Soliloquy

Forgiven Not Forgotten

14 April 2009 · & Komentar

Pada akhirnya Luskareni memang bisa memaafkan atas segala kesalahan yang telah diperbuat suaminya. Ia tahu itu berat dan tak semua perempuan bisa melakukan hal itu. Tapi ia pun manusia biasa. Yang bisa saja punya salah, tersesat dan hilang arah. Maka ia mencoba memaafkan semuanya. Segalanya yang pernah terjadi.

Luskareni sadar betul, memaafkan tak semata kata-kata yang terkecap di lidah. Juga bukan sekadar hati yang pasrah menyerah. Memaafkan butuh keikhlasan. Dan bicara soal ikhlas, nyatanya tak semua manusia mampu menguasai ilmunya. Karena keikhlasan tak sekadar pikiran, tak sekadar hati, namun juga seluruh jiwa raga yang dipasrahkan untuk satu kata: maaf. Tapi bisakah Luskareni melupakan?

Bagaimana mengungkapkan rasa hati yang sakit ketika mengetahui suaminya berkali-kali tidur dengan perempuan lain? Bagaimana melukiskan perihnya bibir ketika seringkali mesti menerima tamparan dari suaminya ketika pulang malam dalam keadaan mabuk? Bagaimana menggambarkan harga diri yang terinjak ketika suaminya memperlakukan tubuhnya tak lebih sekadar tempat pemuas nafsu belaka? Adakah kosakata untuk mengisahkan itu semua?

Mestikah Luskareni menuntut cerai sementara suaminya selalu bisa mengancam keselamatan anak-anaknya? Beranikah Luskareni melarikan diri sementara sang suami tak pernah memberi belanja nafkah apa-apa? Haruskah Luskareni menghujat suaminya di mana sejak kecil ia diajari untuk selalu mengabdi pada manusia bernama suami?

Ia mencari-cari adakah perih yang melebihi kepedihan dirinya di dunia ini? Ia berkaca pada kisah-kisah keluarga korban keganasan tentara dan massa yang menuduh setiap orang yang tak disukai adalah PKI dan terlibat G30S. Ia membayangkan seorang lelaki yang diculik di tengah malam buta, diseret ke penjara, ditelanjangi, disiksa, disetrum dengan kuku tangan ditindih kaki kursi sementara seorang tentara berdiri di atasnya dan berteriak: “Kamu PKI kan?!!”

Ia membayangkan istri si lelaki diseret pula ke penjara, ditelajangi, disuruh baris berjejer, ditempeleng, dan disuruh mengaku terlibat G30S pada tahun 1965. Ia tercekat ketika mengira-ngira bagaimana riwayat anak-anak mereka ketika tahu orangtuanya yang tak tahu apa-apa disiksa sedemikian rupa sampai mati. Ia nyaris muntah ketika mengetahui para lelaki dipaksa makan tai kuda di Pulau Buru, memakan tikus mentah untuk bertahan hidup, melahap cicak karena butuh protein, serta mengunyah batang pohon pisang sebagai pengganjal perut.

Ia ngeri membayangkan para istri kehilangan jejak suaminya selama bertahun-tahun lamanya. Ia tak bisa menggambarkan duka nestapa anak-anak mereka yang tak tahu apa-apa namun dijadikan bual-bualan di sekolah dan diejek: “Dasar anak PKI!!!” Apa pembelaan mereka? Tak ada seorang pun berani membela. Mereka yang diculik, disiksa, dibunuh, dipenjara, tanpa melalui pengadilan atau sekadar diberi kesempatan untuk mengetahui apa salah mereka.

Tiba-tiba tengkuk Luskareni meremang ketika teringat air mata yang menyeberangi pipi seorang ibu ketika anak-anak mereka tak pernah pulang dari kampus saat mengikuti demo menutut reformasi pada tahun 1998. Apa yang ada di hati seorang ibu ketika tahu anak lelakinya mati tertembak dengan lubang di kepala berisi peluru milik tentara? Bagaimana perasaan seorang ibu seandainya tahu anak-anak mereka diculik, disiksa, dituduh subversif, dan mati entah di mana mayatnya. Bagaimana melukiskan itu semua? Adakah syair, rawian, lukisan, atau tembang yang dapat menterjemahkan kesedihan semacam itu?

