Soliloquy

Mengapa Aku Memilih Golput

10 April 2009 · & Komentar

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri (Soekarno)

Pemilihan Umum Legislatif pada 9 April 2009 kelar sudah. Meski masih diwarnai dengan berbagai riak seperti tidak masuknya beberapa masyarakat di berbagai daerah ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), tertukarnya surat suara, pelanggaran-pelanggaran, hingga beberapa partai memutuskan untuk menuntut Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Namun secara nasional, hajat lima tahunan tersebut usai sudah. Para elite parpol, kader partai, simpatisan, serta sebagian masyarakat terus mengikuti dengan lega, was-was, deg-degan, tak pelak bimbang, melalui Quick Count beberapa lembaga penyelenggara survei pemilu.

Sepanjang sejarahnya, sembilan kali Indonesia menggelar pemilu memang penuh diwarnai dengan berbagai ragam versi. Sebagian besar orang masih menganggap Pemilu 1955 adalah pemilu paling demokratis yang pernah digelar oleh sebuah republik yang masih baru. Pemilu 1955 menelurkan Partai Nasionalis Indonesia, Masyumi, Nahdlatul Ulama, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Syarikat Indonesia sebagai lima partai besar saat itu.

Setelah itu, sejak Pemilu 1971, selama enam kali pemilu di zaman Orde Baru, melulu dimenangkan oleh Golongan Karya. Apalagi setelah Orde Baru melakukan fusi partai-partai politik, menjadi hanya dua partai politik (Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia), dan satu Golongan Karya (di mana sejak aku SD hingga SMA selalu bertanya-tanya: mengapa Golkar enggan disebut partai politik di semua buku pelajaran sekolah).

Pasca Orde Baru, wajah pemilu Indonesia makin ragam lagi. Pemilu 1999 diikuti 48 partai. Banyak partai baru atau partai lawas dengan nama baru bermunculan. Setelah 30 tahun lebih di bawah pemerintahan Orde Baru yang fasis, Indonesia kembali tertatih-tatih lagi belajar berdemokrasi. Hingga Pemilu 2004 digelar, wajah-wajah elite politik Indonesia masih tak beranjak jauh dari orang-orang yang sama, kalau tak mau disebut masih terikat sistem atau status quo lawas.

Aku tertawa geli ketika membaca postingan Mbak Imelda yang bertajuk “Ternyata Aku Terdaftar”. Di sana paling tidak ia menceritakan bahwa ia tercatat untuk mengikuti Pemilu 2009 di Tokyo, Jepang. Alih-alih mengikuti pemilu di luar negeri, dari semua pemilu yang kusebutan di atas, tak sekali pun aku pernah mengikuti pencoblosan di dalam negeri sendiri. Mengapa?

Sejak kecil aku selalu tertarik dengan sejarah. Apalagi sejarah terbentuknya sebuah bangsa. Terlebih Indonesia. Dari sumber-sumber buku pelajaran sekolah yang diajarkan oleh guru, hingga (akhirnya dengan sadar) mencari sumber-sumber di luar mainstream. Dari sana aku mempelajari bahwa betapa carut marutnya peta perpolitikan Indonesia sejak monarki, kemudian masuk kolonialisme dan imperialisme, lantas fasis (Jepang), lalu belajar demokrasi (di zaman Orde Lama), lalu kembali fasis (di zaman Orde Baru), kemudian kembali tertatih-tatih berdemokrasi di masa yang acap kali disebut reformasi.

Aku memilih berada di luar lingkaran. Aku muak dengan mentalitet elite politik yang bibirnya penuh bedak dan gincu demokrasi namun tetap korup di legislatif maupun di eksekutif. Aku memilih tidak memilih mereka dan lagi pula mereka pun pada dasarnya memang pura-pura dipilih.

Kuakui, pada tahun 1996, aku pernah bersimpati pada haluan “oposisi” ketika pemerintah Orde Baru mendiskreditkan Megawati dengan PDI-nya. Lantas muncul lah apa yang disebut gelombang Mega-Bintang yang membuat pemerintah gerah, karena hal tersebut dapat membahayakan posisi Golkar jika massa PDI pro Mega berhamburan ke suara PPP. Lebih luas lagi, hal tersebut dapat menggoyah paradigma masyarakat. Aku salah satunya. Namun saat itu Golkar dan ABRI tetap lah mesin politik. Sehingga Golkar tetap memenangkan Pemilu 1997 sebagai apa yang kerap disebut Harmoko; mayoritas tunggal!

