Soliloquy

So Red The Rose

16 April 2009 · & Komentar

Semoga kamu masih mengingatku. Seseorang yang tak mungkin begitu saja kau hapus dalam dokumentasi kehidupanmu. Kecuali kalau kau memang seperti dugaanku: bukan lagi manusia yang mengenal adab.

Namaku masih tetap sama, Mawar. Nama yang pernah begitu kau sanjung sedemikian rupa. Kau cintai aku hingga mabuk menjura. Hingga kau tempatkan aku di tempat yang paling kirana di hatimu. Semoga kau tak gemetar mendengar namaku.

Sengaja aku menulis surat ini, agar kau tahu, ada yang belum selesai di antara kita. Adalah sebuah kepantasan jika aku menuntutmu untuk dengan berani menyelesaikan apa yang telah terjadi di antara kita. Kau masih lagi pantas disebut lelaki kan?

Aku tak peduli seberapa panjang hubungan yang pernah terjalin di antara kita. Namun pada akhirnya (begitu berat aku mesti mengatakan ini), aku mesti jujur bahwa aku lebih peduli pada apa yang telah terjadi di antara kita.

Mungkin kau sudah tak mencintai aku lagi. Itu terserah! Tapi bersikaplah gentle dan jujur, sebelum kau betul-betul memutuskan menikah dengan perempuan itu. Karena itu semua adalah hakmu. Namun adalah hakku juga untuk meminta kejelasan tentang kita.

Sekali lagi aku sudah tak peduli dengan ribuan musim yang pernah kita lalui. Tapi bagaimana dengan pertanggung jawabanmu atas anak-anak yang tak pernah lahir dari rahimku? Setiap kali aku menggugurkan kandungan, setiap kali itu pula kau berjanji akan menikahiku. Empat kali, Nto! Empat kali aku menggugurkan kandungan! Tidakkah kau memikirkan itu?

Susah payah aku selalu membangun kembali kepercayaan kepadamu. Sementara kau pergi dan datang sekehendakmu. Aku yang menggugurkan kandungan, Nto! Nyawaku yang dipertaruhkan! Sementara kamu? Apa yang kau tangung, Nto? Tak ada! Tak ada bukan? Tapi aku perempuan!! Kenapa harus selalu perempuan yang mesti menanggung risiko?

Tahu kah kau betapa sakit yang mesti kulalui? Berapa usia anak-anak kita yang terpaksa kita gugurkan? Masih ingat kamu? Dua bulan! Tiga bulan! Enam bulan! Dan satu bulan! Hei, dan kau bebas berkeliaran seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Aku yang menanggung semua itu!!

Kini, setelah kau ambangkan hubungan kita, asyik menjalani hidup tanpa penah merasa berdosa, tiba-tiba kudengar kau hendak menikah. Menikah?! Menikah, Nto?! Menikah?! Bagaimana mungkin kau bisa menikahi perempuan lain? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan perempuan yang pernah menggugurkan anak-anakmu?

Kukatakan sekali lagi, aku sudah tak peduli dengan jutaan jam yang pernah kita lewati. Tapi sadar, Nto, dengan apa yang pernah terjadi. Kau belum menyelesaikannya! Bahkan, sekasar-kasarnya kau mengatakan bahwa kita mesti berpisah, putus, atau tak cocok lagi, pun tidak pernah meluncur dari mulutmu! Kenapa tiba-tiba kau bisa menikahi perempuan lain?

Ingat, Nto, aku menulis surat ini bukan dalam rangka mengemis untuk lantas kau nikahi. Tidak! Tidak, kukatakan! Aku hanya menuntut keberanianmu menyelesaikan soal yang belum selesai. Sesuatu yang menggantung. Kecuali kau memang seorang pengecut yang sedang bermanis-manis terhadap perempuan yang hendak kau nikahi itu.

Aku memang tak bersih. Tapi jangan lupa: kau lebih tak bersih lagi. Aku hanya tak sudi melihat kau sedang berpongah seolah-olah menjelma menjadi lelaki yang maha baik, maha manis, dan maha bersih dari dosa. Aku meminta penyelesaian!

Terserah kalau kau menyebut ini sebagai dendam. Tapi kamu memang sudah bersikap tidak fair. Kalau kau betul-betul lelaki, selesaikan! Tunjukkan dirimu yang sebenarnya. Toh kelakuanmu bukan rahasia lagi.

Aku tunggu! Aku tak akan tinggal diam begitu saja. Kecuali kau memang pengecut yang hina dina dan tak pantas disebut manusia berbudaya.

Seseorang yang pernah begitu kau sakiti,

-Mawar-

PS: hati-hati, aku bisa meminta sebelas orang mantan pacarmu yang pernah kau sakiti untuk bicara secara blak-blakan atas segala kelakuanmu. Selusin tahun bukanlah waktu yang panjang, Nto. Ingat itu!

