Di sebuah negeri ada seorang pemuda yang diusung menjadi calon presiden dari partainya. Ia memang masih muda. Umurnya baru 40 tahun. Namun pengalamannya di bidang politik patut juga diperhitungkan. Jiwa muda, karakter, wawasan, serta sikap dirinya mencerminkan perubahan akan negeri yang lebih baik lagi. Tak pelak, partainya memanggul dirinya untuk maju sebagai capres.
Partainya sendiri bukan partai lawas di negeri itu. Pada pemilihan umum lima tahun lalu, partai itu baru saja ikut meramaikan peta perpolitikan di negeri yang belum seratus tahun merdeka. Meski tak menang, namun partai kecil nan sederhana itu mencelat masuk ke dalam 10 partai besar hasil pemilu. Sudah barang tentu suaranya menempatkan beberapa politisinya untuk duduk di kursi legislatif. Sukimin adalah salah satunya.
Sukimin muda, tampan untuk ukuran pria, dengan kumis tipis menawan. Kulitnya khas manusia belahan bumi timur. Perawakannya sedang, dengan resam tubuh yang enak dipandang. Tanpa pernah bermaksud menarik perhatian, bila Sukimin berjalan, orang selalu melirik asyik memandangnya. Entahlah, aura apa yang dimiliki Sukimin ini. Ia mungkin memang pantas dijadikan idola.
Latar belakang pendidikan Sukimin tak muluk-muluk amat. Tapi ia memegang gelar master Ilmu Komunikasi dari Unpad (Universitas Pandyangan). Ia memiliki sebuah tempat pencucian motor, sebuah warnet, dan sebuah kios buku murah di pasar loak di kotanya. Ia memiliki sebuah rumah yang tak pernah ia tempati, karena ibunya yang seorang diri masih memintanya tinggal bersama. Sebuah mobil Kijang tua dan laptop bekas selalu menemaninya. Sehari-hari waktunya ia habiskan untuk partai semata.
Setelah menjadi anggota legislatif di ibukota, kehidupan Sukimin pada dasarnya tak jauh berbeda. Meski sebagai anggota legislatif ia mendapatkan fasilitas rumah, mobil dinas, alat komunikasi terbaru, laptop kinclong, gaji sekian puluh juta, serta tiket pesawat ke berbagai daerah, Sukimin masih gemar nongkrong di warung kopi sembari bincang-bincang soal kehidupan kawula negeri. Hidup Sukimin memang bersahaja.
Setelah bertahun-tahun hidup sebagai anggota legislatif, partainya secara aklamasi mengusung dirinya sebagai capres untuk pemilihan umum presiden mendatang. Apalagi kini partainya mulai banyak diminati kawula negeri. Sementara partai-partai lain yang memiliki visi serupa serta sikap politik yang yang tak jauh berbeda pun mulai melirik Sukimin sebagai penerus kepemimpinan bangsa. Rasa-rasanya nama Sukimin makin santer saja didengungkan.
Apa mau dikata, Sukimin mesti menjawab tantangan yang sudah tergelar di depan mata. Meski menjadi presiden tak pernah mampir sebagai cita-citanya, namun sebagai angkatan muda, ia memang dituntut untuk berani, bersikap, serta menjawab tantangan zaman. Akhirnya ia mengiyakan pencalonan dirinya. Amunisi menjadi seorang presiden nyaris ada pada dirinya yang gemar menyeruput teh manis di pagi hari itu. Kecuali satu hal: ia belum lagi beristri!
Ya, Sukimin memang belum beristri. Entah mengapa, tak seorang pun tahu. Padahal, di usianya yang kepala empat, barangkali adalah pantas jika sedikitnya ia memiliki anak dua. Dan ibunya yang seorang itu tak habis-habisnya berpikir; mengapa Sukimin tak menikah jua. Bukan apa-apa. Sukimin bukan tak suka wanita. Deretan panjang mantan pacarnya pun tak terkira jumlahnya. Bahkan beberapa nyaris membawa Sukimin ke jenjang pernikahan. Namun ada saja kendalanya. Hingga kini Sukimin masih kerasan sendiri saja.
Kadang teman-temannya kerap menetaknya dengan kalimat menohok: “Kamu itu apa susahnya sih?! Tinggal pilih salah seorang dari perempuan-perempuan itu kan beres! Nikah kok ditunda-tunda!” begitu teman-temannya selalu berkata.