Namun apa lacur, meski tetap tak ikut pemilu 1997, aku mulai melihat pandangan lain dalam peta perpolitikan Indonesia. Aku mulai merapat ke PRD (Partai Rakyat Demokratik) dan dengan rutin besuk Budiman Sudjatmiko beserta kawan-kawan PRD lainnya di LP Cipinang, Jakarta. Namun tetap: aku tak ikut pemilu dan lebih memilih berada di luar lingkaran politik praktis. Yang kulakukan sekadar memberi dukungan moril bagi perjuangan Indonesia untuk lebih baik lagi. Dalam pikiranku: percuma ikut pemilu, toh saat itu semua parpol pada akhirnya tetap saja mencalonkan H.M. Soeharto sebagai presiden.

Hingga semua itu kutinggalkan. Aku tidak di “kiri” juga tidak di “kanan”. Aku menjadi warga negara biasa-biasa saja. Meski tetap peduli dengan sejarah serta perkembangan perpolitikan Indonesia modern, aku tetap memilih berada di luar lingkaran. Apalagi sejak Pemilu 1999 hingga 2009, orang-orang yang duduk di legislatif dan eksekutif (meski tidak semua, dan aku memang tidak mengatakan seluruhnya) tetap berorientasi pada uang dan kekuasaan.

Begitu banyak korupsi terjadi bahkan melebihi apa yang pernah terjadi di masa Orde Baru. Begitu banyak anggota DPR yang terhormat dipanggil KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) akibat terlibat sengkarut persoalan. Apakah kita memilih orang-orang dengan mentalitet seperti itu? Apakah kita merasa diwakili oleh orang-orang seperti itu? Apakah kita dipimpin oleh eksekutif semacam itu? Peta politik Indonesia modern dalam masa eforia kekuasaan serta borjuasi kelas atas.

Hingga di awal tahun 2009 aku masih berpikir untuk tidak ikut pemilu seperti sebelum-sebelumnya. Namun mulai terbit satu pemikiran dalam diriku: rasa-rasanya kok tak rela seandainya pemilu kali ini dimenangkan oleh partai brengsek. Partai-partai yang menempatkan penjahat-penjahat untuk duduk di kursi legislatif. Tapi satu hal pasti: apa hakku mengecam kalau aku sendiri tidak ikut pemilu?

Aku tak berhak mengecam karena aku tak ikut menentukan. Aku tak punya hak untuk merasa ditipu karena toh tak ikut berusaha mencegahnya. Aku miris melihat kader-kader partai yang dengan membabi buta mengkultuskan pemimpin partainya. Aku hampir muntah ketika melihat foto seorang kader sebuah partai mencuci kaki ketua partainya lantas meminum air cucian kakinya, sementara sang ketua hanya tertawa-tawa saja melihat itu semua. Bagiku ini sudah irasional. Tapi aku tak punya hak untuk mengeluh jika aku tak berbuat apa-apa.

Aku percaya satu suara akan memberikan warna meski tak sepenuhnya menentukan. Tapi jangan salah juga, jika satu suara itu bersinergi, ia bisa menjadi gelombang besar yang bisa menghempaskan karang sekalipun. Bukankah begitu?

Tentu masih ingat ketika PDI digembosi oleh pemerintah Orde Baru hingga menjungkalkan Megawati sebagai ketua partai. Gelombang masa PDI pro Mega berbondong-bondong ke PPP. Ombak massa tak bisa dicegah hingga muncul istilah Mega-Bintang. Meski Golkar juga yang memenangkan pemilu saat itu, namun perolehan suara PPP mencelat secara signifikan.

Kini kulihat ada lelatu pemikiran semacam itu di antara angkatan muda saat ini. Generasi yang tadinya skeptis dan emoh terhadap politik praktis mulai berpikir realistis: daripada golput tapi yang menang partai brengsek, lebih baik ikut pemilu untuk paling tidak ikut mencegah penjahat-penjahat berkuasa di negeri ini.

Mengapa kota-kota besar di Indonesia selalu sempoyongan menghadapi macetnya jalan raya? Tak syak lagi: kepemilikan mobil atau penjualan mobil berbanding terbalik dengan pertumbuhan jalan yang ada. Satu orang individu saat memutuskan membeli (juga menambah) mobil hampir selalu berpikir: “Ketambahan satu mobil, nggak begitu berpengaruh terhadap kemacetan kota. Toh hanya satu ini.”