* * *

Catatan:
Tulisan ini pertama kali di-posting di penganyamkata.wordpress.com pada 17 April 2009 pukul 04.04 wib, yang selama ini merupakan blog alternatifku. Karena blog utama, danielmahendra.com, sedang semaput sejak Rabu, 8 April 2009 sore, disebabkan perusahaan penyedia hosting tempat bernaungnya blog tersebut sama sekali tidak menginformasikan tanggal expired domain-nya (7 April 2009). Apa boleh buat, tulisan ini mesti diparkir di sini dulu sampai blog utama siuman.

Kategori: Senandung

35 tanggapan so far ↓

  • Zulmasri // 16 April 2009 pada 21:51 | Balas

    Kapan mas? Jangan lupa undangannya ya. Siapa tahu pestanya jadi pesta bloger juga. Pesta warga kampung blagu.

    :$ mawar
    adakah samudera hatimu
    mengimpikan ombak dan tamparan angin?

    Kapan? Nanti, Da. 6 atau 8 Juli gitu.
    Pestanya? Wuih, seluruh negeri berpesta.
    Ayoh, Uda juga mesti datang!

  • edratna // 16 April 2009 pada 22:00 | Balas

    Akhh Mawar, salahmu sendiri, kenapa tak kau jaga kesucianmu, dan betapa mudahnya engkau menyerahkan dirimu padaku?
    Tahukan engkau Mawar, bagi laki-laki pada akhirnya tetap akan memilih seorang ibu yang dianggap akan baik bagi anak-anaknya, ibu yang masih suci….

    (masih perlukah syarat keperawanan saat ini? Jawabannya tetap perlu..hal yang perlu dimaafkan hanyalah kalau ada keterpaksaan, seperti diperkosa dll)

    Kenapa tak kau jaga kesucianmu? Mawar hanya menuruti perintah atasan, Bu. Kalau menolak, bisa dianggap membangkang urusannya.

    Masih perlukah syarat keperawanan? Kalau memang bisa, kenapa tidak. Bukankah lebih baik memiliki pemimpin yang tak terkait dengan kejahatan kemanusiaan masa lalu?

  • Ikkyu_san // 16 April 2009 pada 23:31 | Balas

    Cinta memang tidak memandang bulu.
    Meskipun tahu dan sadar bahwa dia tak patut dicintai. Tetap!
    Apa daya perempuan lebih memakai hatinya daripada otaknya.

    (makanya ambil dong hati dan otak yang telah dititipkan pada ibu warung di kampung blagu! Pasang hati itu kembali ke pria yang telah menanamkan benih. Dan pasang otak kembali ke kepalamu wahai Mawar tak berduri, sehingga engkau tidak jatuh lagi yang ke lima kalinya)

    EM

    Cinta tak memandang bulu? Jawabannya adalah: MONEY!!!
    Meskipun tahu dan sadar bahwa dia tak patut dipilih dicintai. Tapi tetap saja!

    Apa daya segelintir elite perempuan lebih memakai hatinya daripada otaknya.

  • Chandra // 17 April 2009 pada 00:07 | Balas

    Ini masih ngomongin politik ya?

    Menurutmu? ;)

  • p u a k™ // 17 April 2009 pada 00:57 | Balas

    Kudengar kau sudah mati, Nto!
    Semoga para perempuan yang tinggal denganmu di Neraka sana, masih menyediakan ranjangnya untukmu.

    (halah!.. iki maksute opo tho?,.. ra dong!)

    Belum, Mbake. Anto belum mati. Bahkan masih segar bugar. Cengengesan sana sini. Melambaikan tangan kesana kemari, meski tak pernah mendapatkan balasan lambaian tangan. Ia sedang merasa menjadi seorang KSATRIA!

    11 orang perempuan itu? Oh, pada dasarnya mereka sama saja. Tak jauh beda. Meski hanya pelaksana. Mereka kan tak mungkin menolak perintah atasan. Tapi giliran diajukan ke pengadilan (tertutup sih), mereka dipecat dan dipenjara, namun tanpa pernah menyeret si Anto. Apanya nggak geram tim bunga tersebut…

    Oh-oh, Mawar. Begeraklah. Jangan diam saja…

  • Jamal eL Ahdi // 17 April 2009 pada 01:16 | Balas

    @mawar :
    Mawar ribuan musim yg kita jalani memang tak berarti apapun,4 calon bayi yg tak lahir darimu,2 janin dari melati,3 jabang bayi dari kenanga dan belasan orok yg mati semua adalah tumbal nafsu yg menguasai jiwa,jadi tidak perlu kau pertanyakan lagi. apalagi menuntut. jika kau ingin meminta,mintalah pada iblis dineraka,karena dia yg memabukkan kita saat dilanda asmara.
    tahukah kamu bahwa itu tumbal untuk kambing etawa ??
    by …nto gunung kelir .. lo piyo to iki hehehhehehe… ampun masss…….