Maka Luskareni terhenyak ketika mengetahui istri-istri dari lelaki yang mati dengan tuduhan PKI itu bisa memaafkan itu semua, belajar tersenyum, dan melanjutkan hidup. Luskareni terbata-bata mendapati anak-anak dari lelaki yang tewas sia-sia karena disiksa itu bisa memaafkan pembunuh ayahnya, belajar tersenyum, dan melanjutkan hidup.

Luskareni nyaris tak percaya ketika tahu para ibu yang anaknya hilang tak ketahuan rimba, mati karena disiksa, terbujur kaku tertembus peluru itu bisa memaafkan mereka yang melakukan itu semua. Jenis hati seperti apa yang dimiliki mereka yang bisa memaafkan kekejian seperti itu? Bukankah mereka masih lagi manusia biasa? Luskareni tak habis mengerti.

Nyatanya memaafkan memang bisa dipelajari, diciptakan, dan diikhlaskan. Memaafkan adalah bentuk luhur dari budi manusia. Tapi melupakan? Bagaimana cara melupakan? Adakah sekolah yang mengeluarkan ijazah teknik melupakan? Bukankah melupakan adalah seni tersendiri dalam hidup yang tak semua manusia bisa melakukannya?

Luskareni menyadari, ia memang bisa memaafkan suaminya. Terlebih ketika suaminya bersipuh luruh di kakinya serta memohon ampun dengan berlinang air mata. Perempuan mana yang tak tergetar hatinya. Maaf adalah juga bentuk cinta. Namun melupakan?

Apa boleh buat, meski bisa dipelajari, memaafkan tetap saja terasa berat pada awalnya. Karena orang yang mengalami langsung tahu betul bagaimana rasanya diperlakukan tidak semestinya sebagai manusia. Memaafkan memang bukan persoalan bisa atau tidak bisa. Melainkan mau atau tidak mau. Hanya jiwa-jiwa ikhlas yang mampu melakukannya. Tapi siapa yang bisa menghapus serentetan peristiwa yang maha menyakitkan dari alam pikiran manusia? Semua orang bisa memaafkan kalau ia mau. Tapi tak semua orang bisa melupakan walau ia mau.

Luskareni melihat wajah-wajah yang sulit dilupakan itu kini ada di koran-koran, di televisi, juga di media-media massa. Wajah-wajah itu sedang tersenyum, tertawa, berjabatan tangan, bersulang, berbicara di depan mikrofon, dan dengan bangga berceloteh tentang kebenaran serta mengutuk ketidakadilan.

Luskareni merasa bisa memaafkan, tak belum bisa untuk melupakan…

15 April 2009 | 03.52 wib

all alone, staring on
watching her life go by
when her days are grey
and her nights are black
different shades of mundane
and the one-eyed furry toy that lies upon the bed
has often heard her cry
and heard her whisper out a name long forgiven
but not forgotten

(The Corrs, Forgiven Not Forgotten)

* * *

Catatan:
Tulisan ini pertama kali di-posting di penganyamkata.wordpress.com pada 15 April 2009 pukul 04.22 wib, yang selama ini merupakan blog alternatifku. Karena blog utama, danielmahendra.com, sedang semaput sejak Rabu, 8 April 2009 sore, disebabkan perusahaan penyedia hosting tempat bernaungnya blog tersebut sama sekali tidak menginformasikan tanggal expired domain-nya (7 April 2009). Apa boleh buat, tulisan ini mesti diparkir di sini dulu sampai blog utama siuman.

Kategori: Ekawicara

28 tanggapan so far ↓

  • Ikkyu_san // 14 April 2009 pada 21:32 | Balas

    melupakan? mustahil
    memaafkan? mungkin
    tapi apakah bisa dikatakan memaafkan 100% jika kita masih mengingatnya terus?
    entahlah

    EM

    Itu dia yang kumaksud. Tipis bukan?
    Bagaimana bisa dikatakan memaafkan seratus persen jika kita masih belum lagi bisa melupakannya. Apa lagi …
    Ah, entahlah. Ngeri.