Dapat dibayangkan, berapa orang yang berpikir seperti itu di setiap bulannya? Di Jakarta saja setiap harinya ada 138 pengajuan STNK baru. Setiap hari! Dalam sebulan kemudian dalam setahun, ada berapa mobil baru menyesaki kota? Betapa satu suara ikut menentukan warna juga.

Dengan analogi semacam itu, aku memutuskan untuk ikut mencontreng pada pemilu legislatif kemarin ini. Satu suara. Satu suara dari seorang warga negara biasa saja. Tapi paling tidak aku percaya; yang secuil itu ikut mewarnai serta ikut mencegah partai brengsek berkuasa. Karena aku menyadari: aku tak berhak mengeluh, mencaci, atau merasa ditipu seandainya partai brengsek yang pada akhirnya menang serta berkuasa, jika aku sendiri tak ikut menentukan untuk mencegahnya.

Hal tersebut kuambil bukan karena mengacu pada istilah warga negara yang baik, penggunaan hak pilih atau semacamnya. Tidak. Ini lebih pada kesadaran berpolitik untuk ikut mencegah negara ini dikuasai oleh orang-orang bermentalitet penjahat. Tak lebih!

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat 2009. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Untuk dapat mengusulkan, partai politik atau koalisi partai politik harus mendapatkan 25% suara sah nasional dan 20% kursi DPR. Apabila tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 akan diadakan sekitar tanggal 8 Juli 2009.

(Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Penetapan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih).

Dengan demikian, mengapa aku harus memilih golput?

Nah, tulisan ini tak lebih dari sekadar opini. Namun yang menggembirakan, aku tahu: aku tak sendirian dalam kerangka berpikir seperti yang kurawi di atas. Indonesia masa depan mesti berada di tangan yang benar. Bukan di tangan para penjahat!

Sampai bertemu di pemilihan umum presiden.

10 April 2009 | 18.25 wib

Catatan:
Tulisan ini pertama kali di-posting di penganyamkata.wordpress.com pada 10 April 2009 pukul 21.21 wib, yang selama ini merupakan blog alternatifku. Karena blog utama, danielmahendra.com, sedang semaput sejak Rabu, 8 April 2009 sore, disebabkan perusahaan hosting tempat bernaungnya blog tersebut sama sekali tidak menginformasikan tanggal expired domain-nya (7 April 2009).

Setelah diingatkan teman-teman, justru aku yang menelpon dan mengingatkan pada perusahaan hosting bahwa masa berlaku domain tersebut sudah habis melewati batas waktu.

Apa boleh buat, tulisan ini mesti diparkir di sini dulu sampai blog utama siuman. Ini kulakukan semata karena aku tak bisa kalau tak menulis. Terima kasih kepada teman-teman yang telah mengontak serta menginformasikan saat blog tersebut tak bisa diakes pada jam-jam awal semaput.

Sepuluh jari, setangkup sembah; tabik!

D.M.

Kategori: Opini

33 tanggapan so far ↓

  • Ikkyu_san // 10 April 2009 pada 14:49 | Balas

    Tapi paling tidak aku percaya; yang secuil itu ikut mewarnai serta ikut mencegah partai brengsek berkuasa.

    aku juga percaya itu…
    karena aku selalu mendukung minority…
    always hampir dalam setiap langkah hidupku.

    meskipun sedih rasanya kalau itu dipakai hanya sebagai alasan menghentikan partai brengsek berkuasa.
    Dan tentunya bukan kalah atau menang yang menjadi tujuan.

    Jangan sedih. Bagaimana pun ini adalah satu bentuk usaha sebagai individu. Karena seperti sudah kukatakan, aku menyadari sepenuhnya: di kemudian hari aku tak berhak mengeluh, menghujat, atau merasa ditipu kalau aku sendiri tak berbuat apa-apa akan hal itu. Aku kira ini lebih fair ketimbang diam saja.

    Ya, aku setuju: bukan kalah atau menang yang jadi tujuan. Semoga semua ini berarti

  • radesya // 10 April 2009 pada 15:56 | Balas

    Kakak kemaren nyontreng ya.., aku bingung juga dengan keadaan politik di negri ini kak, korupsi koq semakin meningkat ya..
    Apa bisa kita memilih pemimpin ya benar-benar bersih? Masih adakah pemimpin itu kak?