    Kalau kita jeli, kita bisa tau kok para Mawar itu sekarang sedang berada di mana. Para Mawar itu pada akhirnya hanya dijadikan tumbal.

  • Ria // 17 April 2009 pada 01:23 | Balas

    mawar…mawar…
    tenang kamu masih berhak atas seseorang pria yang baik dan tidak seperti nto! dia itu bukan pria yang baik ketika bahkan menyuruhmu menggugurkan kandungan padahal itu adalah anaknya sendiri…

    kalaupun dia nantinya menikah…mari kita datang ke pestanya tunjukkan bahwa kita masih punya hati seluas samudra untuk menampung semua kesalahan yang dia perbuat…sehingga dia akan malu sama diri sendiri…ah mawar…maaf kalau aku meminta kamu memaafkan bukan malah menghakimi karena maaf itu lebih baik dari pada dendam…dan 1000 x lebih baik dari pada menyimpan dendam

    Setuju, Ri. Setuju bahwa memaafkan adalah lebih baik ketimbang dendam. Namun bagaimana dengan si Anto? Adakah dia cukup fair mengakui kesalahannya? Adakah ia cukup gentle sebagai seorang ksatria? Alih-alih diseret pengadilan, kini malah hendak menggelar “pesta”… Dan berharap rakyat orang kagum pada dirinya. Cuih!

  • vizon // 17 April 2009 pada 01:25 | Balas

    Mengapa setiap kali aku membaca cerita seperti ini yg muncul adalah “kasihan”… aku kasihan dg mawar yg telah dg bodohnya mau diperbudak cinta… dikemanakan otaknya? menggugurkan kandungan itu bukankah sakit bukan kepalang? kok mau2nya mengulang kembali, bahkan sampai empat kali..? masya Allah!

    Aku percaya, Da, rasa kasihan hanyalah bermegah-megah dengan perasaan kalau kita tak melakukan apa-apa.

    Nasib Mawar memang ironis. Tak mungkin membantah perintah atasan, namun pada akhirnya mereka pula yang mesti menanggung akibatnya, tanpa mengusik atasan sedikit pun. Mengibakan.

    Ini belum selesai, Da. Belum tuntas. Kejahatan HAM ini.

  • yessymuchtar // 17 April 2009 pada 01:54 | Balas

    Komen asal:

    Mawar..no telpon lo berapa…entar gue ajarin gimana caranya bisa gak hamil!

    Lo bego banget siy..hari gini masih hamil…ya elah!!! *tephok jidat*

    Komen serius:

    Kenapa setiap kali ada permasalahan begini selalu perempuan yang disalahkan?
    Perempuannya murah?
    Perempuannya yang gak tau diri?
    Perempuannya yang diperbudak cinta?

    Again…kalo udah ngomongin cinta..apa ada orang yang bisa bersifat waras? setau gue..bahkan mata yang jelas bisa jadi buta kalo lagi kelepek kelepek sama cinta…iya..B-U-T-A…

    Tapi sekali lagi…gue gak bisa ngomong siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut gue….SEX..dengan cinta atau tidak…adalah perbuatan dewasa yang menuntut tanggung jawab!

    Entah itu gimana..apapun itu….tapi bentuknya tetap bertanggung jawab.

    Gua gak mau munafik untuk menasihati orang..makanyaa..jangan ngesex dulu kalo belum nikah (walaupun itu tetap pilihan yang paling benar dan tidak ada yang bisa pungkiri itu)…bisa bisa gue di kasih kaca sama orang dan disuruh ngaca…*gue balikin kacanya, gak butuh*

    Tapi tidak sesusah itu untuk melakukan hubungan ini ..what ever you call it…APA?..bercinta?, make love? …intinya having sex kan???

    Be responsible!!!

    Kata sebuah produk siy ya…

    Safety can be Fun…Dari pada nahan nahan dan kebobolan???

    All about the mind set, and it depends how you manage it.

    Kenapa setiap kali ada permasalahan begini selalu perempuan yang disalahkan?
    Karena itulah guna bawahan di negeri ini. Ironis bukan?

    Kaca yang kamu maksud mestinya disodorkan pada wajah si Anto sebelum ia kebablasan mengadakan “pesta”. Kalau dia belum juga bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di kaca itu, paling tidak orang-orang yang berdiri di belakangnya bisa melihat wajah Anto yang sebenarnya. Dan juga orang-orang yang belum tahu bagaimana Anto menjadi tahu: duhai siapa sebetulnya Anto.