  • DV // 15 April 2009 pada 00:07 | Balas

    Ada gelas yang bisa sempurna lagi setelah retak?
    Ndak ada Mas yang bisa melupakan..

    Btw aku suka kalimatmu sing iki: “Memaafkan memang bukan persoalan bisa atau tidak bisa. Melainkan mau atau tidak mau.”

    Ya, semua orang bisa memaafkan kalau ia mau. Tapi melupakan, belum tentu semua orang bisa meski ia mau. Itulah yang terjadi dengan negeri ini.

  • p u a k // 15 April 2009 pada 01:24 | Balas

    Aduh, aku jadi ikut membayangkan jadi si Luskareni.
    Terlihat menyakiti diri sendiri ketika memaafkan suami, tapi harus bagaimana, inget masa depan anak. Huhuhu… jadinya tetap menerimanya meski hati perih.
    Tapi tentu saja akan membuat daku trauma.. sakitnya pasti masih membekas dan tak terlupakan.

    Jadinya tetap menerima meski hati perih? Tak bisa melupakan jauh lebih perih kukira. Dan betul, itu akan membuat anak negeri ini trauma. Sakitnya jelas masih membekas dan tak terlupakan. Mau kita membiarkan orang seperti suami Luskareni itu tampil?

  • mas melo // 15 April 2009 pada 01:34 | Balas

    dalem tulisannya, goniel.
    kamu pasti sedang kesal melihat beberapa gelintir oportunis di media yang sedang berupaya memenangkan lobi-lobi politik itu, kan?

    walaupun tak bisa disetarakan, namun benang merah dari ketiga kasus ini adalah betapa sulit melupakan walaupun bibir dan hati telah memaafkan.

    untuk luskareni, memaafkan mungkin lebih mudah dibandingkan orang yang kehilangan kekasih karena fitnah seperti di ceritamu, goniel. bagaimana tidak sulit bila kata maaf pun tak pernah terlontar dari mulut para pesakit itu. malah kini mereka balik menghujat ketidakadilan seolah-olah diri tak pernah berlumuran dosa dan tangan tak belepotan darah bangsanya sendiri.

    anyway, who am i to judge?

    Aku bukan saja sedang kesal, tapi marah!! Kalau saja aku punya kekuatan, sudah aku lawan orang-orang itu! Mereka seolah lupa dengan apa yang telah mereka lakukan di zaman dulu. Memaafkan? Oke, memaafkan. Tapi melupakan? Siapa berani melupakan? Bahkan sesama mereka pun tadinya saling berseteru. Hanya karena kini demi kepentingan politik dan kekuasaan, mereka pura-pura melupakan. Memang, tak ada lawan yang abadi dalam politik. Seperti halnya tak ada teman abadi dalam politik.

    Para pesakit itu melontarkan kata maaf? Barangkali mereka pun tak tahu benar apa definisi dari kata maaf. Aku masih menaruh hormat pada pemerintah Jepang yang berani meminta maaf pada negara-negara yang sempat mereka jajah saat Perang Dunia 2 karena menyebabkan perang dan ribuan perempuan terpaksa menjadi Jugun Ianfu. Sederet kata maaf yang dikeluarkan secara resmi atas nama negara, adalah bentuk keberanian pemerintah Jepang.

    Apakah ada yang membiarkan orang seperti suami Luskareni tampil di mana tangannya berlumuran darah pembantaian atas bangsanya sendiri? Kecuali orang tersebut sama-sama pesakitannya…

  • vizon // 15 April 2009 pada 02:21 | Balas

    kata orang bijak:
    “hati bagaikan kaca, bila pecah takkan bisa disatukan lagi dg sempurna”

    hati yg telah terkoyak akan dapat dilengketkan lagi dg maaf, tapi dia takkan pernah sempurna, karena takkan pernah bisa terlupakan…

    tapi, aku sudah maafkan kok Dan… jangan khawatir, gak ada yg salah pada dirimu… cuma, aku kok lupa ya, kamu itu siapa? huahaha…. :)

    Aku suka dengan analogi kaca yang pecah itu, Da. Sedikit banyak mewakili. Mungkin memang bisa disatukan, namun betul, takkan sempurna lagi. Bagaikan cermin, barangkali masih lagi bisa dipakai untuk berkaca, namun sudah tak utuh lagi bentuk wajahnya.