    Tak perlu bingung, Ra. Kalau keadaan politik negeri ini seperti itu, kan dari situ kita bisa belajar dan melihat juga: bagaimana mentalitet orang-orang yang berada di belakangnya. Korupsi semakin meningkat? Ya hukumnya juga nggak kuat.

    Pemimpin yang benar-benar bersih? Weh, apa ada yang benar-benar bersih?

  • Ria // 11 April 2009 pada 01:27 | Balas

    Aku gak ikutan nyontreng bukan karena lebih memilih GOLPUT mas, tetapi aku gak terdaftar :D sedikitnya aku lega karena gak ikutan andil, biar saja aku mendoakan indonesia maju dengan cara yang berbeda…dan memang pada dasarnya aku gak suka dengan politik.

    oot: knp dengan blogmu…aku juga dah ngira pasti lupa di perpanjang hostingannya…hehehehehe…pantes dari kemarin coba buka yang luar malah tampilan search…semoga cepet balik normal ya mas, tempat hosting memang terkadang menyebalkan, tidak ada konfirmasi tau2 main blokir aja…

    Nggak suka politik, Ri? Tapi apa yang tak terkait dengan politik? Suka tak suka kita terkait dengan politik. Kita menghormat bendera adalah politik. Karena mengakui kedaulatan negara. Kita membayar pajak, atau dikenai pajak saat makan di restoran, juga terkait politik, karena yang memberlakukan pajak itu negara.

    Tapi okelah, aku suka argumenmu: mendoakan Indonesia maju dengan cara yang berbeda. Oke. Paling tidak ada bentuk kongkrit. Ada sesuatu yang kita lakukan. Ada sesuatu yang kita perbuat sehingga tak sekadar menjadi warga negara yang hanya bikin penuh jumlah penduduk semata.

    Bukan lupa memperpanjang hosting, Ri. Mengingatkan batas waktu berakhirnya domain atau hosting bukanlah kewajiban pelanggan, tapi kewajiban perusahaan penyedia hosting. Yang ada di kepala pelanggan kan nggak hanya site. Sementara yang jadi pekerjaan sehari-hari perusahaan penyedia hosting kan yang memang itu.

    Perusahaan penyedia hosting yang baik selalu menginformasikan secara rutin atau berkala batas-batas waktu seperti itu kepada pelanggannya. Ini yang memblokir bukan perusahaan hosting-nya. Tapi domainnya yang expired melebihi batas waktu. Lha ini, masa’ aku yang nelpon dulu, setelah itu baru orang perusahaanya nge-cek dan ngomong: “Oh iya…” Weh!

  • racheedus // 11 April 2009 pada 01:37 | Balas

    Sepanjang Orde Baru berkuasa, aku selalu memilih golput. “Mang Ato” emang bikin sebel! Tapi setelah reformasi, aku berhenti golput dan berusaha memilih partai yang “waras” menurutku. Tapi, terkadang aku tertipu juga. Sialan! Ternyata, pilihanku tidak selalu tepat. Gincu dan kosmetik politik yang dipakai para politisi emang sering menipu. Mudahan pada Pemilu 2009 ini, aku tidak memilih calon penipu dan koruptor baru yang kelak menjadi incaran KPK.

    By the way, pantes aja blog utama sampean nggak bisa diakses, Mas Dan. Kirain ada apa? Kirain lagi sibuk jadi tim sukses caleg atau partai mana gitu. Semoga blog utamanya segera bisa normal kembali. Salam hangat.

    Weh, kalo “Mang Ato” mah bukan bikin sebel lagi, Mas, tapi sudah bikin terbunuhnya jutaan orang tanpa pengadilan.

    Ya, mestinya aku sudah harus ikut pemilu sejak apa yang acap kali disebut orang sebagai reformasi. Karena suka tak suka, mulai ada perubahan. UUD 1945 sudah mulai diamandemen, misalnya. Namun kulihat orang-orang dengan wajah yang sama, yang juga terlibat dengan sistem sebelumnya, masih saling berebut kekuasaan. Untuk apa orang-orang seperti itu kupilih?

    Sibuk jadi tim sukses caleg atau partai? Kok kurang kerjaan. Hehe.

    Soal blog PK, ya, doakan saja ya, Mas (Wih blog aja kok sampe minta didoain. Hihi). Terima kasih. Salam hangat selalu.