  • yessymuchtar // 17 April 2009 pada 01:59 | Balas

    Lupa lagi….

    Mawar…
    Lo tuh gak usah minta pertanggung jawaban buat si siapa namany nto???

    Tuh orang dari namanya aja udah gak banget!!!

    Gimana dia mau bertanggung jawab kalo waktu nidurin lo aja dia gak mikir pake otak…dia mikirnya pake dengkul!

    Terserah dia mau jadi maha apa..MAHA KARYA juga bodo amat!
    Yang penting…gue kasih tau ya….lo tuh beruntung benerrr kali gak jadian sama tu orang…

    TRUST ME..someone..somewhere…is out there for you…

    @DM
    APE????

    Tu orang emang nggak banget, Yess. Dari namanya aja emang nggak banget. Makanya aku ini hanya berseru-seru agar paling tidak orang-orang pada ingat dengan masa lalu manusia bernama Anto. Jangan hanya melihat Anto saat ini saja.

    The Truth is out there. (Halah, X-Files banget!).

  • goenoeng // 17 April 2009 pada 02:50 | Balas

    sebut saja Mawar (bukan nama sebenarnya).

    betapa bodohnya Mawar, yang akan menjadi bukan nama sebenarnya bila di koran2 itu. kenapa dengan dalih cinta bisa membuang otaknya ? uhhuiii… makan tuh cinta !

    Nto. sip ! lanjutkan perjuanganmu. cari lagi korban yang banyak. mumpung kamu masih mampu.

    hehehe… habis, aku mau ngomong apa coba. wong dua orang itu samimawon !

    *siul2 sambil nonton sinetron*

    Ya, pada dasarnya dua-duanya ya sami mawon. Meski pada akhirnya ternyata yang lebih nampak paling kejam, ya begundalnya. Ha! Melenggang kabur keluar negeri. Balik lagi menyulap diri jadi ksatria. Bermodal uang digdaya. Dahsyaaattt…

    *nggak bisa siul-siul nonton komedi para bangsawan yang sedang kebakaran jenggot di tipi.*

  • Lala // 17 April 2009 pada 02:53 | Balas

    Setuju ama Yessy.
    Kenapa selalu perempuan yang disalahin?
    Kenapa selalu perempuan yang dibodoh2in?

    Heran, deh.
    Ada masalah di pernikahan.. suami selingkuh, yang ada orang bilang, “Salah sendiri.. mungkin istrinya kurang baik… nggak bisa muasin di ranjang, sibuk ngurus rumah dan anak-anak sampai nggak bisa dandan… nggak bisa ini itu… dll dsb..”
    yang intinya: kenapa perempuan yang harus selalu ‘bekerja’? bukankah komitmen dibangun dengan dua kepala?

    Aduh, jadi komentar OOT nih, Mas.. :)
    Yang jelas,
    Mawar bukan perempuan bodoh.
    Dia adalah perempuan beruntung yang diselamatkan dari lelaki bajingan seperti Nto itu…

    Karena Mawar “perempuan”.
    Mawar bukan perempuan bodoh?
    Siapa berani melawan? Paling-paling banding.

    Dan dia perempuan beruntung yang diselamatkan dari lelaki bajingan seperti Anto?
    Diselamatkan dari apa… Dijerumuskan iya.

  • marshmallow // 17 April 2009 pada 03:12 | Balas

    ah, lobi-lobi tingkat tinggi itu…
    mereka bisa seenaknya memasang masker seolah-olah dulu tak pernah berdosa, melumuri tangan dengan darah anak bangsanya sendiri, dan kini dengan membusungkan dada menyatakan diri sang satria piningit.

    mawar, semoga kau dan aku kini telah semakin bijaksana, belajar dari kesalahan masa lalu. jangan pilih orang plin-plan dan munafik sebagai pemimpinmu.

    belakangan kecamanmu terhadap para pecundang masa lalu itu makin deras aja, goniel. ingin menumpahkan sakit hati banget sepertinya. forgiven not forgotten, huh?

    Apa boleh buat, kenyataan mesti dikabarkan toh? Kalau saja si Ksatria itu seperti beberapa bulan lalu, bikin iklan, tampil bolak-balik di tv, di cetak, di elektronik, mengesankan sebagai seorang ksatria jantan nan baik hati, terserah! Rakyat juga nggak bodoh (kecuali yang bisa dibeli dengan uang ya. Maklumlah, duitnya paling kenceng dia).

    Tapi begitu melihat kelakuannya beberapa hari dan minggu ini pasca 9 April, weh-weh-weh, bahaya kalau dia (juga orang-orangnya) mulai bermain ke dalam sistem yang ada. Apalagi membuat persekutuan (persekutuan nggak jelas itu!). Kawula negeri bisa dibodoh-bodohi lagi.

