Manusia jika sudah meresa teramat sangat tertekan oleh segunung persoalan yang begitu menekan, pada akhirnya selalu melarikan segala-galanya pada Tuhan. Padahal sebelum-sebelumnya, ia merasa semua berjalan begitu saja.
Ia tetap mengingat Tuhan, tapi mungkin lebih banyak disibukkan oleh urusan duniawi. Ia bisa begitu dekat dengan Tuhan pada saat-saat kondisi emosi sedang begitu membutuhkan. Bagaimana reaksi Tuhan?
Apakah Tuhan menjadi jengkel akan sikapnya? Ataukah Tuhan hanya tersenyum saja atas tingkah manusianya itu? Tak ada yang bisa menjawab. Karena sifat Tuhan tak sama seperti manusia. Marah dan puas adalah milik manusia.
Mengapa manusia baru lari ke Tuhan setelah semua yang terjadi begitu menindih emosinya? Adakah rumus menjaga kestabilan emosi seseorang sehingga ia dapat menyeimbangkan antara kebutuhan fisik maupun jiwa?
Manusia mencoba mempercayai sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kalau yang ia anggap lebih besar dari dirinya itu terasa kurang besar, ia akan terus naik ke atas mencari yang lebih besar lagi. Kalau yang ia anggap lebih besar itu masih juga terasa kurang besar, ia akan kembali mencari yang lebih besar lagi. Terus seperti itu. Sampai ia mendapat pegangan.
Seoranga atheis sekalipun tak luput dari ketakutan. Dan yang ia cari pada kondisi ketakutan tak lain adalah pegangan. Apa pun pegangan yang ia raih sebagai gapaian tangan.
Adakah formula tersendiri di mana manusia tetap dekat dengan penciptanya tanpa peduli apakah keadaannya sedang dalam kondisi yang baik serta stabil, ataupun dalam keterhimpitan…