  • vizon // 11 April 2009 pada 01:58 | Balas

    aku nyontreng dg gemilang!

    aku tidak setuju dg golput. karena itu tidak menyelesaikan persoalan. dari sekian banyak caleg busuk, masih tersisa sedikit caleg wangi, dan mereka harus didukung untuk menebarkan harumnya di gedung terhormat itu!

    menjadi golput menurutku juga memberi andil membiarkan politisi busuk terus melaju karena dipilih oleh rakyat jelata yg bisa ditipu dg tempelengan duapuluh ribuan… kenapa justru kaum terpelajar membiarkan politisi wangi tidak melaju?

    tapi, untungnya dikau ikutan nyontreng. berarti dirimu memiliki sedikit kepedulian terhadap nasib bangsa ini. ini sebuah kejantanan!

    oya, turut berduka atas PK, semoga lekas sembuh… :)

    aku tidak setuju dg golput. karena itu tidak menyelesaikan persoalan.
    Setuju.

    dari sekian banyak caleg busuk, masih tersisa sedikit caleg wangi, dan mereka harus didukung untuk menebarkan harumnya di gedung terhormat itu!
    Namun bagaimana dengan prosentasenya, Da? Siapa yang lebih mendominasi? Si busuk atau si wangi? Jangan-jangan karena aroma busuknya lebih pekat, sehingga yang wangi tak tercium baunya.

    tapi, untungnya dikau ikutan nyontreng. berarti dirimu memiliki sedikit kepedulian terhadap nasib bangsa ini. ini sebuah kejantanan!
    Tsah! Hahaha.

    PK anfal, Da. *butuh nafas buatan* (Halah!) :p
    Mokasih, Da.

  • Yoga // 11 April 2009 pada 03:23 | Balas

    Ah kamu memang temanku :D

    Ah ya, rasa-rasanya aku pun kok familiar ya dengan kamu.
    Pernah kenal di mana ya kita…

  • prameswari // 11 April 2009 pada 03:38 | Balas

    Ikut sedih ma PK… rindu rame ngasiy komennya. hehehe

    Seneng pada akhirnya keputusan mas untuk ikut berpartisipasi dalam Pemilu kali ini.
    Apapun alasannya, ikut memberikan suara artinya merasa ikut memiliki negara dan ikut menentukan nasib negara.. meski hanya satu suara itu tetap berarti.

    Demokrasi kita sedang tahap berproses dan berjalan…
    butuh waktu untuk bisa memasuki proses yang sempurna…

    eh mungkin partisipasinya mau ditambah??….mumpung pemilihan presiden belum digelar. Mau nyalonin jadi presiden? Ade dukung deh ….
    mau jadi apa?? “beres”
    mas tentuin deh

    Ah, tak perlu bersedih… Dunia tak lantas kiamat hanya karena blog yang bermasalah. Blog bukanlah segalanya. Baru juga blog.

    Ya, demokrasi di Indonesia memang masih lagi tertatih-tatih berproses. Belum juga merdeka 100 tahun. Tapi sempurna? Ah, seperti apa konsep bernegara yang sempurna itu?

    Nyalonin jadi presiden? Halah-halah…
    Kalau berkuasa, nggak akan nyalonin jadi presiden kok. Konsep republik diganti aja jadi monarki. Raja Daniel Mahendra. Haha!

  • marshmallow // 11 April 2009 pada 08:50 | Balas

    Karena aku menyadari: aku tak berhak mengeluh, mencaci, atau merasa ditipu seandainya partai brengsek yang pada akhirnya menang serta berkuasa, jika aku sendiri tak ikut menentukan untuk mencegahnya.

    aahh… senangnya membaca ini, goniel.
    dan itu pulalah yang selalu kukatakan pada diriku sendiri. betapa aku tak berhak mengeluh dan menghujat bila aku tak menggunakan hak suaraku. kalaupun aku tak bisa memilih yang terbaik, setidaknya aku berupaya menghalangi yang buruk terpilih.

    dan benar, satu suara itu sangat menentukan! sebesar pengaruh lima menit yang kita luangkan bagi lima tahun masa depan bangsa ini. insya Allah.

    ps. hmm… siapa ya yang awalnya gak percaya waktu diingatkan kalau domain PK udah kadaluwarsa? *siul-siul*

    Duh, aku mesti komen apa lagi, Goyul? Topik ini sudah kita diskusikan panjang lebar. Kalau aku mengomentari lagi komenmu itu dengan komenku, paling isinya juga setali tiga uang. Dan aku bakal geli saat membacanya kembali. Terkesan dagelan. Hihihi.