“Kamu itu apa nggak menyadari sih, Min, begitu banyak laki-laki yang jangankan untuk nikah, untuk punya pacar aja susahnya setengah mati. Eh, lha kok kamu yang diberi karunia sama Gusti Allah begitu mudah, malah menggampangkan nikah.” tukas teman yang lain.
Maka bukan Sukimin kalau tak bisa berargumen secara logika: “Yang menggampangkan nikah itu ya siapa? Kamu pikir memilih salah seorang dari sekian banyak perempuan itu mudah? Kamu pikir gampang apa? Asal tau aja ya, itu sama sulitnya dengan lelaki yang susah dapat pacar. Maka nggak heran kalau sekali mereka kenal, langsung diajak nikah. Wong dapat pacar aja susah, jadi sekali ketemu ya langsung tembak. Sama saja dengan aku. Memilih itu sama sulitnya. Orang kok senengnya melihat dari sisi dirinya sendiri. Mbok lihat dari sisi orang lain juga… Ada apa… Apa alasannya… Begitu…” terang Sukimin panjang lebar.
“Ah, kamu itu memang sulit kalo diajak ngomong soal nikah. Terserah kamu wis.” sungut teman-temannya. Dan Sukimin hanya tertawa.
Memang, di mata orang lain ada kesan Sukimin menggampangkan pernikahan. Namanya juga kesan, dan namanya juga manusia, selalu hobi membuat kesan-kesan. Namun kali ini Sukimin seperti mati kutu. Seperti seorang perwira polisi yang hendak naik pangkat: ia dituntut punya istri. Suka atau tidak suka. Ini bukan lagi soal politik atau negara. Tapi lebih pada soal kestabilan emosi seorang laki-laki, dan kesan seorang calon presiden (nah kan, lagi-lagi kesan kan?). Apa jadinya seorang presiden kok bujangan?
Kalau ia seorang pangeran dari sebuah kerajaan ternama sih tak apa. Lagi pula, Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis yang pacaran dengan Carla Bruni, seorang model terkenal nan cantik rupawan itu, toh tak lajang-lajang amat. Ia seorang duda. Dan film The American President, di mana Michael Douglas yang presiden itu jatuh cinta pada Annete Bening yang bekerja untuk kampanyenya, juga seorang duda. Tapi Sukimin? Siapa Sukimin? Menikah saja belum.
Maka keputusan partai tak bisa ditawar-tawar lagi: secepatnya Sukimin mesti menentukan bakal calon ibu negara. Bayangkan!
Ini bukan persoalan mudah bagi Sukimin. Di satu sisi ia mesti mulai sibuk dengan pencitraan dirinya, kampanye ke daerah-daerah, lobi-lobi politik, serta konsolidasi-konsolidasi partai. Di sisi lain: ia mesti mencari pendamping hidup. Duh, betapa semrawut pikirannya.
Ia mulai mereka-reka siapa yang sekiranya pantas mendampingi dirinya sebagai istri. Soalnya adalah: ia calon presiden. Ini membuatnya pusing tujuh putaran. Kalau seandainya ia dipaksa menikah oleh ibunya, mungkin Sukimin masih bisa bertoleran. Namanya juga orangtua. Tapi ini? Partai yang meminta! Dengan alasan yang sungguh masuk di akal: calon ibu negara! Biyuh!
Akhirnya partai menetapkan metode: segera diumumkan bursa istri calon presiden!
Sukimin terhenyak dan terbelalak: “Harus sampai sebegitunya kah?!” tanyanya pada manajer kampanyenya.
“Iya, Mas. Kau mesti punya istri. Ini bukan soal kesan lagi. Ini soal kestabilan emosi seorang lelaki dengan kapasitas orang nomor satu di negeri ini. Yang bakal kau atur itu negara, Mas, bukan lagi RT.” jawab manajer kampanyenya serius.
Tambah pusing lah Sukimin.
Sukimin bukan tak punya teman dekat perempuan. Bahkan dengan beberapa ia kerap melakukan kencan kecil-kecilan seperti sekadar makan di kafe-kafe tertutup sembari menyeruput kopi. Maka ketika bursa calon istri presiden itu hendak digulirkan, ia mencoba menceritakan hal tersebut pada beberapa teman dekat perempuannya.
