Juni 3, 2008

Kapan Saat Semesta Berbicara

Manusia jika sudah meresa teramat sangat tertekan oleh segunung persoalan yang begitu menekan, pada akhirnya selalu melarikan segala-galanya pada Tuhan. Padahal sebelum-sebelumnya, ia merasa semua berjalan begitu saja.

 

Ia tetap mengingat Tuhan, tapi mungkin lebih banyak disibukkan oleh urusan duniawi. Ia bisa begitu dekat dengan Tuhan pada saat-saat kondisi emosi sedang begitu membutuhkan. Bagaimana reaksi Tuhan?

 

Apakah Tuhan menjadi jengkel akan sikapnya? Ataukah Tuhan hanya tersenyum saja atas tingkah manusianya itu? Tak ada yang bisa menjawab. Karena sifat Tuhan tak sama seperti manusia. Marah dan puas adalah milik manusia.

 

Mengapa manusia baru lari ke Tuhan setelah semua yang terjadi begitu menindih emosinya? Adakah rumus menjaga kestabilan emosi seseorang sehingga ia dapat menyeimbangkan antara kebutuhan fisik maupun jiwa?

 

Manusia mencoba mempercayai sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kalau yang ia anggap lebih besar dari dirinya itu terasa kurang besar, ia akan terus naik ke atas mencari yang lebih besar lagi. Kalau yang ia anggap lebih besar itu masih juga terasa kurang besar, ia akan kembali mencari yang lebih besar lagi. Terus seperti itu. Sampai ia mendapat pegangan.

 

Seoranga atheis sekalipun tak luput dari ketakutan. Dan yang ia cari pada kondisi ketakutan tak lain adalah pegangan. Apa pun pegangan yang ia raih sebagai gapaian tangan.

 

Adakah formula tersendiri di mana manusia tetap dekat dengan penciptanya tanpa peduli apakah keadaannya sedang dalam kondisi yang baik serta stabil, ataupun dalam keterhimpitan…

Keep reading →

Mei 31, 2008

Why

why do we love if love will die…

Mei 28, 2008

Kemana Mesti Kulabuhkan

kemana mesti kulabuhkan letih jika aku tak pernah menemukan jalan pulang
gurauan dan riang tawa semata bumbu penyedap dari masakan yang tak pernah lezat
di mana hakekat kehidupan jika makanan yang disantap bukan karena kebutuhan
orang membuka jendela memperdengarkan musik tanpa pernah mau mengerti esensinya

28 Mei 2008, 20.32 wib

Mei 28, 2008

Sejauh Aku Tahu

Sejauh yang aku tahu, seorang profesional tak boleh tampak lesu, tak bersemangat, pesimis, atau menunjukkan sikap jauh dari antusias.

 

Sejauh yang aku tahu, hal itu dapat menular pada tim kerjanya. Sikapnya dapat mempengaruhi lingkungannya. Dan perfomanya kerap dijadikan patokan dalam bersikap.

 

Sejauh yang aku tahu, seorang profesional memang mesti siap dengan segala kondisi, suasana, dan tantangan, juga persoalan.

 

Tapi: sejauh yang aku tahu, seorang profesional juga tetap manusia biasa pada umumnya.

 

Dia bisa: gundah, sedih, kecewa, turun, tak bersemangat, ngeri, takut, kesendirian, kesunyian, dan tak punya pegangan.

 

Seorang pemimpin sekalipun memiliki sisi-sisi sensitif dalam dirinya. Dalam kehidupannya. Yang tak seorang pun menyadarinya. Yang tak seorang pun ingin mengetahuinya.

 

Ia tetap manusia biasa. Setegar dan sekuat bagaimana pun yang ia tampilkan. Ia tetapi manusia dengan segala kelemahan. Seceria dan sebahagia bagaimana pun yang ia tunjukkan.

 

Sejauh yang aku tahu. Ya itu sejauh yang aku tahu.

 

28 Mei 2008, 17.20 wib.

 

Mei 28, 2008

Kontra Produktif

Beginilah hidup di negara penghasil minyak bumi yang tak sepenuhnya bisa menikmati hasil minyak buminya sendiri.

Listrik mati, bergiliran pula. Dalam satu kawasan. Dari jam 9 pagi sampai jam 15 sore. Mengganggu? Sangat. Betapa listrik sudah merupakan kebutuhan vital yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

Kalau listrik mati, tak ada penerangan. Tapi kan ada matahari? Okelah. Tapi komputer pun tak bisa nyala. Kan ada laptop? Tetap saja, server internet tak bisa berfungsi. Handphone pun butuh asupan. Printer tumbang, scaner lumpuh, telpon kantor padam. Mau bagaimana?