    Bikin persekutuan kok salah target musuh. Rasanya orang yang liat juga nggak bodoh-bodoh amat. Potong kukuku kalau persekutuan itu demi rakyat. Cuih! Suara rakyat kok dimain-mainkan. Dibawa kesana kemari. Maka orang seperti mantan pacar si Mawar itu, bahaya! Jijik liat wajahnya!!

  • marsh // 17 April 2009 pada 04:44 | Balas

    aku jadi ingat sebuah siaran radio belum lama lalu, goniel.
    waktu itu kalau tak silap berbicara mengenai pembunuhan karakter di media internet, terutama fb. pas lagi seru-serunya menjelang pemilu legislatif kemarin. bintang tamunya adalah si anto itu.

    nah, dia ngomong dong kalau dia pribadi tidak pernah keberatan difitnah di media. dan sebagai bukti, dia tidak pernah menuntut semua pemberitaan negatif. padahal, katanya, bila kau ketik namaku di mesin pencari google, maka akan muncul 300k entri yang menghujat semua, hanya 2 entri yang positif, yakni yang kutulis sendiri. semua pendengar gerrr waktu itu.

    aku malah mencibir, dan kupikir para pendengar live di sana juga sama. kalau memang semua pemberitaan mengenainya jelek, kenapa dia masih membantah bahwa kenyataannya memang jelek? kenapa merasa terzalimi oleh media? dan kenapa jadi sok baik tidak menuntut? bukankah tidak ada asap tanpa ada api?

    duh, jadi ikutan esmosi aku. kamu sih…

    Hahahaha!! Itulah tipikal orang yang berusaha mencari cara dan membangun kesan bahwa dia dizalimi. Hahahaha!! Betul katamu, Hemm, kalau memang semua pemberitaan mengenai dirinya itu jelek, kenapa tidak dia bantah. Dia menyengajakan kesan itu menguat. Puah!

    Sebetulnya, jujur saja, kalau dilihat dari sisi lain, yang betul-betul lain, aku salut sama dia. Dia berani “kembali”. Sudah dibuang oleh “keluarga besar”, dipecat secara tidak hormat, dianggap hendak melakukan kudeta, “terusir” dari tanah airnya sendiri, tapi dia masih bisa “kembali” dan membangun kekuatan. Jujur saja aku salut dengan orang seperti itu. Tidak semua orang berani melakukan hal seperti itu.

    Tapi rasa salutku menguap dan masih terkalahkan dengan apa yang sudah dia lakukan namun tidak pernah diselesaikan. Mengakui saja tidaklah cukup. Mesti ada pengejawantahan dari bentuk pengakuan tersebut. Berupa konsekuensi. Kalau negara (juga pansus di DPR) masih lambat saja untuk menuntaskan kasus tersebut, ya menguaplah semua…

    Kamu jadi ikutan emosi, Hemm? Jangan sampai kamu nggak ikut emosi. Percuma aja kamu, eh nggak ding… Hehe.

  • Miko P // 17 April 2009 pada 04:55 | Balas

    Membaca cerita diatas, ditambah episode sebelumnya “forgiven not forgotten”, banyak hal pelik dalam dunia politik memang. Musuh masa lalu bisa jadi lengket dalam sekejap, pun korban-korban masa lalu sekarang malah berada diketiaknya, menjadi ponggawa yang siap membela semua kepentingannya. Apa yang diteriakkan dulu, hilang sekejap hanya dengan sedikit fasilitas kemapanan. Salam kenal Bung Penganyam Kata.

    Salam kenal kembali, Bung Miko. Terima kasih atas komentarnya.

    Memang, kuakui dua tulisan terakhir berangkat dari apa yang Bung paparkan. Mesti juga kita akui; tak ada musuh abadi dalam politik, seperti halnya tak ada teman abadi dalam politik. Namun yang menjadi soal adalah; penyelesaian.

    Aku menyadari, proses dalam 1 dekade terakir ini adalah ongkos yang harus dibayar Indonesia untuk betul-betul menjadi negara yang demokratis sesuai dengan platformnya. Barangkali memang betul-betul harus melewati masa yang seperti ini. Namun betapa mahal ongkos tersebut. Barangkali…

  • radesya // 17 April 2009 pada 06:38 | Balas

    Meong besar!!
    Mawar itu bukan melati kan? :D

    andai saja para perempuan menjaga akhlaknya, tak perlu lagi ada mawar-mawar lain di sini. So.., semua bersumber pada akhlak, apapun itu.

    Buat Nto : orang seperti kamu seharusnya memiliki akhlak yang baik. Bukan bertingkah bejat!