    Tapi ngomong-ngomong, Uda Vizon ini yang mana sih orangnya? ;)

  • Ikkyu_san // 15 April 2009 pada 02:39 | Balas

    hei Danny,

    aku membuat riset kecil
    dalam kitab suciku (online) aku cari lema “maafkan”… ada banyak
    tapi memang tidak ada kata “lupakan”.

    Nah ada satu kata penting yang hadir di sini, yaitu “DENDAM”.

    Semoga tak ada dendam di hatiku…..

    EM

    Ya, barangkali melupakan adalah kata kerja yang cukup sulit untuk dilakukan oleh manusia. Mungkin saja hati kita bisa memaafkan secara terbuka, tapi bagaimana menghilangkan rasa sakit dari alam pikiran tanpa disertai sejumput dendam.

    Sttt… ngomong-ngomong, di antara yang bakal tampil ada yang orientasinya bukan saja kekuasaan. Karena kalau soal materi, nyaris tak ada yang tak bisa ia beli di negeri ini. Tapi satu hal: dendam masa lalu! Duh… Bakal mengerikan.

    (Eh, aku ini hanya ngomong ke Mbal Imel lho ya).

  • yessymuchtar // 15 April 2009 pada 04:14 | Balas

    Ffuuiichhh….

    tulisan ini dalem nya berapa meter ya Dan???

    Menurut ku Luskareni ini mewakili banyak perempuan perempuan lain yang tersakiti dan tidak bahagia dalam hidupnya.
    Tidak melulu dalam pernikahan. Ada pekerjaan, ada status sosial, dimana peritiwa menyakitkan bisa saja terjadi.

    Memafkan itu memang bukan perkara bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau…
    aku setuju!

    Tapi melupakan???

    EDAN!

    gue aja masih inget pertama kali elo berani nyela nyela gue on line! heh!

    apa???

    Tapi tenang ..tenang….udah gue maapin kok.

    Aku tak pernah mengukur sampai seberapa dalam, Yess.

    Ya, kamu betul, Luskareni bahkan bisa jadi bukan semata sosok manusia. Ia bisa saja sebongkah rasa. Atau sebentuk hati.

  • Mal Jamal // 15 April 2009 pada 05:13 | Balas

    Dut badut badut badut badut badut badut
    Jaman sekarang
    Mong omong omong omong omong omong omong omong
    Sembarang

    Ditelevisi
    Dikoran koran
    Didalam radio
    Diatas mimbar

    Para pengaku intelek
    Tingkah polahnya lebihi badut
    Kaum pencuri tikus
    Politikus palsu saingi badut
    (badut ;iwan fals & jabo)
    Saat ini cuma nukil lagu itu …

    Walau sekadar menukil lagu, namun rasanya lagu itu sungguh menggambarkan apa yang hendak kusampaikan, Kawan. Thanx.

  • ekaria27 // 15 April 2009 pada 05:18 | Balas

    Memaafkan adalah itikad.
    Melupakan adalah tindakan. :)

    Hei, aku suka sekali ini. Memaafkan adalah itikad. Melupakan adalah tindakan.
    Ah ya. Aku rasa kamu betul, Ka.

  • racheedus // 15 April 2009 pada 05:46 | Balas

    Saya jadi teringat teman perempuan yang berkali-kali dikhianati istrinya. Berkali-kali minta maaf, berkali-kali dimaafkan, berkali-kali sang suami mengulangi kebejatannya. Kapan lingkaran setan itu berakhir? Ah, maaf memang berat.

    Soal Rossa, Mas? Eh, Ina. Ah ya. Aku ingat cerita itu.
    Dan melupakan jauh lebih berat kukira.
    Apakah kita mesti diam saja membiarkan itu terjadi?
    Kurasa tidak.