6 jam tanpa listrik di saat jam kerja sama halnya dengan kontra produktif. Tak bisa apa-apa. Menyerah? Tidak. Tapi ini realitas. Betapa listrik sudah merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pergi ke mall, mojok di foodcourt, buka laptop, menangkap hotspot, nyatanya tak selamanya nyaman untuk bekerja.

Beginilah hidup di negara penghasil minyak bumi yang tak sepenuhnya bisa menikmati hasil minyak buminya sendiri.

Apa boleh buat.

28 Mei 2008, 15.45 wib.

Mei 28, 2008

Jangan Sekali-kali

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa makan seafood seharga 200 ribu perak untuk sekali makan.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa belanja buku satu juta perak setiap bulan.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa membeli bensin seharga 100 ribu perak untuk sekali isi.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa mengeluarkan 800 ribu perak untuk akses internet tanpa batas setiap bulan.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa membeli pulsa handphone di atas 300 ribu perak setiap bulan.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa merogoh kocek untuk beberapa kemeja setiap bulan.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih menetapkan standar kualitas tinggi pada produk-produk keseharian yang dipakai.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi jika: masih bisa mentraktir pacar setiap salah satu dari mereka minta nonton atau makan di cafe.

Jangan sekali-kali bicara soal sulitnya hidup karena harga BBM yang melambung tinggi!

Jangan sekali-kali!

28 Mei 2008, 12.51 wib.

Mei 28, 2008

Berekawicara

Terkadang orang tak paham, aku kesepian bukan karena miskin teman. Tapi lebih pada tak bisa mencurahkan segala apa yang dirasakan pada orang lain.

Apa karena tidak percaya pada orang lain? Tentu bukan itu alasannya. Tapi memang secara teknis merasa kesulitan dalam mencurahkan sesuatu pada orang lain.

Kalau bukan dengan menulis dan berdiskusi, praktis tak ada saluran yang dapat kutempuh untuk mencurahkan sesuatu.

Dengan menulis aku bisa mengeluarkan apa yang kurasakan. Baik bahagia, sedih, marah, maupun gembira. Sementara dengan berdiskusi, aku merasa dapat mengejawantahkan pikiran-pikiranku, argumen-argumenku, dan cara pandangku akan sesuatu.

Aku memang bisa sangat keterlaluan kalau sudah menulis. Begitu pun dengan berdiskusi, aku bisa sampai pada titik yang paling ekstrem. Mengapa demikian? Karena aku membutuhkannya. Karena aku butuh pengeluaran. Butuh pengejawantahan pikiran.

Tapi, apakah itu semua cukup? Jawabannya tentu saja tidak. Karena betapa pun bagaimana caranya, manusia butuh pola-pola dialogis di mana ia tak semata mencurahkan apa yang dirasakan. Lebih dari itu, ia membutuhkan reaksi, respon, serta tanggapan yang sifat individu atau personal. Bukan lagi dalam konteks formal.

Yang terjadi, aku merasa seperti berekawicara. Soliloquy. Bercakap-cakap pada diri sendiri semata.

28 Mei 2008, 12.11 wib.

Mei 27, 2008

Seandainya Aku Tidak Bisa Menulis

aku tidak tau seandainya aku tidak bisa menulis

seperti air tak tertampung di bejana

seperti hujan tak tumpah ke bumi

seperti daun mengering di dahan

seperti buah membusuk di pohon

 

aku tidak tau seandainya aku tidak bisa menulis

seperti sungai tak bermuara di lautan

seperti gua yang tak pernah berujung

seperti pantai yang tak pernah berkesudahan

seperti malam yang tak kunjung pagi

 

aku tidak tau seandainya aku tidak bisa menulis

seperti padi yang tak pernah masak

seperti luka yang tak pernah mengering

seperti rumah tak beralamat surat

seperti burung yang tak pernah punya sarang

 

aku tidak tau seandainya aku tidak bisa menulis

seperti buku yang tak pernah tamat

seperti musafir yang tak pernah sampai pada tujuan

seperti cerita yang tak pernah selesai didongengkan

seperti jalan yang tak pernah berakhir

 

aku tidak tau seandainya aku tidak bisa menulis

 

22 Mei 2008, 12.58 wib - 28 Mei 2008, 00.11 wib.