    Meong kecil, orang seperti Anto tak memahami definisi akhlak.
    Dan bejat? Apalagi itu…

  • Jamal eL Ahdi // 17 April 2009 pada 11:19 | Balas

    mawar mengajak melati , kenanga ,lili , puspa yang merupakan korban anto ah bento saja aku menyebutnya, untuk membongkar kebusukan bento.
    tapi lihatlah bento telah menyediakan preman berwajah garang sampai gigolo berwajah manis.
    pembagian kekuasan bernama gigolo itu memang memabukkan dan menggairahkan tapi jangan lupa gigolo itu akan menghabisimu dengan perlahan.
    meski berat lebih baik kita bertarung dengan para preman itu ya bertarung.

    Di atas Anto ada lagi, Bung. Ada lagi. Dia tak berdiri sendiri. Itu mengapa ia bebas melenggang. Kau pikir mengapa kasus Munir seperti perlahan mandek, eh?

    Jawabannya: the untouchable man!

  • tanti // 17 April 2009 pada 13:57 | Balas

    Mawar,
    segala upaya yang kau lakukan,
    mudah-mudahan bukan bernafaskan dendam,
    (kamu akan capek karenanya)
    tapi karena menegakkan kebenaran,
    dan memperbaiki keadaan
    (ingat, apapun alasannya kamupun ikut andil didalamnya)

    Percaya deh,
    kebusukan tidak akan dapat disembunyikan,
    suatu saat pasti akan terbuka juga,
    kebenaran pasti akan terlihat,
    yakinlah !

    Ya, bagaimana pun fadihat akan muncul juga ke permukaan.
    Hanya soal waktu. Soal seberapa berani orang-orang untuk terus menyuarakan.

  • Chandra // 17 April 2009 pada 21:07 | Balas

    duh nasib tentara berpangkat lebih rendah dari komandannya…
    kalo komandannya tidak berhati nurani, simalakama deh, serba salah…ga nurut karir taruhannya, kadang-kadang diawali pake acara ketephak ketephok ciaaattt (silat kali ya komandannya.. :p), karir terhambat penghasilan tersendat anak istri merana secara pangkat rendah gaji pun ala kadarnya…kalo nurut dan akhirnya ketauan kalo operasinya melanggar hukum dan HAM, sidang militer, penjara or pecat! Penjara, pangkat ga naek-naek juga, kondite hancur…Pecat, susah lg memulai karir, kecuali banyak duit kaya raya, belom depresi dan malunya…kasian…

    Aha. Betul sekali, Chandra. Aku pun yakin tak semua tentara brengsek. Seperti halnya tak semua preman kejam. Tetap saja ada tentara-tentara yang memiliki hati nurani. Hanya persoalannya, ya seperti yang kamu paparkan, nggak nurut perintah, taruhannya karir (bagaimana mungkin melawan perintah terhadap strata pangkat seperti itu dalam militer).

    Cuma nih, Chand, yang terjadi di sini, kalau salah, yang kena itu tetap saja bawahan. Bukan petinggi-petingginya. Dulu lho ya… Dan yang lebih menggelikan lagi, para Mawar itu, setelahnya malah dapat promosi, kenaikan pangkat, jabatan, dan hmmm… you know lah. Kamu anak tentara, tentu lebih tau ketimbang aku ;)

    Nggak sulit kok melacak di mana, apa pangkatnya dan jabatan apa yang dipegang para Mawar itu sekarang.

  • Chandra // 17 April 2009 pada 21:21 | Balas

    belom lg tentara lingkarannya kuat, semua angkatan, mulai dari prajurit batang merah 1 di lengan ampe jenderal bintang tujuh pusing-pusing tujuh keliling dapat dengan mudah tau siapa dia, aib pun mudah terendus….duh merananya…belom lg tuh tentara rajin bikin album-album foto kenangan plus keluarganya setiap selesai pendidikan, lengkap ampe cucu-menantu kalo punya! Narsis emang tentara…(lah kok ujungnya jd ga nyambung…)

    Hihihi. Kalau soal kuatnya lingkaran corps, weh, jangan ditanya deh. Memang jagonya. Meski tetap saja ada friksi-friksi intern. Pacarnya Mawar itu kan paling kontroversial bikin friksi. Kerap bertindak di luar garis komando.

    Bahkan sekitar 12 tahun lalu, aku pernah ngobrol sama Kapolwiltabes kota B., Chand. Di mana beliau satu angkatan dengan pacar si Mawar itu. Saat itu pangkat Pak Kapolwil ini Kolonel (Pol). Beliau bercerita bahwa pacar si Mawar itu pernah tidak naik tingkat. Namun saat Pak Kapolwil yang berpangkat Kolonel ini cerita, pangkat pacar si Mawar sudah Mayjen, dengan jabatan, wiiihhh… tau sendiri kan, Chand. Hihihi. Hebat ya!