  • Muzda // 15 April 2009 pada 09:59 | Balas

    “Forgiven, not forgotten ..”
    Ah, itu senjataku kalo si [mantan] pacar macam-macam…

    Tapi masalah melupakan kejahatan setragis itu, di mana yang direnggut adalah kehidupan dari orang yang dicintai..
    Rasanya tak sampai ke otakku..
    Berarti mungkin mereka punya hati dengan keikhlasan tingkat tinggi.
    Atau mungkin karena mereka sadar, siapalah mereka,, dibandingkan dengan si pembuat ulah.
    Sekeras-kerasnya bicara, tetap jua tak terdengar.
    Apalagi menangis, cuma memperpendek umur.
    Jadi mungkin punya pikiran sederhana seperti mereka justru lebih menyehatkan…

    Oalah… mantanmu itu suka macam-macam tho, Muz? Sebetulnya mantan apa sih dia? Mantap preman ya? Hihihi. (eh, Mantan Kyai gimana kabarnya ya… Belum kemari dia).

    Ah ya. Yang terjadi memang seperti itu. Mau melawan kekuasan yang represif? Kepingin jadi bubur apa? Kebanyakan memang lebih memilih diam. Diam-diam memaafkan. Diam-diam mendendam. Diam-diam menyusun kekuatan. Akhirnya tumbang juga toh tiraninya? Tinggal sisa-sisanya saja dari yang tumbang itu masih berkeliaran. Bermetamorfosis jadi orang baik-baik, pembela rakyat, pura-pura berdiri di belakang rakyat, dan merasa merangkul kepentingan rakyat. Cuih!

  • imoe // 15 April 2009 pada 10:52 | Balas

    MELUPAKAN tidak akan pernah ada dalam hidup ini. Sekali luka hati tergores, maka sampai kapanpun itu akan berbekas. Tidak ada obat untuk menyembuhkannya. Tapi memang benar, IKHLAS adalah satu kunci yang mampu mengurangi luka hati tersebut.

    Makanya banyak orang bijak bilang, mencari KUNCI IKHLAS itu sangat sulit.

    Postingan MAs mengingatkan aku dengan orang-orang kampungku yang dulu dianggap pemberontak PRRI oleh rejim orde baru, banyak yang kehilangan, padahal mereka dahulu hanya menuntut keadilan….mereka PRRI tidak pernah terbersit untuk keluar dari REPUBLIK ini, tapi mereka terlanjur di cap pemberontak.

    Nah, jika hari ini kita ke kampung-kampung di Sumatera Barat, para tetua selalu menceritakan itu. Bagaimana dulu ‘tentara pusat (begitu istilah mereka’ membumi hanguskan desa-desa mencari ‘pemberontak’ (katanya begitu) dan kesedihan paling berat bagi mereka dan tak terlupakan itu manakala rumah gadang (rumah adat minangkabau) yang menjadi simbol kebagaan masyarakat minang di bumihanguskan. Padahal riak dinamika demokrasi masyarakat justru lahir dari rumah gadang tersebut. Hingga kini mereka sulit melupakan, tapi mampu MENGIKHLASKAN DAN MEMAAFKAN

    Hihihihiih akok aku sedih memposting komen ini ya…..

    NB :

    BTW, aku tidak hanya suka tampilan yang lama, tapi yang terpenting, blog yang lama tuh aku bisa ngobrak abrik tulisan tulisan mas DM yang lama-lama, jadi ada bahan bacaannya. KAlo gak pindahin arsipnya ke blog yang baru ini…OK.

    GAJAH, CUMI-CUMI, BADAK, LUMBA-lUMBA hahahah PUASSSSSSSSSSSSs

    Kalau dikumpulkan, ada begitu banyak kejahatan manusia yang terjadi selama rentang waktu kekuasaan tersebut berlangsung. Tak terkira banyaknya. Apa boleh buat, justru itulah yang menjadi fondasi dari kekuasaan tersebut berdiri. Mengibakan.

