Epitaph, Sebuah Novel
27 November 2009 · 6 Tanggapan
Epitaph adalah novel bagian pertama dari The Epitaph Trilogy (Epitaph, Epigraf, dan Epilog). Pernah dimuat secara bersambung di danielmahendra.com mulai 16 Mei 2008 s/d 8 Agustus 2008 sebanyak 45 postingan.
Awalnya berupa cerita pendek berjudul Peristirahatan Abadi yang dimuat di majalah Suara Mahasiswa pada sekira September 1996. Lalu dimasukkan ke dalam buku kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan dengan judul Epitaph pada September 2001. Pada Desember 2006 dikembangkan lagi dan rampung sebagai naskah novel. Memerlukan waktu hingga sepuluh tahun sejak 1996 hingga 2006 untuk bisa menjadi novel seperti yang pernah dimuat di blog danielmahendra.com. Namun pada proses penulisannya hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 30 hari.
Lalu pada Juli 2009 naskah Epitaph ditulis ulang serta diperluas kembali agar lengkap sebagai naskah novel yang siap terbit: Desember 2009.
Salam,
D.M.

→ 6 CommentsKategori: Catatan Harian
Jangan Naik Becak Bermotor
2 Juli 2009 · 34 Tanggapan

Jangan (Lagi-lagi jangan. Kayak zaman Orde Jangan saja!). Baiklah. Jangan terlampau terprovokasi dengan judul di atas. Tulisan ini hanya untuk mengolok-olok diriku sendiri atas pengalaman dua kali naik becak bermotor di kota Jogja, dan dua kali pula dibohongi. Begini ceritanya.
Di suatu siang yang panas, aku ingin sekali makan gudeg asli khas Jogja. Supaya tambah romantis, becak pun jadi pilihanku (di Bandung mana bisa naik becak). Setelah tawar-menawar harga, si tukang becak menyodorkan ongkos Rp10 ribu untuk jarak ke Jalan Wijilan. Rasanya itu harga yang pantas. Aku pun loncat ke atas becak. Aku tak mengira, rupanya becaknya becak bermotor. Baiklah.
Tak berapa lama sampailah di Jalan Wijilan. Begitu menyodorkan selembar Rp10 ribu, si tukang becak memprotes:
“Lima belas ribu, Mas.”
“Lho, tadi kan kesepakatannya sepuluh ribu, Pak?”
“Iya. Tapi kalau naik taksi aja berapa, Mas!” jawabnya tak ramah.
Mendapat jawaban seperti itu aku jadi kesal. Bukan kesal karena uang 5 ribu perak. Tapi lebih pada kesepakatan awal: ia telah melanggar perjanjian. Daripada ribut soal selembar uang lima ribu, akhirnya aku mengalah. Tapi dalam hati kejadian itu sedikit mengganggu pikiranku. Itu tak baik bagi kota wisata seperti Jogja.
→ 34 CommentsKategori: Catatan Harian