    Tapi lima menit? (Nah, ini soal baru ini). Jadi di balik bilik itu menghabiskan waktu lima menit? Lama amaaattt… Ngapain aja? Cari caleg yang ganteng ya? Hahaha. Dasar!

    Iya-iya… Kamu yang pertama yang ngasih tau. Huuu…

  • Yari NK // 11 April 2009 pada 12:42 | Balas

    Kepedulian terhadap bangsa ini tidak hanya diukur dengan ikut pemilu atau tidak. Pemilu boleh saja tidak ikut, namun kepedulian terhadap kemajuan bangsa ini harus tetap ada (yang bisa ditunjukkan dengan cara-cara yang lain tentu saja) selama hayat masih dikandung badan…. :D

    Setuju tanpa alasan, Pak Yari. Berbuat sesuatu secara kongkrit. Namun menurutku pribadi, hal tersebut tetap mesti dibarengi catatan: tak boleh mengeluh, menggerutu, atau menghujat legislatif dan eksekutif. Wong nggak ikut milih kok. Hehe.

  • Lala // 11 April 2009 pada 13:48 | Balas

    Bukannya sok kompak, tapi aku juga bagian tulisan yang di-quote Uni Hemma…
    Dan dengan alasan yang sama, dari tahun ke tahun, aku nggak pernah golput…. :)

    Lha-lha… Iki kalimat pertama dan kalimat kedua bobotnya sama. Sama ikut-ikutnya… Hihihi.

  • Lala // 11 April 2009 pada 13:50 | Balas

    Maksudnya :

    …aku juga SUKA bagian tulisan yang di-quote Uni Hemma…

    Hahahaha…

  • imoe // 11 April 2009 pada 14:36 | Balas

    hehehehe aku juga mencontreng dalam kebingungan, habis kertasnya gede amat….bahkan ada emak-emak yang duduk di lantai tuh ngembangin kertas…katanya nyari nomor 31 hehehehe

    Btw kapan niy kembali ke blog yang lama….jangan bikin bingung pembaca dong mass cepetan di perbaiki…

    Weh, mestinya si emak dibantuin tuh, Da. Pilih nomor 99 gitu. Sekalian dicontrengin aja. Lha daripada ngembangin kertas, kan mending ngembangin usaha. Hihihi.

    Wah, maaf kalau sudah bikin bingung nih, Da. Bukan maksudku demikian. Kalemlah… Aku tau engkau begitu rindunya dengan blog Penganyam Kata. (Wakakakakkk… :D ). Mokasih ah.

  • p u a k // 11 April 2009 pada 14:37 | Balas

    Aku bangga banget dong,.. hari ini baru bisa milih.. 10 tahun jee..

    Sepuluh tahun? Weh… Kemana aja…
    Bertapa di Gunung Salak?

  • mesin kasir // 11 April 2009 pada 15:14 | Balas

    aku golput karena nggak masuk di daftar DPT? tanya kenapa

    Weh, persoalan DPT ini memang jadi sengkarut masalah di mana-mana ya…

  • suryaden // 11 April 2009 pada 16:11 | Balas

    hiduplah Indonesia Raya,
    namun rupanya pemerintah sekarang juga memiliki tim marketing yang sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk menang lagi… siyalan…

    Weh, namanya juga usaha, Mas… Sama halnya dengan partai-partai yang merasa “kalah”. Coba kalau perolehan suaranya tinggi, nggak bakal deh ada pertemuan-pertemuan ketua umum partai dan lobi-lobi untuk bersekutu serta protes kecurangan. Taruhan!

  • goenoeng // 11 April 2009 pada 17:00 | Balas

    nanti, aku akan milih kalo kamu sudah menyalonkan diri, Dab.
    untuk saat ini, cukuplah aku menyilang saja. ya, m-e-n-y-i-l-a-n-g.

    Aku? Mencalonkan diri? Mencalonkan diri sebagai apaaa…
    Aku nggak kepingin jadi anggota legislatif, Dab.
    Kalau aku berkuasa, mau kuubah jadi monarki kok. Lalu menabalkan diri jadi raja. Hihihi. Engkau mau jadi penasihat kerajaan? Hmmm… rasanya cocok. Petuah-petuahmu cukup bijak. Eh, tapi inget! Nggak pake selir-seliran ya. Awas!