    Jangan lupa, sejarah nyaris selalu ditulis oleh pihak yang menang. Dalam pandangan rakyat Sumatra Tengah (nama provinsi saat itu), PRRI memang merupakan sebuah gerakan koreksi dari daerah akibat ketimpangan pembangunan antara pusat (Jakarta) dengan daerah-daerah lain. Sementara dari sisi pemerintah pusat, pergolakan daerah seperti itu dianggap pemberontakan.

    Tak terbayangkan, pemukulan habis Pusat terhadap PRRI dengan mengerahkan pasukan darat, laut dan udara ke Sumatra Tengah adalah sebuah pengerahan pasukan militer terbesar yang pernah tercatat di Indonesia. Akibat yang tak terelakan praktis tidak hanya fisik, tapi juga psikologis.

    Namun, usaha untuk meluruskan ‘Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia’ pun tak kalah getolnya. Sejarah tidak bersifat statis bukan? Tetap ada yang layak diperjuangkan. Karena satu hal: kita tak pernah bisa melupakan!

  • radesya // 15 April 2009 pada 15:20 | Balas

    Belajarlah memaafkan, meskipun itu sangat sulit.
    Mungkin kalau aku diposisi seperti yang kakak ceritakan, aku juga akan sulit untuk memaafkan, tapi akan berusaha untuk memaafkan..

    Sekolah teknik melupakan? Kita bentuk yuk..! Tapi mesti kasih virus amnesia dulu deh :D

    kak Mas Melo.., ada virus amnesia nggak? :D

    jadi ingat pak Pram kak, apa beliau diperlakukan seperti itu juga kak? Hiks..

    Aku mengutip kata-kata Eka ya, Ra; berusaha memaafkan adalah itikad. Dan itu bisa diusahakan. Namun berusaha melupakan adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Karena di dalamnya mensyaratkan tindakan-tindakan yang tak gampang.

    Mesti dikasih virus amnesia dulu? Yeee… Dasar meong kecil!

    Pramoedya? Diperlakukan seperti itu? Lebih dari itu!

  • Mal // 16 April 2009 pada 01:00 | Balas

    semoga aku tidak dikatakan : Dasar Anak Masyumi hehehehhehe.
    Mas ini tulisan kalau jaman orba mesti di tutup blog e sampeyan kaya pramoedya hehehehhehe.

    Hehehe. Ya nggak pa-pa. Kerjaku ini ya berseru-seru saja. Di mana pun. Kapan pun. Dengan atau tanpa blog. Biar kita nggak lupa dan terlupakan. Bukankah kenyataan harus dikabarkan, eh?

  • mas melo // 16 April 2009 pada 02:36 | Balas

    @imoe:
    membaca komentar imoe aku jadi ikutan sedih, karena ingat kisah yang sering disampaikan alm. ayahku bagaimana masa kecilnya dihabiskan di hutan pegunungan bukit barisan demi menghindari kejaran tentara. dan betapa bila mereka kembali ke rumah masing-masing, banyak sekali tembakan-tembakan ke arah rumah-rumah penduduk yang seringkali membunuh orang-orang tak berdosa di dalam rumah, termasuk anak-anak. waktu itu tentu saja ayahku masih di dalam gendongan dan mendapat cerita seram itu secara turun-temurun juga.

    bahkan mendengar ceritanya dari tangan kedua seperti itu pun sering membuatku sedih sekaligus sakit hati. dan siapa yang mereka tuduh subversif waktu itu? benar bahwa PRRI tidak pernah bermaksud keluar dari NKRI. tetapi sejarah memang diputarbalikkan sehingga mereka jadi pesakitan di sini dan memang pantas untuk dibantai, oleh bangsanya sendiri!

    siapa yang mampu melupakan trauma berat semacam itu? allahu a’lam.

    @radesya:
    katanya sudah ditemukan obat yang bisa mengurangi trauma. tapi untuk melupakan? nggak tau deh.
    jadi ingat penggalan di “my sister’s keeper”, kira-kira menyebutkan: seandainya ada undang-undang yang mengatur berapa lama orang harus bersedih, apakah seminggu atau sebulan, maka kesedihan dan rasa kehilangan itu bisa dibatasi. sehingga pada minggu atau bulan kedua kita sudah kembali ke keadaan semula sebelum trauma, atau kita jadi menyalahi peraturan. hehe… tapi itu kan hanya angan-angan penulisnya saja.