“Aku nggak mau ikut sayembara-sayembara tai kucing semacam itu.” tukas Lasem cemberut. Lasem seorang pengacara perempuan yang punya karir cukup mapan. “Kenapa nggak kau pilih saja aku sebagai calon istrimu? Hubungan kita selama ini toh cukup punya alasan.”
“Tapi Sem,”
“Ah, nggak ada tapi. Aku nggak sudi bersaing dengan perempuan-perempuan yang nggak jelas asal-usulnya jika sayembara itu jadi digulirkan.”
“Tapi ini bakal jadi nggak fair, Sem…”
“Apanya yang nggak fair? Kau cukup meminangku. Habis perkara. Aku bisa menggerakkan organisasi advokat seluruh negeri untuk mendukungmu saat pemilihan presiden nanti.”
Duh, Sukimin makin pusing tujuh setengah keliling. Bukan apa-apa, kalau ia sampai memilih Lasem yang ia akui cantik jelita itu sebagai ibu negara, pasti kerjanya hanya belanja. Entah itu ke Singapore, Paris, London, ah, bagaimana kondisi negara nanti, pikirnya pusing. Lagi pula Lasem pasti tak mau tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota. Kalau tak memilih di istana negara, ia pasti lebih memilih tinggal di apartemen mewah dekat bandara. Alasannya jelas: agar mudah kalau mau pergi-pergi belanja ke luar negeri. Ah, apa kata media nanti…
Di lain pihak, Sukimin pun punya teman dekat perempuan lain yang ia nilai cukup sederhana dan bersahaja. Ia seorang dokter, juga seorang dosen di sebuah universitas ternama. Cantik, pintar, juga teman yang menyenangkan untuk berbagi banyak hal. Sebetulnya Sukimin betul-betul jatuh hati padanya. Bahkan ia yakin, jika ia maju sebagai calon presiden dan memilih Lastri sebagai calon istri, pasti seluruh jajaran IDI (Ikatan Dokter Independen) akan mendukungnya. Namun sayang, Lastri tak suka jika Sukimin terus berkarir di politik. Lastri sendiri lebih suka tenggelam dan menghabiskan waktu dalam urusan penelitian kedokteran. Lastri hanya mengharapkan Sukimin tak terlalu muluk-muluk dengan ambisi politiknya. Lastri memang tak suka politik. Apalagi Sukimin berpolitik. Ini makin membuat Sukimin bingung delapan keliling.
Apa mau dikata, partai telah menggariskan kebijakan: bursa calon istri presiden mesti digelar. Bagi sesiapa perempuan yang berminat boleh mengajukan diri dengan mengisi formulir pendaftaran. Bisa diambil langsung di DPP, DPW, DPC partai, maupun mendaftar secara online melalui internet. Sukimin pasrah atas keputusan tersebut.
Seperti gelombang air bah. Bak sayembara-sayembara zaman kerjaan ketika pangeran mencari seorang putri untuk dinikahi, ribuan formulir masuk ke kantung pendaftaran partai. Perempuan dari berbagai pelosok negeri. Dengan macam-macam latar belakang pendidikan, profesi, gaya rambut, model bibir, tipe hidung, sampai tingkat usia yang tak kira-kira macamnya. Ada yang seksi, ada yang dengan sengaja mempertontonkan daya tarik tubuh, ada yang mengirimi foto dengan bibir dimonyong-monyongkan, sampai foto dengan lidah dimelet-meletkan memaksa lucu, semua ada. Sukimin? Tambah kewalahan.
Maka dalam bulan-bulan ini, partai tak hanya sibuk dengan kampanye Sukimin sebagai calon presiden. Namun partai juga sibuk kebanjiran formulir pendaftaran calon istri presiden dari berbagai perempuan di pelosok negeri. Semua mengharapkan dapat bersanding dengan Sukimin sebagai ibu negara kelak. Tak jarang dalam formulir pendataran itu dibubuhi cap lipstick bibir dengan tulisan: I love you, Sukimin!