  • Myryani // 11 April 2009 pada 18:12 | Balas

    golput jg pilihan kan>?

    Tetap pilihan. Jalan di tempat tapi…

  • s. tuhusetya // 11 April 2009 pada 19:24 | Balas

    blog alternatif? wah, mudah2an saja blog pengayam kata yang asli segera siuman, mas dan, hehe … btw, utk tahun ini saya nyontreng, mas. tapi saya ndak tahu apa yang saya lakukan setelah masuk bilik tps, sungguh, saya dah ndak inget. saya buka lipatan, lihat2 sejenak, kalau ndak salah, saya hanya nyontreng caleg dari dpd. itu saja, kok, mas, hehe … lagian, aku tinggal sangat berdekatan dg pak rt, hehe .. yang selalu wanti2 saya agar tdk golput seperti yang saya lakukan saat pilgub sebelumnya, keke … resiko sosial nih, haks.

    Hahahaha! Jadi betul-betul lupa dengan apa yang dilakukan di dalam bilik itu, Pak Sawali? Apalagi yang DPD itu malah nggak ada nama partainya sama sekali ya. Aku sendiri cukup tercenung saat itu. Kok bisa-bisanya mereka merasa mewakili massa. Darimana asalnya… Haha. Nggak ada yang kenal.

    Weh, kalau aku baik pilkada gubernur maupun walikota lewat semua, Pak Sawali. Hehe.

    Ya, semoga saja kios Penganyam Kata bisa buka lagi, Pak. Suwun.

  • mas melo // 12 April 2009 pada 00:31 | Balas

    pagi, goniel!
    kalau emang ncontreng, mana dong bukti jarinya yang belepotan tinta?
    tunjukin atuh.
    ntar dibilang hoax pulak. :D

    Pagi Goyul!
    Bukti jari? Oh, saat itu tidak menggunakan tinta. Melainkan aspal.
    Kamu mau diaspal?

  • tanti // 12 April 2009 pada 02:58 | Balas

    Life is choices,
    sering kita harus memilih diantara hal-hal yang tidak ingin kita pilih,
    bahkan harus memilih apakah mau memilih atau tidak memilih.

    Belajar sepanjang hidup untuk menjadi bijaksana dalam menentukan pilihan-pilihan akan membuat hidup jadi berarti.

    So,
    mana coba lihat jari kelingkingnya, masih kelihatan tintanya? ;)

    Ya, life is choices. Okelah. Tapi kalau aku, aku lebih memilih sesuatu yang kuinginkan. Sebisa mungkin kuhindari memilih sesuatu yang tak kuinginkan.

    Belajar sepanjang hidup untuk menjadi bijaksana dalam menentukan pilihan-pilihan akan membuat hidup jadi berarti.
    Aha! Muncul juga kalimat bernasnya. Tapi jadi kesindir untuk konteks yang lain nih. Hihihi.

    Jari kelingking? Tinta?
    Lha, aku di jempol, dan bukan tinta. Aspal dibilang!

  • vizon // 12 April 2009 pada 09:19 | Balas

    @mas melo:
    sorry, uni… mau kasih pesan di sini…
    kok, blognya gak bisa dikasi komen? ada yg salah ya? atau memang ditutup?

    Weh, dibolak-balik, yang salah tetep yang punya blog kok, Da. Hihi.

  • yessymuchtar // 12 April 2009 pada 14:29 | Balas

    yah …

    Kamu manggil-manggil ayah kok di sini, Yasmidar?
    Coba ingat-ingat dulu, tadi kamu taruh mana si ayah…
    Kamu letakkan di gudang barangkali.

  • Jamal eL Ahdi // 13 April 2009 pada 05:38 | Balas

    Mengapa golput ?
    Temenku Bilang : masak harus pulang rumah (mudik) cuma untuk nyontreng..ada yg mau biayain ?
    Aku Berkata : ya mumpung libur panjang jadi sekalian pulang.
    kakakku bilang : ga dapat undangan dan tidak terdaftar , tapi kok malah emak yg sudah meninggal dapat undangan yah padahal 1 rumah ??

    selamat atas ijtihad politiknya :D

    Wong Amrozi aja masih terdaftar kok. Apa nggak hebat itu?