    @leinad ardneham:
    pagi…

    Dan putri Ayah yang sulung itu, akan menurunkan cerita apa pada anak-anaknya kelak? *Uhuk! Uhuk!*
    (“Ketika muda dulu, Ibu banyak menghabiskan waktu untuk nge-blog, Nak…”).
    Hihihi.

    Kalau penguasa Orde Baru membaca My Sister’s Keeper, rasanya konsep seperti itu bakal dijadikan RUU. Eh, salah! Orde Baru kok pake rancangan segala. Langsung dijadikan Undang-undang kayaknya. Tapi untunglah, penguasa Orde Baru jarang ada yang suka membaca buku. Hehe.

    Pagi, Ammeh Ifluy.

  • ILYAS ASIA // 16 April 2009 pada 02:39 | Balas

    more complex telling about human story
    but,
    still hope
    to be better

    salam marketing

    Ya, katanya hanya harapan yang mampu membuat orang bertahan dan melanjutkan hidup.
    Salam…

  • goenoeng // 16 April 2009 pada 03:09 | Balas

    sebenarnya Penganyam Kata atau Penganyam Sepi ta ? weh, mbingungi kiye…

    Kalau di dot com, Penganyam Kata, kalau di wordpress, ya Penganyam Sepi. Ya apa boleh buat, isinya tak lebih soal kesenduan mulu.

  • goenoeng // 16 April 2009 pada 03:15 | Balas

    ya wis, tak maafkan, mungkin gara2 PK ngadat dirimu menjadi lupa… bahwa yang tersandang selama ini Penganyam Kata, bukan Penganyam Sepi. :D

    Bisa jadi justru penganyam pipi, Dab. Mau ta’ contreng po piye?

  • goenoeng // 16 April 2009 pada 03:23 | Balas

    hetrik ah…

    banyaknya kejadian yang menyakitkan, yang menggores hati, kadang malah bisa membuat seseorang menjadi seorang yang pemaaf, kawan. kalau itu bisa disebut memafkan. ya, dengan gampangnya dia memaafkan dan memaklumi segala yang pernah menyakitinya. itu bisa diukur dengan bagaimana rasa hatinya saat mengingat hal2 itu. tawar, hambar… itu yang menjadi tolok ukur maaf. tak ada sakit lagi. tapi, untuk melupakan, itu memang sesuatu yang berbeda.
    tapi, kawanku yang baik. pada saat memaafkan dan melupakan ini bersinggungan. ada muncul satu kata lagi di persilangan itu. yaitu, dendam. entah dia berada dimana posisinya. pada saat memaafkan tapi tak melupakan, bukankah disana ada dendam ? hmmm… mari kita tanya kepada rumput yang bergoyang…

    Betul, Dab. Biasanya orang yang banyak ditempa persoalan atau musibah, ia kerap menjadi lebih dewasa dalam berpikir serta lebih tangguh dalam menghadapi hidup. Karena padanya ada pengalaman yang tak semua orang mengalami.

  • vizon // 16 April 2009 pada 04:27 | Balas

    @imoe & marshmallow:
    saya juga punya cerita tentang prri dari ibu mertua…
    rumah gadang mereka dibakar, tak tersisa sedikitpun. gara2 ayah beliau dianggap sebagai tokoh pergerakan… kejadian itu menyisakan trauma yg luar biasa. ibu mertua saya memang bisa memaafkan kejadian itu, tapi apakah beliau bisa melupakannya? tidak!

    Kalau diceritakan, barangkali ada segi menarik yang bisa dipetik hikmahnya, Da.

  • achmad sholeh // 16 April 2009 pada 08:16 | Balas

    Kenangan memang tidak bisa dilupakan selamanya baik itu manis maupun pahit meskipun kita telah bisa memaafkannya

    Ya, betul Mas. Memaafkan dan melupakan tetaplah sebuah kata. Namun ada jarak masa di antara keduanya yang memberikan makna yang jauh berbeda.