Seluruh organ partai dikerahkan. Dari tingkat ranting, cabang, wilayah, sampai pusat, semua sibuk menghadapi hajat besar ini. Sukimin harus segera menikah! Partai tak boleh menanggung resiko jika menyodorkan calon presiden yang masih lagi bujangan. Ini akan memengaruhi sentimen psikologi masyarakat negeri tersebut yang memang doyan bergunjing. Dan itu akan memengaruhi pendapatan suara kelak.
Nah, waktu pemilihan umum presiden pun makin dekat. Dalam tingkat kesibukan yang luar biasa tinggi, Sukimin mesti cepat menentukan satu dari sekian ribu formulir yang masuk. Bisa dibayangkan, betapa pusingnya Sukimin. Ini bukan lagi soal hati urusannya, tapi soal perempuan yang kelak bakal jadi ibu negara. Menjadi perempuan nomor satu di negeri ini. Mau tidak mau, cara bicaranya, sikapnya, pengetahuannya, letak sanggulnya, cara berpakaiannya bakal jadi sorotan media dan kawula perempuan lain di negeri ini. Bagaimana menggabungkan kedua hal tersebut, batin Sukimin ricuh.
Akhirnya tibalah waktu pemilihan umum presiden. Karena Sukimin belum juga menetapkan calon istri, partai membuat konferensi pers bahwa sebentar lagi Sukimin akan melangsungkan pernikahan. Calon sudah di tangan dan akan diumumkan sesegera mungkin. Apa boleh buat, waktu berjalan seperti kilat.
Dari sisa sepuluh nama yang telah disaring, Sukimin mesti menentukan satu untuk dipilih. Pilihan ini tidak saja mengikuti selera Sukimin. Campur tangan partai memang tak bisa dihindari. Maklum, lagi-lagi ini soal kesan. Nah, yang mana yang satu itu, boleh lah Sukimin memainkan seleranya.
Maka sepuluh nama itu diumumkan di sepuluh media nasional. Yang namanya sayembara, tentu ada yang kecewa, patah hati, mencibir, pasrah, dan merasa diabaikan. Sementara sisanya berharap dengan hati berbunga-bunga, deg-degan, dan membayangkan kelak bakal naik mobil limousine hitam sebagai ibu negara dari sebuah negeri yang memiliki presiden muda usia.
Ketika pemilihan umum presiden secara langsng usai, beberapa lembaga penyelenggara survei negeri langsung menggelar Quick Count. Dari sekian calon presiden yang didukung oleh berbagai partai, bermunculan lah angka-angka yang saling berkejar-kejaran.
Terlepas ini vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) atau bukan, hasil pemilihan umum presiden tersebut sama sekali tidak memenangkan Sukimin sebaga presiden! Bahkan Sukimin berada di urutan paling bawah di antara calon-calon presiden yang lain.
Sukimin terhenyak! Matanya terbelalak! Ia yang merasa begitu diusung-usung oleh partai, jadi buah bibir dan pembicaraan di mana-mana, serta sudah mengeluarkan belanja iklan milyaran sebagai calon presiden muda, malah sama sekali tak diminati rakyat. Rakyat lebih memilih calon presiden dengan kematangan usia, kemapanan pandangan politik, visi negara yang jelas, serta sehat dalam kehidupan pribadi atau keluarga. Rakyat sudah menentukan!
Partai Sukimin ricuh, sebagian elite partai terbersit untuk mencari-cari adanya kemungkinan terjadinya pelanggaran pemilu. Mereka mulai kasak-kusuk dengan partai lain yang calon presidennya kalah. Sebagian malah sudah menjadwalkan bertemunya para pemimpin partai. Sukimin sendiri masih melongo di depan layar televisi.
Betapa besar ongkos yang mesti ia tanggung berupa malu tiada tara. Sudah tak jadi presiden, menggelar sayembara menjaring calon istri, tak bakal lagi duduk di kursi legislatif pula, tamatlah riwayatku, pikir Sukimin nelangsa. Bagaimana nasib sepuluh nama perempuan yang dijanjikan bakal dipilih itu? Apakah mereka tetap mau dipilih sebagai istri sementara ia bukan lagi calon presiden? Lagi pula mengapa mesti tetap memilih mereka? Toh mereka tak bakal jadi ibu negara?