  • prameswari // 18 April 2009 pada 04:04 | Balas

    Hati yang nestapa dan terinjak-injak itu tak pernah membawa doa baik untuknya, untuk langkahnya, untuk stiap jengkal perbuatan dan keturunannya….

    Hati yang terkhianati akan selalu melaknat, selalu merajam, dan membunuh semua rasa untuknya…

    Tak ada yang akan bisa dia nikmati
    Dia tak akan pernah bisa lupa doa jelek itu akan selalu berlari mengikutinya
    Dia tak akan pernah bisa lupa ada banyak orang yang dibunuhnya yang mengharapkan dia terbunuh
    Dia tak akan bisa berlindung dari semua yang sudah dia perbuat
    tinggal menunggu waktu saja…..
    meski dia sudah berubah

    Oleh Noengki Prameswari…
    *membaca dengan gaya deklamasi di depan kelas*
    Hihihi.

    Lha piye mbalesnya, wong isinya puisi begini.
    Jadi ya dinikmati saja dalam hati.

  • prameswari // 18 April 2009 pada 04:07 | Balas

    jangan jadi mawar yang bodoh jika begitu……

    begitu kan mas Niel?
    *mengerling*

    2 tulisan terakhir mas berat2 deh….
    gak bisa disambi. hiiih… mana kerjaan gak abis2 lagi…
    loh…malah curhat..

    Jadi apa terus? Mau disulap jadi kamboja? Hihi.
    Lagian pake ngerling-ngeling segala.

    Ha? Dua tulisan terakhir berat-berat?
    Justru dua tulisan terakhir itu dibuat secara sambil lalu saja. Malah saat nulis mikirnya nggak dalem-dalem banget. (Mikirnya emang nggak dalem. Emosinya yang dalem. Hihi).

  • prameswari // 18 April 2009 pada 04:10 | Balas

    Tapi setuju ama mas Goenoeng.
    Dua orang itu sami mawon…
    trus ngapain susah ikut mikirin….

    Ngapain susah ikut mikirin?!
    WOW!!!!

  • Timbul Sutrisno // 18 April 2009 pada 07:08 | Balas

    nto nto ko blm kesini aja sich

    Nah lho…

  • Muzda // 18 April 2009 pada 07:09 | Balas

    Busetttt …
    Eddyann …

    Ni surat si Mawar maknanya berlapis-lapis,, aku sampe jumpalitan bacanya.
    Eh, War … dari pada kamu kecewa ma Si ‘Nto,, mending dari awal kamu gak usah terlibat.
    Enak si emang awalnya, kabur ma rayuan kata, tapi .. hmm,, investasimu jomplang ma hasil..
    Ada tiga pilihan :
    1. Ikut mendiami istana
    2. Sakit karena dicampakkan
    3. Menjadi penonton saja,, kadang penonton itu bisa mempengaruhi hasil,, liat aja Indonesian Idol atau Idola Cilik.

    Tenang, Muz, tenang… Jangan emosi gitu.
    Udah-udah… Turun. Jangan jumpalitan terus ah.

    Lha, gimana nih, kok dari awal disarankan untuk nggak terlibat? Kan sudah terjadi? Kalau tau akhirnya gitu, mungkin milih nggak terlibat kali. Tapi apa bisa…

  • imoe // 18 April 2009 pada 11:23 | Balas

    Jangan takut mawar, akan ada seseoarang yang akan datang mendampingimu dengan cara yang tidak kamu ketahui dan itu indah (cieeee).

    Ntar loe cari aja dia, loe ajak mantan pacarnya rame-rame untuk gebukin Nto…biar tahu rasa…mau enaknya aja tuh orang…

    Eh mas DM : aku lihat kok belakangan komen-komen uni mallow ke tulisan mas agak formal dan kaku ya…., ngerasa gak ya….terlalu serius…hehehehehe

    Biasa… Lagi datang bulan kali. Hihihi (ampun, Hemm… :p )
    Mungkin karena topiknya aja. Di luar itu tetap aja dia cengengesan! Hihihi.

  • suryaden // 18 April 2009 pada 11:38 | Balas

    harumnya merah mawar dendam dan benci itu semoga masih mewangi….

    Semerbak dupa setangi pun kalah wangi dan pamit undur diri…

  • goenoeng // 18 April 2009 pada 12:15 | Balas

    hmmm… pigimana kalo nyang jadi satria piningit itu aku sahaja. daripada daripada, hayo… maksutku, daripada si Nto yang ndak tata, lumayan aku yang sedikit tertata. soalnya, aku juga merasa terdzalimi dengan semaputnya PK, ndak bisa cuap2 di sotbok-nya. mumpung aku belum mengadaken konprensi pers lho. ini serius !

