Terkadang orang tak paham, aku kesepian bukan karena miskin teman. Tapi lebih pada tak bisa mencurahkan segala apa yang dirasakan pada orang lain.
Apa karena tidak percaya pada orang lain? Tentu bukan itu alasannya. Tapi memang secara teknis merasa kesulitan dalam mencurahkan sesuatu pada orang lain.
Kalau bukan dengan menulis dan berdiskusi, praktis tak ada saluran yang dapat kutempuh untuk mencurahkan sesuatu.
Dengan menulis aku bisa mengeluarkan apa yang kurasakan. Baik bahagia, sedih, marah, maupun gembira. Sementara dengan berdiskusi, aku merasa dapat mengejawantahkan pikiran-pikiranku, argumen-argumenku, dan cara pandangku akan sesuatu.
Aku memang bisa sangat keterlaluan kalau sudah menulis. Begitu pun dengan berdiskusi, aku bisa sampai pada titik yang paling ekstrem. Mengapa demikian? Karena aku membutuhkannya. Karena aku butuh pengeluaran. Butuh pengejawantahan pikiran.
Tapi, apakah itu semua cukup? Jawabannya tentu saja tidak. Karena betapa pun bagaimana caranya, manusia butuh pola-pola dialogis di mana ia tak semata mencurahkan apa yang dirasakan. Lebih dari itu, ia membutuhkan reaksi, respon, serta tanggapan yang sifat individu atau personal. Bukan lagi dalam konteks formal.
Yang terjadi, aku merasa seperti berekawicara. Soliloquy. Bercakap-cakap pada diri sendiri semata.
28 Mei 2008, 12.11 wib.


4 tanggapan so far ↓
me // 29 Mei 2008 pada 04:33 |
yuuuk mari ;;)
natazya // 29 Mei 2008 pada 08:32 |
soliloquy tu artinya itu toh… ya anda benar! menulis itu menyengkan diri sendiri
dan jelas, manusia kan memang mahluk sosial yang tidak pernah bisa sendiri, walau ga setiap waktu perlu ditemani
cak ri // 29 Mei 2008 pada 08:45 |
sepi ?……hati yang sepi ?….kayak lagu 80 an yah ?…:-)
marsh // 6 Mei 2009 pada 15:42 |
*melihat tanggal tulisan ini*
*manggut-manggut*
no more soliloquy, i suppose?