Biyuh… Biyuh… Sukimin tak tahu mesti berbuat apa…
13 April 2009 | 04.00 wib
Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnyaKita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasihat para nabiIngin bahagia, derita didapat
Karena ingin, sumber derita
Harta dunia, jadi penggoda
Membuat miskin, jiwa kita(Iwan Fals, Seperti Matahari)
* * *
Catatan:
Tulisan ini pertama kali di-posting di penganyamkata.wordpress.com pada 13 April 2009 pukul 07.45 wib, yang selama ini merupakan blog alternatifku. Karena blog utama, danielmahendra.com, sedang semaput sejak Rabu, 8 April 2009 sore, disebabkan perusahaan hosting tempat bernaungnya blog tersebut sama sekali tidak menginformasikan tanggal expired domain-nya (7 April 2009). Apa boleh buat, tulisan ini mesti diparkir di sini dulu sampai blog utama siuman.


31 tanggapan so far ↓
Ikkyu_san // 13 April 2009 pada 01:18 |
Kok aku baca seperti ceritanya Sukimin Mahendra ya?
but Iwan benar
yang penting prosesnya bukan tujuan
dan keinginan adalah penderitaan
contohi Koizumi, PM Jepang yang AMAT sukses selama menjadi PM JEPANG. Dia Duda, dan bisa mengatur negeri, sampai harus menolak untuk terpilih kembali. Tanpa ada campur tangan wanita MUNGKIN keadaan akan jauh lebih baik.
hmmm PASTI…
(kecuali wanitanya itu aku mungkin …hahahaha. )
EM
Ikkyu_san // 13 April 2009 pada 01:22 |
pindah saja provider untuk domainnya. Mungkin kamu domain dan hostingnya beda tanggal. Jadi si provider ngga ngurus domain yang akan expire.
Kalau aku biasanya dapat warning sampai 5 kali kalau domain akan habis. sebulan sebelum hari H, 20 hr sebelum hari H, seminggu sebelum hari H, dan 2 kali sesudah expired sebelum domain itu dihapus.
mas melo // 13 April 2009 pada 02:37 |
cerpen surealis yang lucu banget, goniel.
dasar si goniel edan.
segala bursa calon presiden pun bisa dijadikan ide tulisan aneh.
bener juga sih, ambisi seringkali menjungkirkan seseorang.
coba si sukimin biasa aja, nggak usah maksa berpolitik, apalagi mencalonkan diri jadi presiden segala, pasti udah nikah dia. tapi iya sih. impian dan keinginan kan tak boleh dikebiri.
konon mencari istri dan menuntaskan ambisi dalam berkarir memang setali tiga uang, ya? sama-sama susah dan tricky. kalau kita naksir, dia belum tentu bersedia. tapi giliran kita nggak sreg, dianya malah nawarin.
Ikkyu_san // 13 April 2009 pada 02:59 |
apakah perlu hulubalang kerajaan PK pergi ke antero jagat blog untuk menyampaikan “pengumuman pengumuman… PK telah pindah sementara ke Soliloquy. Terutama para anggota DMFC harap maklum adanya”???
aku dulu selalu pikir di sini adalah tempat pertapaan yang tutup gerbang untuk pengunjung.
Yoga // 13 April 2009 pada 03:20 |
Aku suka baca tulisanmu ini, mengalir, tadinya aku pikir Sukimin bakal kena stroke atau semaput di tengah jalan demi mengetahui kegagalannya, atau tahu-tahu ia tersadar di sebuah bangsal RSJ dan semuanya tadi ternyata hanya mimpi di saat kesadarannya datang sesaat.
Saran buat Sukimin, ya udah 10 kontestan itu dikaryakan aja. Kalau yang pinter nyanyi diberdayakan ikut Indonesia Idol, yang pinter masak dibukakan warung tegal, yang agak “liar” bolehlah dijadikan PR, yang alim disalurkan jadi ustadzah, sisanya terserah deh. PJTKI masih banyak yang buka…
vizon // 13 April 2009 pada 03:40 |
eh, si dan sudah bermertamorfosis jadi sukimin ya…? ck ck, cepat kali perubahan itu…
manusia memang harus berambisi dan berkeinginan, karena dg itulah hidup ini bisa dijalankan dg terarah. tapi, bila keinginan itu menjadi beban, saat itulah titik balik harus segera diambil; terus atau berhenti… hanya orang2 dg pendirian kuatlah yg bisa memutuskannya dg cepat dan tepat.