  • Muzda // 14 April 2009 pada 10:07 | Balas

    Kegolputanku bukan pilihan,,,
    ughhh …

    DM tolong, kaya’nya alamatmu deketan sama MUI sampai aku salah alamat,, kali ini minta MUI untuk bikin fatwa tentang KPPS atau siapa lah yang menyebabkan banyak blogger tergolputkan.

    Yeee… Salah sendiri nggak pake perangko balasan.
    Tergolputkan? Hihihi. Geli mbaca istilahnya.

  • Muzda // 15 April 2009 pada 09:25 | Balas

    Itu istilah dari Achoey…
    “tergolputkan*

    Sstt,, aku pinjam, tapi nggak ngomong..
    hehee …

    Ya sudah, nggak usah ngomong-ngomong kalo gitu.
    Aku jaga rahasiamu kok. Tenang…

  • imoe // 15 April 2009 pada 09:54 | Balas

    woiiiii MAS DM…..ayo cepetan di urus tuh blog penganyam kata nya….aku suka ngobrak abrik arsip tulisan di sana……awas, dalam 3 hari mesti kelar…titik hahahahaha ini perintah bukan permohonan….hahaha

    Huaaaaaaaaaaa………….
    Aku mendapat ancaman!
    Duh, cari perlindungan di mana ini…
    Toloooooongggggg………

  • Bet // 16 April 2009 pada 16:45 | Balas

    Golput kan juga memilih . . . . menjadi pilihan hati nurani kita untuk memilih

    Yup. Itu pun sebuah pilihan, Kawan. Seperti yang selama ini kulakukan.

  • joe // 18 April 2009 pada 15:58 | Balas

    pada mulanya aku juga pingin golput, namun akhirnya aku nyontreng juga, itung-itung agar partai xxxx tidak menang…

    Wah, berarti kita satu pemikiran ya…

  • anakilang // 20 April 2009 pada 06:10 | Balas

    Pesta rakyat…dateng ke TPS sekeluarga cuma buat ngerame-rame in TPS aja yang kebetulan tempat pemungutannya di rumah pak RT. Masuk ke bilik suara berbarengan dengan abang qu di sebelah kanan, di sebelahnya lagi ayah, di sebelahnya lagi kakak. aq nyontek kertas suara abang, hhhmmmm dia nyontreng caleg dari partai x yang kemarin ngasih amplop ke dia, melirik ayah kertas suaranya tidak di buka sama sekali, punya kakak qu? tak terlihat. Pulang ke rumah dengan perasaan riang, bercanda, tawa seperti habis dari pasar malam. hehehehe

  • edratna // 20 April 2009 pada 20:43 | Balas

    Sejak mempunyai hak pilih, saya berusaha menggunakan hak pilihku, karena saya berpendapat bahwa saya tak bisa memberi komentar negatif kalau saya sendiri tak menjunjung tinggi demokrasi. Andaikata demokrasi di Indonesia dianggap belum benar, ini adalah suatu “learning curve”, suatu pembelajaran bagi bangsa ini…dan kalau bukan kita, yang menyebut dirinya kaum terpelajar, siapa lagi?

    Setelah anak-anak dewasa, saya mendidik anak-anak untuk menggunakan hal pilihnya, siapapun yang menurut pemikiran mereka layak untuk dipilih. Karena satu dan lain hal, si sulung kali ini terpaksa golput, namun untuk pilpres nantinya dia mulai menghubungi KJRI Chicago agar tercaat dalam pemilu pilpres yang akan datang. Semoga kang Barry, yang tinggal di Chicago dapat membantunya.

  • mascayo // 21 April 2009 pada 00:23 | Balas

    hohohoho .. akhirnya nyontreng juga toh ..
    yaa syukurlah,
    sebetulnya kalau saja ada jalan yang lebih baik dan bisa saya lakukan untuk mencegah masuknya pengacau mangatur republik ini, mau sih saya ikutan,
    tapi sementara cuma ikhtiar nyontreng ini yg bisa saya lakukan.
    eh.. rumah aslinya dah siuman toh?

  • ILYAS ASIA // 21 April 2009 pada 11:15 | Balas

    tepat Kak,
    Anda mewakili pemikiran banyak orang

  • The Dexter // 23 April 2009 pada 05:12 | Balas

    Dari dulu hingga sekarang, masih juga diriku golput. Entah mengapa aku merasa bukan orang Indonesia kalau tiba waktunya pemilihan kayak gini.

Tinggalkan sebuah Komentar