    *siyap2 mau bikin poros tengah di Tlatah Tengah*

    Iyo-iyooo… Sek tho…
    He, aku kan termasuk anggotanya.
    Sudah berapa kader Tlatah Tengah?

  • marsh // 18 April 2009 pada 13:29 | Balas

    @imoe:

    hayah! dipikirin gitu.
    ini kan mengesankan komentar serius pengamat politik, moe.
    siapa tau ada stasiun tv yang berminat, terus aku disuruh ngomong di media. ntar tak bagi tanda tangan deh kalau udah ngetop.

    @DM:

    hapah?! datang bulan?! belum tau aja kamu! berani ngadepin cewek yang sedang PMS? nantangin nih? nekat nyoba? serius? udah siap mental? nggak takut? yakin?

    Huaaaaaa… Yang lagi diomongin datang.
    Eh, bentar-bentar. Tanggal berapa ya ini… Kok udah…
    Ups! Delapan belas. Pantesaaannn…
    Hahaha! *kabur*

  • racheedus // 18 April 2009 pada 18:58 | Balas

    Anto itu mungkin seperti dasamuka dalam cerita pewayangan. Atau seperti Ken Arok dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Penculikan Tim Mawar itu masih lekat kuingat, Mas.

    Kritik politik nan tajam yang berbungkus indah, Mas Dan! Salut.

    Kita memang mesti mengingat preseden itu, Mas. Karena kasusnya belum selesai. Belum selesai sampai hari ini. Itu mengapa aku menuliskan hal tersebut. Dan mungkin akan terus berseru-seru akan hal itu. Terima kasih, Mas Racheedus. Tetap semangat!

  • Chandra // 18 April 2009 pada 21:08 | Balas

    Si Anto pernah ngga naik tingkat??? BENARRRR!!!! Hehehehehehehehehehehehehehehe..aku pun dapet dari sumber yang juga suangat-suangat terpercaya!!! Karena si sumber itu jg seangkatan ma Anto…haha you know lah sapa Mas si sumber itu…hehehe

    Aha!!! Rupanya satu angkatan. Dan ternyata itu memang benar adanya ya, Chand? Aih, senang sekali aku mendapatkan informasi ini. Artinya data kita nyambung. Padahal kita tak penah merencanakan hal ini bukan. Apalagi sumbermu adalah sumber yang suangat-suangat bisa dipercaya. Hehe. Thanx, Chand.

  • imoe // 19 April 2009 pada 11:16 | Balas

    Wah…gilamasa DM tahu jadwaldatang bulannya uni mallow? hahahahaha jangan jangan jangan jangan……hayoooo

    Jangan-jangan apa, Uda Imoe… Hehehe.

  • Jamal eL Ahdi // 21 April 2009 pada 08:20 | Balas

    Pangeran Brengsek
    Iwan Fals, Djody, Jabo & Jockie (Album Kantata Samsara 1998)

    Pangeran brengsek gudel ngepet
    Suka nyopet mati disantet
    Pangeran brengsek gegar otak
    Padahal jelas tak punya otak

    Aku seperti monyet botak
    Monyet botak seperti aku
    Monyet botak seperti gudel
    Gudel ngepet seperti pangeran

    Oh ya
    Ngaku dermawan suka nyopet
    Oh ya
    Ee ee ati ati disantet

    Sudah kubilang jangan protes
    Pangeran brengsek
    Sudah kubilang jangan nyopet
    Pangeran brengsek sek sek sek sek

    Pangeran brengsek suka nggelek
    Pingin jadi caleg tapi gebleg
    Jual tampang dikoran koran
    Ha ha ha pahlawan kesiangan

    Oh ya
    Ngaku dermawan suka nyopet
    Oh ya
    Ee ee ati ati disantet

    Sudah kubilang jangan protes
    Pangeran brengsek
    Sudah kubilang jangan nyopet
    Pangeran brengsek

    Senang bernyanyi kaya Sengkuni
    Senang berkhotbah kaya Dorna
    Ngomongnya ngaco co co co co co
    Sek sek sek sek sek sek sek sek sek
    ——————————————

  • Chandra // 21 April 2009 pada 17:38 | Balas

    Yap, pelanggaran disiplin, 4 hari ninggalin kampus tanpa izin.

  • kartini kampung blagu (3) « surauinyiak // 22 April 2009 pada 11:52 | Balas

    [...] memberikan segalanya, termasuk rahimnya. Akibat hubungan laknat mereka, sudah empat kali mereka menggugurkan kandungan perempuan itu. Setiap kali melakukannya, Supriyanto selalu berjanji akan menikahi perempuan itu. Tapi, janji [...]

Tinggalkan sebuah Komentar