memang sulit menjalani hidup seperti sukimin. di satu sisi dia ingin kesempurnaan, tapi di sisi lain dia dihadapkan dg kenyataan bahwa tidak ada manusia (baca: perempuan) yg sempurna. idealismenya membuat dia terpenjara dalam kebujangan yg tak berakhir. aku tahu, betapa tersiksanya hidup seperti itu…
oleh karenanya, aku tidak pernah berkomentar lebih lanjut bila bertemu dg teman lama yg kemudian aku tahu dia belum juga menikah, padahal usianya sudah melebihi limit… karena aku tahu, dia tidak pernah menginginkan kondisi itu…
Mal // 13 April 2009 pada 04:04 |
Yang Susah adalah ibu presiden dan bapak negara dipersilahkan hehehehehhehee
yessymuchtar // 13 April 2009 pada 04:26 |
kok lo kayak curhat siy Dan???
Ouww jadi kalo curhat dirimu berubah jadi Sukimin dulu gituh???
Saran gue siy buat si Sukimin …poligami aja! kelar kan???
Buat senang senang sama si Lasem, berbagi hati sama Lastri….
*nyegat busway*
Ria // 13 April 2009 pada 07:02 |
hehehehehe…aku cuman bisa senyum2 baca cerpen ini…ternyata banyak persamaan karakter sukimin dengan dirimu mas
bedanya dirimu tidak bergelut di dunia politik mungkin pernah tapi sekarang enggak…hehehehe…..
kemauan adalah keinginan apabila kita berniat membuatnya nyata…dan kenapa sukimin gak menikah saja walaupun dia gak kepilih jadi presiden toh akhirnya dia mendapatkan satu keinginannya setelah kenginannya untuk jadi predisen gagal, sama si Lastri aja kan dia gak suka tuh sukimin terjun dalam dunia politik…heheheheh…peace ah…
*kabur sebelum di jewer*
p u a k // 13 April 2009 pada 07:55 |
Setuju ajah ah, sama Ria dan Yessy.. heheheh..curhat yang dialihkan ceritanya…
Sekian dan terima kasih.
racheedus // 13 April 2009 pada 08:09 |
Lagi menyindir Prabowo, ya, Mas Dan? Mudahan bener dugaan saya.
Saya doakan, jenderal penculik itu nggak terpilih! Biar jadi Sukimin!
Oh, ya, kalau Sukimin mau, ada Juminten tuh di tempatku.
mas melo // 13 April 2009 pada 09:29 |
wakakakaaakkk…
juminten keluar lagiiii…
pertanda apakah ini?
mas racheedus, suatu saat juminten bakal jadi warga kampung blagu deh kayaknya. abis ngetop banget!
Jamal eL Ahdi // 13 April 2009 pada 11:19 |
ya ya ya selanjutkan kita tampilnya juminten …
@racheedus : proposal segera diajukan agar segera dilihat , diraba ditrawang ..halah ..
DV // 13 April 2009 pada 12:02 |
Oh, pindah kemari?
Lala // 13 April 2009 pada 14:11 |
Curhat, curhat, curhat…
Btw, aku suka banget komentar mbak Yoga; mari dikaryakan kesepuluh-sepuluhnya sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.
Nggak usah berkecimpung di dunia politik, Min… enakan jadi manager artizzz…
edratna // 14 April 2009 pada 01:27 |
Aku belum sempat baca..ehh sejak kapan pindah rumah kesini?
Pindah aja terus daripada setiap kali pusing.
Billy Koesoemadinata // 14 April 2009 pada 05:22 |
jadi inget waktu pilpres perancis lalu..
Muzda // 14 April 2009 pada 10:03 |
Bingung ah, mu komen apa …
Cuma kalo si Sukimin masih mo nyari istri,, adakan sayembara lagi buat 10 orang itu …
Kali ini tesnya : makan di angkringan, ngopi di warung tegal, bepergian naik kereta, nggak bermake-up selama sebulan …
ya,, mirip-mirip reality show The Bachelor lah …
Tapi pertanyaannya,, mereka masih mau nggak yaa ….???
imoe // 14 April 2009 pada 12:14 |
@ mbak imel : Bener niy SUKIMIN MAHENDRA pengen kawin hahahahahahaha
Enak bnaget mas ceritanya…lucu-lucu haru gimana githuuuuu….
