Aku paling jarang memperhatikan band-band terbaru belakangan ini. Bukan tak punya perhatian pada musik. Sebaliknya, justru karena aku begitu perhatian: mana saja band-band yang menurutku bagus atau tak sedap untuk dikonsumsi.
Lagi-lagi ini soal selera. Tentu sulit diukur parameternya. Sesuatu yang orang lain suka belum tentu kita gemari toh. Pun sebaliknya. Maka adalah merupakan hakku juga jika merasa beberapa band baru belakangan ini lagu-lagunya kurang begitu bisa kukonsumsi.
Ada band yang lagunya sama sekali tak enak didengar, musiknya terlampau mentah, liriknya terasa hambar, aransemennya kering, dan suara vokalisnya terdengar pas-pasan. Namun herannya band-band yang tak kusukai itu justru yang banyak digemari, dielu-elukan, merajai tanggal lagu, serta laku sebagai RBT (Ring Back Tone). Ya, lagi-lagi ini soal selera. Tapi apa boleh buat, tak ada band baru yang betul-betul bisa menarik perhatianku.
Tapi di suatu hari yang panas di kota Jakarta, tiba-tiba aku terhenyak ketika dari tape mobil mengalun sebuah lagu ringan, tak bermuatan musik yang pelik, namun justru memiliki kekautan lirik yang bernas. Aku terkesima dengan kalimat-kalimatnya. Mampu menyentuh secara emosional. Aku pun jadi ngungun sendiri saat menikmatinya.
Setelah tanya sana-sani, baru kuketahui judul lagu serta band yang membawakan tembang tersebut. Apalagi setelah melongok video klip-nya, band ini kunilai boleh juga untuk diperhitungkan. Ya, jangan menyerah! Sederhana saja liriknya. Musiknya ringan. Tapi kunilai punya kekuatan. Patut didengar di saat-saat yang tepat dan dibutuhkan.