  • Ria // 16 April 2009 pada 09:58 | Balas

    Memaafkan dari hati mungkin akan lebih mudah ketimbang Melupakan karena dia asalnya dari kepala, otak dan pikiran…

    Banyak banget perempuan2 disana yang mengalami nasi seperti Luskareni Mas…dan aku hanya bisa mengurut dada menyaksikan ketidak adilan bagi kaumu ini…atas nama cinta da kehormatan keluarga pastinya…

    Ini satu pemilhan yang menarik, Ri. Bahwa memaafkan letaknya di hati. Sementara melupakan letaknya di kepala, otak, dan pikiran. Hei, dengan pembagian seperti ini mestinya kita bisa mengendalikan mind set kita. Great. Thanx, Ri.

  • edratna // 16 April 2009 pada 22:03 | Balas

    Memaafkan terkadang memang harus dilupakan demi tujuan yang lebih luas dan lebih baik, namun ibarat gelas retak, rasa sakit itu tetap ada….yang mungkin nantinya jadi jaringan parut, walau membekas tapi tak terasa sakit lagi setelah berlalunya waktu sekian tahun

    Walau telah melewati waktu sekian tahun, tetap membekas dan bersemayam ya, Bu…

  • radesya // 16 April 2009 pada 22:57 | Balas

    Big miaaaauuuuwwwwww…..
    Met pagi…

    tuk! tuk!

    @Mas melo
    tapi sayangnya kesedihan dan trauma itu lama sekali hilangnya kak, aku mengalaminya sendiri. Aku trauma sama petir. Saat aku dengar suara petir pasti aku ketakutan banget, karena dalam bayanganku aku liat papaku yang berdarah-darah gitu. Nggak tau gimana caranya menghilangkan trauma itu. Padahal kejadian itu saat aku 6 tahun, sekarang dah 17, jadi dah 11 tahun yang lalu
    tapi belom bisa melupakan.
    Some one help me please.. :(

    Ih, si Meong Kecil! Nggak bisa ya mbangunin pagi lebih lembut lagi? Dasar.

    Hmmm… Untuk pertanyaanmu yang jawab Mas Melo aja ya. Kan memang Radesya tujukan ke dia.

  • imoe // 18 April 2009 pada 11:14 | Balas

    @ uni mallow, uda vizon :

    Aku yang tidak pernah mengalmi masa-masa itu dan hanya bisa mendengar ceritanya saja, tak mampu melupakan…apalagi orang yang mengalaminya sendiri…tapi kita tidak boleh DENDAM.

  • goenoeng // 18 April 2009 pada 12:28 | Balas

    @imoe
    memang ‘tidak boleh ada dendam’ itu seperti ajaran-baik-baku yang tidak tertulis buat umat manusia.
    tapi… sangatlah susah untuk melupakannya, apalagi bila kita mengalami langsung dan merasakan efeknya. salut buat orang2 yang berjiwa besar.

  • mas melo // 18 April 2009 pada 13:50 | Balas

    @imoe & goenoeng:
    yupe, it’s easy said than done, isn’t it?

    @radesya:
    sedih banget pastinya, ra. i’m sorry to hear that. tapi ada yang bilang kalau ketakutan itu sebaiknya dihadapi, bukan dihindari.
    kalau mengikuti saran itu, berarti setiap ada petir, kamu musti datengin dan deketin dong? mudah-mudahan setelah itu kamu nggak takut lagi.

    duh, sarannya kok malah jadi nggak masuk akal gini ya? wew! ampun, ra… nggak bermaksud mengolok-olok kok.

    ada juga sih metode hipnotis. tapi terkadang, orang juga takut menghilangkan memori tentang kesedihan itu, takut tak bisa mengenang lagi kejadian yang berharga itu betapa pun menyakitkan.

    jadi benar juga bahwa melupakan adalah seni sebuah kemauan.

  • kartini kampung blagu (3) « surauinyiak // 22 April 2009 pada 11:52 | Balas

    [...] sudah memaafkannya, tapi tidak bisa melupakan sakit yang ditorehnya… Terakhir saya dengar dia lagi mencari calon [...]

Tinggalkan sebuah Komentar