akibat hubungan laknat mereka, sudah empat kali mereka menggugurkan kandungan perempuan itu. Setiap kali melakukannya, Supriyanto selalu berjanji akan menikahi perempuan itu. Tapi, janji [...]