BTW blog yang lama gimana dong…aku suka tampilan yang lama…..
imoe // 14 April 2009 pada 12:15 |
@ alll : DEKLARI, MULAI HARI INI DANIEL MAHENDRA GANTI NAMA JADI SUKIMIN MAHENDRA…APAKAH SEMUA SETUJU hahahahaha RASAIN…..hhahahahaha
Ki Dhalang Sulang // 14 April 2009 pada 22:23 |
Yang muda, yang berkreasia. Salam kenal buat sahabat semua di komun ini. Oh ya Mas Danie, klo boleh numpang tanya, ini negeri mana ya? (coba nunggu episode “quick account” selanjutnya)
nh18 // 15 April 2009 pada 00:32 |
Beuh … halte sementara nih mas Dan …
Hehehe
racheedus // 15 April 2009 pada 05:41 |
@ Mas Dan
Syaratnya berat? Kecil! Juminten itu gagah perkasa, lho! Pasti dia mampu mengangkatnya. Hi….hi…
@ Jamal
Kayaknya aku memang harus segera mengirimkan proposal Juminten ke Mas Dan. Nanti proposalnya aku posting di blog.
@ Mas Melo
Haruslah. Harus masuk menjadi warga kehormatan Kampung Blagu.
@ Imoe
Aku setuju idemu. Sukimin Mahendra mencari cinta.
* Ah, kabur, ah, ntar ditimpukin Mas Dan *
Cak Ri // 15 April 2009 pada 06:08 |
Dan…., kapan sampeyan menyelenggarakan kontes serupa ?….:-)
omiyan // 15 April 2009 pada 07:33 |
ternyata sosok perempuan begitu berpengaruh ya…kasihan banget sih kamu sukimin
prameswari // 15 April 2009 pada 09:37 |
Aih…ada sukimin yang bikin sayembara…
bursa calon istri presiden
syaratnya : bisa diajak nemuin tamu negara dan bisa diajak pelesir…
tesnya : ampuuun…. susah bener
Menyusuri sungai, mendaki gunung, diam di puncak selama 7 hari, manjat pohon kelapa, macul di ladang, mbajak sawah, ngambil sagu, angon bebek sampai bertelur (bebeknya lho ya!), mancing ikan piranha pake tangan, nangkep kodok di rawa, metik teh, miara ular…
eh..perasaan sukimin punya macan di rumahnya, napa gak dikaryakan ??
itu nyari istri apa nyari bodyguard sih…..
Ade tertarik ngikut?
ihhh…mending belanja aja lagi…
hihihi
prameswari // 15 April 2009 pada 10:05 |
Emang milih presiden itu musti yang berkesan
Kesan yang tertampak itu amat sangat mempengaruhi pilihan
siapa yang tak akan memilih calon presiden yang
sehat, gagah, berwibawa, kebapakan, kekeluargaan,apalagi kalo diikuti pendewasaan cara berpikirnya, punya cara bertutur yang baik, wawasan luas, bijaksana, baik hati lagi…
yah……gak perlu calon presiden lain lagi…..
eh…komen ade niy gak tendensius kan?
imoe // 15 April 2009 pada 10:36 |
Hey dodol, aku selain suka tampilan yang lama, juga suka ngobrak abrik arsip tulisan mas di blog yang lama…, kalo gak…arsipnya di pindahin ke yang baru…aku belum selsai obrak abriknya….
goenoeng // 16 April 2009 pada 03:06 |
lho, sekarang ada adegan sukimin nyalon presiden juga ta ?
biasanya, yang dipikul2 orang itu kan. terus kalo ada yang nanggap, baru deh dia beraksi.
sukimin lunga pasar….
*jadi kangen nonton kethek ogleng
*
zigzag // 22 April 2009 pada 02:24 |
hehe judulnya lucu
kartini kampung blagu (3) « surauinyiak // 22 April 2009 pada 11:52 |
[...] memaafkannya, tapi tidak bisa melupakan sakit yang ditorehnya… Terakhir saya dengar dia lagi mencari calon istri. Gak lucu dong kalau Presiden tidak punya istri, siapa yang akan dipanggil sebagai Ibu Negara [...]